When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kebenaran



"Hahahahahahaha!"


Ia tertawa keras, sangat-sangat berisik. Terlebih suara aslinya yang tercampur dengan Fate seakan dua orang terdengar bersamaan membuatnya semakin ... mengerikan.


Kemudian ia menaikkan salah satu alisnya. "Jadi, sampai kapan kamu akan terus diam dengan posisi ini?" Senyum menyindir menghias bibirnya kemudian. "Tidak sopan seorang laki-laki berada di atas gadis seperti ini."


Gadis ...?! Astaga! Aku langsung membanting tubuh kebelakang. Aaaa, terlalu terbawa suasana sampai lupa diri! Bagaimanapun juga, tubuh itu adalah Fate! Tapi aku masih memasang mata pada siapa pun yang merasuki tubuhnya.


Ia tampak tenang, kembali bangkit untuk duduk bahkan kedua pedang Sabel dan Zweihande sudah menjadi bentuk kristal berwarna perak dalam genggaman.


"Entah kau ini bodoh atau terlalu polos---oh, mungkin keduanya," ucapnya sedikit terbata karena terus terkekeh, "ingat malaikat yang ada di dalam tubuh ini? Kau pikir Metatron akan membiarkan tubuh ini seenaknya dirasuki hal jahat?"


Itu mencelikkan benakku. Ah, aku ... benar-benar lupa.


"Dan kamu menggunakan tubuh ini secara berlebihan." Sontak suaranya berubah, menjadi vokal yang penuh wibawa nan menjiwai; aura sayap berserta bulu-bulu putih beterbangan pun terlihat ... Metatron. Mata biru bak langit gemerling kini mendelik ke samping kanannya, aku turut menengok---


Sosok roh paruh baya, mungkin empat puluh atau hampir lima puluh tahun duduk dengan santai. Badan kekar dengan penampilan sungguh baik membuatnya terlihat jauh lebih muda. Mata cokelat yang selaras dengan warna rambut menatap teduh ke arah gadis yang sekarang terbaring di sisinya, tertidur. Ah, sepertinya Metatron kembali ke bawah alam sadar Fate.


Meski tangannya transparan, ia masih berusaha mengelus kepala gadis itu; mencoba merapikan poni dan tiap helaian rambut perak. Pelan; lembut; hati-hati, tersirat penuh tanda sayang dan makna cinta di dalamnya, mengingatkanku terhadap perlakuan Profesor Kaidan padaku.


"... Seorang Ayah."


Kata-kata tersebut membuatnya melihat ke arahku. "Oh? Kau akhirnya sadar huh." Bibirnya tertarik ke atas, mengeluarkan senyuman. "Arthur Sirius Lancelot, paman sekaligus ayah angkat Fate. Salam kenal, bocah."


Aku terkejut mendengarnya, dia ... ayahnya Fate?! Astaga, aku sudah lancang hingga bertarung dan berucap sedikit kasar. Red, kamu keterlaluan! Terlalu terbawa perasaan hingga lupa darat! Bergegas aku duduk bersimpuh menghadap beliau, sedikit membungkukkan badan bagai ucapan penghormatan.


"Maaf saya sudah berbuat sesuka hati. Saya benar-benar tidak mengira kedatangan Anda dan menyerang seenaknya. Sekali lagi, mohon maafkan saya."


Hening. Tak lama beliau kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Aaaaa, apa salah berucap? Tiba-tiba merasa gugup.


"Hahahahaha! Astaga, kaku! Terlalu kaku! Kupikir Sen sopan untuk ukuran remaja seumurannya, ternyata ada yang lebih parah! Apa kau orang dari zaman dulu kala? Atau mungkin tinggal di gua terlalu lama?" tanya beliau dalam gelak tertahan.


"Eeem, sebenarnya saya mengunci diri dan tinggal dalam hutan ... bukan gua."


Sepertinya ucapanku membuat keadaan semakin parah. Beliau tertawa tanpa henti sampai menepuk kening, bahkan mata cokelat hingga berkaca-kaca. Canggung, aku merasa canggung! Red, pikirkan sesuatu!


"Aaaa, kalau begitu kenapa Anda datang kemari?"


Perlahan, tawanya reda pun ia menarik napas dalam-dalam. "Panggil aku Arthur."


"Baiklah ... Bapak Arthur."


Arthur mengambil napas sebentar. "Aku hanya merasa lucu. Kau berkata akan melindungi, tetapi kau tidak bisa apa-apa."


Sepasang mata cokelat sontak menatap tajam hingga membuat tubuhku menegang. "Kekuatan, kau mempunyai itu. Tapi kau tidak menggunakannya. Menyesal, tapi kau tenggelam dalam rasa bersalah."


Mendadak ia mendengkus. "Lari, dan hanya lari. Bagaimana caranya kau bisa melindungi? Bagaimana caranya kau akan menebus dosa yang telah kau perbuat? ... Menebus dosa? Yang kau lakukan selama ini hanyalah lari. Melukai diri sendiri, tapi kau tidak melihat sekitarmu. Kau tidak sadar, dengan melukai dirimu kau juga melukai orang yang kau sayangi."


Aku ... teringat ucapan Fate. Mereka akan khawatir ketika orang yang mereka cintai terluka. Panik; gelisah, berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dan tetap berada di sisi, seperti Profesor Kaidan yang prihatin padaku. Dan, Fate ... yang selalu ingin bisa di dekatku.


Kupikir, aku hanya tak pantas mendapatkan itu semua.


Tidak layak akan hal tersebut, aku penuh dosa dan harus memberi ganjaran pada diri sendiri. Terlebih tidak bisa memaafkan diriku, tak terima dengan apa yang aku perbuat dan berakhir ... menyerahkan diri untuk orang lain; menyerahkan nyawa; menyerahkan jiwa. Tidak masalah aku terluka, tak apa, asalkan mereka baik-baik saja. Tapi itu semakin menyakiti orang yang ingin aku lindungi.


Aku ... tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Sunyi, di bawah mega biru sebagai kanopi alam pun desir angin pembawa suara bisu kami. Menyisakan tenteram sang alam yang kian menguat. Aku sedikit menunduk dengan tatapan sayu. Mungkin, rasa takutku memang terlalu kuat hingga membuat orang lain tak tahan. Sampai kapan aku akan menyusahkan? Mungkin jika aku tidak ada sama sekali dari awal, itu lebih baik.


"Apa Fate ... benar-benar bisa membunuh saya?" tanyaku dengan suara rendah nan lemas.


Sontak aku menatapnya dengan mata membulat sempurna. Wajah itu begitu serius. Dengan terheran-heran aku membeo, "... Lagi?"


"Bukan hanya kau pemiliki masa lalu yang berat. Kau pikir sifat yang terlalu dewasa untuk remaja seusianya karena apa? Pengalaman dan pengetahuan. Keduanya adalah kekuatan tersendiri yang berbeda dari kemampuan bertarung. Lebih baik kau juga mulai belajar dan mencari banyak pengalaman, juga pengetahuan. Kalau kau tidak ingin berakhir kembali dikendalikan ... oleh makhluk jahanam itu," sergah Arthur, tersirat suatu dendam dan benci teramat di sana.


Aku terdiam mendengarnya. Beberapa kata menggelitik rasa ingin tahu, dikendalikan dan makhluk jahanam? Apa yang sebenarnya terjadi? Terlebih, beliau terlihat sangat marah sekarang. Jika kupikir lagi, ketika memegang pedang tadi, aku ... tidak merasakan apa-apa. Tak ada bisikan atau hasrat berlebihan, bahkan dalam kepala hanya ... ingin mencari tahu cara Fate kembali normal.


Memegang pedang seketika membuat pikiranku kosong. Namun kini ... apa aku benar-benar bisa menggunakannya kembali?


Ah, lagi-lagi terlalu tenggelam dalam pikiran sendiri, aku sedikit menggeleng. Red, kamu tidak sendirian sekarang, Arthur masih di sini. Ketika mendongakkan wajah, dapat kulihat ia tersenyum seakan mengerti konklusi apa yang baru saja aku dapatkan.


"Dari raut wajahmu, sepertinya kau sudah memutuskan," ucap sang orang tua santai.


Perlahan ia rentangkan tangan kirinya ke samping. "Apakah kau akan tetap memilih menjadi supporter?" Sekarang ia merentangkan tangan kanannya. "Atau kau akan kembali memegang pedang? Pedang yang selama ini kau takutkan."


Aku terdiam sesaat, memejamkan mata sebentar dan berlisan lantang, "Mungkin saya---tidak, saya sungguh akan mulai memegang pedang lagi."


Pria di depan lantas mengukir senyum bangga. "Jalan mana pun yang kau pilih tidak akan mudah. Jika kau tetap memilih menjadi supporter tak apa, tapi, kau harus siap jika suatu saat insiden seperti beberapa hari yang lalu terjadi ... terbelenggu dengan ketakutan masa lalu, kau hanya akan menyesal tidak bisa melindungi apa pun."


Tangan kiri perlahan menutup dan turun ke samping, setelah itu ia melakukan hal yang sama dengan tangan kanannya. "Dan kau sekarang memilih pedang. Jalanmu juga tidak akan mudah. Masa lalu pasti akan kembali menghantuimu. Tapi, tekad yang kuat maka akan menghasilkan jalan keluar. Selalu ingat, untuk apa kau menggunakan kekuatanmu, demi apa kau menjadi kuat. Kalau kau sadar, Fate sama sekali tidak tergores tapi kamu berhasil menjatuhkanku."


Dia tersenyum hingga kedua mata cokelatnya terpejam. "Tapi kalau kamu mau tanding ulang, aku bersedia. Haah, sayang sekali ... kalau saja dengan tubuh asli, aku bisa memberikanmu pertarungan yang memuaskan. Tubuh Fate lebih cocok untuk kecepatan dan kekuatannya terlalu kecil untuk pedang."


Kalimat itu sukses menghasilkan dingin merambat halus; menggelitik punggung; membuat merinding. Aku pun berkata dengan cepat, "Tidak, terima kasih."


Ia kembali tertawa ringan dan bangun dari duduknya. Tubuh yang begitu transparan bak kaca melangkah mendekat. Berakhir bertongkat lutut, berhadap-hadapan denganku. "Aku percayakan Fate padamu."


"Hah?!" Sontak aku tercengang, bahkan tak berkedip sampai-sampai jantung berderu. Aku ... sungguh merasa tersipu. "Ba-bagaimana?"


"Kau ... bodoh." Ia menyunggingkan senyum. Meski kini Arthur hanya sesosok arwah, namun aku bisa merasakan elusan lembut tangannya di kepalaku. "Aku serahkan anak perempuan yang begitu aku cintai padamu."


Apakah ini yang sering disebut dengan ... mendapatkan restu orang tua?


Mendadak ia menjetikkan jari. "Ah, meskipun aku tidak menggunakan kemampuan penuh, kau tetap berhasil mengalahkanku. Karena itu sesuai dengan yang dulu guruku lakukan, kuberikan ... nama Sirius kepadamu. Red Sirius. Hmm, bukan nama yang buruk bukan?"


Mataku berbinar, terbuka beriringan dengan rasa terpukau mekar dalam hati. Aku, memiliki nama? Setelah sekian lama? Sungguh?! I-ini bukan mimpikan? Lantas aku mendongak, melihat wajah teduh yang masih tersenyum lebar seolah meyakinkan hal tersebut.


"Pelajarilah ilmu berpedang dengan baik, Red. Di dunia asalku dan Fate, Sirius adalah nama yang diturunkan kepada ksatria terkuat. Mungkin saat ini kau belum bisa menunaikan nama itu dengan baik. Tetapi ... jadilah kuat, dan lindungilah hal-hal yang berharga untukmu."


Arthur melihat ke arah Fate yang masih tertidur dengan tatapan mata yang sendu dan hangat. "Seperti yang kau lihat, aku sudah tidak bisa lagi bersama dengannya. Dan kau ingin melindungi dia 'kan? Maka kuatkan tekadmu ... karena, butuh segala kekuatan untuk dapat melindungi Fate."


Ah!


Belum sempat aku meminta penjelasan apa maksud beliau, Arthur sudah menghilang dari hadapan.


Kasak-kusuk rerumputan terdengar, memancingku menoleh ke asal suara. Oh, Fate sudah sadar---bukan, itu Metatron. Aura sayap dan mata biru menatap tajam dalam kilau menari-nari laksana komet mengitari. Keindahan begitu mengherankan, jelas ini bukan sosok makhluk biasa.


"Lord Metatron masih di sini ...," ucapku pelan, mencoba sesopan yang aku bisa.


Yang dituju terdiam, berusaha bangkit dari tidur meski sedikit sempoyongan. "Jika kau bertanya kenapa aku tidak muncul bersamaan, itu akan menjadi beban berat untuk tubuh Fate. Dan aku perlu sedikit mengatur ingatannya agar dia tidak heran ketika sadar nanti. Terlebih, aku tak bisa lama-lama menahan arwah Arthur, ia sudah menggunakan banyak kekuatan ketika bertarung denganmu."


Begitu ... Arthur bisa kembali ada di sini karena kekuatan Metatron. Entah kenapa, itu melahirkan suatu angan dalam kepalaku. Apakah selain Arthur, juga bisa mendatangkan arwah lainnya?


Perlahan, Metatron yang menggunakan tubuh Fate berjalan makin menjauh. Aku ingat gadis itu akan merasa sangat kelelahan setelah kejadian seperti ini, mungkin beliau akan membawanya beristirahat. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya.


Bergegas aku mencoba menghampiri beliau. "Ah, Lord Metatron! Apa engkau mendengar percakapan kami? Mengenai dikendalikan dan makhluk jahanam---"


"Lucifer," tutur Metatron dingin seraya mengacungkan telunjuk tepat ke arahku, membuat beku dan sesak dalam jantung berderum laksana genderang perang, "dari ceritamu sudah jelas, iblis tersebut yang mengendalikanmu ... menjadikan kau hilang akal dan membrutal. Ingatlah, ketidaktahuan adalah dosa. Kau harus tahu kebenaran meskipun itu pahit."