When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Ingatanku, Kehidupan ke Dua



Ratusan tahun berlalu, aku menyaksikan bahwa kehidupan manusia di bumi berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sekali lagi, mereka tak luput dari kesalahan.


Namun, tidak semua manusia memiliki sifat buruk dan tak semua bersifat baik. Mereka memiliki hal paling mendasar kenapa bisa berakhir dalam keburukan dan aku biarkan. Kupikir akan tiba sampai waktunya mereka menemukan kebaikan.


Dengan anggapan tersebut, terkadang aku memiliki asumsi lain: apakah cara berpikirku salah? Sebab manusia ... berakhir menginginkan keabadian.


Tidak ada keabadian.


Tidak untuk makhluknya.


Itu tanggung jawab yang sangat berat dan akan bertahan sampai berapa lama hidup dalam keabadian? Padahal mereka adalah manusia yang memiliki waktu terbatas dan dengan keterbatasannya, setiap gerakan kecil dalam gulungan waktu sangat berharga. Karena dengan keterbatasan, manusia bisa berjuang sepenuh hati demi meraih apa yang diimpikan.


Mungkin itu kenapa Tuhan tak mengizinkan manusia memiliki keabadian. Selain merusak keseimbangan siklus hidup dan mati, hidup panjang tanpa kepastian ibarat siksaan tersendiri.


Seperti ia, Aion.


Membuatku kembali berpikir apakah keputusan menyerahkan tubuh demi ia kembali hidup adalah benar?


Sebab melihat kehidupannya, hati bak berkata kasihan. Ia selalu menolak keberadaan manusia, merasa berbeda sebagai eksistensi lebih tinggi. Mungkin dasar sifat Pride masih melekat dalam jiwa sehingga senang memanipulasi orang lain demi keinginan sendiri; meremehkan seolah-olah berkata tidak ada yang pantas mendampingi sebab keterbatasan para manusia. Berakhir terus mengunci diri pada pulau terpencil tak dikenali.


Ini dosa besar pertamanya.


Tapi aku mengerti jauh di dalam hati, ia merasa kesepian meski wajah kasarnya pintar menyembunyikan hal tersebut. Karena rasa kesepian itu, Aion memohon kepada Tuhan untuk aku dihidupkan kembali.


Tentu saja kembalinya diriku adalah hal yang mustahil karena aku yang sekarang, hanya bisa mengamati kehidupan mereka demi menjaga keseimbangan bumi.


Setidaknya, sampai Lucifer mengambil hal ini sebagai langkah untuk mengulang kejadian terdahulu.


Permohonan rusak manusia untuk diliputi keabadian; keinginan Aion untuk kembalinya diriku, membuat satu kesimpulan bahwa mereka membutuhkan aku--The Hope--hadir di tengah mereka ... menurut pemahaman Lucifer. Atas dasar tersebut maka jalan untuk melakukan siasat kembali terbuka.


Lucifer yang selama ini menggenggam sebagian kecil jiwaku, tak bisa melakukan apa-apa terhadapnya sampai manusia mengizinkan dengan keinginan-keinginan tersebut. Seperti kejadian terdahulu, Lucifer memulai rencana dengan memberi bisikan pada salah satu kepala pemimpin daerah mengenai legenda diriku ... The Hope, sang pengabul permohonan.


Karena ketujuh dosa mematikan masih tersebar dan dijaga dengan baik oleh para malaikat, mengumpulkan ketujuh dosa menjadi satu menggunakan kloning manusia sebagai wadah dosa tentu tak bisa dilakukan. Sehingga Lucifer hanya bisa memberi hasutan bahwa aku--The Hope--akan lahir dari gadis perawan pilihan mereka.


Hal konyol tersebut manusia percayai, lagi-lagi semakin leluasa Lucifer menarik mereka pada kerusakan.


Lantas segenggam jiwaku yang masih Lucifer pegang, secara paksa ia masukkan pada rahim sang gadis dan terbentuklah janin. Para manusia sungguh antusias ketika gadis ini berhasil mengandung dalam kondisi yang suci, sehingga kabar mengenainya mereka sembunyikan dari pihak lain; termasuk rakyat sipil dan daerah tetangga.


Sayang, gadis itu tak mampu menanganiku sehingga pada masa kelahiran ... ia meninggal. Tapi aku, atau bisa dibilang bagian kecil robekan jiwaku, lahir dengan selamat.


Kini diriku terhitung ada tiga, aku yang asli bersemayam dalam Yggdrasil; raga asli yang hidup tersendiri menjadi Aion; sebagian kecil jiwaku dalam tubuh manusia. Ketiganya menjalankan kehidupan masing-masing meski hakikatnya semua adalah aku.


Dengan kelahiran sebagian kecil jiwaku ke bumi, ketujuh dosa mematikan saling bersahut-sahutan seakan merasa terpanggil dengan keberadaanku. Dan sejak saat itulah tingkah laku manusia mulai kehilangan keseimbangan, terbukti dari sifat berdosa timbul lebih dominan dalam jiwa mereka. Pun berlaku pada Aion, ia menyadari tekanan aura yang besar dan mulai berkelana.


Kendati terlahir normal seperti anak pada umumnya, potongan jiwaku itu memiliki kekuatan yang lumayan dibandingkan manusia biasa. Terlebih mata merah polos tanpa pupil dengan warna rambut senada, semakin membuat manusia menilai bahwa ia istimewa karena ciri sesuai menurut legenda yang terdengar.


Ketika ia sampai pada masa balita, mereka mulai melakukan pengasingan agar tetap terjaga kesuciannya dan memanggil dengan julukan REDstar--bintang harapan yang akan mengabulkan permohonan.


Para manusia beranggap apa yang mereka lakukan adalah benar. Namun, semua sama saja seperti mengulang kejadian terdahulu.


Dan sampai kapan pun, REDstar tidak akan bisa mengabulkan permohonan para manusia; sebab ia hanyalah potongan jiwaku. Dibutuhkan aku secara utuh termasuk raga iblis itu agar kekuatanku sempurna dalam eksistensi mutlak pengabul permohonan seperti awal penciptaan, maka satu keinginan besar maupun kecil bisa aku kabulkan ... atas seizin Tuhan.


Namun, ada yang berbeda dari REDstar yang ini. Karena lahir dari manusia, ingatannya benar-benar baru dan kosong; memiliki hati dan hati itu adalah bentuk ketujuh kebajikan yang surga dan Tuhan berikan untuk menyeimbangkanku. Biarpun jiwa sepenuhnya hitam akan ketujuh dosa mematikan, hati akan terus putih dan bersinar.


Sayang, jiwanya begitu sensitif terutama pada ketujuh dosa mematikan karena ia hanya sebagian kecil bentuk dariku. Itu pula yang mendasari mengapa mentalitas REDstar begitu lemah dan Lucifer memanfaatkannya.


Dengan menghasut akan kebebasan jika memberikan izin untuk rela digunakan pada REDstar yang terkurung dan diasingkan, maka Lucifer membawanya pada tempat di mana manusia telah lama rusak dan jiwa yang goyah pun menyerap ketujuh dosa mematikan; mengubah sisi kemanusiaan lama kelamaan ditelan oleh kegelapan nan pekat dari para dosa, menjadi immortal.


Lantas ketakutan luar biasa melanda mengetahui ia tak bisa berhenti membunuh manusia, memaksa terus melarikan diri sampai bertemu dengan Aion.


Aion merasakan ada yang tak biasa dan tidak asing dari REDstar, menimbulkan obsesi berlebihan ditambah mengetahui bahwa mereka sama-sama abadi, menghasilkan cinta buta yang lepas kendali, hingga mengabaikan berbagai macam peringatan dan bahaya. Bahkan enggan mencari tahu siapa sebenarnya sosok REDstar itu sendiri.


Bagaimanapun, REDstar--sebagian kecil jiwaku--bisa hidup tenang bersama Aion ... untuk sementara waktu.


Ya, sampai Lucifer datang dan kembali mengendalikan REDstar atas kebodohannya sendiri; ketidaktahuan bahwa memberikan izin pada iblis akan berdampak pada suatu bahaya.


Melihat REDstar perlahan mulai diliputi kegelapan dan kehilangan kontrol akan diri, Aion mendapatkan gambaran penuh dan kembali teringat mengenai kehidupan pertamaku--tubuh menjadi dia dan menyaksikan bagaimana jiwaku direnggut sebagian kecil oleh Lucifer, terkunci keseluruhan dalam Yggdrasil--serta akhir dirinya, kematian di tangan potongan jiwaku itu.


Mengetahui ini, Aion lari menjauhi REDstar; tak terima akan kebenaran dan menghindari masalah.


Ini dosa besar ke tiganya.


Namun, pada akhirnya ia sadar bahwa dirinya merupakan tubuhku yang telah dikorbankan; Aion mengerti bahwa ke mana tubuh pergi maka jiwa tahu akan keberadaannya, merasa ... bahwa tindakan lari adalah sia-sia.


Maka dalam waktu yang singkat, Aion menyempurnakan cerita dalam buku yang ia buat bersama REDstar; menggunakannya sebagai simpanan seluruh memori karena paham jiwa tidak akan sampai pada Tuhan sebelum tubuh abadinya musnah. Memanfaatkan ini, jika ia bereinkarnasi, Aion berharap reinkarnasinya tahu mengenai kebenaran dan mengerti harus bertindak apa demi membayar ketiga dosa besar yang telah diperbuat.


Buku cerita tersebut adalah buku dongeng tua bergambar dengan judul "Story About RED", sebuah kisah mengenai sang harapan dan penyihir.


Tentu saja Aion memiliki pilihan lain untuk mencegah kematian, yaitu membunuh REDstar. Dengan begitu, sebagian kecil jiwa akan kembali padaku dan kekuatanku bisa pulih. Setelahnya, aku akan berpikir dan memutuskan hal yang terbaik untuk Aion.


Namun, sepertinya membunuh orang yang ia cintai terlalu berlebihan karena Aion hanya menahan REDstar dan berusaha keras membuatnya sadar dengan berteriak bahwa REDstar adalah manusia yang terlahir dari rahim ... dan memiliki hati, sebagaimana manusia yang bisa mencintai; sedih; kesepian.


Sayang apa pun yang Aion lakukan, semua berakhir dalam kesia-siaan karena REDstar sudah sepenuhnya jatuh dalam kendali Lucifer. Kesadarannya hilang.


Dan ketika kesadaran dikebalikan oleh Lucifer, REDstar melihat ... darah orang tercinta dikedua tangan; Aion telah tertikam tepat di dada.


Memang makhluk jahanam ini sungguh tahu bagaimana berbuat kotor dan hina, terbukti tak henti tertawa bangga atas penderitaan orang lain.


Maka hilang sudah akal dalam kesengsaraan dan penderitaan; kegelapan sepenuhnya memenuhi; teramat pekat hingga cahaya hati tertutup; jatuh sudah REDstar dalam kegelapan.


Berpuluh tahun setelah kematiannya, meski kepala telah kosong, REDstar meletakkan tubuh abadi Aion di atas kasur rumah kayu sepeninggalan mereka. Tampak sebuah kesetiaan dan kasih sayang, hati masih berpendar meski telah tertutup kegelapan; potongan jiwaku itu masih bisa tertolong.


Kemudian ia berkelana tanpa arah. Sedangkan Aion, ia kembali padaku; menghampiri pohon besar Yggdrasil dalam bentuk arwah, duduk dan bersandar pada akar-akar yang besar. Melihat ini, aku juga merasa suatu ketenangan.


Sepertinya, aku pun ... kesepian.


Menyaksikan semua drama menyedihkan ini membuatku berpikir bahwa aku, REDstar, dan Aion memiliki kesamaan yang signifikan. Mungkinkah karena pada hakikatnya, kami adalah satu?


Hingga suatu saat, ada seorang wanita mendatangi Yggdrasil.


Sungguh itu kali pertama melihat manusia menghampiri karena mereka sangat menghindari pulau terpencil pemilik aura aneh. Terlebih mereka tahu ini tempat tinggal Aion, mendatangi pulau terpencil tak dikenal maka sama saja menantang sang penyihir waktu. Kendatipun Aion telah mati, tidak ada manusia yang tahu kabar tersebut.


Namun, aku menyadari antusiasme dalam mata biru Aion yang berbinar sebab wanita itu tak henti memohon diberikan anak karena menderita kemandulan ... hari demi hari kedatangannya.


Reinkarnasi; kehidupan kembali, aku mengerti makna binar dalam mata Aion lantas membantu mengubah jiwanya menjadi tumbuhan merambat yang seketika muncul di depan mata sang wanita. Lalu tumbuhan tersebut membuahkan satu apel merah.


Menyaksikan keajaiban tersebut, wanita pirang beranggapan bahwa ini berupa mukjizat dari Tuhan dan memetik apel yang merupakan bentuk fisik jiwa Aion.


Esok hari ia menceritakan hal tersebut pada sang suami. Namun, itu memancing murka karena mengetahui istrinya telah pergi tanpa izin, bahkan ke tempat yang berbahaya tanpa pengawal. Dan ternyata wanita pirang ini adalah ratu kerajaan Lucifenian


Lantas raja memerintahkan para prajurit merebut apel yang dimaksud dan membuangnya, tapi sang ratu tidak mengizinkan. Ia berlari menuju ruang bawah tanah, tanpa basa basi langsung memakan apel tersebut. Satu gigitan, membuat sang ratu pusing dengan tangan yang gemetar. Apel pun jatuh dan membusuk.


Selang beberapa hari, ratu menderita demam tinggi dan memanggil ahli medis.


Bukan kabar buruk yang didapat, melainkan kabar baik: ratu dikabarkan sedang mengandung. Tentu saja, satu gigitan sebelumnya menyalurkan jiwa Aion ke rahim si wanita. Aneh memang, tapi jika Tuhan telah berkehendak ... apa yang tidak mungkin? Pun diriku hanya perantara.


Maka terlahirlah Apple Luchifen, gadis dari satu gigitan apel; menjadi lambang kebanggaan dan besar diri keluarga; berasal dari kerajaan yang mengunci salah satu dosa mematikan, Pride.


Kebetulan atau tidak, kupikir memang sudah takdirnya.