
Tumpukan buku di sebelah kanan; kumpulan buku lainnya tak luput di sebelah kiri, sudah benar-benar menjadi kebiasaan terus mencatat seperti saran dari Fate. Namun, sudah habis lima buku berukuran tebal dengan kata-kata, masih saja kepalaku berantakan.
Sebab dari sekian banyak kejadian, mana yang lebih dulu terjadi? Apa lagi aku terlahir dua kali? Reinkarnasi? Haaah, membingungkan.
Kepala masih terasa kosong dan ini sungguh mengganggu, baik untukku; juga yang lain. EVE bahkan mengatakan akan terus mengawasiku, tapi bagaimana? Karena sama sekali tak terasa apa-apa. Mungkin melalui Heart Core? Entahlah, terlalu bingung untuk ini semua. Aku bersandar pada bangku meja makan club demi menjulurkan kaki lurus ke depan.
Kira-kira sampai kapan kepalaku terus begini? Dari dulu, rasanya tak pernah beres.
Langsung aku mengangkat tinggi-tinggi satu buku yang sedari tadi kugunakan; memperhatikan kalimat di dalamnya yang lama kelamaan miring, lantaran tangan semakin lelah menulis padahal ini baru buku ke enam. Bagaimana tidak? Ingatan kacau, aku jadi dibebas tugaskan. Namun, memilih menghabiskan seluruh waktu dalam club untuk menulis tanpa henti.
Padahal sudah beberapa hari berlalu dan keadaan di organisasi Vaughan masih berkabung, tapi dengan menakjubkan mereka bisa gunakan itu untuk melangkah maju--jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Club juga sangat sepi, hanya ada aku.
Dikatakan, kita tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan teman-teman yang telah gugur. Meskipun wilayah Centru tak terlalu banyak kehilangan anggota dibandingkan Eother, tetap kami kehilangan lima murid Disiplinaria; banyak dari Eksekusi, senior dan staf juga ada yang gugur.
Aku pun mengembuskan napas panjang dan meletakkan buku pada meja untuk kembali menulis. Mendadak terdengar derit pintu yang terbuka---eh, siapa? Aku menoleh pada jam dan ini masih pukul tiga sore, belum waktunya kebanyakan orang untuk pulang. Lantas aku sedikit menjorokkan badan ke arah pintu untuk mengintip, kira-kira siapa pulang terlebih dulu?
Lantaran ruang ini sungguh sepi, suara langkah kaki begitu jelas terdengar, pelan-pelan menghampiri ke arah sini sampai sempurnalah sosok orang yang datang; membuatku terkejut hingga kelopak mata terbuka lebar. "Fate? Kenapa di sini?"
"Apa aku tidak boleh datang ke club-ku sendiri?" jawabnya dengan wajah datar seperti biasa.
"Aaaah, tidak. Tidak ada yang larang, hanya ... tak biasa."
"Hanya karena tak biasa bukan berarti aku tidak pernah datang. Kau saja yang tak pernah ada setiap aku ke club."
Benarkah? Kucoba mengingat ... he? Kenapa yang muncul justru hal lain? Tunggu-tunggu, ternyata aku sanggup terus duduk sembari memandangi pohon selama berpuluh tahun. Waktu dulu, apa aku tidak lelah dan kelaparan? Sebentar, bukan itu masalahnya! Tuhan, kepala sungguh tak bisa diajak kerja sama.
Aku memilih meraih tumpukan buku di sisi, kalau tidak salah bagian mengenai club tadi kubawa ... ini dia! Langsung membuka dan membalik lembar-lembar di dalamnya; mata jelaga menyapu tiap baris kata. Dan ini mencelikkan benakku.
"Benar juga, aku sendiri jarang ada di club."
Mendengar itu, Fate mendengkus dan berjalan ke arah dapur. Sepertinya cukup kelelahan, aku pun bertanya, "Kamu masih sibuk?"
"... Disiplinaria tersisa empat orang, tentu sangat sibuk. Dari awal kami hanya sedikit, ditambah dengan gugurnya lima orang dalam bertugas, pekerjaan yang harusnya untuk sembilan orang diambil alih hanya oleh empat orang. Itulah mengapa aku ingin beristirahat ke ruang club meski hanya sebentar. Sepertinya malam ini seluruh Disiplinaria akan lembur lagi."
"Ah, begitu. Kalau kondisi seperti ini, aku takut keluar. Seperti kejadian kemarin-kemarin, justru aku merasa tertekan. Jadi seharian di sini."
Kulihat Fate mulai mengambil minuman di dapur dan duduk pada kursi meja makan di dekatnya. Perlahan, dia meminum air mineral itu dan bersandar pada bangku, lalu memejamkan mata nan tenangnya. Tak terbayang sesibuk apa Disiplinaria dengan murid tersisa empat orang---eh, omong-omong ingatan yang tadi perlu dicatat. Masalah dunia asal. Aku kembali menulis.
Sontak hening membumbung membuat rasa canggung memenuhi. Tadi aku sempat salah ucap tidak?
Ketika sedikit meliriknya, si gadis masih duduk dengan tenang. Mungkin memang sangat lelah? Seperti anggota yang lain.
Sepulang penyerangan besar-besaran, aku hanya melalui scanning sebab pada dasarnya tidak ada luka berat. Sedangkan Fate ... apa dia baik-baik saja?
"Soal kemarin, kamu tidak apa-apa? Maksudku saat kita hanya berdua dengan Tiamat, kamu langsung diam."
"Tidak apa-apa," jawabnya, "Hanya ... ingatan tentang bagaimana Arthur mati kembali, dan Tiamat menggunakan ingatan itu untuk menyerangku dengan cara mengulangnya secara terus menerus di kepalaku. Sampai kau mematahkannya."
Sesaat, Fate sedikit mengembuskan napas. "Tapi setelah menghancurkan satu kepalanya, aku merasa jauh lebih baik."
Ah, bagaimana cara Fate menghancurkan salah satu kepala Tiamat sungguh mengerikan. Lantas aku tertawa kering. "Ya, satu itu sangat menyeramkan. Maksudku, bagaimana kamu menghancurkan kepala Tiamat---ah, ingatkan aku untuk tidak membuatmu marah lagi."
Si gadis menaikkan kedua pundak seraya memiringkan kepala, lalu mengecek ponsel. Mungkin memeriksa kondisi Disiplinaria yang lain? Atau keadaan di luar, entahlah. Aku lanjut menulis. "Tapi aku senang bisa menolongmu di sana, karena tidak tahu harus berbuat apa. Tiamat terlalu brutal memainkan isi kepalaku hingga benar-benar tak bisa berpikir sampai sekarang."
"Sebenarnya kata-katamulah yang menginspirasiku dan menyadarkan aku."
Aku tersenyum kecil mendengar Fate berkata demikian. "Benarkah? Saat itu aku juga menyadari sesuatu. Aku merasa lega ternyata ingatanku bukan aku yang menghapusnya, berarti meski menyakitkan ... masih bisa menerimanya."
Pada dasarnya, aku tak mau kehilangan kenangan-kenangan tersebut. Mereka semua begitu berharga. Hanya rasa sakit yang kelewat menyiksa membuatku berakhir putus asa dan memilih lupa.
Ternyata, tidak seperti itu.
Meski tak menoleh sebab sibuk menulis, aku lanjut berkata, "Awalnya, kupikir aku sepecundang itu. Ketika yakin akan sesuatu, ternyata apa yang aku yakini bertolak belakang dengan kenyataan. Akhirnya merasa aneh pada diriku sendiri. Lalu, perlahan-lahan semakin benci dengan diri sendiri. Fakta lain bahwa hanya ada kenangan buruk dalam kepala, membuatku benar-benar menderita dan gelap mata. Seperti Profesor Caterine katakan, aku menjadi gelisah dan melakukan sabotase diri."
Aku pun menghela napas. "Ternyata setelah ingat semua, dunia tempatku berasal ... tidak seburuk itu. Masih ada yang peduli padaku meskipun diawali oleh rasa takut, berakhir menjaga diriku penuh was-was, lambat laun mereka bisa kenal aku lebih jauh. Ahahaha, ya, meski ada salah paham juga."
Kemudian aku meraih buku yang lain, karena bercerita seperti ini ternyata membantu ingatanku. "Dan bagaimana Aion benar-benar menasihatiku banyak hal, tapi aku justru lupa semua ucapannya. Hanya tersisa bagaimana aku membunuhnya, padahal ia telah membaca akhir mengerikan itu. Itu sebabnya ia membuat buku cerita mengenai diriku ... untuk membebaskan kisah kami dari si Malaikat Jatuh."
"Dalam cerita kami, ia menyebutku sang harapan--The Hope--tapi berdasarkan ingatanku yang dirusak, aku hanyalah monster kecil." Aku terus menulis, mengenai memori yang mengalir lembut ini.
"Selama ini, aku benar-benar tidak menyadarinya. Tapi berkat perlakuan baik dan penerimaan mereka, aku bisa kembali mengingat rasa hangat itu. Bahkan perlahan-lahan memori ada yang terbuka lagi. Terutama olehmu, Fate. Kurasa, kamu orang pertama yang benar-benar membuka mataku."
Langsung aku meletakkan pulpen di sisi.
"Dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Fate, terima kasih telah hidup dan bertemu denganku."
Aku menoleh padanya, dalam wajah penuh sarat akan perasaan senang nan dalam. Seperti hati yang kini dipenuhi warna; seperti pojok asa kembali menyala; seperti aku yang diingatkan oleh rasa tersebut. Benar-benar hangat, sampai ujung jari ikut merasakan suatu kenyamanan; sampai dada terisi penuh hingga aku menyentuhnya.
"Aku sungguh ... merasa bahagia dan mensyukuri keberadaanmu."