
Ketika sang surya mulai meninggi, binar lunak merambat masuk dari tiap celah jendela membuat mata seperti menangkap debu emas yang bertebaran. Dan ini mengingatkanku ketika dulu, terkurung bagai binatang yang tak berdaya.
Kemudian menghasilkan suatu titik penolakan. Bahwa aku, tidak sama seperti kalian ... manusia. Bahwa aku, ingin dekapan itu. Kehangatan. Meski pada dasarnya aku hanya---
"Red!" Seketika aku tertegun ketika ada yang mencengkeram tangan kananku.
Ah, tanpa sadar lengan jenjang telah merentang ke atas bagai menggapai pada ruang yang hampa. Langsung mengepalkan tangan, menariknya kembali ke posisi semula dan menoleh ke samping di mana orang yang menyadarkanku dari lamunan sedang duduk.
Crist, wajahnya menunjukkan suatu kerisauan. "Kamu melihat apa?"
Daripada menjawab, aku memilih mengukir suatu gurat wajah yang aku sendiri ragu menyebutnya sebuah senyuman.
Jika berkata tak memikirkan apa pun, itu suatu kebohongan; juga tidak mau Crist mengkhawatirkanku. Namun, tindakkan tersebut membuat si pemuda semakin penasaran sampai-sampai mendekatkan posisi duduknya padaku.
"Jika pikiranmu risau, itu akan menganggu dalam misi," gumamnya dengan mencondongkan badan, "apa lagi kita semua sudah berkumpul di club dalam posisi bersiap untuk tugas yang besar."
"Aku tahu."
Aku mulai bersandar pada sofa dan menjulurkan kaki ke depan. Perlahan, mendongak dan meletakkan lengan kiri ke atas wajah demi menghalau cahaya menembus mata; kembali pada pikiran sendiri lantaran mana mungkin aku lupa. Sudah dijelaskan berhari-hari yang lalu, kami menjalani latihan cukup ketat demi tugas hari ini. Namun, satu yang membuatku penasaran ... kenapa tidak Club Mercy?
Tunggu. Fate menyebutkan ada sesuatu yang terjadi dengan salah satu club besar di Vaughan tersebut, dan itu yang menyebabkan kami terpilih untuk menjalani misi.
Aku kembali duduk tegap dan menutup mulut dengan tangan kanan, berpikir bawa misi kali ini merupakan Grade A dan yang bertugas adalah empat anggota inti Club Dion beserta partner sparing dalam latihan kemarin. Lokasi portal dimensi juga langsung terdeteksi karena jaraknya sangat dekat dengan akademi. Bukankah itu aneh?
Maksudku, sudah beratus tahun Vaughan bertarung membasmi para naga dan mereka pasti mengerti tentang kami--seperti keberadaan markas utama. Bisa disebut, tindakan para naga satu ini sungguh berisiko. Mereka bisa dibasmi dengan cepat dan aku yakin makhluk dengan tingkat intelijen tinggi seperti mereka tak mungkin bertingkah gegabah, kecuali ... yang datang sangat kuat atau memiliki rencana tersendiri.
Apa itu ada kaitannya dengan kami yang ditunjuk, bukan club lain? Mengapa tidak mengutus berdasarkan departemen?
Aaah, aku menggaruk rambut secara kasar. Sebab terlalu banyak kemungkinan yang rancu! Kenapa juga memikirkan hal ini?! Biasanya langsung menjalankan misi tanpa mempermasalahkannya.
Lantas aku mendengkus, mungkin karena isi kepala kembali kacau sehingga mulai mengkhawatirkan hal-hal kecil. Rasanya seperti ditarik ulur, kondisiku ... benar-benar tak stabil.
Jika ada sesuatu hal yang membuatku goyah, saat itu juga kondisi kejiawaan terguncang. Benar kata Profesor Caterine, aku lebih lemah dibandingkan dengan orang lain.
Aku sedikit menoleh untuk melihat pada sosok gadis yang sibuk menyisipkan helai-helai perak ke belakang telinga. Sebab kutahu Fate sudah melalui banyak hal, dan aku juga ingin kuat sepertinya. Masih teringat semua yang dia katakan, tapi untuk mencapai pada titik itu ... banyak hal yang perlu dipelajari.
Apa lagi Fate pernah mengatakan, bukan hanya aku yang terlahir sebagai mesin pembunuh. Apa mung---
Aku terkejut dan spontan menoleh ke asal suara. Rambut ungu panjang sepundaknya berjatuhan ketika Crist menunduk, seperti enggan bertemu mata; tak mau menunjukkan emosi. Ini mengingatkanku ketika tak sadarkan diri untuk waktu yang cukup lama setelah misi di Dream Land ... Crist menunjukkan suatu kerisauan yang sama.
Mengingat itu, aku sedikit tertawa. "Tindakanmu persis seperti Profesor Kaidan."
Mungkin Crist terkejut mendengarnya karena dia mendongak, tapi aku justru memiringkan kepala setelah balik menatapnya dalam-dalam. Karena jika diperhatikan kembali ... berbeda, garis mata terlihat jelas dan itu membuat kesan wajah yang tenang. Barang kali tak mengenakan kacamata sehingga tulang pipinya terlihat tegas?
Ah, dia langsung memalingkan wajah. Mungkin aku terlalu berlebihan memandangnya. "Tidak pakai kacamata?"
"Tidak. Setelah latihan kemarin, Miss Caterine langsung menangani mataku."
"Oh, operasi mata?"
"Iya. Aku sudah bisa melihat dengan normal, tapi sedikit tidak percaya diri." Kulihat Crist menggenggam sisi depan sofa di mana tangannya menyangga badan. "Mungkin selain dalam club aku akan menggunakan kacamata, tanpa lensa."
Tidak percaya diri ... memang sudah lama Crist berpenampilan seperti itu. Perubahan ini terbilang cukup besar untuknya? Padahal dia terkenal santai dan tenang; bisa menangani apa pun dan tahu banyak, tapi sekarang mengkhawatirkan penampilan? Hal ini seperti mengingatkanku bahwa tak ada manusia yang sempurna, meski masalahnya terbilang remeh.
"Kamu cocok walau tanpa kacamata," ucapku mencoba meringankan suasana, "jangan terlalu berpikir berlebihan."
Crist tertawa renyah dan membalas, "Aku balikan kata-katamu untuk dirimu sendiri."
He? Sepertinya ... lagi-lagi tertangkap basah.
"Memang ada yang aku pikirkan." Aku pun menautkan jemari dengan mata menatap entah ke mana. "Dan ingin kamu, dan Fate mendengarnya."
Buk!
Refleks aku melihat ke sumber suara, buku ditutup paksa dalam satu telapak tangan. Selaras dengan mata perak kebiruan tertuju padaku, seperti sorot bulan yang lunak meski wajahnya masih belum menunjukkan suatu ekspresi. Gelagat Fate seperti menunjukan suatu sarat bahwa dia mendengarkan juga.
Lantas aku lanjut berkata, "Ini mengenai identitasku yang---"
Seketika mulutku dibungkam rapat hingga aku terkejut. Kulihat Crist berwajah serius bahkan lengan kukuhnya masih enggan melepasku untuk berbicara. Dia sungguh-sungguh, tapi kenapa? Apa lagi anggota club yang lain juga menatap si pemuda penuh tanda tanya.
Mendadak Heart Core terasa beresonan, seperti mendapat---ah, panggilan berkumpul untuk berangkat mengerjakan misi.
"Kita bicarakan setelah misi, tidak keberatankan?" ucap Crist dalam senyuman yang tak kumengerti.