
Satu minggu sebelum kepergian dari Centru, aku mendapatkan jatah liburan selama empat hari ke salah satu resort milik akademi. Tempat itu persis ada di wilayah Eother, lebih tepatnya di daerah Nanh Trang.
Dan jujur saja aku penuh antusiasme terbilang Eother merupakan kepualauan--tidak seperti Centru yang dataran luas sampai ke utara--sebab di dunia asalku, tidak pernah mengunjungi wilayah kepulauan lantaran sulit mengarungi samudera hanya seorang diri tanpa bantuan apa pun.
Jika diingat lagi, bahkan aku sering mencoba tetapi terhempas ketika badai dan terdampar ke bibir pantai--pada akhirnya kembali ke tempat semula--atau pulau besar lain yang tidak jauh. Apa lagi Daniel, Cecil, Crist, dan Fate juga ikut menemani dalam liburan ini. Pasti menyenangkan!
Begitulah sekarang aku berdiri depan pagar putih ramping yang menjulang atas wajah sarat kesan kagum.
Setelah Crist membuka pagar besar bersensoris dan menyapa pos penjaga, dia berjalan lebih dulu demi menuntun kami pada tempat keterlaluan luas ini. Tungkai jenjangku mulai berayun ritmis, selaras dengan koper yang terus diseret. Pemuda itu juga menjelaskan bahwa resort terbuka untuk umum, tapi rumah yang akan kami singgahi merupakan tempat khusus--sekelas VVIP?--dan hanya orang Vaughan bisa menempatinya, pun itu dekat pantai.
Ketika kami turun dari buggy car sebab telah sampai di lokasi, jujur saja aku sedikit kagum betapa hijau dan rindangnya tempat ini. Rumah bisa dibilang mirip seperti rumah pohon tetapi kesan mewah dan elegan terasa kental.
Crist juga mengatakan bahwa kami para laki-laki akan menempati kamar-kamar di lantai bawah, dan perempuan di lantai dua---ah, mana peduli! Setelah meletakkan koper dan merapikan beberapa barang, aku berlari demi mengunjungi beberapa tempat.
Saat menaiki tangga dan sampai pada lantai tiga ... bisa dibilang ini adalah atap tetapi datar sehingga bisa menjadi tempat bersantai sendiri. Terbukti ada beberapa bangku kayu dan rajutan bambu menghiasi, bersamaan dengan pot tersebar di sisi. Saat berjalan sampai ke pojok terbatas tembok setinggi setengah perutku, bibir pantai tampak jelas di bawah. Mungkin jaraknya hanya sepuluh meter? Atau kurang.
Ah, teringat Profesor Kaidan suka mengambil gambar diriku 'kan? Mungkin aku akan ambil beberapa foto dari sini, deru laut di belakang terlihat bagus.
Setelah merasa cukup melihat-lihat dan menikmati pemandangan nan asri, aku kembali menuruni tangga demi mengunjungi tempat lain yaitu taman belakang.
Di sini lumayan luas, banyak ayunan dan ada ... saung bambu? Untuk tempat berteduh. Rumput pijakan pun terasa mulus dan empuk sampai kaki telanjangku dapat merasakan lembap masih lekat pada tiap-tiap helai, padahal langit sore sudah muncul di ufuk sana---oh, ada kolam renang juga!
Gesit aku menghampiri dan jongkok pada pinggir kolam, sedikit menyelupkan ujung jemari tangan demi melihat biasan gelombang yang dihasilkan dan---waaa, rasanya lumayan! Bagaimana ya ... dingin, tapi hangat? Berbeda dari danau atau sungai atau apa pun itu yang ada di Centru. Langsung aku menggulung celana sampai paha dan duduk pada pinggir kolam, membiarkan kaki bermain pelan dengan cipratan air.
"Kau suka tempat ini, Red?"
Vokal nan lembut mengudara, memancingku untuk menoleh dan mendapati Fate sudah bersandar pada mulut pintu kaca yang terbuka lebar. Senyuman di wajah begitu lembut; amat meluluhkan sama seperti gaun putih sepaha secara halus melambai-lambai akibat embusan angin hingga tampak celana ketat pendek selututnya, membuat dadaku berdebur-debur seperti suara ombak di pantai yang menemani tiap detik.
Langsung aku berpaling dan melihat ke arah kolam renang lagi ketika panas mulai menyebar di wajah. "Iya, sebelumnya belum pernah mengunjungi tempat seperti ini."
Tawa yang renyah terdengar mendekat. "Kau sampai bersemangat dan menghiraukan panggilan Daniel." Fate pun terlihat berjongkok di sisiku.
"Aku tidak sadar soalnya penasaran dengan sekitar ...." Dan suaraku memelan pada akhir kalimat---Tuhan, karena Fate kini sangat dekat! Terlalu dekat hingga tercium sudah wangi harum tubuhnya nan semerbak. Mungkin sehabis mandi? Apa pun itu, jantungku semakin menggila dibuatnya!
Namun, saat netra merah melirik sekali, kudapati Fate telah menggigit ikat rambut pada bibir tipis merah mudanya. Jemari lentik itu tenggelam dalam helai-helai perak yang panjang sebelum kemudian mencengkeramnya dengan tangan kanan, lalu dengan lihai tangan kiri mengambil anakan rambut yang membandel di samping wajah mengingatkanku bahwa Fate itu kidal.
Tapi sebelum kegiatannya selesai, aku menyembur kata, "Boleh aku yang lakukan?"
Sontak wajah pualam menoleh atas rasa bingung terlukis jelas.
"Maksudku ... ikat rambutmu."
Tapi bukan langsung bekerja, secara spontan aku justru mencium aroma sampo dari helai-helai perak di tanganku kini. Dan sungguh-sungguh menikmati ketika menyentuh rambutnya; perlahan-lahan seumpama tidak ingin membuat gadisku kesakitan.
Bagaimana aku membiarkan rambut panjang mengalir dan berjatuhan dari telapak tanganku yang terentang lantaran lembut bak helaian sutra, dan ini adalah satu dari sekian ratus ... atau ribu kecantikannya yang dapat kupuja; sentuhanku di rambutnya merupakan satu dari sekian ratus ... atau ribu hal yang kuinginkan.
"Inisiatif Lucian untuk berlibur ke sini agar sekalian kau dapat beradaptasi dengan iklim tropis," ucap Fate dalam suara pelan pun malu-malu, "sekarang akhir bulan Maret, masih musim hujan sehingga tubuhmu tidak terlalu terkejut dengan perbedaan iklim yang drastis, walaupun nanti kau ke sana mungkin sudah musim kemarau. Tapi persiapan begini ide yang bagus."
Lantas aku tertawa kecil karena sungguh manis---astaga, rasanya aku ingin memamerkan pada semesta betapa manisnya gadis satu ini. "Iya, udara di sini terasa berbeda. Lembap dan hangat. Nyaman, tapi aneh. Terasa aneh dan asing untukku. Persiapan seperti ini sangat membantu."
Maka aku menyusuri rambut Fate, karena mengerti obrolan barusan merupakan pertanda tersendiri yang mungkin tindakanku terlalu berlebihan untuknya. Lantas jemari kukuh mulai menenggelamkan diri dengan hati-hati dan membayangkan bagaimana sisir bekerja.
Kemudian merapikan anak-anak rambut membandel; mengelus lembut; mengumpulkannya di tangan kiri, lalu mengikat rambut perak sebanyak dua kali. Kucir tinggi pun terlihat. Sebagai akhir aku kembali membenahi rambut di sisi-sisi kepala, juga ekor ikatan.
"Sudah," ucapku kemudian, membuat si gadis meraba belakang kepalanya.
"Ini ... merupakan kejutan, Red." Dan dia ikut duduk pada pinggir kolam selayaknya diriku, pun mata perak menatap atas rasa terkejut yang samar. "Aku tidak menyangka kau juga pandai menata rambut."
"Karena dulu terbiasa." Tangan kanan kembali terangkat demi merapikan poni yang menggantung di wajahnya dalam senyuman lembut juga kuberikan. "Dan seperti ini juga aku ingin memperlakukanmu, Fate. Kedepannya dan terus ... aku akan memperhatikanmu dengan baik dan hati-hati."
Sontak merah meledak pada kedua pipinya, jatuh hingga sepanjang leher pun mekar di kedua ujung telinga. Membuatku menatap lama mata perak kebiruan yang berkilau karena membias jingga langit, hingga aku dibuat menikmati kehangatan; memancing dada berbedar kencang tapi tak menyakitkan. Bahkan dirasa gejolak ini akan meledak namun kuredam kuat karena ada yang ingin kusampaikan.
"Sebab benar-benar bersyukur kamu menuntunku sampai sejauh ini, padahal aku bukan siapa-siapa; bukan apa-apa, rasanya aku hanya membuat masalah padamu. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali kamu memarahiku; berapa kali kamu menasihatiku; berapa kali kamu berkorban untukku. Mungkin sekarang aku bukan apa-apa, maka dari itu ketika membahas surat pindah ke Eother aku tidak menolak meski harus meninggalkanmu padahal kita baru bersama."
Bisa saja rasa rindu langsung meledak saat awal kepindahanku, sampai rindu itu menjerit-jerit; ingin kembali mendapat dekapan hangatnya meski sulit. Tapi tetap akan kuterjang. Demi dia, aku rela menahan dan menenangkan gejolak-gejolak di dada karena ....
"Aku ingin belajar; ingin menjadi seseorang yang bisa bersanding denganmu meskipun pada akhirnya tetap bukan menjadi apa-apa ... setidaknya, aku ingin menjadi seseorang yang membuatmu selalu ingat kamu sudah tidak sendiri lagi."
Wajah penuh kejut itu melunak dan lambat laun tangan kiri nan lentik beranjak naik, pelan-pelan menyentuh pipiku kemudian beralih ke sela-sela rambut merah pun mengelusnya sarat akan kasih sayang. Sama seperti senyum lembut terlihat jelas, membuatku merasa telah berada pada tangan yang tepat. "Kalau begitu aku akan menunggu ... Red."
Mendengar itu membuat rasa bahagia sampai pada pucuk kepala, begitu mendidih hingga terkesan menakutkan, lama-lama menjadi mengerikan lantaran bagaimana bisa gadis sebegitu ayu; memesona; bersih; putih seperti dia menaruh hati padaku? Apa yang istimewa dari sosok hina ini, aku bertanya-tanya. Namun, sekarang memilih tidak peduli karena bagaimanapun hati ini; jiwa ini; diri ini, menginginkannya. Lantas aku menyandarkan kepala pada pundak yang ramping.
Dengan begitu, Fate semakin merengkuh tubuhku begitu lekat, sebagaimana kepalanya ikut bersandar pada kepalaku; membuatku mencium aroma bebungaan seumpama meredakan badai bergemuruh, dengan rasa sayang kian mekar untuk gadis yang mengasihiku pada tiap inci sisi yang tiada pernah aku duga. Untuk kesekian kali, aku menyatakan begitu mencintainya. Dan terpancing untuk ikut mendekap---
"Oi, mesra-mesraannya nanti dulu!"
Aku hampir terjungkal dengan konyol dan berakhir basah kuyup jatuh ke kolam! Untung itu tak terjadi karena refleks tubuh sendiri. Bahkan Fate sedikit memiringkan kepala melihat kebodohanku yang terkejut kalang kabut---ah, pasti memalukan!
Lantas aku memprotes, "Apa lagi, Daniel?!"
"Lah, kok marah? Crist dah sibuk ngurus buat makan tahu!" Dan si pirang melipat tangan depan dada. "Katanya besok kita santai ke luar ruangan. Besoknya lagi dalam ruangan. Besok-besoknya lagi pulang---ah, tahulah, pokoknya mandi sana sebelum makan malam!"