
Aku merubah pijakan kuda-kuda bertahan menjadi menyerang, dia benar-benar sulit untuk dipancing turun dari singgasana.
Menit kemudian aku berlari ke arahnya tetapi kepala si hibrida mengedik sedikit. Decih sarat akan kesan jenuh lolos dari bibirku ketika ekor mata jelaga menangkap rombongan tombak dari arah barat. Aku kembali meliuk seper sekian detik membuat debam menggaung riuh kala tombak-tombak semu menghunjam lantai.
Tak sampai di situ, dia kembali memegang senjata dan mengarahkannya ke depan. Seketika barisan tombak semu nan besar muncul dan meluncur tanpa ampun, memaksaku harus kembali menghindar dalam percepatan.
Ah, begitu rupanya. Dengan posisi sekarang, dia dapat melihat jelas ke seluruh penjuru ruang, juga mudah membaca pergerakan. Pantas Cecil ingin musuh turun. Dengan duduk seperti itu, sulit mendekatinya apa lagi terus mengeluarkan kekuatan petir tiada henti.
Kami kewalahan sedangkan dia masih dalam posisi santai.
Aku mendengkus. Dengan meruncingkan atensi dan menggenggam Sabel kuat-kuat, aku melesat lagi. Melibas tiap-tiap hujan tombak yang menerkam hingga memancingku mengeluarkan tatapan gahar atas mengeratkan gigi. Bukan, tidak untuk menggertak tetapi sungguh sulur-sulur petir turut menjalar ke tubuh sampai aku harus menekan rasa sakit kuat-kuat.
Namun itu membuat si Elite terkejut hingga kelopak matanya terbuka lebar, karena meski dengan tubuhku yang perlahan sedikit kaku dan gosong akibat serangan petir, tetap aku abaikan. Jaket sobek pun tak diindahkan. Terus berlari, siap mengayun pedang ke arahnya.
Seketika dia menyentakkan tombak emas ke lantai dan saat itu juga deretan tombak semu berjajar membuat tirai penghalang. Tanpa menurunkan kecepatan, aku melakukan lonjakan putar depan sebagai tumpuan untuk melempar Sabel kuat-kuat. Sabel pun terlontar sempurna dari celah-celah tombak dan mungkin menancap target sebab gelegar ledakan memekakkan, juga tombak semu yang menghilang.
Tiba-tiba tombak emas menyembul dan menebas dari dalam debu bak memotong dan mengenyahkan kebulan yang menghalangi penglihatan. Ternyata dia mengelak seranganku, Sabel tertancap tepat di samping kepalanya tetapi wajah pucat si hibrida melukiskan ekspresi tak percaya. Sontak dia menunduk ketika rantai khas senjata Class Executioner melilit kedua kakinya, cepat menarik---
"Lepas senjatamu!"
Teriakan Cecil menggema, seringai kesan merendahkan kembali terukir pada wajah musuh ketika rantai-rantai itu lepas dari tautan. Namun, aku telah bertengger sempurna di depannya.
Si hibrida seketika mendongak dan mematung menyadari kedatanganku, mungkin heran akan aku yang dapat menggenggam kerah bajunya seperti keadaan normal, bahkan mencengkeram sangat kuat. Terlebih aku mengeratkan gigi. Wajahku mungkin terkesan garang tetapi sesungguhnya ... aku mati-matian menahan rasa sakit.
Petir, sungguh menyiksa.
Tanpa membuang waktu aku menarik dan menghempaskannya jauh-jauh, tapi di saat yang sama tubuhku ambruk dengan kesadaran utuh; menggelepar kaku; membisu. Mataku terbuka lebar dalam tubuh menegang. Kebas---akh, mati rasa! Mengerikan.
Dia tampak terhuyung sesaat tetapi mulai menjejak sempurna dengan tombak emas sebagai bantuan berdiri. Wajahnya jelas menunjukkan sarat tak suka dengan melangkah kepadaku. Aku ... tak bisa bergerak, tetapi dia berlari semakin cepat atas ujung tombak---
Dor! Dor! Dor!
Derap sang hibrida tersentak dan menoleh ke asal tembakan. Daniel menatap benci dan menggeram, "Hei, musuhmu di sini!"
Ah, mereka mulai menyerang sang Elite secara bergantian berdasarkan arahan dari Lux. Setidaknya, aku sudah menjalankan tugas dengan baik. Ha-ah, sangat ... kaku, sungguh tak biasa. Perlahan penglihatanku berbayang. Aku mulai memejamkan mata.
Butuh istirahat, sebentar.
"Kamu tuh ... memang barbar, tapi aku kagum kamu mampu pegang badannya secara langsung terus melempar begitu."
Perlahan tubuhku terasa ringan, tunggu ini---sontak aku bangun secara perlahan dan mendongak. Cecil sudah mengepal tangannya, lingkaran sihir biru muda turut muncul di bawah kami. Pendarnya begitu halus, pun bulir-bulir cahaya menyelimuti bak kunang-kunang yang saling bercengkerama.
Ah, Beacon of Light, tapi napasku masih terasa putus-putus dalam jantung berderu tak teratur. Memang healing hanya mampu mengatasi luka luar. Namun ini sudah cukup, aku mulai bangkit sempurna.
"Cecil?"
"Hah! Su-sudah mendingan Red? Rambutmu agak berdiri---"
Mendadak Cecil menggeleng cepat, tak melanjutkan kalimat tadi.
Begitu. Jika diingat lagi, memang listrik tak langsung menjalar pada setiap rantai yang melilit padanya. Aku mengangguk mengerti.
"Mereka enggak akan bisa menahan hibrida itu untuk waktu yang lama, memang ini agak memanfaatkan dirimu tapi cuma kamu yang punya pertahanan besar begitu. Bisa terus tekan dia? Yang lain akan membantu memberi serangan secara tersusun dan diam-diam. Aku sudah beri tahu mereka soal ini."
Dengan mengangguk pelan aku menjawab, "Dimengerti."
Aku pun menoleh ke arah hibrida dengan perlahan melangkah pada singgasana. Ingin mengambil pedangku yang masih menancap. Mereka tampak terus membuatnya sibuk, tapi jelas ... perlahan, terlihat lelah. Bahkan Theo berganti-gantian mengeluarkan Skill Aegis dengan Swordmaster lainnya dari Departemen Eksekusi, aku tak bisa membiarkan merek---
"Lupakan!" Seketika terasa belakang jaketku ditarik kuat, aku sedikit melirik ke sudut kelopak---eh, Cecil? "Kamu habis mendapat serangan tegangan tinggi tadi, aku saja kaget kamu masih bisa berdiri padahal cuma melakukan healing. Red, lupakan! Keajaiban dan keberuntungan ini enggak akan datang dua kali! Biar aku pikirkan cara yang la---"
"Tak apa." Aku menepuk kepalanya. Ah, memang dia sangat kecil. Dengan mengumbar senyum ringan aku berkata, "Terima kasih sudah mengkhawatirkan dan percaya padaku, aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Entah kenapa itu membuat semangat tersendiri untukku. Cecil terus memandang nanar tapi aku tetap berjalan dan mulai menyiapkan pedang, mengeratkan tautan hingga terasa buku jari dingin dan perlahan memucat.
Tak akan mengecewakan, ya? Keberuntungan? Baru sekarang rasanya ada yang mengatakan keabadianku adalah keajaiban. Mungkin ini memang bukan suatu kutukan, tetapi kelebihan?
Aku tersenyum tipis.
Kembali mengedar pandang, aku menarik napas dalam-dalam ketika memusatkan perhatian pada musuh di depan. Sontak aku melesat bak siluet kelam bergerak di atas hampar ruang besi nan luas. Musuh mendongak cepat menyadari kedatanganku tetapi aku tengah melesat dari atas, mengacungkan pedang ketika menukik ke bawah.
Trang!
Dia refleks menghalau seranganku dengan tombak melintang di depan wajah. Berbaur bersama deru listrik yang mulai liar, langsung aku melonjak ke belakang seper sekian detik sebelum petir menyambar tetapi di saat yang sama pisau ganda telah menancap tepat di belakang punggungnya. Sekilas, sangat cepat, satu lagi lolos menebus tepat di pinggang. Fate sungguh tak memberikannya napas barang sejenak setelah Rose menyerangnya.
Begitu, Fate meredam aliran listrik dengan menyalurkannya ke tanah--menancapkan salah satu pisau ganda yang berantai ke tanah. Aku tersenyum kagum tapi wajah musuh melukiskan kebencian.
Seketika perhatiannya berbelok, mengarahkan tombak emas dan mengangkatnya tinggi pada rombongan mereka tapi aku patahkan hingga desing besi menggaung jelas memekakkan telinga. Apa dia lupa? Aku masih di dekatnya.
Aku kembali memberi dorongan menggunakan pedang hingga dia terpental. Belum sempat berkelit atau sekedar menapakkan kaki, ratusan peluru energi menghias tubuh berbalut jubah peraknya.
Si hibrida sempat terguling beberapa meter sebelum kembali bangun, menjejak dengan menjadikan tombak untuk tumpuan berdiri. Mata putih polosnya mengarah ke kanan di mana Daniel dan Lux tak henti memberikan tembakan membuat denting pelatuk pistol terdengar ramai.
Cepat dia menancapkan senjatanya dan ratusan tombak menghujan ke arah para Class Gunner kami, tapi gesit dilindungi oleh Swordmaster dari Departemen Eksekusi menggunakan Aegis.
Mengambil kesempatan, aku langsung melesat mengincar belakang punggungnya tetapi dia telah menendang tombak emas tepat ke arahku. Lima tombak ilusi nan besar ikut muncul, memancing refleksku untuk mengubah senjata dan menancapkan Zweihande kuat-kuat demi mengeluarkan kubah Aegis.
Suara tombak yang bertumbukan dengan kubah pelindung terdengar beruntun, membuatku merinding. Ternyata ini yang Theo rasakan, petir itu sungguh menjalar meskipun sedikit.
Wajah garang itu tiba-tiba berada delapan meter dari hadapanku dengan mengacungkan tombaknya gahar, tidak segan menusuk---oh! Meski sekilas, aku melihat ada rantai melilit, menarik dan menyeret kaki membuat dia terjatuh tepat di bawah lingkaran sihir biru muda.
Azure Circle! Crist dan Cecil benar-benar membuatnya terjatuh konyol dalam pasak-pasak es menghujan secara keji.
Serangan beruntun dari kami benar-benar efektif dan bekerja, jelas sekali musuh mulai kewalahan. Jika terus melakukan ini, meski aku menjadi umpan, dia akan---
"RHAAAAAGH!" gaung bahana sang hibrida mendadak memecah telinga, membuat bumi bergetar beriringan dengan guntur menyambar-nyambar udara. Teramat kuat hingga desir angin melanglang dan memancing api melahap ruang luas ini---heh, apa-apaan itu? Dia ingin menghancurkan istananya sendiri?!
Dengan perlahan bangkit, dia berteriak kencang, "Aku paling benci kecoak seperti kalian!"