When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sergapan di Funfair II



Sejenak, aku mengakhiri perjalanan dan menancapkan Zweihande ke tanah. Ingin istirahat sebentar dan mencoba mengatur napas.


Ternyata tempat ini sangat gelap tetapi setiap tanah dan apa pun benda yang melayang dalam dimensi begitu terlihat jelas. Namun baru saja menikmati kepermaian, terasa ada yang menghampiri tempatku berpijak---tunggu, itu Cecil.


Lantas aku menghampiri si gadis kecil dan bertanya, "Butuh bantuan?"


Karena dia tampak mengap-mengap dalam bulir peluh sebesar biji jagung mendominasi wajah. Kulitnya memucat dan hanya bisa merangkak untuk mendekat. Aku mulai bersimpuh dan menggenggam kedua pundak mungil, membantunya untuk berdiri.


Cecil pun menggeleng, mencengkeram sisi jaket merahku dan berkata, "Bawa aku, Red."


Aku mengangguk mengerti, mulai menggendong si gadis di sisi depan dan dia tampak bernapas lega. Ha-ah, temanku ini ringan sekali, apa karena badan yang kecil? Mungkin, tingginya hanya sekitar paha atau pinggangku.


Kudengar Cecil memiliki Sindrom Turner--suatu kelainan gen pada perempuan yang dapat menghambat pertumbuhan--menyebabkan dia memiliki gejala Dwarfisme Proposional karena meski berbadan kecil, semua anggota tubuh berukuran sama dan sesuai dengan tingginya. Benar-benar seperti anak berumur dua belas tahun di usia yang mungkin sudah awal dua puluhan.


Meskipun begitu, Cecil tak pernah mengeluh atas kekurangannya dan terus bekerja keras. Gadis mungil ini, hebat.


Ah, hampir lupa ... pedangku.


"Turun sebentar, aku mau ambil pedang." Cecil mengangguk. Aku kembali melangkah mendekati Zweihande yang masih menancap dan menurunkan si gadis ke samping.


"Kita langsung jalan?" tanya Cecil yang aku jawab dengan suara gumam lantaran sibuk berkutat dengan pedang besar, "kamu tuh, memang enggak ada capeknya ya."


Srash!


Suara remai terdengar seketika pedang mengoyak raga, darah segar mengikuti arah Zweihande yang mengayun cepat. Seketika raga mungil si gadis ambruk dengan mata merah muda menatap tak percaya padaku, tapi tetap kuhiraukan ... terus melangkah dan melewatinya. Kemudian meruncingkan atensi dengan menyematkan sang pedang besar ke belakang punggung, berganti meraih Sabel untuk menyerang dalam kuda-kuda kukuh.


"Ha-haah, huh? Loh? Ki-kita di serang?!" ucap Cecil keheranan, mungkin dia menyadari sosok hibrida di belakangnya yang baru saja kutebas.


Tak menjawab karena pandanganku menajam melihat kawanan Pawn melesat hingga mengundang gemuruh memekakkan. Para hibrida itu lagi-lagi datang secara tiba-tiba. Sebenarnya mereka ada berapa banyak? Membuatku ragu musuh kami sekelas Elite jika memiliki bawahan sebanyak ini.


Aku mulai menebas, menikam ceruk leher bersisik sampai suara debam dan gemercik menggaung. Tak mengindahkan mayat yang masih mencipratkan cairan amis, aku kembali menebas si pedang ramping. Sesekali berliuk, menghindari cakar-cakar yang menyerang tiada ampun. Aku kembali menikam dan berkelit. Sampai akhirnya kelopak mataku menutup menyaksikan satu hibrida terakhir telah tumbang.


Mulai berbalik dan melihat si gadis---ah, dia masih terkejut. Sepertinya karena gerakanku sangat tiba-tiba tadi? Aku membebatkan Sabel ke belakang punggung dan berkata, "Maaf membuatmu terkejut tetapi, a-aku juga sedikit kaget mendadak hibrida itu muncul di belakangmu."


Mata merah muda berkedip berkali-kali, Cecil sempat terdiam beberapa saat hingga membalas, "Ingatkan aku untuk tidak mengagetkanmu."


Aku terdiam melihat reaksi si gadis---tunggu, sepertinya terpaksa meletakkan Zweihande ke pinggang ... ah, si pedang sedikit menyeret ke tanah karena besar dan panjang. Ini merepotkan, tapi harus dilakukan agar bisa membawa Cecil di belakangku dan tetap menyerang jika para reptil kembali datang.


Pun aku menarik Sabel untuk persiapan dan berjongkok di sisi Cecil. "Naiklah dan pegang erat-erat."


Terasa si gadis mulai merayap ke punggung bahkan lengan mungilnya terkalung pada leherku sekarang. Aku berdiri perlahan dan bertanya, "Bagaimana dengan yang lainnya, apa mereka baik-baik saja?"


Karena jika Cecil tahu di mana posisiku, berarti dia juga tahu dengan yang lain. Terlebih, sinyal Heart Core tidak terganggu sama sekali 'kan? Aku mulai bergerak dengan mengarahkan tangan kiri pada salah satu tanah melayang di depan, lalu suara sumbang mengiris udara ketika kami meluncur menggunakan tali pegas.


"Mereka baik-baik saja, Crist paling belakang dan dia mengawasi yang lain. Oh! Lux dan Fate tuh hampir sampai! Apa kamu bisa menyusul mereka?"


Ah, tiruan Dream Land sudah terlihat jelas. Hampir sampai tetapi napasku mulai berat, membawa orang lain jelas menguras tenaga dua kali lipat. Namun, sedikit pun tak menghentikan percepatan. Sebab lebih cepat sampai, lebih baik.


Itu semua terbayarkan, akhirnya kami tiba pada tempat tujuan. Langsung aku menurunkan Cecil dan meletakkan senjataku kembali ke belakang punggung, melakukan peregangan kecil kemudian. Beberapa orang sudah tiba terlebih dulu daripada kami, termasuk Fate dan Lux. Mereka tampak beristirahat dan mengatur napas.


Jauh di depan sana ada satu bangunan mencolok; istana boneka. Tidak seperti wahana lain yang persis dengan dunia nyata, kastil satu ini begitu bersinar.


"Baiklah, apa semua sudah tiba?" Lux mulai berdiri di depan kami dengan menunjuk satu persatu, seperti menghitung. "Bagus, kita mulai---"


Bam!


Mendadak angin berderu liar, membuat helai-helai rambut bersicepat riuh. Pula suara terdengar seperti lolong kemurkaan berbaur pilu menusuk telinga. Kelopak pucatku melebar ketika mata menangkap sesuatu yang bergerak, jauh menjulang ketimbang wahana di sekitar.


Naga panjang dan besar, bermulut laksana buaya melaung. Perlahan dia mendekat atas tangan dan buntut berayun, menghancurkan sekitar tanpa dosa kecuali kami karena Theo--Disiplinaria--sudah mengeluarkan Skill Aegis, membuat kubah pelindung bagi kami. Aku sedikit tidak menyangka serangan ini, begitu tiba-tiba.


Decak tak suka pun mengudara, sepertinya karena banyak para hibrida berdatangan sekarang. Apa naga itu sang Elite? Sepertinya bukan karena dari auranya terasa mungkin ini hanya tingkat Knight, tetapi ... luar biasa besar.


"Bagi dua tim, masing-masing terdiri sepuluh orang! Satu tim menahan dan tarik perhatian hibrida ketika tim lainnya mulai invasi wahana istana boneka! Tempat itu, tujuan utama kita," instruksi Lux, pemuda yang merupakan ketua kami.


"Baik!" serentak banyak orang di setiap sudut menyahut, detik kemudian Lux mulai memanggil nama untuk pembagian tim atas gurat dahi terfokus menandakan dia sangat serius.


Selang beberapa menut, Theo menarik pedang besarnya demi mengenyahkan perisai pelindung dan di saat bersamaan seluruh murid berhamburan. Tim satu terdiri dari anggota inti--termasuk aku--fokus menuju istana boneka, dengan tim dua menangani tempat di sekitar lokasi sekarang. Dan tim dua yang rata-rata terdiri dari anggota Departemen Eksekusi dengan cekatan mempersiapkan jebakan.


Kami semua menuruti titah seakan tak ada hari esok. Suasana terlihat ramai dan kacau. Seluruh celah tak lepas dari jamahan para regu tim dua membuat kami--tim satu--yang akan menyerang istana dapat bergerak dengan mudah.


Sepuluh menit, desing peluru dan senjata terus terdengar bersamaan dentum langkah kaki raksasa mengentak tanah. Deram sang naga ikut mengolah simfoni tetapi satu pun dari kami tak ada yang menoleh ke belakang, lantaran percaya pada kemampuan mereka. Terlebih, misi yang kami emban lebih berat lagi.


Kami terus berlari dalam percepatan akselerasi sampai terlihat dua gerbang perak sang istana terbuka lebarnya, seperti mengucapan selamat datang. Saat memasuki kastil, di saat itu pula dua gerbang tertutup rapat. Luas, itu yang perama kali terlindas di benak ketika kaki sudah menjejak sempurna pada ruang depan istana. Benar-benar megah, banyak hiasan emas tersebar dalam suasana nan gagah.


"Sejauh ini koneksi kita tidak terganggu," tutur Cris, satu-satunya Departemen Konsultasi dalam tim kami.


"Bagus, terus berikan informasi terbaru pada akademi dan markas sementara," balas Lux.


"Kita harus segera mencari lokasi sang Elite." Ah, Rose. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Sang Disiplinaria yang menduduki peringkat empat, berdiri tepat di samping Theo. Rose lanjut berkata, "Dia mungkin sudah tahu keberadaan kita."


"Untuk apa dicari? Jelas-jelas dia pasti di kursi kerajaan, dan itu di tengah istana."


"Hah, kau tuh bodoh kayak biasa," celetuk Cecil terhadap komentar Daniel. Tapi laki-laki pirang hanya menatap datar si gadis kecil yang mulai berkacak pinggang. "Sayangnya, reptil itu ada di bawah tanah."


Bawah tanah? Untuk sekelas makhluk sangat pamer kekuatan dan kekuasaan, lalu menempatkan singgasana di bawah tanah tentu aneh. Aku menoleh ke samping ... Fate tampak berpikir, sangat yakin dia juga menilai ini mencurigakan. Cecil merupakan anggota Departemen Dragonic senior dan kemungkinan salah ketika mendeteksi kekuatan dragonic hampir tidak pernah.


"Dan juga, aku enggak tahu elemen apa yang dia gunakan," tambah si gadis kecil dengan menggigit bibir bawahnya.