
Kaget, sontak Fate duduk tegap dengan tangan memegang pinggir meja. Kelopak pualam pun tersibak sampai terlihatlah iris ambar memantulkan cahaya ketika mata berkaca-kaca, menampilkan ilusi optik bagai komet mengitari. Saat itu juga wajah si gadis merah padam dalam suatu ekspresi yang tak kumengerti. Iya, tidak kupahami sebab sangat jarang dia mengeluarkan tingkah seperti itu.
"A ... uuum, a-aku tidak melakukan apa-apa?" ucapnya terbata-bata, bahkan mulai menautkan jemari. Kalau dilihat-lihat, manis juga tingkah Fate yang ini.
"Hmm, tapi aku berterima kasih padamu karena telah hidup dan bertemu denganku," jawabku dengan sedikit memiringkan kepala.
Hal ini sungguh tak bisa kumungkiri. Semenjak kedatangannya, semua terasa berubah. Ah, ya, sejak malam itu ... ketika dia menemukanku sendirian pada malam bersalju. Pertama kali, orang mendengarkan jeritan hati dan benar-benar biasa ketika berada di sisiku. Berkata frontal tetapi lembut; tak menghakimi tapi tidak membenarkan; seimbang ... sungguh netral dan membimbing.
Benar-benar tak terduga.
Setelah sekian lama, ada yang melihatku secara adil ... selayaknya, seperti manusia. Kemudian mereka satu persatu mulai berdatangan, menjaga; menasihati; menemaniku. Ah, tidak. Dari awal, semua telah berasa di sisi, hanya kabut pekat dalam kepala menghalangi. Dan dia, gadis yang duduk pada bangku di ujung meja membuatku sadar akan itu semua.
"Kalau kamu tidak melakukan apa-apa, berarti memang ... kehadiranmu saja, sudah membuatku bahagia." Aku mulai menampilkan senyuman lagi. "Bahkan, mungkin mengucapkan terima kasih tidak cukup menunjukkan betapa berharganya kamu, Fate."
Lantas dengan amat lambat jemari lentik yang bergetar bergerak naik, menutup bibir tipis merah mudanya. Wajah si gadis memerah pula bagai memicu panas; mengundang gumpalan bening bersarang di pelupuk matanya. Terlihat juga, setengah mati dia menahan air mata yang mendesak untuk diluncurkan.
"A-aah ... um, a-aku ... aaaarghh!!"
Seketika Fate bangkit dari duduk hingga bangku tempatnya bersandar terjatuh. Dengan tergesa-gesa dia berjalan sampai rambut peraknya mengibas kasar, tapi kenapa? Aku salah berucapkah?
"Tunggu, Fate!" Buru-buru aku mengejarnya tetapi langkah si gadis amat cepat padahal terus menutup wajah dengan ke dua tangan.
Sampai pintu depan mendadak terbuka---ah! Astaga, dia menabrak Daniel! Tetapi tetap saja Fate melangkah maju meski sempat meminta maaf.
Pertama kali melihat Fate seperti ini ... Daniel dan Crist juga dibuat bingung. Jangan-jangan benar ada salah ucap?
Dengan melangkah masuk dan menutup pintu, Daniel pun bertanya, "Itu Fate kenapa? Wajahnya merah gitu, sampai nabrak aku malah! Ia biasanya sadar kalau ada yang datang, aneh banget."
"Tidak tahu ... padahal katanya mau beristirahat, tapi justru pergi. Apa aku salah berucap?" tanyaku dengan mengusap-usap tengkuk. Tidak tahu harus merasa sedih atau tak enak---ah, kondisi aneh seperti ini membuat kepalaku semakin sakit.
"Memangnya apa yang kamu katakan?" tanya Crist dengan gelagat menuntun kami--aku dan Daniel--untuk duduk pada sofa.
Lantas aku menghampiri mereka. Kemudian menarik dan mengembuskan napas perlahan, duduk dan bersandar pada sofa untuk menjelaskan kejadian tadi; bagaimana aku mengucapkan terima kasih ... Fate justru berakhir seperti itu. Ya, semua dijelaskan secara mendetail dan terus terang.
"Wahahaha! Nah, yang kayak begini nih aku suka! Kerja bagus, Red!" sergah Daniel tiba-tiba sampai membuatku terkejut.
"Huh? Aku hanya berterima kasih padanya? Lagi pula aku juga ingin berterima kasih pada kalian ... dan Profesor Kaidan, serta yang lain."
Wa-ah, Daniel tertawa semakin kencang tetapi Crist justru mendengkus, bahkan sampai menunduk dan memijat kening. "Ya, mungkin apa yang kamu ucapkan adalah hal yang penting untuknya. Dan berkata seperti itu padanya, entah mengapa terasa secara tidak langsung kamu seperti ... menyatakan cinta."
"Nah!" Daniel menjentikkan jari sedangkan aku terkejut sampai berdiri dari duduk.
"AKU APA?!"
Ya Tuhan! Aku memohon ampun---aaaaa! Bergegas aku kembali duduk dan menautkan jemari. Tapi benar, tak sadar! Aku tidak berpikir sampai situ. Astaga, kurang ajar sekali aku! Waaaa, kepala kenapa kamu tidak bekerja?! Langsung aku mengacak-acak rambut.
Benar aku tidak bermaksud---eh, tapi ucapanku sungguh-sungguh dan sangat tulus. Hanya tidak menyatakan ... akh! Aku tidak mau selancang itu! Apa lagi Fate masih punya Sen.
Nanti apa yang harus aku jelaskan padanya? Aduh, mati sudah! Tunggu, akukan tak bisa mati! Kenapa masalahnya jadi serumit ini?!
"Te-tenang Red! Tadikan aku bilang 'seperti', bukan benar-benar menyatakan cinta. Sedangkan untuk reaksi Fate, seperti yang aku bilang barusan, mungkin kata-kata itu terasa sangat penting bagi Fate hingga membuatnya bereaksi begitu."
Sontak Crist mencoba menyentuh kedua pundakku, mungkin berusaha menenangkan tetapi aku justru berbalik meraih pundaknya. "A-apa aku melakukan hal bodoh lagi?! Aaaaaa, Crist! Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Fate tidak mau bertemu denganku lagi?!"
Dan itu sukses, aku semakin panik. "APA?! Akh, apa yang harus aku lakukan ...."
Uughh, ya ampun. Rasanya lelah sekali kalau berakhir seperti ini. Tapi Crist di sana hanya tersenyum tenang, entah maksudnya apa. Pelan-pelan, dia beralih duduk di sampingku dan berusaha menjelaskan sesuatu ... secara terperinci. Sebenarnya tidak tahu yang dia katakan itu apa, kebanyakan masuk tapi keluar lagi dari kepala.
Namun, intinya aku mengerti bahwa ini hanya salah paham, dan Fate ... terlalu senang mendengar aku berkata demikian?
Aku pun mengembuskan napas amat panjang dan bersandar pada sofa. Mendengar penjelasan tersebut terasa seperti semua beban berat diangkat begitu saja.
Ah, nyawa seperti meleleh.
"Eh, Crist. Red yang kayak gini lucu juga, ya? Asik nih, buat ... didorong-dorong!" Huh? Maksudnya? Aku terpancing untuk menoleh pada Daniel yang masih menyengir kuda.
"Jadi, sekarang kamu ingin menyiksa temanmu yang sedang kesusahan mental dan ingatannya? Aku tidak tahu kamu serendah itu, Daniel." Crist mengatakannya dengan amat pelan dan santai.
Berbeda dengan Daniel yang langsung dibuat ... panik? "Aduh, bukan begitu! Aku cuma takut Red nanti kayak kamu! Paling tua di club, dua puluh enam tahun, lajang---ah, ups?"
Langsung Crist tersenyum lebar sampai matanya terpejam, tapi terlihat seram. Mungkin karena auranya berbeda? "Oh, ternyata kamu juga anak kurang ajar dan keterlaluan ya."
Seketika Daniel menunduk patuh. "Enggak, Kak. Maaf ...."
"Dasar, kalau masalah perempuan kamu selalu semangat." Mendadak Crist menjetikkan jari, seperti mengingat sesuatu. "Oh iya, kalian Departemen Gear sedang menangani proyek barukan?"
"Iya, nanti malam lembur lagi. Makannya mau lepas stres ...." Mendadak Daniel menaikkan wajah. "Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Daniel langsung melihat ke arahku dengan menaikkan sebelah alis. "Aku heran sama kamu Red, kenapa sih kalau berbicara mengenai Fate kamu kayak kaku sama segan gitu? Kamu sebenarnya enggak suka sama Fate? Apa malahan benci sama dia soalnya sering dinasehatin terus?"
Lantas aku tertegun, lalu menunduk dengan menautkan jemari. Pandangan ikut menjadi sayu sebab rasa sakit menghunus pelan ketika mendengarnya, sampai aku menangkupkan mulut rapat-rapat.
"Sudahlah Daniel, kenapa dibahas terus?"
"Kan aku penasaran, Kak!"
"Haaah, kita kembali diskusikan masalah proyek itu saja. Apa lagi tenggat waktunya seminggu lagi."
Sekarang Crist dan Daniel sibuk berbincang tetapi aku tidak mendengarkan apa isi perbicaraan mereka, sebab kepala terlintas banyak hal lain. Sebenarnya ... bukan aku tidak suka, apa lagi benci.
Bahkan kebalikannya.
Aku sungguh bersyukur dengan kehadirannya. Aku suka rasa itu; kehangatan itu. Apa lagi saat bersama Fate kadang bisa melakukan berbagai macam hal berdua yang cukup menyenangkan, seperti saat bersama dengan Aion. Dan seketika aku merasa seperti orang yang sangat beruntung di muka bumi.
Tapi bisa apa aku? Memang aku siapa? Tugasku sederhana, hanya menjaganya sampai kembali pada seseorang tempat ia berlabuh.
Fate sudah dimiliki seseorang, dan orang itu adalah Sen. Orang yang ingin ia ingat kembali meskipun ingatan itu menyakitkan. Menyadari ini ... sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang, seperti jantung diremas kuat hingga terasa sesak.
Namun, memangnya apa hakku? Cukup saja kembali seperti dulu, menjalankan tugas; selesai; beristirahat; kembali menjalankan tugas. Kenapa juga memikirkan hal ini? Tidak penting. Sontak aku beranjak dari sofa dan berjalan ke meja makan, karena lebih baik kembali menulis.
Tapi saat duduk dan menyiapkan diri untuk mencatat ... kenapa, tanganku justru bergetar? Dan tanpa sadar, beberapa tetesan air mata tampak pada buku sampai membuat genangan-genangan kecil.
Kenapa ... rasanya, sungguh menyakitkan?