
Mendadak ada yang menendang pintu sampai hampir ambruk pun memancing seluruh atensi tertuju padanya. Terlihat Lux sudah menaikkan salah satu kaki--mungkin selepas membanting pintu kuat-kuat?--dan menurunkannya perlahan dengan wajah jelas sekali menunjukkan kesan lelah dan marah secara bersamaan, berakhir terlihat sangat kusut. Kemudian dia menyentak langkah demi mendekati meja sang Head Master sampai gema derap sol memenuhi ruang nan luas ini.
"Oi, Pak Tua! Pikir makan-makannya nanti! Selesain dokumen yang menumpuk dulu!" Dan Lux membanting tanpa ampun tumpukan kertas sedari tadi dia bawa ke atas meja Lucian hingga beberapa sukses berserakan, karena banyaknya tak terbilang berapa ratus lembar.
Tentu saja itu membuat Lucian mengerang penuh rasa penolakan sampai menatap putus asa pada dokumen---ah, melihat banyaknya ... tidak mungkin selesai dalam satu hari meski kutahu sang ketua sangat cekatan. Tingkah iseng sebelum ini sampai membuatku lupa betapa sibuknya beliau, aku berakhir tersenyum masam.
Berbeda dengan Fate yang melirik beliau dalam diam dan tiada berkata apa pun, hanya mata perak kebiruan mendelik tajam hingga tidak tersisa rasa hangat di sana seakan menjadi sebuah perintah absolut untuk Lucian mengerjakan dokumen-dokumennya. Sama seperti Profesor Kaidan tak henti melipat kedua tangan depan dada ketika iris cokelat tertuju pada beliau. Atas tatapan-tatapan itu, Lucian berakhir mengesah pasrah dan melangkah ke mejanya lunglai.
Satu sisi, aku justru kagum dengan apa yang dilihat; ternyata sosok setinggi dan sekukuh Head Master Lucian bisa tunduk juga.
Meski beliau tampak pasrah mengerjakan dokumen di meja, hal tersebut membuat Lux mendengkus dan beralih mendekati aku yang masih bertumpu pada lutut di dekat Fate---ralat, dia ikut duduk pada salah satu kursi kosong samping si gadis, lalu menyesap salah satu cangkir penuh teh lainnya.
Namun, Fate menatap pada setiap gerak-gerik Lux yang sudah mengembuskan napas lega, membuatku bertanya-tanya kenapa ia melihat si pemuda sebegitu intens?
"Sejak kapan?" Fate tiba-tiba berbicara dan entah maksudnya apa. Berbeda dengan Lux yang sepertinya mengerti maksud dari si gadis sebab mengukir suatu senyuman tengil.
"Mungkin ... seminggu sebelum kau sampai di akademi. Dia muncul melalui mimpiku dan meminta izin untuk meminjam tubuhku. Aku terima." Seketika dia menjentikkan jari dan muncul pusaran angin kecil di atas telunjuk. "Tentu saja dengan bayaran ia mengajarkanku dan menjawab pertanyaanku."
Hal tersebut membuat wajah pualam tampak serius. "... Sejauh apa kau tahu, Lux."
Senyuman masih setia tetapi sarat akan membisik dalam diam juga terlihat, sama seperti sepasang mata emas tampak layu seumpama banyak sekali hal yang mengganjal dalam kepala. "Sepertinya terlalu banyak. Melihat langsung perjuangan kalian melalui ingatan Sen sendiri ... membuatku berpikir pertarungan kami di sini hanyalah permainan."
Oh, mengenai masa lalu mereka? Itu pula membuat Fate melihat cangkirnya yang kosong di atas meja. "Tidak perlu membanding-bandingkan. Tidak ada permainan dalam pertarungan untuk melindungi orang-orang tersayang, baik di duniaku, dan duniamu."
"Hahaha, kau benar."
Aku berandai-andai, apa yang Lux lihat dalam ingatan Sen sampai membuatnya berpikir demikian? Dan seolah-olah sadar dengan tatapanku, Fate melihat padaku atas suatu senyuman lembut.
"Belum waktunya kau mengetahuinya, Red. Kau masih perlu belajar banyak sebelum mengetahui semua yang terjadi di dunia asalku."
Spontan Lux menyeringai ke arahku. "Semoga kamu belajar dengan cepat. Karena dengan mentalmu yang sekarang ... kamu belum cukup dewasa."
Refleks aku mendengkus, lalu berdiri dengan sempurna lantaran mengerti bahwa yang Lux ucapkan suatu kebenaran meskipun terkesan pahit; lebih-lebih menyebalkan, dan tidak seharusnya kembali berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang membuat dada bergemuruh karena dengan ucapan Fate ... aku mengerti dia belum sepenuhnya bersandar padaku.
"Ya, aku akan berusaha." Dan memberikan gurat sabit nan hangat di bibir pada mereka.
"Ah, ya. Lux, bisa aku pinjam Heart Core-mu?" tanya Fate mendadak seperti ingat akan sesuatu.
"Tentu." Si pemuda memberikan bola kristal hijau mudanya pada Fate. "Buat apa memangnya?"
Tanpa menjawab, mata perak melihat Heart Core tersebut bak menyelidik. "EVE, buka file rekaman pertarungan terbaru antara murid Red dan Enforcer nomor IV, Lux."
Lantas aksen robotik nan khas mengudara. "Pengirim permintaan, Enforcer nomor XVIII, Fate. Tingkat izin dipenuhi, identitas terkonfirmasi asli. Permintaan diterima."
Ha? Tunggu-tunggu, kenapa tingkatan Fate lebih tinggi daripada Lux? Mereka menjadi Enforcer pada saat yang bersamaan 'kan? Dan apa maksud dari urutan tersebut? Terlebih tingkat perizinannya sangat tinggi sampai bisa meminta data seseorang sekelas Lux ....
Seper sekian detik muncul layar holografi di depan Fate, memancing tatapan si gadis menyipit tanda keseriusan. Ah, di sana terlihat betapa gaduhnya pertarungan kami sampai membuatku merasa kagum pada diri sendiri bisa bertahan sejauh itu, padahal jelas sekali ditekan habis-habisan. Namun, tidak tahu apa yang dia teliti. Sepertinya bukan hanya aku dibuat bingung atas tingkah tiba-tibanya, Lux juga tampak penasaran.
Ketika rekam pertarunganku dengan Sen selesai, dia pun mengangguk. "Rekaman ini memperkuat hipotesisku."
"Hipotesis?" tanya Profesor Kaidan yang berjalan mendekati kami.
"Aku tidak bisa menggunakan kekuatan asliku sepenuhnya di dunia ini. Dan dari rekaman ini, Sen juga begitu." Lantas mata perak tertuju padaku. "Dan aku rasa Red juga sama."
Aku? Memang kekuatanku terbatas lantaran hanya robekan kecil jiwa yang asli 'kan? Jika Fate yang berkata demikian ... jadi, aku seharusnya seperti apa? He? Dan bagaimana dengan Sen---Tuhan, begitu saja sudah membuatku kesulitan, bagaimana dengan kekuatan penuhnya?
"Karena jika kekuatanmu dan Red Sirius dibiarkan begitu saja, dunia ini akan hancur."
Spontan seluruh perhatian tertuju pada sumber suara tegas memenuhi seluruh penjuru yang mana pria berbadan besar dan tinggi muncul secara tiba-tiba di belakang sang Head Master, membuat beliau dan yang lainnya siap atas senjata masing-masing. Mungkin mereka tak menduga dengan kedatangannya, karena tidak ada aura apa pun dirasa. Namun, kini, tekanan nan bahana begitu mencolok. Selaras dengan mata biru bersih yang tajam melihat pada kumpulan kami semua.
Tidak untuk aku yang sudah terbiasa dengan aura suci bak bulu-bulu sayap nan berkilauan berhambur di sekitar, tapi heran pula lantaran melihat sosoknya dalam wujud biasa seperti ini karena kutahu ... entitas asli lebih di atas segala putih hingga indera penglihatan manusia tak mampu meraba sebab teramat agung, tiada kata di bumi yang pantas menyebutnya. Pun, sama seperti Fate terus tertegun dan mengedipkan mata berkali-kali melihat pria tersebut.
"Ah ... benar ada makluk surga yang ikut ke dunia ini. Harusnya aku sudah menduganya mengingat Sen yang mengirimku," ucap si gadis seraya memijat dahi, tapi beralih untuk menggeleng dan berakhir memberi suatu senyuman, "Lama tak jumpa, Metatron."