
Gadis rambut biru laut terkejut ketika melihatku mendekat, hampir menjerit.
Aku mencoba menenangkannya, tetapi mendadak dia menyadari siapa aku.
"Oh, kamu yang sebelumnya menolongku! Sebenarnya aku ingin berterima kasih kepadamu, tapi ... waktu aku bangun, kamu sudah tidak ada."
"Kemarin kamu sekarat---"
"Oh, soal itu. Tak perlu khawatir! Aku tidak gampang mati." Gadis itu cepat memotong ucapanku.
Ugh, ya. Tak akan mati karena ini sebenarnya masih dunia mimpi, tetapi keadaannya di dunia nyata ....
"Namaku Rei. Siapa namamu?"
Aku tertegun sesaat sebab sadar tidak memiliki nama asli, tetapi menjawab, "Orang-orang biasa memanggil saya REDstar."
"Hmmm, nama yang sangat asing. Kalau begitu kenapa kamu ada di sini?"
Aku langsung menatap Rei serius. "Menyelamatkanmu."
Rei terkejut hingga menutup bibirnya menggunakan kedua tangan. "Loh, menyelamatkanku?! Apa maksudnya? Aku di sini untuk menyelamatkan Mei, adikku, apa gunanya kamu menyelamatkanku?"
Mendengar itu, spontan aku mengelus tengkuk---ah, ini ... akan sedikit sulit dijelaskan kalau dia tak sadar berada di dalam alam mimpi.
Apa Rei tidak merasa tubuhnya sekarang seorang anak kecil? Padahal dirinya yang asli sudah dewasa, mungkin sekitar 20 tahunan.
Aku pun bertanya, "Kamu sendiri, kenapa bisa berada di sini?"
"Hmmm. Sejak aku bangun tidur, aku sudah berada di tempat aneh ini. Bagaimanapun caranya, aku tidak bisa keluar. Selain kita, aku juga lihat banyak orang lain terjebak. Awalnya aku ingin tanya mereka sebenarnya ini di mana, tapi mereka malah ketakutan dan lari melihatku. Kemudian aku melihat Mei! Aku ingin mengejarnya, tapi pria aneh itu terus mengikutiku. Pokoknya semua hal di sini sangat aneh. Aku harus menemukan Mei dan membawanya pergi, bantu aku menemukan cara untuk keluar dari sini!"
Haruskan kuberitahu kalau kita berada di alam mimpi?
Dan aku ingat bisa keluar dari dunia ini--bangun dari mimpi buruk--bukan atas kehendak sendiri, tetapi bayangan hitam; seperti tenggelam dalam kegelapan.
Di satu sisi, Mei yang gadis rambut biru ini sebut mungkin ... sang vikaris, adik kembarnya.
Selang beberapa menit Rei bergegas pergi, mencoba menemukan petunjuk ... mungkin.
Ah! Aku juga harus mencari jalan untuk keluar dari sini menggunakan caraku sendiri, karena rasa terbangun melalui perantara kegelapan sedikit menyiksa seolah-olah mata dipaksa menyaksikan sesuatu hal yang buruk; dihantui oleh ingatan akan masa laluku yang keji.
Lantas aku kembali berlari dengan tatapan tak henti memandang setiap sisi taman berhektare-hektare luasnya.
Ketika berjalan menelusuri sekitar, terasa hujan ini seperti hal yang bersifat tak nyata karena tidak sampai membasahi kulitku. Namun, dinginnya air terasa nyata.
Ini sangat aneh.
Kemudian aku mencoba menuruni tangga yang ... tidak tahu berapa banyak anak tangga---ah! Ternyata ilusi lagi.
Baru saja menuruni 5 langkah, kaki telah sampai di lantai dasar.
Aneh.
Namun, tak asing.
"Kiamaaattt! Pembawa kiamat tiba, aaaaa!!" teriak seorang wanita seraya berlari tak karuan di sekitar jalan setapak; membuatku terkejut.
Spontan aku berusaha menenangkan dia yang begitu dilanda kecemasan, apa lagi ekspresinya tampak tidak biasa.
Sayangnya, persis seperti ucapan Rei, wanita itu semakin berlari menjauhiku seolah-olah melihat sosok monster.
Menyaksikan segala keanehan ini, dalam dada terasa suatu dingin yang merambat perlahan bersamaan rasa iba dan kasihan berpadu menjadi satu.
Namun, membuatku semakin bertekad pula untuk menyelamatkan mereka semua dari jerat mimpi buruk.
Lantas aku kembali menyusuri sekitar dan tibalah di patung raksasa yang tak begitu jelas bentuknya. Yang pasti, patung ini memiliki wajah dan mata yang terus tertuju kepadaku.
Bahkan ketika mencoba melangkah menjauh; berbelok ke kiri dan kanan; mundur, kedua matanya masih setia mengikutiku.
Mungkinkah ilusi lagi?
Aku pun mendengkus dan mencoba mendekatinya kembali. Siapa tahu di patung itu ada petunjuk?
Ketika tangan sibuk meraba patung aneh ini, ekor mataku tak sengaja melihat sesuatu tepat bawah kakiku.
Tanpa pikir panjang langsung kuambil sebuah buku kuno bertuliskan ... Festival Persembahan?
Mendadak keadaan di sekitar menjadi abu-abu dan kembali ragaku merasakan suatu tekanan yang kuat.
Lagi-lagi napas dipenuhi sesak yang menyiksa sampai tangan refleks mencengkeram baju di dada.
Buku kuno itu---tidak, aku tak bisa membacanya dalam keadaan seperti ini. Langsung kusimpan dalam tas pinggang dan aku mulai menyeret kaki meski napas terengah heboh.
Sesak; tercekik, aku tidak tahu hal apa yang membuat keadaan di sekitar menjadi mengerikan---oh, Rei!
Apa ia selamat? Di mana? Mungkinkah ia mengalami hal seperti ini juga?
Aku harus ... menemukannya.
Langkahku berat. Penglihatan mulai menghitam. Napas terputus-putus. Namun, aku tetap memaksakan diri untuk berjalan, meski harus bersandar dari satu pohon ke pohon lainnya.
"R-Re ... i!"
Aku mencengkeram dada semakin kuat dan sedikit menarik baju, berharap napas kembali lega. Tunggu. A-aku melihatnya!
Benar!
Pada pohon bengkok dengan banyak batang, ada dua gadis kecil--Rei dan Mei--berdiri tepat di bawahnya.
Sebab terpacu oleh adrenalin, aku berusaha mencepatkan langkah, tetapi tak bisa. Desakan aura di sekitar juga semakin kuat.
Tetap saja, aku memaksakan langkah.
Tidak mau ... terus ... berakhir lemah!
Sekarang aku benar-benar tercekik, tetapi dengan sekuat tenaga aku mencoba menyentuh pundaknya.
"Rei!"
Dia tersentak dan langsung menoleh ke arahku.
Seketika keadaan di sekitar kembali normal, memancingku menelan ludah beberapa kali dan mengusap-usap leher.
Ah. Ugh ....
Aku berusaha menenangkan diri; menarik dan mengembuskan napas lalu menggeleng sedikit demi meraih fokus.
Aku mulai dapat menelaah sekitar dengan lebih baik. Lantas terlihatlah air mata Rei mengalir pelan di pipi. Dan Mei ... tidak ada di sini.
Mungkinkah, ilusi?
"Ini, tak asing," rintih Rei tiba-tiba.
Aku berusaha mengusap pipinya demi menyeka air mata. Rei pun memegang tanganku dan terasa dia menggenggam ... liontin?
'Ini, merah punya Mei dan biru punya Rei.'
'Terima kasih, Ayah.'
'Wow, sepasang!'
Crash!
Mendadak keadaan di sekitar menghitam, dan---ah ....
Sebenarnya, dulu, aku sempat berpikiran ....
Ada satu waktu di mana orang-orang akan meninggalkan realitas, sebab rasa takut pada kenyataan.
Dan rasa takut itu akan terproyeksi dalam mimpi yang lama kelamaan larut dalam benak, membuat mata terus melihat sebuah ilusi.
Sehingga akan sulit membedakan mana mimpi, mana kenyataan.
Itulah yang kurasakan sekarang karena sampai saat ini; hingga sekarang, aku berharap---walau hanya berharap, aku masih ....
Masih menginginkan dia.
Dia, yang kini mengukir senyuman, seperti biasa.
Senyum lembut yang begitu aku kenali; yang begitu terkesan; yang begitu dirindukan.
Melihatnya kembali di depanku, seolah-olah menarik seluruh tenaga hingga badanku ambruk; berlutut.
Namun, dia ikut bersimpuh di dekatku, membuatku tak bisa berpaling sedikit pun darinya.
Walau air mataku mengalir deras tanpa izin, tubuhku membeku.
Pikiranku mulai melayang ketika jemarinya memegang kedua pipiku; menghasilkan suatu keinginan yang menyedihkan muncul di dalam dada. Suatu keinginan ... untuk mengulang kejadian terdahulu.
Sejak aku lahir, aku tak mengerti apa pun, termasuk keluarga atau kebahagiaan kecil lainnya.
Ketika aku mengerti tentangnya ... sebentar, hanya sebentar, itu hilang dalam genggamanku.
Aku tak tahan jika harus terus menghadapi sesuatu hal seperti kehilangan.
Sehingga aku ingin ... ingin, bisa terus bersama dengannya.
Walau ini hanya mimpi.
Mendadak, dia berdiri. Dia berjalan, di antara mayat yang telah aku injak-injak; orang-orang yang dulu sudah kubunuh.
Dia terus berjalan dan tanpa sadar, aku mengikutinya.
Keadaan di sekitarku begitu gelap, sebab cahaya runtuh satu persatu di setiap langkah yang kami lewati.
Dan rasa yang begitu nostalgia langsung menyerangku.
Seperti dulu.
Aku ingin hidup seperti dulu.
Terasa suatu aura keluar dari raga hina ini dan pedang itu kembali dalam genggamanku.
Langkah kakinya pun berhenti, begitu pula denganku.
Dia membalikkan badan ke arahku membuat rambut merah muda yang panjangnya melambai begitu menawan.
Dia mengukir senyum hingga mata biru langitnya terpejam.
Sedangkan aku sudah tak mampu lagi berekspresi, ledakan emosi terlalu mendominasi.
Aku tak bisa menggerakan tubuh; tak mampu melontarkan kata sepatah pun; tak kuasa menghentikan air mata yang mengalir.
Padahal senyuman itu kembali. Senyuman yang begitu lembut dan hangat.
Namun, rasa sakit di dalam dadaku semakin tidak tertahankan.
"Hikiboshi, ayo kita kembali ke sungai itu!"
Tak tahan.
Tak tahan.
Tak tahan!