When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sparing



Mata jelaga menatap gerak-gerik peserta di bawah. Pertarungan silih berganti, tetap tak pupus memandang setiap liuk pergerakan demi mengamati keahlian mereka dengan baik.


Seperti pemuda di sampingku yang pandai dalam Class Executioner dan tidak pernah kulihat menggunakan class lain, mungkin ingin memperdalam satu kemampuan hingga tekniknya sempurna? Layaknya Daniel loyal dengan dua pistol. Sedangkan Cecil dan Fate memakai Class Soul Dancer.


Jika dipikir kembali, rata-rata perempuan akan memilih class tersebut karena tergolong elegan. Soul Dancer laki-laki sepertiku sangat jarang ditemui tapi kali ini, aku tidak menggunakan Floating Hourglass. Ingin fokus menggunakan pedang.


Rasanya sedikit mengerikan menggunakan bilah tajam tersebut tetapi ... karena takut, aku ingin melawan rasa itu; meyakinkan apa benar jalan ini yang terbaik?


Aku menghela napas. Kuharap tak ada rasa penyesalan karena sudah menyatakan pada ayah Fate--Arthur--lantaran akan membulatkan tekad untuk kembali memegang pedang dan mengemban nama Sirius, julukan yang diturunkan untuk ksatria terbaik.


Namun bukannya nama tersebut cukup berat? Aku menggaruk kepala dengan canggung, tetapi ... suka, karena memiliki nama berarti eksistensiku sungguh ada; seperti manusia pada umumnya.


"Red, perhatikan ke bawah. Sebentar lagi Daniel dan Fate memulai pertandingannya." Crist mulai sedikit membungkukkan badan dengan setia menggenggam handycam. "Aku yakin ada suatu kejutan nanti."


Aku kembali memusatkan atensi ke arena simulasi di bawah, ruang metalik terhias neon itu berpendar sekali dan detik selanjutnya berubah menjadi tempat di mana terdapat air terjun dan sungai beraliran cukup deras; pohon tumbuh rimbun sebagai hutan penghias dalam hampar hijau karpet beledu.


Ada perempuan yang rambut peraknya mengibas sebab terpaan angin, berhadapan dengan laki-laki pirang sejarak beberapa meter.


Crist bersiul dan tampak memfokuskan lensa kamera genggam. Mungkin karena ... Fate, kini menggunakan Class Gunner sama seperti Daniel padahal dari pertarungan sebelumnya dan beberapa misi, si gadis selalu menggunakan Class Soul Dancer.


Sebenarnya, Soul Dancer bagus jika melawan Gunner karena dengan taktik yang sesuai, class support satu ini bisa memainkan dan memanipulasi kekuatan dragonic terlebih sama-sama penyerang jarak jauh, Soul Dancer bisa mencuri waktu untuk melakukan healing; tidak seperti Gunner cenderung fokus dalam penggunaan peralatan dan senjata.


Dari sini aku dapat melihat Daniel menyeringai, mungkin merasa lebih unggul terbilang mereka berdua menggunakan class yang dia kuasai? Aku sendiri bingung dengan bagaimana hasil pertarungan ini. Fate pernah menyebutkan pandai menggunakan senjata seperti pistol---tidak, gadis itu mahir menggunakan hampir seluruh jenis senjata. Namun, Daniel sudah lama menggunakan Class Gunner bahkan sering berlatih setiap pagi.


Entah bagaimana hasilnya, aku ingin memperhatikan pertandingan mereka dengan baik.


Profesor Kaidan mulai menaikkan lengan kanan, bergantian melihat Fate dan Daniel. Hingga dengan cepat menurunkan tangan penanda sparing dimulai ... mereka berdua masih bergeming.


Apa yang terjadi?


Fate masih menggenggam kedua pistol dengan moncong senjata jelas-jelas tak mengarah kepada Daniel. Begitu pula dengan sang lawan bertarung, mata hijau itu hanya menatap datar pada gadis di depannya.


Mendadak letupan pistol terdengar bising, pertanda peluru telah melesat dan mungkin bersarang di targetnya. Namun betapa dikejutkan ... tidak terjadi apa pun. Keduanya masih berdiri pada posisi yang sama dalam gaya yang sama pula, hanya Daniel lugas membidik sang senjata ke arah Fate, tapi tak ada luka terlihat.


Apakah dia meleset?


Daniel kembali mengokang senjata api. Seketika suara letusan pistol begitu ramai, menembak; mengokang; kemudian menembak lagi dengan sangat cepat. Terus berulang-ulang tanpa memberi celah dan ampun; tanpa berkedip; tanpa gerakan sia-sia terlebih pistol Class Gunner tidak menggunakan peluru biasa, melainkan kekuatan dragonic penggunanya. Senjata itu akan terus terpelatuk selagi penggunanya mampu dan hidup.


Tetap saja, satu pun tak ada yang berhasil melukai tubuh gadis semampai di depan. Tidak, bukan karena Fate menghindar tetapi menembak balik peluru yang Daniel lontarkan. Arthur sendiri mengatakan anaknya spesialis dalam bidang kecepatan dan aku sendiri telah merasakannya. Namun tak kusangka ... sebegitu cepat dan teliti hingga memukul balik peluru yang meluncur.


Kini Daniel terlihat geram pun mendelik ke arah Fate. Gesit Daniel menyelipkan satu pistol dan memukul salah satu senjatanya dengan tangan kiri. Ah, dia mengganti tipe peluru dan mengarahkan pistol pada gadis yang setia atas tatapan datar tanpa ekspresi.


Sekilas aku mendengar kekehan di samping ... Crist, dia sedikit menyeringai meski khidmat merekam pertarungan. Aku memutuskan kembali melihat ke bawah lantaran satu tembakan memekakkan dan gadis itu tetap menembak balik peluru Daniel tapi mendadak asap membumbung tinggi; mengisi celah-celah kosong di antara pepohonan dan menghalau kemampuan untuk melihat.


Tunggu! Peluru asap? Kenapa Daniel menggunakan itu? Bukankah sedikit berisiko karena musuh masih dalam keadaan utuh dan bukan untuk melarikan diri? Apa ketua club-ku ingin melarikan diri dan melakukan serangan tiba-tiba? Atau terlalu frustasi?


Rasa penasaran menggelitik pun aku semakin lekat pada kaca, sampai-sampai kedua tangan menempel di tembok transparan dengan mata jelaga sibuk mencari posisi mereka.


Debu mereda---astaga, Fate sudah berdiri di belakang Daniel dengan satu selongsong senjata tepat di kepala si pirang. Kenapa bisa? Daniel lengah?


"Checkmate."


Spontan aku melirik ke asal suara di mana Crist membaca pergerakan bibir Fate dan mengulang yang dikatakan berkat bantuan lensa fokus handycam.


Tiba-tiba sorak sorai pada murid pecah, padahal sebelumnya bising karena obrolan. Mungkin awalnya tidak tertarik terhadap pertarungan ini? Kini bagai orang yang tak menduga hasil akhir, mereka heboh berteriak tanpa henti. Aku kembali melihat ke bawah dan benar saja, Profesor Kaidan telah memberi aba-aba selesai dan ... dimenangkan oleh Fate.


Secepat itu?


Tanpa memakan waktu Daniel meninggalkan arena dengan keadaan sangat ... marah. Apa dia baik-baik saja? Entah mengapa aku sedikit khawatir pun memutuskan menjemputnya.


Menyegerakan langkah menuruni tangga dari ruang khusus, aku berhasil menemui Daniel tepat waktu. Namun ia mendesis dan tidak henti mengumpat sampai-sampai menabrak pundakku dengan langkah menyentak.


Aku balik menoleh menatap Fate yang tak begitu lama muncul ke lorong. Gadis itu hanya menjawab tatapanku dengan menaikkan kedua pundak.


Fate tidak apa-apa, tetapi Daniel ... lekas aku menyusulnya menuju halaman belakang.


Aku menyaksikan Daniel sudah menendang besi pembatas jalan berkali-kali dan mengacak-acak rambut pirangnya frustrasi.


"Daniel, hentikan! Dilarang merusak properti akademi."


Ah, ini mengingatkan dulu pernah melakukan hal yang sama kepada Profesor Kaidan ketika beliau mengkhawatirkanku. Jadi begini rasanya. Mungkin, sehabis ini aku akan meminta maaf pada beliau.


Tak lama aku dikejutkan dengan suara gaduh ketika ia memukulkan tangannya ke atas besi pembatas.


"Apa kerja keras enggak dapat mengalahkan orang berbakat?!" rintih Daniel lirih dan mencengkeram permukaan pagar, "apa enggak ada kesempatan untuk menggapai?"


"Tentu saja kerja keras bisa menang, kau saja kurang berusaha."


"Apa katamu?!"


Mendadak Crist muncul di antara kami dan sigap aku menahan Daniel dari belakang ketika jelas tampak seperti bom yang akan meledak; emosi tak terbendung hendak mencengkeram kerah baju pemuda berkacamata yang baru tiba.


"Tu-tunggu, jangan marah dulu! Mungkin kamu perlu melihat ini." Crist mulai menyodorkan suatu dokumen kepada Daniel.


Dengan kasar ia menarik dokumen tersebut dan dibaca sekilas. Tak lama emosinya mereda atas mata hijau menatap serius pada Crist. "Dapat dari mana?"


"Hanya pengamatan pribadi," jawabnya, "beberapa ada salinan catatan pengguna dan nilai latihan dari Pusat Pelatihan."


Daniel kembali mendelik pada dokumen di genggaman dan membaca baik-baik apa isinya. Penasaran, aku pun melepas dekapan pada Daniel demi mengintip lembar tersebut.


Ah, data profil lengkap dan dari situ terlihat kegiatan Fate sepenuhnya ... latihan? Sepadat itu? Karena jam kosong habis dalam arena simulasi. Jika dibandingkan dengan Daniel, memang jam terbangnya kalah.


"Kau lihat? Rata-rata hasil Fate A-SS, ada beberapa nilai B, tapi sehabis B itu hasilnya A dan terus naik. Sepertinya dia agak perfectionist; tidak akan berhenti sampai benar-benar mendapat nilai sempurna," jelas Crist.


"Ini ... enggak salah?"


Crist mengangguk. "Kode etik Departemen Konsultasi untuk tidak menyebar berita palsu, menjaga identitas, dan tetap berada di jalur netral sebagai penengah; memberikan penilaian yang jujur dan terbuka."


"... Serius? Dalam waktu sesingkat itu?" tanya ulang Daniel dalam ekspresi terkejut-kejut.


"Daniel, jika aku menyebar data palsu, aku yang kena masalah."


"Halaah, pantas saja bisa bergerak dengan lincah begitu, dia calon Enforcer," celetuknya dengan melempar sembarang dokumen tersebut, "calon anggota elite Departemen Disiplin, ya, wajar saja."


Refleks aku menangkap dokumen tersebut. "Data penting, jangan hilang."


Kini Daniel mengembuskan napas panjang dan memunggungi besi pembatas dengan kedua siku di atas pagar. Sepertinya emosinya sudah mereda. "Crist, tahu enggak ... dari semua anggota Departemen Konsultasi, kamu memang paling cocok disebut konsultan."


Jeda sebentar, ia menatap Crist dan lanjut berkata, "Jadi sekertaris club buat bantu Cecil cocok kayaknya."


Yang dituju langsung menegang. "Jangan, tugasku sudah banyak membantu Miss Caterine."


Langsung Daniel menyunggingkan senyum. "Kamu masih setia sama cewek gila itu?"


"Tak sopan memanggil ketua Departemen Konsultasi dengan sebutan gila, dan beliau sudah dewasa," sergahku.


"Hiiish, berisik, enggak ada yang ajak obrol robot macam kau!"


Mendadak tawa pecah, sedangkan aku hanya menggaruk pipi ... bingung, apa memang aku sekaku itu?


"Tapi benar deh, kerjamu terbaik Crist. Cocok sebagai intel. Pantas saja cewek gila itu pengin kamu jadi muridnya, untuk dijadiin babu."


"Daniel, tak sopan---"


"Diam, itu guru memang gila! Ceriwis, cerewet, narsis, enggak terbantahkan!" Cepat Daniel memotong ucapanku pun telunjuk menuding tepat ke depan wajah.


"Ahahaha, yah ... aku sendiri cukup kaget ketika Miss Caterine menunjukku. Padahal sebelumnya waliku hanya staf biasa. Ketua departemen sangat jarang mengangkat murid karena kesibukan mereka kecuali yang terpilih memang spesial atau ada keadaan terdesak lainnya. Apa lagi Pak Lucian juga menyetujui itu," balas Crist dengan tertawa kering.


Sesaat Daniel turut terkekeh. "Tapi makasih loh, sudah menemaniku. Jauh lebih baik sekarang. Mungkin memang kurang usaha."


Mendadak Daniel merangkul pundakku dan Crist dengan tertawa lepas. "Kalian memang terbaik!"


Ah, bukannya ini terlalu berlebihan? Aku sedikit membungkuk karena dari mereka semua, aku yang paling tinggi.


Namun karena hal tersebut, aku dapat melihat ke arah mulut pintu keluar. Di sana Fate bersandar pada tembok dengan kedua tangan menyilang di depan dada, menatap kami atas senyum simpul yang samar.