
Dengan begitu, barisan seluruh murid selesai dibubarkan. Manusia berhamburan keluar gedung dan ini ... terlihat banyak. Mungkin sebab pertemuan besar-besaran seperti ini jarang terjadi? Aku mulai meniti jalan sembari menutup mulut dengan tangan kanan.
Pakaian bebas ....
Apa warna hitam mencolok? Sepertinya iya karena itu wahana taman bermain besar dan rata-rata pasti mengenakan pakaian yang cerah, sedangkan semua bajuku ... sudah sangat kelam karena diriku sendiri. Hanya seragam ini yang tersisa lantaran tersimpan baik; tak pernah dipakai. Aku sedikit mengesah.
Mendadak terdengar suara berat yang memanggil, pun aku menghentikan langkah dan berbalik---oh, Profesor Kaidan?
"Tunggu Red! Haah, sudah tidak hitam lagi?"
Aku mengedip beberapa kali. Profesor Kaidan memperhatikanku? Benar juga, aku belum melaporkan beliau perihal ini. Mengulas senyum tipis hingga terasa mata terpejam, aku pun berkata, "Iya! Bapak, akhirnya aku bisa mengenakan pakaian dengan normal!"
"Ya ampun, akan kuberi nama foto tadi 'mengenakan seragam pertamanya'."
Hah? Mataku sedikit berkedut mendengar itu. Apa Profesor Kaidan kembali mengutarakan apa yang ia pikirkan? Karena aku bisa mendengarnya meskipun vokal sangat pelan dan rendah, bahkan pundak beliau ... bergetar? Terlebih wajah bak menahan sesuatu dalam ekspresi yang tidak terbaca.
Tak lama guru waliku ini berdeham, sepertinya menyadari beberapa orang mulai memperhatikan. Terlebih wajah itu kembali datar dengan suatu gurat nan teduh.
"Sudah ada baju bebas untuk misi nanti?"
"Eeem, itu ...." Aku sedikit menunduk dan menyentuh tengkuk, detik kemudian menatap nanar pada beliau. "Apa mengenakan pakaian serba hitam tak masalah?"
Heee, beliau kembali dengan ekspresi sebelumnya, bahkan kini sengaja membatuk-batukkan diri. Dengan tangan kanan menyentuh pelan pundakku, ia berkata, "Bisa ikut ke kantor Bapak sebentar?"
Aku mengangguk sebagai jawaban, kami pun mulai berderap. Kini aku mengekor pada sang Ketua Departemen Eksekusi yang kembali disibukkan oleh ponsel di tangan, sepertinya beliau dalam posisi bersiap untuk menerima kode hijau dari lima orang Departemen Gear yang sudah diutus terlebih dulu.
Langkah kami begitu bergema di antara barisan gedung dan lorong yang telah sunyi sebab penghuninya siap sedia dalam posisi mereka. Hingga akhirnya kami tiba pada gedung Departemen Eksekusi. Tanpa basa-basi, kaki menyaruk langkah menuju kantor sang ketua.
Aku berhenti dan tetap berdiri pada sudut ruang, dua tangan di belakang punggung. Profesor Kaidan seperti mencari-cari sesuatu pada satu lemari kayu di sisi kiri. Itu berisi banyak pakaian, ada baju ganti dan seragam resmi tetapi ... apa aku salah lihat? Ada beberapa baju terbilang berbeda dari model yang biasa dikenakan oleh beliau.
"Dulu Bapak suka membeli baju untukmu, tapi karena setiap yang kamu kenakan menjadi hitam jadi Bapak simpan di sini."
"Eh? Kenapa?" Maksudku, kenapa beliau membelikanku baju? Aku tak pernah mengatakan kekurangan seragam ataupun pakaian.
"Nah, coba pakai yang ini."
Aku sedikit mendengkus, sepertinya beliau tak menghiraukanku lagi ... atau terlalu asyik sendiri? Terbukti dari wajah ceria sembari menyodorkanku satu jaket merah bertudung tanpa lengan, lengkap dengan satu kaus putih lengan panjang dan celana jin terlipat rapi pada tangan kiri beliau. Tak mau banyak berkomentar, berakhir mengangguk dan mengambil baju pemberiannya.
"Emm, Bapak bisa berbalik sebentar? Aku akan ganti baju."
Ha-ah, beliau justru terkekeh ringan, membuatku sedikit tersipu tetapi mengikuti permintaanku juga. Mengenakannya---eh? Pas.
"Bapak ... tahu ukuran bajuku?"
Lekas beliau berbalik ke arahku atas senyuman lebar, terlukis bangga dan senang di sana. "Ya! Bapak pernah tanya pada EVE. Sekarang langsung berkumpul ke taman depan, bersiap menunggu aba-aba."
Astaga, Profesor Kaidan berusaha sejauh itukah mencari detail diriku? Aku langsung memalingkan muka dan menutup kepala dengan tudung yang tersedia dari jaket ini. Aku berakhir mengembuskan napas panjang setelah mendengar suara klik nan khas dari ponselnya. Lebih baik jangan menoleh dan terus berjalan karena aku tahu akan menjadi korban habis-habisan dari pengambilan foto beliau, seperti biasa.
Setiba di lokasi, mata jelaga tak henti menyelisik sekitar. Ternyata benar sudah banyak murid dan para staf berkumpul pada taman depan akademi, mereka semua tampak cakap dengan baju-baju nonformal. Aku juga belum tahu akan bergabung dengan siapa sebagai Regu Lapangan. Mungkin Profesor Kaidan akan mengumumkannya nanti. Apa Crist dan Cecil juga ikut sebagai anggota yang bertugas ke lokasi?
Aku menghela napas ketika melihat ... Fate, berjalan melintas di depan sana. Sepertinya menyusul para Disiplinaria.
Ah, kenapa jantungku kembali berderu? Wajah turut terasa panas. Rasanya, baru sekarang melihat Fate mengenakan pakaian bebas seperti ini. Terlebih desir angin sukses membuat rambut si gadis berkebit anggun sebab modelnya telah diikat satu, selaras dengan jaket hitam lengan panjang membalut kemeja putih kasual.
Entah kenapa sangat ... manis. Aku mulai menarik ke bawah sisi depan tudung jaketku kuat-kuat, tak mau berpikir tida---
"Oi Red! Sudah siap?"
"Hah! Daniel?!"
Sungguh, itu membuatku sangat terkejut, rasanya jantung hampir lepas---baik, itu berlebihan. Dengan raut tak suka aku menatap si pirang, bahkan mungkin alisku hampir bertemu. "Berhenti sering mengejutkan orang lain."
"Loh, loh, loh, mengejutkan? Siapa yang kagetin kamu? Masa anggota Departemen Eksekusi kelas atas berjulukan Ace yang punya refleks dan insting bagus kaget ketika temannya datang?"
Ah, benar juga---tunggu, tapi aku sungguh merasa terkejut!
"Hah?!"
"Lihat! Hati-hati kena tikung."
Seketika Daniel mendorong pipiku untuk mengarahkan wajah kembali ke depan. Tikung, apa maksudnya? Ah, terlihat Lux melepas dan langsung mengenakan topi miliknya pada Fate. Gadis itu tampak pasrah dan hanya memandang pada mata emas tersebut. Apa Fate menyukainya? Tatapanku kembali sayu---tunggu, kenapa aku harus memikirkan hal ini?
"Tapi aku setuju Fate pakai topi."
"Waaa, Cecil?!" Kali ini Daniel yang terkejut ketika sosok gadis kecil mendadak muncul di depan kami. Aku berakhir menatap datar padanya. "Heh, jangan datang tiba-tiba begitu dong kayak setan! Kamu lagi, lihat apa kau robot?!"
Aku mengembuskan napas panjang dan sedikit memalingkan wajah, pasti setelah ini mereka berdua akan berdebat panjang. Apa lagi Cecil sudah membalikkan badan dengan berkacak pinggang. "Halah, bodoh amat sama kamu! Aku tuh perhatiin malaikat cantik kita!"
Jeda sesaat, ia mulai menyentuh kedua pipinya dengan mata terpejam, sedang apa dia? "Bisa dilihatkan auranya benar-benar memancar sempurna! Pakai baju apa saja cocok! Huuuh terbaik!"
Aku sedikit terkekeh ketika kembali menatap Daniel, wajahnya jelas menampilkan ekspresi ... jijik? Mereka berdua benar-benar lucu, itu sedikit melegakan relung dada yang entah mengapa terasa sesak tadi.
"Kalian juga sedang menunggu perintah?"
Ah, suara tak asing lainnya datang. Sontak aku menoleh dengan senyum ramah. "Crist!"
"Ahahaha, selamat pagi, Red."
Mendadak Heart Core milikku beresonan, bahkan yang lain juga. Serentak, kami yang berkumpul pada taman depan akademi membuka layar holografi.
Ternyata pembagian kelompok telah diberikan. Rata-rata kulihat Regu Lapangan dikelompokkan berdasarkan sesama anggota club mereka, mungkin agar mudah berbaur dengan natural di tengah keramaian wahana raksasa? Ketua kelompokku akan dipimpin oleh Daniel dengan anggota Cecil, Crist, dan ... Fate.
Tiba-tiba EVE mengambil alih layar di depan, ia pun berbicara dengan aksen khas robotiknya, "Dalam waktu enam menit dari sekarang, silakan Regu Lapangan mempersiapkan diri menuju lokasi."
Lekas aku menutup layar tersebut dan menyiapkan Heart Core---
"Kalian tidak keberatan kalau kita pergi bersama? Kebetulan satu tim."
Aku langsung kembali menoleh ke arah Crist. Ah, dia sudah berdiri di belakang mobil sports berwarna metalik. Mata merah muda Cecil terlihat berbinar dengan kaki mungil meniti langkah mendekati si pemuda berkacamata.
"Whoaa, keren! Aku enggak tahu kendaraan Heart Core-mu itu mobil," kagum Daniel.
Crist hanya terkekeh dan menjawab, "Karena kamu memang belum pernah melihatnya. Red boleh duduk di depan bersamaku."
"Ah, baiklah---"
"Setooop!" Tiba-tiba satu-satunya gadis di antara kami berteriak dengan tangan merentang lebar.
"Red di depan? Terus aku sama Daniel di belakang?! Kau tuh bercanda! Aku enggak mau duduk sama manusia itu! Mending aku duduk sebelah cewek berkelas kayak Fate," cetus Cecil dengan tangan menuding-nuding ke arah laki-laki pirang.
"Haah? Kok kau sombong kali bocil?!" sergah Daniel.
Gadis mungil mulai melengos dengan berkacak pinggang. "Huh, aku tuh alergi sama orang yang nyebelin."
Ha-ah, Daniel dan Cecil lagi-lagi berdebat kusir. Bahkan Crist sampai tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya. Aku mulai mengembuskan napas dan berkata, "Aku tak keberatan di belakang."
Tim kami mulai mempersiapkan diri untuk pergi, aku dan Daniel berakhir duduk bersebelahan di bangku belakang mobil. Kulihat ketua kami mulai bergelut dengan ponselnya, aku turut mengecek ponselku yang bergetar sekali.
"Aku membuat grup chat untuk membagikan posisi berkumpul nanti!" Begitu kira-kira isi pesan dari Daniel selaku ketua tim, ternyata dia mempersiapkan ini.
Tak lama terdapat suatu pesan balasan---oh, ternyata dari Fate. "Aku sudah tiba di lokasi."
"Hah, secepat itu?!" Aku terkejut sampai kelopak mata tersibak ketika Daniel dan Cecil berteriak secara serentak.
Mereka berdua ... aku sedikit bingung, kadang serasi dan kompak tetapi sering berkelahi kecil.
Dengan menyalakan mobil dan memanaskan mesin, Crist menjawab, "Hei, hei, apa kalian lupa? Disiplinaria wajib duluan ke sana menggunakan teleport."
Ah, benar juga. Sembilan tim untuk pergi ke lokasi telah digerakkan, berarti lima orang Departemen Gear dan para Disiplinaria sudah menyelesaikan persiapan tahap pertama. Namun jika diperhatikan lagi, para anggota Departemen Disiplin memang sudah tidak ada lagi di taman, pergerakan mereka memang cepat.