When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dia dan Masa Lalu



Melangkah pelan pada lorong rumah sakit Vaughan, terasa tempat ini lebih sibuk dan ramai. Mungkin, sebab penyergapan besar-besaran banyak yang terluka. Crist berkata kamar Fate di sekitar sini, nomor tiga ratus tiga belas. Lantas aku terus meniti langkah dan menyisir setiap pintu.


Sebelum ini, Profesor Caterine langsung pergi setelah tahu kondisiku sudah pulih, dengan menyeret Crist bersamanya. Ha-ah, sepertinya aku telah membuat dokter terbaik membenciku.


Sebenarnya aku tak mau merepotkan orang lain, maka dari itu selalu menolak untuk dirawat. Meskipun pemulihan tubuhku jauh lebih lambat dari sebelumnya, tetap akan kembali normal. Namun, sepertinya sikap tersebut yang membuat beliau membenciku. Rasanya serba salah, atau mungkin aku memang sedikit bodoh karena selalu bingung harus berbuat apa? Aku mulai menggaruk kepala canggung---ah, kamar ini!


Lantas aku memegang gagang pintu---eh, kenapa firasat tak enak melanda relung dada? Sia-sia menelan saliva dalam tenggorokan, mendadak rasanya gugup sekali. Tapi, kenapa? Tunggu, Fate baik-baik saja 'kan?! Langsung aku membuka pintu.


Ah, tubuhku beku seketika.


Bulir peluh mendadak menjadi mayoritas di seluruh tubuh. Ini memalukan, aku masih mengenakan baju rawat putih tetapi di depan sana ada ... pria rambut hitam dengan ikat bawah sedang duduk santai, tersenyum dengan ringisan sok manis hingga mata membentuk garis.


Aku sedikit takut dan berakhir terus berdiri tegap tepat di mulut pintu.


"Ada apa Red? Kenapa diam di sana? Masih ada kursi kok."


Head Master Lucian melambai-lambai ke arahku atas senyum yang tak sedikit pun pudar. Baik, sepertinya aman---hah, kenapa beliau ada di sini?!


Seketika badan bergerak dengan sendirinya, menuruti titah meski berjalan kaku bak beku merengkuh tanpa ampun. Aku mulai duduk pada salah satu bangku di sisi kasur, berlawanan dengan pria yang matanya terus tertuju padaku. Dipandang seperti itu membuatku merasa ... tertekan. Aku langsung beringsut dalam tegap dan menaruh dua tangan di atas paha.


Lantas sunyi membumbung hingga suara detak jam terdengar jelas. Pagi ini sangat tenang dalam sorot mentari masih merambat masuk atas secercah cahaya, tetapi melihat orang tua itu terus tersenyum padaku---ah, rasanya ingin lari!


Kenapa Crist tidak mengatakan ada beliau di sini?! Sebentar, Head Master Lucian memang guru wali Fate, tentu hal wajar beliau menemaninya. Bahkan ketika aku dirawat, Profesor Kaidan selalu hadir di sisiku atau meminta orang kepercayaannya menemaniku, seperti tadi.


Tapi---haaa, jantungku berderu kencang!


"Apa ada yang salah? Kenapa kalian diam?" tanya Fate dalam gelagat lugunya, berganti-gantian melihat ke arahku dan Head Master Lucian.


Ti-tidak, tak ada yang salah! Aku ke sini karena ingin menjenguk! Aku pulih lebih awal karena, mungkin kekekalan tubuhku? Dan sangat jarang melihatmu dirawat di rumah sakit, apa yang terjadi? Semenjak dalam bianglala, sifatmu aneh sepanjang misi. Tak ada yang menyadarinya tapi aku tahu---hah, aku mendengkus.


Ingin mengatakannya tapi tak bisa. Tidak berani bertingkah macam-macam di depan sosok yang pemimpin organisasi Vaughan. Selain beliau menyisakan penilaian buruk dalam benakku; auranya sangat berbeda. Besar dan berwibawa, jelas terpampang di sana.


Tiba-tiba raut gusar muncul pada wajah teguhnya ketika Lucian kembali menoleh pada Fate. "Kaidan dan Lux sudah memberikan laporan mereka padaku mengenai apa yang terjadi. Fate, kamu selalu kembali dari misi dengan luka minim."


Beliau kemudian menyipitkan mata. "Kamu biasanya tidak segegabah ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Yang dituju seketika tertegun. Kelopak mata perak kebiruan sayup, kemudian memejam. "Ah, aku lengah. Sepertinya, kembalinya ingatanku membuatku sedikit kehilangan fokus."


Ayah, ya ... sepertinya ucapan Profesor Kaidan mengenai Head Master Lucian yang menganggap Fate sebagai anaknya sendiri, adalah benar. Tatapanku mulai meredup.


Fate pun menggeleng. "Tidak apa-apa."


Senyuman kecil menghiasi wajahnya sekarang. "Aku tidak keberatan kalian berdua mendengarnya."


Si gadis kemudian mengembuskan napas perlahan, sebelum membuka mulut dan mulai bercerita.


"Aku selalu ingat dan selalu tahu, bahwa kedua orang tua kandungku telah tiada. Amnesia yang aku derita tidak seutuhnya menghilangkan ingatanku. Aku mengingat sedikit-sedikit apa yang terjadi. Tetapi, beberapa ingatan penting hilang. Banyak ingatanku yang tidak berhubungan, seakan terdapat pecahan yang hilang. Pada saat di taman ria itu, akhirnya aku mengingatnya. Tentang bagaimana orang tua kandungku meninggal."


Aku menegang mendengarnya. Meninggal? Fate juga telah kehilangan orang yang berharga dalam hidup ... Arthur dan orang tua kandung. Mungkin karena hal tersebut ketika aku dirawat setelah sparing dia---ah, aku mulai membungkam mulut rapat-rapat.


Meskipun tak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua kandung tetapi dari Profesor Kaidan, aku sedikit mengerti. Jika beliau tiada, mungkin aku benar-benar ....


"Di mansion keluarga kami; tempat kami tinggal, mendadak mendapat suatu serangan. Tidak ada tanda apa-apa. Serangan itu terjadi sangat mendadak, bahkan kami tidak siap menghadapinya. Saat serangan itu terjadi, aku sedang bersama ayah dan ibuku. Kami berencana untuk melakukan piknik di esok hari, tapi saat kami keluar dari ruangan, semuanya sudah tergeletak di lorong dengan bersimbah darah. Pelayan-pelayan bahkan penjaga yang ada di tempat kami mati, seakan diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat."


Tatapan Fate meredup. "Ayahku segera menyiapkan pedangnya, hanya saja ... ia terlambat. Sebuah tombak sudah menusuk dadanya. Ibuku yang melihat hal itu mengetahui bahwa jika ia ingin aku selamat, ia harus menahan musuh di situ. Pada saat itu pula ibuku langsung mencium keningku dan berkata 'hiduplah, carilah kebenaran dan kau tidak akan tersesat'. Ibuku adalah ahli sihir, dengan sihirnya ia menggunakan sihir teleportasi untuk menyelamatkanku. Pada detik kemudian aku sudah berdiri di depan mansion kami yang terbakar."


Si gadis mengeluarkan senyuman samar. "Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di depan mansion itu. Aku bahkan tidak bisa memeriksa apakah kakak kembarku selamat atau tidak. Karena, semuanya telah menjadi abu. Tapi yang kuingat, aku berjanji untuk tidak melupakan pelajaran yang mereka berikan padaku. Meski singkat, aku tidak akan melupakan momen bahagia kami."


Fate masih tersenyum tipis, tapi jelas matanya mengukir suatu kesedihan. Bisa kulihat juga ... ada sedikit rasa senang pada binar perak kebiruan. Mungkin hal tersebut yang membuat Lucian mempererat genggaman tangannya; netra merah ikut menyendu, juga tergambarkan rasa sedih dan mengerti.


Gadis ini sungguh telah melihat banyak. Ya, banyak hal. Meski umurku panjang, semuanya kosong. Sedangkan dia, jelas sudah banyak makan garam; seperti yang Crist ucapkan waktu itu.


Aku juga tidak menyangka ada orang yang mengalami hal sama seperti si kecil Luchifenian. Semuanya persis, berdiri depan istana hancur bersamaan dengan kerajaan yang runtuh.


"Itu semua karena ucapanku 'kan?" Sontak mata perak kebiruan tertuju padaku yang telah menatapnya dalam sayu.


"Setelah bianglala itu, sepanjang misi, tingkahmu berbeda." Aku mulai tertawa kering yang sangat dipaksa. "Bahkan aku sedikit terkejut melihatmu melakukan hal gegabah, bukan seperti dirimu yang biasa. Pendar matamu juga ...."


Ha-ah, aku tak sanggup lanjut berkata karena tatapan mata merah darah kembali tertuju padaku seolah-olah menghunjam seluruh raga. Ditambah ekspresi beliau tak kumengerti. Aku berakhir menunduk dan menautkan jemari, berusaha menutup rasa canggung yang merayap punggung.


Mendadak aku mendengar embusan napas yang terdengar ... sedikit kesal? Ini membuatku kembali mengangkat wajah. Saat kulihat ke arah Fate, dia menatapku dengan tatapan tak bisa kubaca. "Angkuh sekali kau mengatakan seakan semua salahmu."


Angkuh, kata-kata itu lagi.