
Apa maksudnya ...?
Bukankah harusnya aku yang melakukan kesalahan? Karena warna mata dan suaranya berbeda. Pemuda ini jelas bukan Lux, meskipun hampir mirip sampai membuatku pangling. Tapi auranya ... mengingatkanku akan Lux, juga Lucian. Wibawa seorang pemimpin yang sangat kental memeluk orang ini dengan lekat.
Selang beberapa detik moncong pistol terasa tepat di kepala--sejak kapan?!--dan spontan membuatku melonjak jauh ke belakang. Kami berakhir bertaut jarak beberapa meter tetapi mata jelagaku tak lepas melihat gerak geriknya yang mulai aneh.
Dia mengembuskan napas singkat dan mengacak-acak rambut menggunakan satu tangan, memancingku meruncingkan atensi; meneguk saliva guna menyudahi gersang pada tenggorokan; erat menggenggam Sabel sampai buku jari tampak memucat dengan mata pedang berkilat menantang seakan mencebik pemuda di depan mata.
Seketika aku merasakan tekanan kuat seperti gravitasi merenggut tanpa ampun bersamaan desir angin membawa perbedaan atmosfer yang pekat, membuatku kesulitan untuk berdiri; sesak tertimbun di rongga rusuk ... sebentar, apa-apaan ini?! Tekanannya bahkan lebih parah dari yang tadi!
Padahal dia masih berdiri tenang dengan pistol di masing-masing genggaman tangan. Tetapi mataku mulai sulit terbuka dan berakhir meringis kecil, lalu tiba-tiba muncul pecahan cermin di sekitarku---tunggu, cermin?! Ah, Ultimate Skill Class Gunner, Mirage Mirror!
Bagaimana bisa dia mengeluarkannya tanpa aba-aba? Kontrolnya ... luar biasa.
Langsung dia mengokang dan menembakkan senjata menghasilkan letupan pistol terdengar bising, pertanda peluru telah melesat dan mungkin sudah terhisap dalam cermin dan aku berakhir menyibakkan kelopak mata lebar-lebar.
Orang ini, sungguh ingin membunuhku?
Lantas aku menoleh ke belakang, Zweihande menancap jauh---sebentar, meskipun menggunakan Aegis tetap pelurunya pasti mengenaiku terlebih dia mengeluarkan Mirrage Mirror. Maka aku memutuskan melakukan fokus penuh demi menghindari peluru yang nanti datang entah datang dari mana.
Seper sekian detik suara desing mengudara dan dalam mataku seolah-olah semua berjalan lambat juga terasa hampa, seperti tak ada bukti nyata dari melesatnya peluru energi; keberadaan penembak atau alat menembaknya. Ibarat sedang menjejak kaku di tengah peperangan.
Letupan moncong besi yang berisik, ledakan akbar tanpa percikan pasti ... dari arah kiri! Langsung aku berusaha berkelit, melakukan kayang meski berakhir berguling tetapi kumanfaatkan untuk menghindari luncuran peluru yang lain.
Mati-matian aku berusaha kembali bangun demi menghindar dan membalas tembakan dengan mengayunkan Sabel ketika satu peluru mengarah ke kepala, biarpun sisi tangan dan kaki berakhir terluka membuatku meringis kecil.
Aku tak mampu menahan seluruh serangan yang tak henti menghunjam secara acak lantaran sekarang suara tembakan layaknya senapan mesin, membuat ngiang aduan peluru dengan pedangku terdengar beruntun bersamaan percikan api di reruntuhan yang gelap.
Meskipun dingin merengkuh erat; walaupun tekanan terus menghadang, tangan tetap kupaksa aktif mengibas berbagai serangan dengan Sabel di genggaman; tak tinggal diam berusaha semampuku menyelamatkan titik vital dan rawan kendatipun beberapa berhasil melukasi sisi tubuh yang sudah terhias darah. Terus saja aku betah meliuk, menghindari rasa sakit luar biasa dari peluru-peluru energi dan tekanan aura yang ada.
Beberapa waktu berselang setelah menahan hampir semua peluru yang mengarah kepadaku, akhirnya cermin-cermin itu luluh dan hancur. Menyisakan aku dengan napas terengah-engah di tengah hamparan lapangan yang hancur atas jejak-jejak hantaman peluru dan irisan pedang, pun area reruntuhan saat ini ditutupi oleh debu yang dihasilkan oleh kejadian sebelumnya.
Ah, mungkin juga harus berterima kasih dengan pertahanan tubuhku sendiri yang lumayan sehingga selamat dari serangan luar biasa tersebut, tapi staminaku sungguh dikuras banyak. Terbukti dada naik turun secara kasar atas napas beratku.
Maka kuputuskan untuk diam dan memejamkan mata sembari mengatur pernapasan, juga menunggu serangan dari si pemuda dengan tujuan agar aku mampu melacak keberadaannya.
Seketika aku mendeteksi serangan yang datang, lantas mata jelaga terbuka dan menyaksikan siluet kelam bergerak di sekitar tanah dan debu yang memenuhi. Langsung aku mendongak, lawanku tengah melesat dari atas dan menukik ke bawah, memaksaku memutar tumpuan badan; menengadah dengan pedang melintang; menolak serangannya.
Desing memekakkan kembali menggaung, tegas terdengar dan terbawa angin.
Tapi, apa-apaan, ada pedang dari ... apakah itu cahaya? Muncul begitu saja dari moncong pistolnya?! Bahkan Profesor Kaidan tidak pernah menggunakan pedang atau apa pun ini namanya?! Sebenarnya aku sedang melawan siapa---sebentar, seketika aku tertegun lantaran warna rambut si pemuda perlahan-lahan berubah putih layaknya salju yang memenuhi sekitar, dan ini mengingatkanku dengan ucapan Fate mengenai ciri-ciri seseorang ....
..."Rambut putih bersih seperti salju dan mata biru seperti berlian."...
..."... Berkat latihanku bersama Lucian, aku bisa menggunakan gaya bertarung---"...
..."Yang pertama mengajariku adalah---"...
Aura tak biasa, wibawa seakan membanjiri dan berteriak 'aku adalah seorang pemimpin dan petarung'.
..."Aura mereka mirip, pemimpin dan gaya bertarung juga agak mirip, tapi ... sifat mereka berbeda seratus delapan puluh derajat."...
Seorang Gunner dan pemimpin andal dari dunia asal mereka.
Langsung aku merapal pelan nama seseorang yang aku kagumi; pada saat bersamaan membuatku iri karena dia selalu mengisi relung hati Fate ....
..."Mengingatnya dengan senyum itu ... membuatku merasa hangat."...
"Kau, Sen ...."
Dan pemuda itu tersenyum. "Ah, Fate memberitahumu tentang aku ya."
Ternyata benar.
Sontak aku terkejut dalam ekspresi campuran antara tak percaya dan bingung teramat sangat, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tetapi tak mampu. Namun, dia berakhir menendangku dan refleks lenganku menekuk demi menahan serangannya meski punggung berakhir menabrak tembok.
Aku mulai meringis menahan sakit, tapi menggunakan momentum ini untuk menyandarkan tubuh ke belakang.
Sebab tak mau lagi ... melawannya.
Kendatipun dia mengambil kembali Fate, aku tak mengerti kenapa Sen menyerang secara tiba-tiba---ah, apa mungkin karena ikut campur terlalu dalam terhadap masalah mereka? Termasuk tubuh Fate yang kian melemah ....
Benar-benar seperti dadu yang bergulir dan berputar, dalam sebuah jalan tanpa tujuan aku bertindak acak tanpa melihat keadaan. Aku pun mengembuskan napas panjang, berbeda dengan Sen yang mendengkus dan melompat jauh ke belakang, mendekat ke tempat Fate bersandar. Kemudian dia memasukkan kedua senjata kembarnya dalam tempat penyimpan pistol yang membebat di paha.
"Jika hanya segini keinginanmu untuk hidup, lebih baik kau kembalikan ...."
"Kembalikan? Apa maksudmu?" Aku langsung menatapnya penuh rasa bingung.
Sen justru membalikkan badan ke arah Fate, menatap penuh rasa sendu seperti mengukir suatu emosi hasil luapan dalam hati, membuat keadaan sekitar yang tadinya sempat gaduh menjadi sunyi. Seperti melankolia biru dan abu yang menghiasi sekitar bersamaan dengan bunga es turun perlahan-lahan.
"Kembalikan ... anugerah yang Fate berikan padamu, untuk melindungimu dari kemarahan dunia ini."
Dan mataku langsung terbelalak kaget, hingga membulat sempurna lantaran perasaan nan kacau juga mengaduk isi relung dada.