
Ha-ah, aku sangat ... malu!!
Astaga. Ya, Tuhan! A-apa aku melakukannya dengan benar? Maksudku, menenangkan Crist dengan baik? Aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba dia menangis, tapi air matanya sungguh sunyi; terisak; pelan; sopan. Lalu kenapa juga aku langsung merangkulnya? Haaa, kacau sekali! Aku terus saja menutup wajah dengan kedua tangan.
Namun, dia memang sangat sepi ketika menangis. Tak kurang ajar dan menjadi sepertiku, sungguh. Badan hanya bergetar; isak pelan-pelan terdengar; membenamkan wajah ke pundakku hingga terasa panas, mungkin karena air mata meresap pada sweter panjangku? Dan semua itu selesai dengan singkat.
Sekarang ... aku sedikit mengintip dari sela-sela jemari.
Setelah meminum sisa teh botolnya sampai habis, Crist berkata, "Banyak orang tahu aku ... hanya untuk beberapa alasan, dan untuk beberapa waktu. Pada akhirnya mereka akan melupakanku. Tapi dikatakan ketika kamu mencintai apa yang kamu lakukan, kamu tidak perlu apa pun sebagai balasan. Biarkan Tuhan memberikan hadiah terbaik untukmu. Jadi, yah, tidak masalah."
Dengan penuh semangat aku pun berkata, "Aku tidak akan melupakanmu!"
Ah, dia terkekeh kecil. "Kuharap juga demikian."
Kemudian, pandangannya berubah sayu. "Kamu tahu kenapa aku selalu menolong orang? Karena aku senang melakukannya. Aku merasa, menolong dan memberikan arahan adalah alasan kenapa aku hidup sampai sekarang."
Ini mencelikkan benak. Dulu Crist pernah cerita bahwa sebenarnya hidupnya telah berakhir tetapi ketika diberi kesempatan lagi, dia gunakan untuk menuntun orang lain. Aku tidak menyangka manusia normal mengalami kejadian seperti itu.
Mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak ... tak ada yang tidak mungkin.
Namun, kenapa? Bukannya dia juga punya pilihan yang lain? Ini mengingatkanku pada Aion, ia justru memohon untuk aku agar diberi kehidupan ke dua kalinya daripada permohonan lain. Dan sekarang aku sadar kenapa ia berharap demikian, hidup tidak seburuk apa yang selama ini ada di balik mata jelagaku.
Dulu aku merasa tersiksa karena permohonannya. Aku tidak tahu apa yang bagus dariku, kenapa ia tak membawaku bersamanya? Akhirnya, aku semakin tenggelam dalam penderitaan. Ternyata, semua, tidak seburuk itu.
Setelah menyadarinya ... aku bersyukur telah lahir, menjadi diriku sendiri.
Dan bersyukur, bahwa aku memiliki seseorang yang mencintaiku ... sedalam itu.
Dan mereka, juga berhak untuk bahagia.
"Kalau dipikir lagi, kamu ada benarnya." Aku mengukir senyum kecil, sama seperti hati yang perlahan terasa diselimuti oleh afeksi dari seluruh kenangan manis. "Dulu, aku sampai ingin bisa menjadi kuat dan seberani dirimu dan Fate. Tapi aku menyadari ... tidak apa-apa seperti ini; tidak apa aku tak sempurna karena itu yang membuatku, menjadi aku. Dan orang-orang akan menerimaku, sebagai diriku sendiri."
Aku mulai menoleh padanya dalam binar wajah kian berseri. "Orang-orang akan menerimaku sebagai diriku sendiri, karena ... itu adalah aku! Walau aku ini sangat buruk dan sebagainya, aku bisa mengisi kehidupan orang lain dengan caraku sendiri."
"Terima kasih untuk segala perkataanmu. Sungguh!" Kini wajahku berubah serius hampir-hampir alis menyatu. "Maka dari itu aku ingin kamu baik-baik saja, Crist! Aku tidak bisa berkata hal yang bagus-bagus sepertimu tapi ingin kamu bahagia---"
"O-oh, lihat ini sudah jam berapa?" Saat aku mendekat ke arahnya, seketika itu juga dia beranjak dari duduk dan mengecek jam tangannya sekilas. "Waktunya kembali bekerja. Terima kasih, Red. Sampai jumpa lagi!"
Dan dia pun pergi.
Heeee, seburu-buru itukah? Memang sudah satu jam? Lekas aku mengecek ponsel dan tahu dengan pasti, waktu istirahatnya masih tersisa dua puluh menit lagi. Mungkin tak ingin terlambat? Atau berjaga-jaga mendapat panggilan? Entahlah ....
Aku berakhir meminum soda sembari melihat Crist melangkah dengan terus menunduk-nunduk sampai rambut ungu panjangnya mengibas pelan. Berkat itu aku melihat---hmpft!
Air langsung menyembur dari hidung dan aku terbatuk kencang sampai membungkuk-bungkuk. Ya Tuhan, sakit---akh! Napasku ... hah! Aku memukul-mukul dada lantaran rasa ketika minuman masuk ke kerongkongan memang mengerikan, apa lagi soda! Astaga, kenapa aku tersedak lagi untuk kesekian kali? Ah, tunggu! Masalahnya, bagaimana tidak terkejut kalau melihat Fate dibopong banyak orang seperti itu?!
Namun, aku kehilangan jejak.
Astaga, kenapa ramai-ramai membawa Fate? Tapi satu yang pasti, aku melihatnya memasuki gedung Departemen Gear. Ya, pasti! Aku yakin mereka ke sana!
Ada urusan apa dengan Fate? Entahlah, tidak tahu juga kenapa aku dibuat khawatir karenanya hingga semakin cepat melangkah sampai napas memburu; tak mengindahkan rasa perih di kerongkongan sebab sisa soda yang menyusup.
Saat memasuki gedung---ah, kenapa sangat ramai? Banyak orang berlalu lalang, tampak sibuk. Namun, dilihat dari seragam dan pita tangan yang dikenakan, semua adalah anggota Departemen Gear. Sangat jarang melihat mereka tak bergelut di ruang kantornya masing-masing. Mungkin menangani proyek yang dibincangkan Daniel bersama Crist?
Apa itu sebabnya Daniel akhir-akhir ini sering lembur? Tunggu, apa itu ada kaitannya dengan Fate? Aaah, kepalaku sakit ketika berusaha memikirkan itu semua! Lebih baik mencari tahu sendiri. Bergegas tumit kembali melangkah dengan mata jelaga menelaah sekitar.
Rata-rata orang di sini berjalan cepat membawa papan kerani atau menelepon seseorang tetapi aku tidak menyerah, terus saja melangkah dengan menoleh ke sana kemari, dan itu membuahkan hasil! Aku menemukan satu siswa terlihat senggang di antara yang lainnya.
Buru-buru aku menghampiri dia dan menepuk pundaknya. "Apa kamu melihat Fate?"
Siswa itu terkejut, dengan memperbaiki posisi kacamata dia membalas, "Huh, Fate anu ... Disiplinaria?" Aku mengangguk. "Oh, dia di ruang uji coba. Lurus dari ruang pojok kanan terus belok kiri, ikuti jalan. Tapi ada urusan apa tanya Fate? Terus kok kamu tahu---hei, tu-tunggu!"
"Terima kasih!"
Tanpa basa-basi aku melesat tanpa memedulikan dia yang terus memanggil-manggilku. Sesekali berkelit demi menghinari orang-orang yang memenuhi lorong.
Biasanya, di tengah kerumunan seperti ini aku merasa tak nyaman tetapi jika mengetahui Fate entah sedang apa di sana ... aku lebih mencemaskannya!
Sampai langkah kakiku berhenti dalam napas terengah-engah, tepat di depan pintu besi besar yang terpisah dari ruangan lain. Di atas pintu terdapat bar yang menjelaskan jika uji coba sedang berlangsung. Uji coba apa? Ah, yang terpenting, Fate ada di sana!
Dengan menggebu-gebu aku kembali berlari tapi ketika sudah dekat, ditahan oleh penjaga pintu dan orang yang menjaga itu ... adalah Daniel.
"O-oi, Red! Santai-santai, ada urusan apa nih kemari?" Aku hanya meliriknya sekilas, kemudian berusaha masuk---
"Waaahh, enggak bisa! Kita lagi adain uji coba. Mau cari Fate 'kan? Kalau sudah sele---"
Aku langsung meraih dan mengangkat tubuh Daniel tinggi-tinggi, wajahnya pucat seketika. Kemudian melangkah sedikit ke samping dan meletakkannya ke bangku yang ada di dekat tembok. Si laki-laki mematung sekarang tapi aku hanya menaikkan kedua pundak. Habisnya dia menghalangi, jadi aku pindahkan.
Sekarang, ada yang lebih penting.
Lekas aku mendobrak masuk dan berteriak, "Fate---ah!"
Eh, astaga! Ya Tuhan! Tanpa basa basi si gadis justru menyerangku tetapi aku berhasil menghindar---akh! Satu pukulan berhasil mengenai dada kanan dan seketika terasa remuk di sekitar. Kuat sekali, serangannya tak biasa! Apa-apaan itu?!
Ketika ingin mengumpulkan fokus, justru saat itu juga terasa kepalaku membentur lantai; ditendang kuat-kuat oleh Fate dengan putaran badan.
Semua terjadi sangat cepat, secepat kesadaranku yang mendadak hilang.