
Harusnya semalam merupakan malam yang tenang. Seharusnya, aku tekankan pada diri sendiri.
Seharusnya.
Karena sekarang ... Tuhan! Bagaimana bisa beristirahat dengan tenang jika posisi tidur Daniel sudah seluar biasa ini?! Dia kira aku adalah bantal; guling; benda mati, atau apalah yang bisa ditimpa dan tendang seenaknya?!
Seperti sekarang!
Tanpa basa-basi aku berdiri seraya menyeret kaki yang suka-sukanya menimpa wajah; membanting pintu geser transparan agar terbuka; berakhir melempar Daniel ke kolam renang sampai suara debur begitu memekakkan, bersamaan dengan rasa marahku sudah di ujung emosi.
"Gila! Orang lagi tidur diceburin! Perundungan itu enggak boleh Red."
"Aku kembalikan kata-kata itu padamu!" teriakku seiringan menuding si laki-laki yang sudah mencoba menstabilkan diri di dalam kolam.
"Apaan sih?! Pagi-pagi dah rusuh!"
"Kamu lebih rusuh!"
Astaga! Apa orang ini tidak sadar seberapa kali sudah aku terbangun tiba-tiba sebab dia tidur seperti mengajak ribut; terus menyepak-nyepakkanku, ha?!
Tidak tahu diri!
Maka saat dia berenang ke pinggir, kutendang balik sampai terpental ke tengah-tengah kolam karena ... marah! Padahal semalam tidur di samping Fate, bahkan tertidur karena kepala terus dibelai jadi seharusnya bisa menikmati---ah, rasa kesal; kecewa; sedih, kini bercampur aduk dalam dada.
"Nah, beginilah kawan ... kenapa aku enggak mau tidur dekat Daniel."
"Buset, Cil! Bantuin!"
"Kamu pengin aku lawan Red? Semalam tuh mimpi apa?"
"Bantuin? Butuh bantuan?! Ini bantuan agar kamu lebih tenang dan berkepala dingin!" Gesit kucengkeram kepala Daniel ketika beralih ke pinggir kolam, lalu kutekan kuat-kuat biar dia tenggelam saja sekalian!
"... Ini kenapa?"
"Ada pertunjukan, Fate. Untung sudah terekam."
Eh, Fate sudah---waah!
Byur!
Dan aku terdorong ke kolam.
Refleks aku menstabilkan badan seiringan tangan menyisir poni ke belakang kepala agar tetesan air tak menghalang penglihatan, dan tampaknya karena baru terbangun ... keseimbangan si gadis terganggu---ah, untung saja Fate tidak ikut tercebur lantaran sudah ditahan oleh Cecil; ditarik belakang bajunya kuat-kuat.
Namun, memang kebiasaannya sehabis tidur perlu mengumpulkan fokus beberapa saat dan Fate yang seperti ini sungguh lucu, jujur saja.
Aku senang dia mendapatkan istirahat yang cukup.
Seketika terasa aura mencekam di sisi, lantas menoleh ... eh, Daniel? Dan sudah dalam posisi siap menerkam dengan mata berkilat berani, kemudian---Tuhan! Dia melonjak tepat ke wajahku! Akh, susah payah kutarik belakang bajunya agar terlepas dari kepala tetapi dia semakin lekat mencengkeram, bahkan ikut memanjat ke atasku!
Haaa, aku tak henti menggeram dan kami berakhir bergulat dalam air lantaran berkali-kali kuhempas, Daniel kembali menyerang!
"Wah, kayaknya enak main air."
Spontan kami beku di tempat, dan menoleh pada asal suara---he? Sejak kapan Lux sudah ada di bangku pantai pinggir kolam sembari meminum jus? Mengenakan kacamata hitam pula!
"Loh, kok bisa kamu ke sini?! Ngapain?" tanya Cecil penuh kejut.
Lekas si pemuda beranjak dari duduk dan menghampiri kelompok kami. "Soalnya aku menuntut liburan. Akhirnya si Pak Tua kasih aku libur selama dua hari. Aku juga butuh liburan tahu." Dan dia menggeser posisi kacamata hitam agar berpindah ke atas kepala.
Benar saja, mata panda semakin menjadi dan kini ditambah dengan kantung mata. Wajah lugas itu berakhir terlihat kacau dan aku meringis kecil mengetahuinya. Mungkin sampai menggantikan posisi Fate ditambah pekerjaan biasa sebagai Enforcer dan Disiplinaria? Heh, tak terbayang sesibuk apa kondisi Lux hingga tersenyum lelah begitu.
"Oke, kamu boleh ikut main sama kami!" seru Daniel bersemangat yang masih bertengger di atas kepala. Lantas kudorong dia sampai terhempas ke tengah kolam, membuat cipratan air menyebar ke segala penjuru.
"Kalian berdua, sudahlah ... nih, sampai basah ke mana-mana. Setidaknya kalian jadi bangun tepat waktu. Ayo keringkan badan, kita sarapan." Kemudian Crist menyerahkan dua handuk besar kepada para gadis. "Tolong ya, Fate, Cecil. Siapa tahu nanti mereka jadi lebih tenang."
"Crist, kok kamu santai gitu ada si Lux?" tanya Daniel tenang atas kepala dan badan dibantu berhanduk dengan Cecil.
"Aku sudah dikontak Lux kalau dia mau ke sini."
"Memangnya kenapa? Katanya aku sudah diterima main ke sini."
"Iya, cuma kaget saja gitu." Lalu si pirang melirik ke arah Fate. "Kamu juga dah dihubungi sama Lux?"
"Tidak. Aku memang menyadari ada yang datang ... hanya tidak terasa bahaya, jadi aku biarkan."
"Kamu sih ribut terus sama Red jadi enggak sadar!"
"Lah, Cil, kamu juga enggak sadarkan?" Sontak mata hijaunya menuju padaku. "Tapi memang lah ... aku dilihatin terus loh, sampai enggak mengedip gitu. Horor banget!"
"Haah, memang pagi ini hawanya panas sih," keluh Crist.
Tapi Fate membalas, "Kenapa? Justru udaranya lembap dan segar, apa lagi di sekitar banyak pepohonan."
"Saya yang panas." Dan Lux tertawa ketika Crist berkata demikian, hingga embusan napas panjangnya terumbar. "Ya sudahlah, aku urus sarapan dulu berhubung ada Lux di sini."
Berbeda dengan Cecil yang menepuk kepala Daniel berbalut handuk dan berkata, "Kamu sih buat dia marah, masih untung tulang enggak dipatahin."
"Jangan omong gitu, Cil ... nanti dia praktikan, habis aku."
"Makannya kamu tuh konsultasiin masalah kamu yang tidur super lasak gitu. Aku juga enggak mau kalau nanti tidur bareng kamu kayak orang susah."
Sontak si pirang menyengir lebar. "Apa, Cil? Tidur bareng?"
Tentu saja hal tersebut membuat wajah si gadis memerah tomat, terlebih menutup kepala Daniel sepenuhnya menggunakan handuk. "Ka-kamu tuh, nyebelin!" Dan beralih menyentakkan langkah memasuki rumah, membuat Daniel semakin menyengir lebar saat menyingkirkan handuknya.
Mungkin Cecil akan menyiapkan sarapan bersama Crist?
"Red, kalau kamu masih kesal ... kita latihan sparing saja. Hmm, mungkin bisa bentuk kelompok yang terdiri dari dua orang. Sekalian melatih kerja timmu."
Lantas aku mendongak demi menatap pada Lux. "Apa boleh menggunakan senjata? Ini resort terbuka untuk umum 'kan?"
"Nah, kita latihan dengan cara Departemen Displin," jawabnya dengan nada semringah.
Dan itu membuat Fate membalas atas suara dinginnya. "Lux ... kau mau membunuh mereka?"
Tawa renyah pun mengudara. "Maksudku dengan senjata khusus keluaran Vaughan yang sesuai dengan class kita, yang biasa buat kita latihan. Untuk benda tajam, ujungnya tentu tidak tajam tapi diganti dengan cat, sama kayak peluru untuk pistol."
Kemudian mata emasnya melirik pada masing-masing kami. "Untuk kelompoknya ... aku sama Crist. Daniel dan Cecil. Red dengan Fate. Bagaimana?"
Langsung Daniel berdiri dari duduk dan mendekati Lux penuh semangat. "Wah, boleh tuh! Asyik kayaknya!"
Sedangkan aku terdiam. Entah mengapa suara berisik Daniel yang antusias pun lama kelamaan menjadi samar dalam telinga. Apa karena aku tidak tahu harus bicara apa? Atau terkejut dengan pembagian tim tersebut?
Maksudku, aku ... dengan Fate. Berdua? Hanya berdua? Ah, tapi ini hanya permainan saja bukan? Tetapi rasa antusias mendadak menyala dalam dada. Mungkin tidak apa menikmati momen ini, mengistirahatkan tubuh dan pikiran setelah banyak hal berlalu.
Tidak apa-apa, 'kan?
"Fate, kamu sendiri ... bagaimana?" Dan ekor netra merah tertuju ke belakang; melihat ke arah si gadis.
"Menurutku ide yang bagus." Dirasalah jemari lentik menggosok-gosok rambut merahku yang sedikit lembap. "Lagi pula liburan ini juga ide Lucian agar kau siap pindah ke Eother. Dengan kau yang sekarang tidak tahu banyak ... lumayan berisiko. Itu mengapa kami semua ada untuk menemanimu, Red."
Mendadak aku tidak bisa berpikir ketika jantung seperti melompat keluar saat Fate berkata demikian seraya bersandar pada punggungku.
Terlebih saat menoleh sempurna untuk menghadapnya ... tampaklah merah merona mewarnai wajah pualam yang begitu dekat, membuat dada begitu mendebur-debur bagai ombak yang terus mengisi di tiap detik; membuat aku menyelami sepasang mata peraknya yang berkilau---astaga! Langsung aku berpaling dan menutup wajah menggunakan kedua tangan.
Tuhan, liburan ini sungguh sebuah mimpi dalam mimpi yang menjadi nyata!