When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Liburan! II



Debur laut pelan-pelan menyapu pergelangan kaki tanpa alas, menghasilkan rasa sejuk; hangat; dingin berpadu dan teramat asing untuk tubuh ini. Sebab dalam ingatan hanya ada dingin mengisi saat mata menatap garis horizon, langit, dan laut tampak menyatu.


Sejak kapan aku melihat awan sebegitu biru ... penuh gumpalan putih nan halus berpancar hangat bak mengucapkan selamat pagi? Bahkan kaki begitu nyaman mengusap butiran pasir ketika aku melangkah semakin maju, membuat air menjamah sampai ke betis.


Mungkin, karena sekarang ada yang menggenggam tangan ini ... seperti ini, tiba-tiba jemari lentik meraih telapak kiri memancingku untuk menoleh ke belakang. Maka terlihatlah sosok gadis berdiri di dekatku.


Baju renang perpaduan antara tanktop dan bawahan celana ketat setengah pahanya begitu imut, jujur saja. Membuat perawakan bak boneka terlihat semakin cantik dalam lekukan tubuh sempurna ... yang untung saja tertutup oleh jaket panjang tak dikancing.


Dan setiap detil gadis ini seolah-olah bercahaya, mulai dari atas hingga bawah, melebihi bias mentari terpantul pada lembar ombak bak kristal. Entah karena aku sudah terlalu lama menatap langit, atau kembali diingatkan bawah dia seindah itu. Apa lagi suaranya yang lembut mulai mengudara lantaran berkata, "Sampai kapan kau mau berdiri di situ? Tadi Daniel memanggilmu ...."


"Ah, iya. Dari kemarin suara ombak seperti mengundang, aku jadi tak sadar ...." Aku pun berbalik ke belakang; menghadap Fate dengan sempurna. "Dan terlalu dalam melihat laut. Rasanya benar-benar berseri. Tidak tahu karena aku sudah lama tidak pergi ke pantai, atau karena ada kamu di sini."


Lagi-lagi bertingkah sinting, mengucapkan kata sembarang secara sembarangan pula. Terlalu mengutarakan perasaan sendiri, begitu yang orang-orang sering bilang. Akibatnya, kini deru jantungku menjadi liar, mengalahkan air laut beriak karena angin; ombak terpecah saat menembus batu karang karena semburat merah terlukis pada wajah ayunya, begitu memesona sampai aku sukses beku di tempat.


Barangkali aku kembali mabuk kepayang pada gadis yang tenggelam dalam tingkah malu-malu ini. Sama seperti relung asa berkobar tanpa ampun, menginginkan aku untuk mendekapnya; menjamahnya, lalu secara lantang berbuat hal-hal yang menyatakan dia adalah milikku.


Tentu saja, sekuat tenaga; mati-matian, semua perasaan tersebut kutepis jauh. Tidak mau mengotori dia, setidaknya sampai aku menjadi lelaki yang layak untuk mempersuntingnya. Sebagai ganti, aku merapikan rambut perak nan panjang yang terus diterpa oleh angin sampai bau garam menemani, juga memberikan suatu senyuman cerah. "Aku senang kamu hidup dan bertemu denganku, Fate."


"Dulu kau pernah bilang."


"Dan aku bisa terus mengatakannya karena memang ... senang kamu ada di sini."


Seketika dengan hati-hati dan terus menunduk, Fate semakin mendekat. Apa lagi sampai menggenggam tanganku erat-erat pun makin lekat menautkan jemari kami---astaga!


Apa gadis ini tidak tahu efek yang dia berikan begitu luar biasa?! Kalau sampai Fate tiba-tiba merangkulku, aku benar-benar---


"Oi, Red! Ayo, mau main voli enggak?!"


"Iya!" Dan buru-buru aku berkata sembarang pada Fate, "Aku ke sana dulu, ya?"


Tanpa menunggu jawaban, langsung aku menghampiri Daniel; pergi begitu saja meninggalkan si gadis sampai kakiku memecah berdebur ombak---haaa, untuk sekarang bersyukur Daniel mendadak berteriak ke arahku. Hanya tadi, ya, hanya tadi. Tuhan, sungguh benci isi kepalaku jika mulai liar di saat seperti itu!


Ketika sampai pada kumpulan teman-temanku di naungan bawah payung, aku langsung ambruk ke tikar dan menutup wajah menggunakan kedua tangan---ah, malu sekali!


Tampaknya gelagatku mengundang tawa terbahak-bahak dari Daniel, hingga menarik salah satu tanganku dan berkata, "Dah, kita main bola saja, oke?! Kamu pukul bolanya keras-keras sekalian lepas semua perasaanmu!"


Lantas aku menurunkan tangan lantaran wajah kini sungguh semringah. "Aku ... boleh?"


"Boleh dong, makannya kuajak!" Tampaklah senyum kuda pada wajah si pirang, pun menoleh pada Crist yang masih sibuk menulis sesuatu pada buku kecil. "Oi, ikut main enggak Crist?"


Yang dituju mendengkus, lalu menggeleng. "Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan bilang gitu ke Red."


"Ha?! Orang cuma ajak main kok. Ayo Red, kita ke sana!" Dan Daniel menepuk pundakku sekali.


Bergegas aku mengikutinya dengan bersemangat. "Oke!"


Sebelum itu aku sempat menoleh kebelakang satu kali, mendapati Fate sudah duduk di dekat Cecil yang sibuk membuat istana pasir. Kuharap Fate tidak berpikiran buruk soal tadi ....


Saat tiba pada lapangan voli pantai yang sudah disediakan, Daniel memberikan bolanya padaku dan berkata, "Kamu yang duluan oper bola, oke?"


Sontak aku mengangguk mengerti dan kami pun berhadap-hadapan. Tangan kiriku mulai mencengkeram bola kuat-kuat karena masih ingat perasaan sebelum ini yang begitu memalukan; teramat hina sampai ingin kubuang jauh-jauh.


Begitulah aku melambungkan bola dan melakukan servis atas sekuat tenaga---


Bam!


Dan bola berhasil membentur ke belakang, luput beberapa senti dari kepala Daniel sampai membuat pasir di sekitar berhamburan sebab menghasilkan cekungan yang cukup dalam. Dengan begitu si laki-laki mengeluarkan ekspresi---ah, sedikit sulit mengatur arah bola, kontrolku masih rendah. Apa karena itu si pirang terus terdiam? Aku menjadi sedikit gugup.


"I-itu bolanya di belakang---"


"Memang kamu idiot."


"Iya Cil, iyaaaa. Jangan diperparah." Dan si pirang menepuk kening keras-keras dan berlanjut mengusap wajahnya lelah---eh, memangnya kenapa? Dan lupa kenapa?


Dengan terus mengesah Daniel menghampiriku dan berkata, "Red, lain kali jangan gitu lagi. Oke?"


"Katamu pukul keras-keras?"


"Enggak! Enggak, lupain saja ucapanku tadi. Lupain." Daniel sedikit menaikkan kedua tangannya yang merentang pun menggeleng-geleng seakan mencoba ... menenangkan diri seraya menjelaskan sesuatu? Lantaran dia lanjut berkata, "Red, ingat enggak semua orang sekuat kamu, termasuk anak Vaughan juga. Jadi kalau berbaur kamu harus kira-kira kekuatan kamu sendiri, atau nanti malah melukai orang lain."


"Tapi jika ingin menang dalam kompetisi harus mengerahkan semua kekuatan 'kan?" ucapku seiringan memiringkan kepala.


"Tetap enggak boleh kekerasan Red, curang namanya! Boleh kamu habis-habisan tapi harus perhitungan. Kan, ada peraturannya juga." Lalu mata hijau yang terus mengernyit melirik ke arah kumpulan para gadis. "Fate, coba kamu jelasin ke cowokmu ini. Kali kalau kamu yang bilang dia langsung paham."


Namun, Fate justru melihat kami dengan tatapan datar. "Memang Red salah apa?"


"Nah loh, jangan-jangan kamu tuh enggak pernah olahraga?" timpal Cecil sampai mematung pun berhenti menyibukkan diri membuat istana pasir.


Dan anggukan yang Fate berikan, sukses membuat si gadis kecil celangap lebar-lebar. "Aku belum pernah bermain olahraga seperti itu. Biasanya hanya olahraga untuk latihan bertarung."


"Sudah-sudah. Menurut laporan, kondisi tubuh Fate di dunia asalnya sangat lemah dibandingkan di dunia ini, dan di sini juga dia belum pernah praktik olahraga. Red juga baru sekarang bermain dengan orang lain. Wajar saja mereka berdua tidak tahu," ucap Crist yang spontan menarik perhatian kami semua untuk menoleh padanya yang sibuk merapikan pasir di sekitar dan memungut bola voli.


"Tadi kubilang juga apa. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan bicara begitu. Tapi menjelaskan cara bermain yang benar." Dan Crist melempar bola tersebut yang refleks ditangkap oleh Daniel. "Yah, ini juga bisa jadi latihan kontrol kekuatan untuk Red. Hal dasar begini bagus untuk kedepannya, apa lagi kalau sudah terbiasa."


Kemudian Crist melipat kedua tangannya dan menatap pada para gadis. "Untukmu Fate, mungkin kamu juga harus perhatikan dan ikut bermain. Kamu mungkin sudah paham dasar-dasar olahraga dari materi dan sering melihatnya. Hanya kurang praktik. Mungkin Cecil bisa bantu ... hmmm, aku jadi mau ambil handycam."


"Woooh, iya ya!" Lantas Daniel bergantian menoleh ke arahku juga bola di genggamannya. "Nah, Red, nanti aku tunjukin cara bermain yang benar, kamu pelajari dan tiru. Terus bisa deh kita main bareng lagi. Oke?"


Seketika, terasa ada sesuatu yang mekar dalam relung dadaku dan itu merambat sampai gurat sabit di bibir merekah sempurna. "Oke!"


"Benar juga! Fate, kamu belum pernah main barengkan? Rasanya menyenangkan loh! Oh, kalau dengan kontrol dan kecepatanmu kuyakin kamu bakalan gampang menang dan menikmati tantangan waktu bermain!"


Aksen berisik Cecil memancingku untuk menoleh ke samping, tampaklah Fate ditarik paksa oleh lengan mungil sampai rambut perak yang tergerai lembut melambai-lambai terbawa angin; juga kecantikan dari bibir tipis yang melukiskan senyuman. Menjadi tanda tersendiri ... bentuk rasa senang. Aku pun, merasakan hal yang sama.


Akhirnya Daniel mulai menunjukkan beberapa cara dan gerakan sembari menjelaskan, dan tentu aku perhatikan dengan baik. Selang beberapa menit, dia mulai memintaku untuk memperagakan yang sebelumnya telah ditunjukkan. Tentu dengan mengira-ngira kekuatan sendiri.


Awalnya memang sulit karena bola terkadang melambung tinggi, berakhir menabrak kepalaku; hanyut ke laut dan aku terpaksa berenang untuk mengambilnya; terlempar entah ke mana sampai sulit dicari. Yang lebih parah, aku justru memukul bola ke arah Daniel sampai dia terpental jauh dan berakhir tergeletak tak berdaya di atas pasir ... untung saja langsung ditangani oleh Cecil dengan healing.


Berkat itu aku mengerti apa yang sedari tadi Daniel masalahkan. Akhirnya tak henti meminta maaf dan tersenyum masam.


Aku yang mulai paham, tidak menyerah untuk terus mencoba sampai membuahkan hasil! Meski memakan waktu cukup lama--mungkin dari pagi hingga hampir siang?--aku bisa bermain sebagaimana yang Daniel jelaskan. Begitu juga dengan Fate, tapi dia lebih dulu mengerti daripada aku.


Namun, Daniel tetap memberikan gelagat bangga seraya menepuk punggungku berkali-kali. Aku turut terpancing untuk memberikan senyuman lebar; amat bersinar karena rasa senang kembali mendominasi relung dada, seolah-olah sukses melalui ombak besar yang berhasil ditaklukan dengan baik.


"Nah, sekarang bagaimana kalau kalian main secara tim? Perempuan lawan laki-laki. Sekalian bentuk latihan untuk Red, siapa tahu kalau terlalu senang jadi lupa kontrol lagi? Yah, ini bisa jadi laporan yang bagus," ucap Crist yang sudah kembali dan melangkah mendekati kami dengan handycam di genggaman.


"Ide bagus! Nanti kalau kejadian Daniel terpental terjadi ke orang lain bisa bahaya."


"Iya, Cil ... masih sakit loh soalnya pas banget kena pipi. Kayaknya kalau kamu cium bisa sembuh."


"Be-bercanda!" Dan bola voli mendarat dengan keras tepat ke depan wajah Daniel sampai dia terhuyung mundur ... dan lagi-lagi tergeletak ke atas pasir.


Sayang, kali ini tidak ditolong oleh Cecil karena si gadis sudah kepalang mencak-mencak, bahkan memalingkan muka dari Daniel sembari menyilangkan tangan depan dada. Tapi ... mukanya sudah merah padam, seperti kepiting rebus.


Seketika tawa renyah pun menggema, begitulah akhirnya kami menghabiskan hari ke dua liburan dengan penuh canda tawa. Aku menikmati permainan voli pantai yang tegang tapi terasa menyenangkan; sungguh menggembirakan; hangat dan akrab. Serta aktivitas lain setelahnya, seperti berenang dan bermain air bersama.


Ini merupakah salah satu hal yang membahagiakan, ketika menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih ... dan aku adalah bagian dari senyuman mereka.