When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Soul Dancer



Perlahan aku membuka mata, dia ... ah, kukira melihatnya--orang terkasihku--lagi, tersenyum ketika bangun dari tidur, tetapi itu hanya Fate.


Dia duduk di dekatku. Sepertinya tidak tahu aku sudah sadar.


"Apa yang terjadi?"


Fate langsung melihatku. "Sepertinya kau terkena hipertermia karena terlalu lama berendam, untungnya pelayan kamar yang baru datang itu membantuku, dia membawakan makanan untuk kita. Dia juga memaklumi hal ini dan mengizinkan kita tinggal lebih lama."


Ternyata orang yang tadi datang hanya pelayan kamar. Astaga, memalukan sudah berpikir tidak-tidak.


Perlahan, aku mencoba untuk duduk. "Ah, ya sudahlah. Sekarang saya sudah merasa baik-baik saja. Mana makanannya?"


"Untuk malam ini tidak datang."


"Eh, katamu---"


"Kau pingsan seharian," potong Fate yang membuatku tertegun.


Aku langsung beranjak dari kasur, bergegas melihat ke luar jendela dan menoleh ke jam dinding.


Tuhan, benar seharian. Malam bertemu malam. Bisa-bisanya begini ....


"Kita check out," ucapku sembari mengenakan kemeja dan jas jubah hitam.


"Tapi, kau belum makan ...."


"Tak apa, kita hanya menginap satu malam. Tidak enak kalau terlalu lama begini."


Sebenarnya tidak makan pun tak akan mati. Masih merasa lapar, tetapi bukan masalah. Aku akan memberi para staf beberapa uang tip, mereka baik sekali.


Setelahnya aku melangkah keluar gedung Hot Spring Resort, Fate mengikuti di belakang.


Di luar tampak bersalju, sedikit menutupi jalan meski tidak separah ketika awal musim dingin. Lagi pula sebentar lagi musim semi, kadang hujan pun turun.


Aku mendongak, langit masih indah dengan rasi bintang menghiasi. Pandanganku sedikit tenggelam hingga melihat sesuatu di pojok gedung.


"Fate kau lihat di atas sana?"


"Hem? di mana?"


"Lihat tangan saya menunjuk, di sana."


"Oh, Adams!"


"Kita lakukan akselerasi untuk ke atas sana, tapi jangan di tempat umum. Kita ke belakang," ucapku dengan menarik tangan Fate dan memasuki gang di sela-sela gedung, "kita harus menyembunyikan identitas dan jangan sampai ada orang lain tahu siapa kita."


Aku menyiapkan kuda-kuda, menumpukkan seluruh kekuatan pada kaki. Melompat tinggi, menjadikan tembok sebagai tumpuan berlari.


Gesit aku kembali melakukan lompatan akselerasi. Terasa aku menembus udara dan angin membelai rambut hitamku.


Aku suka sensasi ini, ketika kekuatan dan kecepatan menjadi satu.


Hingga mencapai puncak gedung, aku melompat pada sisi tembok; memfokuskan beban pada kaki dan berakhir mendarat dengan berlutut.


Sempurna, aku tiba di atas atap gedung tinggi yang datar.


Aku melihat ke belakang, Fate ada di sana. Sepertinya dia juga andal dalam masalah ini.


Kami mulai melompat dari gedung ke gedung, melakukan lompat akselerasi lainnya bagai bayangan sampai kami tiba pada Adams.


Kubiarkan Fate melakukan pemindaian data. Sepertinya aku sudah pindai data Adams yang ini karena Heart Core tidak beresonan.


Setelah selesai, Fate mulai mendekatiku. Namun, mendadak angin dingin mengembus, sedikit menusuk, tetapi harumnya badan gadis di depan sampai kepadaku.


Sontak teringat kejadian kemarin, aku pingsan 'kan? Berarti kita tidur satu kasur---


Bodoh.


"Red!"


Brak!


Ketika sedikit melangkah mundur, aku justru tergelincir. Ah, sakit. Untungnya jatuh ke atap gedung lain yang lebih rendah. Jika jatuh ke jalan raya bisa bahaya, orang-orang di bawah mungkin keheranan atau aku menimpa dan mencelakai mereka.


Aku mencoba menelentangkan badan. Seketika pusing menghantar nyeri ke seluruh tubuh, sesuatu sepertinya mengalir dari pelipis.


Aku mengejapkan mata berkali-kali karena merasakan ngilu terutama di bagian kepala. Istirahat, aku butuh istirahat sebentar.


"Red ... aku heal," ucap Fate sigap.


"Tak perlu, saya immortal, tidak akan mati. Hanya butuh istirahat sebentar."


Namun, Fate tak memedulikan ucapanku.


Dia langsung berdiri, menyiapkan Heart Core yang seketika bercahaya perak menyala-nyala.


Benda itu melayang, serpihan holografi muncul dan menampakkan wujud masa kuat berupa dua cincin hitam tak henti berputar melindungi bola kristal di dalamnya. Dua pita perak turut menghiasi di bagian atas, berkibar dengan indah dalam terpaan angin.


Floating Hourglass, senjata khusus Class Soul Dancer.


Dia mulai merentangkan kedua tangan ke atas, kaki kiri berada di belakang dengan kaki kanan sejajar garis pundak.


Sekarang kaki kanan meluncur lembut melakukan putaran pada lingkar kaki dengan kaki kiri sebagai tumpuan tetap.


Begitu anggun.


Terlebih rambut perak melambai seiring gerakan, menampilkan kilau bak gliter karena terpaan cahaya bulan.


Floating Hourglass turut melayang dan mengitari Fate dengan pendar keperakan yang menenangkan.


Gadis itu kembali melakukan gerakan lainnya. Tubuh meliuk-liuk indah seraya tangan melambai pelan nan elegan.


Lingkaran sihir muncul di bawah kami, berpendar lembut dan menghasilkan bulir-bulir cahaya seperti kunang-kunang.


Recall Illumination, salah satu skill healing yang dimiliki Soul Dancer.


Sayangnya, skill ini jarang digunakan karena membutuhkan waktu yang lama untuk selesai dirapalkan.


Orang-orang lebih sering melakukan Beacon of Light yang tergolong cepat dan mudah karena seperti berdoa, terutama ketika ditengah pertarungan.


Namun, Recall Illumination memiliki kemampuan healing lebih kuat.


Bisa kurasakan tubuh jauh lebih baik, mungkin pulih seutuhnya. Tidak ada rasa pusing lagi. Aku mulai bangkit untuk duduk.


Ragaku bersinar keperakan, sama seperti lingkaran sihir di bawah kami. Aku menyerap kekuatannya.


Fate masih baru di akademi, tetapi tak kusangka dia sudah semahir ini. Aku membutuhkan waktu cukup lama mengendalikan kekuatan sihir, tergolong sihir bukan keahlian utama dan kekuatanku yang tidak stabil.


Masih memandangnya, ini mengingatkanku tentang kelebihan Soul Dancer.


Mereka terkenal karena keindahan setiap skill mereka, menari atas dasar kekuatan jiwa.


Aku memilih class ini karena ingin menjadi support yang baik, tetapi aku lupa dasar perbedaan class ini dengan yang lain. Kata anggun memang cocok untuk para Soul Dancer.


Biasanya aku yang selalu melakukan healing, tetapi seperti ini ... entah kenapa membuatku senang. Aku tersenyum tipis.


"Sudah merasa lebih baik?"


Dia mendekat dan berlutut--melipatkan kedua lutut sebagai tumpuan berdiri--di depanku. Aku merasa jauh lebih tinggi karena aku yang sedang duduk, sama tingginya dengan dia. Aku tertawa kecil mengetahui ini.


"Ya, sangat baik. Terima kasih, Fate."


"Lebih baik kita lanjutkan pencariannya nanti."


Mendengar itu, aku mengembuskan napas panjang. Mungkin memang harus beristirahat, entah mengapa bertingkah seperti bukan diri sendiri.


Aku mengangguk setuju, tetapi dia masih memandangku lekat-lekat. Seketika aku merasa gugup. Apa ada yang---ah ....


"Diam dulu. Ada bekas darah di pelipismu," ucap Fate sembari menahan pipiku.


Sontak aku tertegun. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jas almamater abu.


Halusinasi. Seketika seperti melihat ia lagi, tetapi ... ini hanya Fate. Dia membersihkan sisa darah di kepalaku.


Kini pandanganku penuh nostalgia mengingat ia--orang terkasihku--membasuh wajahku dengan lembut.


Aku terdiam sesaat sebelum memegang tangan Fate. Dia tampak terkejut tetapi pandanganku nanar sekarang.


Perasaan itu kembali muncul.


Jika ia masih hidup dan ada di sisiku, apakah aku akan merasakan perasaan yang sama seperti sekarang?