When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Latihan? Dimulai!



Untung saja misi hari ini telah aku kerjakan dan sekarang masih sekitar setengah empat sore, tetapi Profesor Kaidan ketika aku hubungi terdengar masih dalam tugas--dari suara gemuruh ketika ditelepon. Namun ketika aku sebut mengenai Lucian, beliau terdengar tergesa-gesa dan meyakinkan akan kembali sekitar tiga puluh menit.


Aku harap beliau tidak terlalu memaksakan diri. Aku mulai mengembuskan napas panjang, duduk pada salah satu pinggir batu tinggi penghalang kebun bunga dan menjulurkan kaki ke depan.


Tak lama terlihat Daniel berjalan mendekatiku, lalu mengajak untuk menyaksikan latihan yang lain. Ternyata mereka melakukan sparing.


Profesor Caterine tampak serius ketika menilai healing juga kemampuan dragonic milik Cecil dengan seorang gadis rambut hitam kepang samping, hiasan bunga di ikat rambut sungguh khas karena sesuai dengan namanya--Rose.


Sedangkan Profesor Gil meminta Fate untuk menyerang menggunakan kecepatan penuh dan ... benar saja, bahkan mataku tak sanggup melihat apa yang terjadi. Bagai kilat, Fate sudah membuat Crist jatuh menghasilkan ekspresi terkejut setia di wajah si pemuda. Berkat luasnya taman belakang membuat mereka bisa bergerak secara bebas, jelaslah sang ketua Departemen Disiplin ingin menguji refleks milik Crist.


Tersisa aku dan Daniel.


Sesuai class utama ... berarti Profesor Kaidan nanti akan menangani Daniel terbilang mereka adalah Class Gunner.


Aku kembali duduk pada posisi semula dan sedikit menengadah, sebenarnya kondisi saat ini cukup tenang dalam naungan kanopi hijau pepohonan juga menghirup bau basah para tumbuhan. Mata jelaga mulai memandang ke seluruh penjuru, hingga sosok orang tua mendadak muncul dari pelupuk mata---


"Profesor Kaidan!"


"Ahahaha sore, Red. Jadi---"


"Kaidan! Akhirnya kau tiba juga." Head Master Lucian sedikit meninggikan suara membuat perhatian kami tertuju padanya.


Seperti biasa, senyum lebar menghiasi wajah Lucian tetapi Profesor Kaidan justru ... pusing? Karena beliau tak henti memijat kening. "Kali ini, apa yang kamu rencanakan?"


Namun, seketika pundak beliau dirangkul oleh Lucian dan mereka berjalan sedikit menjauh hingga aku hanya bisa mendengarnya berkata, "Ini mengenai misi kode B1357 ...."


Dari arah sini, wajah beliau terlihat terkejut. Sedangkan yang lain sudah mulai beristirahat--memang hanya Kaidan datang terlambat. Aku pun mendengkus, ini terlalu mendadak tapi sepertinya termasuk perkara penting? Misi besarkah? Apa lawan kami cukup mengerikan seperti di Dream Land?


Tak berapa selang, dua orang yang menduduki pangkat tinggi di Vaughan tiba tetapi Profesor Kaidan menatapku lamat-lamat seperti ... meneliti? Kemudian mengembuskan napas panjang dan berbisik pada Lucian, "Tolong jangan terlalu keras padanya dan sedikit bersabar."


Meskipun pelan, aku bisa dengar dan itu membuatku sedikit menunduk dan menautkan jemari. Guru waliku benar-benar perhatian. Lantas kembali mendongak dan mendapati beliau tersenyum beriringan lengan kukuh mengusap rambut merahku. Tangannya sungguh besar, terasa nyaman. Ini mengingatkanku pada Head Master Lucian dengan Fate tadi. Ayah ... apa beliau tak keberatan jika aku sedikit egois?


"Bapak." Aku menatap beliau dalam-dalam dan Profesor Kaidan masih setia atas wajah nan teduh. Dengan pelan aku pun berkata, "Boleh minta ... peluk?"


Guru waliku terlihat sangat terkejut hingga kelopak mata tersibak, refleks aku menunduk karena ... malu! Apa yang aku pikirkan?! Heh, pasti beliau mulai menganggapku yang tidak-tidak---eh?


Beliau tertawa dan tak lama terasa ada yang mendekapku. Ah, dari gestur dan cara mengelus punggung sangat kukenali---tunggu, Profesor Kaidan tak keberatan? Sontak aku balas merangkul. Meski jauh lebih tinggi tetapi dalam posisi duduk seperti ini dan beliau berdiri ... nyaman, aku mulai menyandarkan kepala pada dadanya yang lapang.


Seketika terasa ada getaran darinya, seperti menahan sesuatu. Itu jelas tergambarkan ketika beliau mengerang kecil dan memeluk-melukku tiada henti. "Oke, lupakan soal latihan. Red, bisa kamu temani Bapak di kantor?"


Eh?


Suara deham yang amat keras mengumbar, Lucian mendadak mendekat atas suatu senyuman sinis. "Kaidan, akhir-akhir ini kau terlalu membawa personal urusan anak didikmu."


Ah, Profesor Kaidan melepasku demi membalasnya dengan suatu seringai nan menantang. "Ho? Lihat, siapa yang berkata."


Entah kenapa, terasa ada perang dingin di sini ....


Mereka berdua intens saling tatap, bahkan sampai keluar kilatan petir---baik, itu berlebihan. Bukankah mereka dikenal sebagai partner terbaik di Vaughan? Apa karena aku mereka jadi bertengkar? Aku mulai sedikit gugup dan melirik ke arah Fate tetapi gadis itu hanya mengesah, sepertinya terlihat lelah.


"Hah, bercanda. Red, latihanlah yang serius. Ini perintah." Aku sempat terdiam menatap Profesor Kaidan tapi mengangguk mantap sebagai jawaban. Beliau tersenyum bangga melihat reaksiku sebelum pergi menghampiri Daniel.


Theo Lanctern, salah satu anggota Departemen Disiplin dan mungkin dia dalam misi yang sama dengan guru waliku tadi, pun kami sempat satu tim ketika penyergapan Dream Land. Aku masih ingat sangat jelas ketika Theo menarikku secara paksa untuk bergantian mengeluarkan Skill Aegis, tetapi hanya menahan satu serangan besar langsung tumbang. Grade kekuatan B tapi bisa menduduki peringkat tiga. Aku yakin dia memiliki kejutan tersendiri, seperti Fate.


Jika diingat lagi, Rose menghadap Cecil; Fate melawan Crist; barusan Lux pergi dengan Daniel; kemungkinan aku bersama Theo. Club kami sebelumnya tidak terlalu mencolok tetapi sekarang, tak disangka akan berlatih bersama empat murid terbaik Vaughan wilayah Centru. Menurutku, ini sebuah kemajuan.


"Baik. Meskipun latihan, aku ingin kalian menganggap ini serius. Gunakan pedang yang sudah aku sediakan," tutur Lucian dengan nada sedikit ditinggikan demi menarik perhatian kami berdua.


Head Master berdiri kukuh dengan kedua tangan menekuk di belakang punggung tetapi ketika berbalik, terlihat dua bilah pedang tersandar di pinggir tembok---oh, beliau sudah menyiapkan peralatan latihan?


Aku mulai beranjak dari duduk dan mengambil salah satu pedang yang tersedia, sedangkan Theo melakukan sedikit pemanasan sebelum mempersiapkan diri dengan senjatanya.


"Red, latihanmu hari ini adalah jatuhkan serangan pada Theo dan mengenainya."


"Jatuhkan serangan? Mengenainya?" Refleks aku membeo mendengar perkataan Head Master Lucian.


Aku menatap penuh rasa bingung namun beliau hanya menjawab, "Ya, jatuhkan serangan padanya dengan senjatamu dan kau harus mengenai salah satu anggota tubuhnya."


Perlahan beliau mulai melipat tangan di depan dada dalam ekspresi santai. "Cukup mudah 'kan?"


Tak menjawab, aku memilih melihat pedang di genggaman. Ini, plastik? Meskipun bukan kayu atau pedang sungguhan tapi komposisinya sangat solid, sedikit berbeda dengan pedang plastik biasa. Jika dalam takaran kekuatan yang cukup, ini bisa melukai. Ternyata Lucian benar tidak main-main.


Lalu beralih pada lawan bertarungku, dia sudah bersiap-siap tetapi posturnya sedikit aneh. Tak tahu Theo bersiap untuk menyerang atau bertahan karena pedangnya tidak benar-benar terancung mantap, justru ... melintang ke bawah? Aku mulai berjalan demi berhadapan dengannya beberapa meter dan bersiap atas kuda-kuda menyerang.


Lucian mulai mengangkat tangan kanannya dan menurunkan dengan cepat seiringan aba-aba dimulai. Namun, tak satu dari kami bergerak membuat terik mentari seperti membasuh kulit ketika mega merah mulai menyoroti seisi halaman.


Menjatuhkan, berarti aku yang harus mulai menyerang 'kan? Maka aku meringankan kuda-kuda, meruncingkan atensi seraya mengembuskan napas perlahan. Pelan-pelan, genggaman pada pedang kian kueratkan. Lalu kasak-kusuk kerikil terseok antara riuh kaki yang kian melesat dalam percepatan terdengar. Seper sekian detik tiba lima puluh senti di hadapannya, aku langsung mengangkat pedang demi menjatuhkan serangan penuh---


Trang!


Apa yang---dia langsung menyerang pedangku dengan menyentaknya tepat ke sisi kanan?! Ah, getaran dari pedang terlalu kuat dan seketika Theo berkelit ke sebelah kanan pun menggenggam tangan kananku dan berputar ke belakang. Badannya ringan dan terasa aku ikut terbawa. Mendadak dia meluncur ke bawah dan menendang salah satu kakiku.


Semua terjadi sangat cepat sampai aku tak dapat meraba apa yang terjadi, berakhir terguling dan tengkurap atas tangan kanan terkunci. Pedang yang kugenggam pun lepas dari kuasa, bergulir tak begitu jauh.


Sedangkan pedang di tangan Theo bergerak dan terhenti tepat di ceruk leherku. Tanpa memberikan kelonggaran, terasa dia duduk di atas dengan menyikut lututnya di leherku.


Susah payah aku melirik ke belakang. Mata ungu tersebut terlihat sayu, tak setajam milikku tetapi kini menyipit hingga terlihat mencekam. Jika tanganku tidak dipelintir dan ditahan seperti ini, aku bisa memberikan serangan balasan.


Namun, sungguh terkunci hingga satu tepuk tangan yang amat keras terdengar, Theo mulai membebaskanku dan kembali berdiri. Ekspresi seriusnya menjadi lembut, seakan perubahan wajah barusan hanyalah ilusi.


Perlahan, aku mencoba duduk. Ternyata memang melawan orang dari Departemen Disiplin cukup sulit, seperti ... mereka membaca seluruh gerakanku; mampu berpikir kritis di saat terjepit dan bergerak cepat meskipun perbedaan grade jelas kentara.


Ini akan sulit menjatuhkan serangan padanya.


"Red." Aku terkesiap dan langsung menoleh ke asal suara. "Sejujurnya kamu terasa mengerikan. Kau jauh lebih kuat dan lebih tinggi daripada aku. Meski badanmu tak sebesar Dominguez, tapi aku lebih kecil daripada kamu. Dan itu sudah memberikanku kerugian dalam pertarungan kita, terutama dalam perbandingan kekuatan."


Wajah pemuda di depanku berubah menjadi serius dan Theo lanjut berkata, "Karenanya, aku menggunakan hal itu untuk melawanmu. Aku menggunakan kekuatanmu sendiri untuk melawanmu."


Pelan namun pasti, mata bak lavender mulai meruncing dan senyum tipis muncul di wajahnya. "Sekarang, bagaimana caramu melawan kekuatanmu sendiri?"


Seketika aku tertegun dengan mata membelalak lantran tidak tahu harus merespons apa. Inikah kelebihan murid terbaik peringkat ke tiga?