When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kecanggungan



Selama perjalanan pulang, dalam mobil entah kenapa terasa canggung. Tak ada yang buka suara bahkan wajah gusar tampak menghiasi setiap temanku. Aku berakhir hanya menunduk dan menautkan jari.


Mungkin ini ... karena kesalahanku tadi. Aku sebegini bodoh, menyeret mereka dalam masalah. Seperti apa yang dilakukan selalu salah. Aku sadar, rata-rata permasalahan aku sendiri yang memulai tapi juga ingin menyelesaikannya.Tak ingin lari dan kehilangan, untuk kesekian kali.


Maka aku berusaha memecah hening.


"Maaf," ucapku pelan dan lembut atas suara bergetar karena gejolak panas di dada, "karena aku, misi kita berakhir kacau."


Terasa seluruh mata tertuju padaku---entahlah, aku tak berani mengangkat kepala dan semakin menunduk, hingga suara Crist memecah suasana. "Tidak masalah Red, aku tahu kamu jarang misi tim dan sedikit kesulitan menghadapi situasi tadi."


Mendadak ada yang menepuk pundak, sontak aku terkejut dan refleks menoleh ke seseorang yang berbuat demikian. Daniel, wajah seriusnya tak kupahami. Namun, perlahan, ekspresi melunak dalam suatu senyum samar.


"Lagi pula nih, misal aku jadi kamu, aku bakal lakuin hal yang sama. Sshhh, bagaimana ya jelasinnya ...."


Jeda sebentar, dia memiringkan kepala dengan mengernyit, seperti menimbang-nimbang sesuatu.


"Aku enggak mau teman-temanku sendiri terluka, jadi aku akan menawarkan diri untuk di depan dan itu bukan berarti enggak percaya sama kalian. Aku mengerti kok."


Suara kekehan yang khas terumbar, spontan aku menoleh dan terlihat Crist memperhatikan kami semua dari kaca spion mobil dalam bagian atas. "Tapi alangkah baiknya ... suatu saat kedepan, kita bisa maju bersama-sama; saling bahu membahu. Bukannya itu lebih menyenangkan? Red, kita juga ingin bisa di sisimu. Sekali lagi, jangan memikul beban sendirian."


"Tapi, karenaku ... hasil latihan kita menjadi sia-sia."


"Tidak ada yang sia-sia dari berlatih," balas Crist dengan lembutnya, "karena itu bisa menjadi pengalaman dan pelajaran untuk kedepannya. Tak hanya untuk misi ini, tapi berlaku untuk segala macam pertarungan. Kuyakin, kamu akan merasa latihan kemarin sangat berguna. Dan ketika belajar ... akan sangat wajar melakukan kesalahan, asal kamu bisa introspeksi diri."


Mendengar itu semua, terasa panas pemicu gumpalan bening bersarang di pelupuk mata. Dan aku setengah mati mencoba menahan air mata yang memaksa untuk meluncur. Entah mengapa, justru merasakan suatu gejolak dalam dada tetapi konotasinya seperti ... senang?


Lagi-lagi tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dan mengerti apa maksud perasaan apa ini. Namun, kucoba tekan sekuat tenaga hingga terasa pundak bergetar pun aku tersedu-sedu.


Karena kembali menunduk, aku bisa melihat Cecil yang duduk di samping sudah melihatku dalam-dalam. "Badanmu saja besar, tapi pikiran tuh kayak anak-anak."


Begitu ucapnya, yang seketika membuatku merasa lebih ringan dan dapat terkekeh kecil. "... Sepertinya begitu."


"Loh, eeeh? Kamu terima begitu saja?!"


Aku menatapnya dengan lesu, tidak tahu kenapa mata terasa sedikit berat. "Memang benar, 'kan?"


Ah, Cecil tampak jauh lebih panik daripada sebelumnya. "Eeeeh, enggak! A-aku cuma bercanda! Jangan dimasukin ke hati, ya?"


Masuk ke hati? Kenapa? Aku makin menatapnya dengan bingung, tetapi gugup tak luntur dari wajah si gadis kecil.


Satu sisi, Daniel memperkeruh keadaan dengan berceloteh, "Hayoloh Ceciiiil."


Mata merah muda bak neon pun menatap sayu. "Aku tuh berbuat kesalahan juga di sana, panik terlebih dulu karena apa yang terjadi enggak sesuai sama perkiraan awal. Aku bertingkah lambat karena enggak menduga berbagai macam hal. Harusnya aku juga meminta maaf."


"Ahahaha, aku juga tak kalah buruk," sambung Crist dalam obrolan, "aku sudah takut terlebih dulu. Aku tidak membantu banyak malah. Yah ... aku harus menghadapi serta menghilangkan fobia ketinggian dan kecepatan, itu sedikit mengganggu. Mungkin harus konsultasi dengan Miss Caterine lagi."


"Eh, aku juga loh! Tadi mikir di mana letak salahnya Red soalnya ... memang, apa yang salah begitu," timpal Daniel menggebu-gebu, "tapi ternyata memang salah. Kalau enggak dikasih tahu Lux, mungkin jalan pikirku tetap salah. Ya, kita semua belajar banyak dalam misi kali ini."


"Kalian ...," ucapku tertahan seolah-olah ada bola tertahan di tenggorokan, menghasilkan suara rendah penuh getar nan lirih.


"Tapi misi bareng-bareng gini menyenangkan! Kita belajar banyak, bisa nih kedepannya kita berlatih lagi biar makin kompak dan mengenal gaya bertarung masing-masing. Biar keren kayak mereka, iya enggak?!"


"Hih, makin alergi aku dekat-dekat sama kamu terus!" sergah Cecil terhadap ucapan Daniel yang justru mengundang senyum lebar oleh lawan bicaranya.


"Jangan begitulah Cil ... begini-begini, kamu sukakan?"


"Ha?! Ma-mana ada!" tangkis si gadis kecil dengan melipat tangan depan dada pun memalingkan wajah jauh-jauh. Sekilas, semburat merah terlihat di wajah.


Entah kenapa, mendengar percakapan mereka membuat relung dada muncul suatu titik nyaman bagai kehangatan tersendiri dalam dinginnya cuaca hujan di luar; menandakan masih berada di awal bulan Agustus. Terlebih kini tawa khas milik Crist ikut berbaur dalam suasana, mengundang senyum setiap orang yang duduk dalam kendaraan.


Kupikir, mereka akan semakin menjauhiku. Aku ... yang benar-benar bodoh dan tak mengerti dasar cara bersikap dan merespons secara umum, berakhir membuat kekacauan.


Tapi mereka justru menerimaku.


Seperti guratan langit yang semula kelabu, lambat laun luluh menjadi semburat biru cemerlang melintasi angkasa. Arak-arakan awan dan kilap guntur penghias fenomena tersebut pun lenyap dalam sunyi. Rintik meneduh, tetapi rintik di pelupuk tidak. Bening sang air menitik dari pucuk-pucuk helai dedaunan pun pada mata jelagaku, terasa menggantung pada bulu mata. Dengan tangan bergetar pula aku menutup wajah rapat-rapat, berharap rasa yang bergejolak dalam dada ikut luruh.


Mencoba menyamarkan isak ... yang semakin menjadi.


Kukira akan dicampakkan; tidak dipedulikan lagi; kembali sendiri seperti kehidupan sebelumnya. Membuat rasa bingung dan takut melanda, bercampur aduk dalam hati karena itu sebisa mungkin berusaha tidak berbuat salah; mencoba menjadi terdepan melindungi mereka. Namun, berakhir kacau dan aku merasa kusut.


Tak tahu lagi harus berbuat apa tetapi mereka masih ... menerimaku; masih tertawa disekelilingku dan mengajakku kembali berdiri.


Kapan aku diperlakukan seperti ini? Ah, tidak pernah. Baru sekarang aku tenggelam dalam rasa nyaman dan hangat yang banyak. Kukira setelah kehilangan ia, orang terkasihku, hidup telah berakhir tetapi---


"Kalian, terima kasih ... terima kasih banyak," ucapku lirih seraya mengenyahkan air mata dengan telapak tangan. Maka seketika itu juga beban di punggung terasa hancur.


Aku sungguh mensyukuri ini semua. Mungkin juga, keabadianku bukan suatu kutukan jika bersama mereka.


"E-eeeh?! Loh, Red, kok kamu menangis?! O-oi, Crist! Lakukan sesuatu!"