
Akhirnya ....
Hari ketiga dari tiga hari tambahan nan padat pun berlalu tetapi malam ini sungguh badanku terasa remuk.
Bagaimana otot punggung menjadi tegang, lalu kaki lemas pula, padahal jelas stamina di atas rata-rata kebanyakan orang. Lelah luar biasa yang jarang terjadi, kini terjadi. Memang latihan para Disiplinaria ... luar biasa. Efek yang diberikan sama seperti berlari semalaman penuh dari Nifle ke akademi---tunggu, sepertinya lebih?
Daniel saja sampai kesulitan berdiri dari kasur dan Cecil tak bangun tidur seharian penuh. Sedangkan Crist ... apa terbiasa? Dia berbaring di sofa samping dengan lengan menutup mata biru tuanya yang terpejam, telinga juga tersemat dengan earphone. Seperti berusaha menenangkan diri.
Mungkin kondisi tak terbiasaku pada sekitar yang memperparah kejadian melelahkan ini?
Setidaknya semua membuahkan hasil, tapi aku tidak tahu berakhir baik atau buruk sebelum benar-benar berbaur ke Eother. Bertemu orang asing, bertugas di sana, dan melakukan hal lainnya. Tempat baru untuk kehidupan baru.
Sontak aku mengembuskan napas panjang dan duduk merebahkan diri pada sofa lain di dekat Crist.
Tetap saja beradaptasi pada tempat yang asing tak akan semudah membalikkan telapak tangan, pasti perlu penyesuaian lebih lanjut. Mungkin tidak bagi sang gadis yang kini mendekati meja panjang di depan--yang berjarak sekitar setengah meter dari sofa--dan meletakkan sebuah cangkir di atas piring kecil.
Kemudian Fate berkata, "Aku buatkan teh hijau, agar tubuhmu merasa lebih baik."
"Ah, ya, terima kasih," ucapku sembari memperhatikannya ikut menawarkan Crist yang dibalas suatu anggukan dari si pemuda, membuat Fate mengambil cangkir yang lain.
Akhirnya Crist berusaha untuk duduk---ah, terlihat juga dia sangat kelelahan dari gerak-geriknya yang lambat dan meringis kecil ketika menggerakan tubuh. Pantas saja lebih banyak diam sedari tadi. Namun, teh hijau ini bukankah terkenal sangat pahit? Aku tidak suka suatu minuman atau makanan yang memiliki rasa terlalu, seperti terlalu manis atau pahit ....
Tapi jika Fate yang membuatnya, aku tidak peduli.
Lekas aku meraih teh barusan dan sedikit mencicipinya dengan bibir yang menyentuh pinggir cangkir, lalu menyeruput---oh!
"Ini ... tidak sepahit yang aku kira," kejutku atas netra merah tertuju pada gadis yang sudah meletakkan cangkir lain ke meja dan duduk di sisi, "apa kamu mencampurnya dengan sesuatu? Mungkin ... gula, atau madu?"
Tetapi tak terasa ada tambahan lain, hanya harum nan khas dari helai daun teh dan menyegarkan---oh, ya, ada rasa pahit. Sedikit. Yang justru, bisa dibilang, aku malah menyukainya. Ajaib sekali 'kan? Bagaimana bisa ....
"Aku tidak menambahnya dengan bahan lain, itu hanya akan membuat khasiatnya berkurang. Seperti menambahkan susu atau madu dapat meningkatkan kandungan kalori di dalam teh hijau. Dan teh hijau yang sudah dicampur dengan jeruk nipis sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh orang yang memiliki riwayat maag."
Lekas aku sedikit mencondongkan badan ke arahnya atas rasa penasaran di ujung asa. "Tapi bagaimana bisa? Rasa teh hijaunya enak."
"Sebenarnya ada teknik khusus dalam proses penyeduhan agar rasanya enak. Seperti mengatur suhu air, durasi menyeduh, jumlah yang tepat dan kualitas daun tehnya."
"Wow, kamu tahu semua itu dari mana Fate?" tanya Daniel penuh terkejut---oh? Dia masih sadar rupanya.
"Dulu aku biasa membuat berbagai macam teh herbal dan kue kering, teh yang tersedia di sini juga memiliki kualitas bagus."
Rasanya ... dia terlihat jauh lebih terbuka?
Apakah lubang di hatimu telah terisi penuh, Fate? Aku tak henti bertanya-tanya. Sayang, semua perasaan ini hanya tersimpan dalam hati karena ada sesuatu hal yang aku pikir masih kurang ... tapi dia yang begini, amat kucinta lantaran indah. Lihat dirinya, luar biasa.
Dan tanganku yang bebas terangkat demi merapikan beberapa helai perak ke belakang telinga, memancing wajah pualamnya menoleh. Maka aku memberikan sebuah senyuman yang baik. Benar-benar dalam. Sebab juga tahu, belakangan ini terlalu memuja dia di dalam hati. Bahkan jika aku ucapkan semua perasaan mengenai Fate dengan lantang pada semua orang, mereka akan jenuh dibuatnya.
Tapi itu aku lakukan, karena rasa takut yang coba kulawan ... dengan mengingat setiap hal kecil, lalu menyimpannya dalam hati; mengenangnya dengan baik, yang setelah ini tidak dapat dilakukan lagi karena keterbatasan jarak. Memang bisa tetap menghubungi melalui ponsel atau segala macam, tapi tak akan bisa dengan penuh seperti sekarang.
Entah kenapa aku yang begini terkesan memuakkan.
Terlalu mencinta dalam sepi, menyedihkan bukan?
Tetapi aku memilih untuk tertawa kecil dan berkata, "Begitukah? Aku senang mengetahui keahlianmu yang lain. Mungkin kedepannya, aku mau lagi dibuatkan teh olehmu. Rasanya enak dan berbeda dari teh kebanyakan."
Lekas aku beralih untuk menghabiskan teh hijau yang tersaji sampai habis secara perlahan, lalu mengembuskan napas panjang setelahnya. Memang rasa dari teh hijau menenangkan, mungkin juga melepas ketegangan. Sama seperti gadis di sampingku, wajahnya menunjukkan suatu kedamaian tersendiri. Apa lagi dengan senyum kecil itu. Begitu tipis sampai terkesan tak ada perubahan sama sekali.
Setidaknya, sampai terasa hawa seseorang mendekat ke arah sofa yang terasa sedikit berbeda dan tak nyaman membuatku refleks menoleh pada ... Lux.
Satu sisi, justru ada ekspresi ringan yang biasa terpampang pada wajah cakapnya. "Red, kita jalan keluar yuk sambil mengobrol."
Dan senyuman--yang harusnya bisa kubilang manis--dia umbar, tapi hal tersebut memancing Crist untuk berdiri dari duduk. Sama seperti Fate yang membalikkan badan ke belakang demi menghadap sempurna pada Lux seraya membuka mulut, seperti ingin berkata sesuatu. Sayang gelagat keduanya hanya dibalas oleh tatapan lurus dari mata emas yang terkesan dingin sampai tak berkedip sedikit pun.
Seakan meminta untuk tidak ikut campur.
Saat kembali menghadapku, senyum misterius kembali diberikan. "Kau tidak keberatankan?"
Aku pun mengangguk sebagai jawaban dan berdiri dari duduk demi mengikuti ke mana Lux melangkah. Tampaknya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting sebelum pergi? Sebab, besok, pagi setelah sarapan pesawat pribadi akademi akan datang menjemput kami untuk kembali. Dan malam seperti ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan panjang lebar.
Sampai akhirnya, langkah si pemuda berhenti ketika kaki jenjang beralas sandalnya berhenti pada bibir pantai, membuat ombak tampak menyapu hingga mata kaki atas debur yang lebih kencang karena bulan terihat amat dekat. Seperti bisa digapai dalam satu rentangan tangan.
Bisa jadi karena purnama nan gagahnya berpendar jelas di sana, memberikan kesan elok tersendiri seolah-olah Lux menjadi siluet yang tengah berdiri sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
Namun, saat dia menoleh ke belakang; padaku, mata emas itu memberikan kilatan tersendiri seperti menyala dalam gelap sekitar yang begitu merengkuh. Apa lagi ekspresi wajah nan datar menunjukkan kesan tidak biasa. Tak lama, aksen terdengar dingin pun mengudara.
"Sungguh ... bahkan sampai detik ini, aku tidak menyukaimu. Hmmm, mungkin hampir benci."