When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Liburan! IV



Aku terkesiap dan langsung bangun demi---tunggu ....


Mendadak terasa suatu bahaya terutama kepala seperti tertimpa sesuatu, ternyata Daniel. Kenapa juga posisi tidur berantakan seperti ini? Maksudku, kaki dia di kepala dan kepala di kaki---ah, mimpi buruk, kah? Lantas aku membantu memperbaiki posisi tidurnya seperti semula dengan amat pelan dan hati-hati ... juga baju si pirang yang berantakan.


Kemudian netra merah terpancing untuk melihat jam---he? Hampir tengah malam! Aaah, pantas saja kepala terasa pusing, ditambah bangun tiba-tiba seperti ini pula! Aku pun mengembuskan napas tertahan, lalu mata mengarah pada ....


Seketika jantung bagai berhenti dalam hitungan beberapa detik.


Lantaran lagi-lagi kembali dibuat lupa darat. Sebab bagiku yang hanya mengenal jelaga sepanjang hidup, dia adalah entitas surgawi yang memabukkan. Mungkin semua pikiranku tentangnya terlalu berlebihan tetapi sungguh gadis ini adalah keindahan tiada tanding, meski remang-remang ruang tengah menghadang penglihatan. Dan aku bisa memujanya dalam diam sepanjang hati masih bisa bergetar.


Barang kali Tuhan salah menciptakan sosok yang terbentuk dari tetes-tetes cahaya justru menjadi manusia, karena tidaklah mungkin ada seseorang sepertinya; seperti Fate. Pasti dia malaikat. Pasti bukan? Tentulah gadis ini malaikat sebab apa lagi yang semakin indah setiap kali dipandang? Dan makhluk fana sepertiku terus dibuat gila karenanya, spontan tangan mendekat ke arah si gadis sebab ingin---waaa! Kendalikan dirimu, Red!


Langsung aku mencengkeram tangan kanan sendiri dan berdiri---aaaa, sungguh benci isi kepala jika sudah seperti ini! Lalu aku beralih untuk menggeleng cepat. Sebab itu pula menyadari, Crist tidak ada di tempat---eh, ke mana dia malam-malam begini?


Lantas aku berkeliling untuk mencarinya.


Ketika sampai pada lantai dua, aku mendapati pintu kamar kami terbuka atas lampu menyala terang. Tanpa basa-basi aku masuk sampai Crist refleks menoleh ke belakang, kembali tersenyum ketika mata biru tua tertuju padaku. "Oh, Red. Aku tidak bisa tidur jadi kembali ke kamar untuk menulis. Kalau di bawah ... takut menganggu kalian."


"Dari awal kita ke sini, kamu sibuk menulis di situ."


Dan Crist menampilkan wajah nan teduhnya. "Iya ... aku ingin menyelesaikan catatan ini sebelum kita kembali ke Vaughan."


Oh, mungkin sangat penting? Sampai terus bersikeras menulis meski waktu segang begitu menjepit. Namun, hal tersebut mengingatkanku akan sesuatu. Langsung aku melangkah ke salah satu kasur tempatku biasa beristirahat dan merogoh ke dalam tas pinggang yang tergeletak di atas.


"Ada yang ingin aku berikan," ucapku seiringan berjalan ke arah meja yang Crist tempati. Kemudian meletakkan sesuatu di dekatnya, membuat dia terkejut sampai tampak habis kata-kata ... juga kelopak mata tersibak lebar.


Seketika wajah itu mendongak demi menatap dalam-dalam tepat pada kedua netra merahku, maka jelaslah dia menunjukkan kekagetan yang kentara. "Bagaimana bisa ...."


Lantas aku balas berkata dengan suara amat tenang, sama seperti suatu perasaan yang merekah ketika mengingat betapa luar bisa sosok ayah pemuda ini. "Aku bertemu ayahmu---eem, jiwanya maksudku. Beliau ingin kamu bisa terus melanjutkan kehidupan dengan baik, karena begitu memedulikanmu."


Dan dia kembali menunduk, menatap tak percaya pada liontin di sisi meja.


"Kamu juga sudah tahu seluruh data terbaru mengenai Tiamat dan Genesis 'kan? Semuanya temuan ayahmu." Spontan mata itu kembali tertuju padaku bagai menoreh suatu kilatan bahwa dia mengerti apa yang terjadi. "Iya, beliau hilang karena kasus Tiamat. Dan aku yang dulu pernah terkena pengaruh Tiamat ... dapat menemukannya. Takdir kadang sangat lucu, ya?"


Saat itu pula si pemuda tertawa, mungkin terdengar lirih tetapi senyuman tenang masih melekat di wajah sampai-sampai mata terpejam lembut. Dan aku lanjut berkata, "Bukan sebuah kebetulan juga, Profesor Caterine berusaha keras menjadi seorang pemimpin departemen dan mengangkatmu menjadi murid."


"Kau tahu ...?"


Seketika tatapan redup dari si mata biru tua menuju pada liontin. "Yah ... sebenarnya aku sudah lama mengenal Miss Caterine. Ayah suka membawaku ke kantor, agar aku mengenal tempat ini ... karena aku juga memiliki dragonic, sepertinya."


Ucapan Crist terputus-putus karena sering mencuri napas dalam suara nan lemah, memancing netra merah lekat menatapnya. Sebab sepasang mata itu bukan seperti yang biasa kulihat; seperti tatapan orang hilang arah. Dan tatapan tersebut sangat tidak cocok ada di sana, membuatku menutup bibir rapat-rapat bersama rasa di tenggorokan bagai terjerat; membuatku terus terdiam.


Mungkin, apa yang ayah Crist khawatirkan ... memang mengkhawatirkan.


"Dulu aku antusias bercita-cita menjadi orang hebat seperti Ayah, dan sering menghabiskan waktu bersama Miss Caterine. Itu kenapa aku memanggilnya dengan sebutan Miss, karena dulu ... aku menganggapnya bagai kakakku sendiri."


Sontak lengan Crist bergerak, berdestinasi pada liontin yang masih tergeletak di atas meja. Kemudian mengambil; mencengkeram, ibarat tersimpan rasa ingin memiliki yang kuat. Dan benar saja, karena memang itu miliknya; harus kembali padanya.


"Semenjak aku kehilangan Ayah dan Ibu melupakanku, aku benar-benar putus asa. Aku jadi lupa segalanya, padahal masih ada ...."


Langsung dia menoleh padaku lagi atas selukis senyum yang lepas; senyum yang bukan biasa dia perlihatkan; senyum yang memang cerah sampai membuat rasa tak enak dan gemuruh dalam relung dada hilang.


"Kamu dan Fate, memang sebuah anugerah." Tawa nan renyah juga mengudara. "Aku selalu kehabisan kata-kata menghadapi kalian."


Malah, aku ikut tertawa mendengarnya lantaran makna hiperbola apa lagi yang dia berikan? Tapi yang Crist katakan setelahnya membuatku lumayan terkejut.


"Kalau aku terbebani dengan pikiran sendiri, cukup melihat kalian ... semua terasa membaik. Membuatku tenang dan kembali ingat kalau lupa, ingat salah satu hal yang paling penting buatku." Dan air mata mengalir dari kelopak yang sudah terpejam.


Crist menangis.


"Melihat kalian berdua juga selalu mengingatkanku ... usaha dan tantangan yang berhasil dilewati pasti akan membuahkan hasil. Meski gagal, bisa terus berjuang tanpa menyerah selama ingat tujuan aslimu. Tidak akan ada yang sia-sia ...."


Pada akhirnya, aku pun terdorong untuk berkata, "Sebenarnya kamu yang menjadi salah satu cahaya dalam hidupku. Menerangi. Aku bisa menjadi seperti ini, sekarang, juga karenamu."


"Mungkin aku memang api," ucapnya bergetar karena diiringi tawa kecil, "membawa kehangatan untuk orang yang kehilangan harapan."


Jemarinya terangkat, menghapus jejak air mata yang jatuh di ujung dagu. Sebagaimana sepasang mata biru tua kembali terbuka, menyala penuh determinasi bagai mentari padahal malam sudah semakin larut.


"Terima kasih sudah ada di sini, menuntun jalanku kalau berubah gelap. Kamu memang ... orang yang tulus."


Sontak aku ikut tersenyum karena mengerti seperti apa rasa mengucapkan kalimat-kalimat yang meluluhkan luka tersebut, bagai suatu usaha membersihkan jalan kotor menggunakan lantunan doa-doa yang terus dipanjatkan. Aku juga senang melihatnya. Sungguh rasanya tak bisa berhenti tersenyum mendengar puji-pujian berlebihan padahal aku tidak melakukan apa pun. Dan aku merasakan hati ikut tenggelam; berpikir bahwa semesta memiliki jalurnya sendiri dalam mengarungi kehidupan.


"Terima kasih kembali, Crist."