
Aku kembali masuk ke dalam gedung Departemen Eksekusi, melangkah di jajaran lorong panjang yang remang-remang menuju ke lantai tiga.
Menaiki tangga melintang; berpapasan dengan beberapa deret pintu metalik, hingga langkahku berhenti di dua daun pintu besar.
Seperti biasa, aku diam sesaat dan melihat ke arah kamera di atas pintu.
Cukup lama aku berdiri di depan pintu besar, tetapi tidak ada respon. Pintu itu juga tidak bisa diketuk karena bahan dasarnya alumunium kedap suara.
Mungkin beliau sedang ada di luar.
Akhirnya aku memilih duduk ke salah satu jajaran bangku di samping pintu. Tak ada kegiatan lain, maka tidak masalah menunggu Profesor Kaidan kembali.
Memegang baik-baik bingkisan kotak dalam genggaman, aku berpikir sampai sekarang tentang kenapa bisa sampai membeli cincin berlian itu.
Itu refleks aku lakukan, tetapi bagaimanapun juga, ia tak akan kembali.
Tidak bisa kembali.
Aku mendongak, menyandarkan kepala ke tembok di belakang.
Entah sudah berapa lama itu terjadi, aku masih belum bisa melupakannya dan selalu berpikir ia ada di sisiku. Bahkan terkadang berhalusinasi melihatnya.
Menyedihkan.
Mungkin aku sudah ditakdirkan hidup seperti ini; tenggelam dalam keterpurukan terlebih tidak akan mati.
Akankah Tuhan memiliki caranya sendiri untuk mencabut nyawaku?
Mungkin, untuk sekarang aku akan menyimpan cincin tersebut.
Lamunanku pecah ketika mendengar suara berat di ujung lorong. Gemanya begitu samar, hingga semakin dekat ... terlihatlah Profesor Kaidan yang sibuk berbicara dengan ponsel.
Sepertinya cukup serius, tampak jelas dari ekspresinya dengan dua alis yang hampir menyatu.
Hingga beliau ingin membuka pintu dan melakukan scanning tangan ke layar holografi di sisi pintu, beliau seketika sadar kalau aku duduk di sini.
Akhirnya beliau menurutkan ponselnya dari telinga.
"Red? Kenapa kamu duduk di situ? ... Tumben."
"Menunggu Bapak."
"Ya ampun. Kamu bisa menelepon Bapak atau mengirim pesan daripada menunggu seperti itu. Maaf, Bapak sedikit sibuk. Ayo, masuk-masuk."
Lagi-lagi lenganku beliau tarik, menuntun masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sofa hitam yang empuk.
"Tidak apa saya ke sini? Bapak sibuk 'kan?"
Beliau tidak langsung duduk, melaikan melangkah ke belakang meja. Seperti mencari-cari dokumen di dalam laci.
Kemudian beliau menjawab, "Iya. Tidak apa-apa."
Terlihat jelas beliau sibuk, aku pun membatalkan niatku.
"Bapak, nanti saya ke sini lagi."
"Hah! Tunggu-tunggu, jangan pergi! Bapak ada sedikit waktu luang sekarang."
Cepat beliau menahan tangan kiriku hingga beberapa lembar dokumen berserakan ke udara.
Aku terkejut hingga mata terbuka lebar. Kertas-kertas itu, bukankah data yang sangat penting? Kenapa demi menahanku beliau bertindak seperti ini?
Dengan gesit aku mengambil lembar dokumen tersebut, termasuk yang ada di lantai berkarpet kulit.
Beliau turut mengambil dokumen yang ada, terlihat sedikit panik.
Setelah selesai, aku menyerahkan dokumen yang berhasil dikumpulkan kepada beliau. Wajahnya terlihat sangat lelah bahkan mata panda semakin menjadi.
Sepertinya karena lelah dan banyak pikiran beliau bertindak spontan seperti itu.
"Bapak tidak beristirahat?"
Profesor Kaidan tertegun ketika aku bertanya demikian.
Setelah selesai meletakkan dokumen ke atas meja, beliau tersenyum dan menepuk kepalaku.
"Bapak akan beristirahat pada waktunya. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Bapak."
Aku sedikit merasa tersipu
Kemudian aku menunjukkan bingkisan kotak kepada beliau menggunakan kedua tangan.
"Ini ... untuk Bapak."
Beliau terkejut. Kelopak matanya lebar dan tampaklah mata cokelatnya yang sedikit mengkilap.
Bahkan beliau berkali-kali menunjuk kotak itu dan dadanya secara bergantian ibarat mengisyaratkan apakah aku serius memberikannya atau tidak.
Aku membalasnya dengan anggukan; meyakinkan sungguh-sungguh atas reaksi beliau.
Kini beliau memutar langkah dan duduk ke atas sofa demi membuka bingkisan tersebut.
Aku turut duduk di samping beliau, menatap penuh harap.
"Jam tangan?"
Beliau melirikku sesaat dan melihat kembali jam pemberianku.
Beliau ... matanya sedikit berkaca-kaca ketika mengambil dan mengenakan jam tersebut di lengan kirinya yang kekar.
"Bahkan kamu tahu model yang Bapak suka?"
"Kemarin ketika meminta misi, saya lihat Bapak tidak mengenakan jam yang biasa digunakan. Jadi ... saya belikan yang baru."
"Kamu memperhatikan Bapak?" tanya beliau dalam kekehan yang samar, "Bapak kehilangan jam waktu melakukan penelitian portal dimensi yang baru ditemukan."
Mungkin itu yang Fate sebut tatapan dari sosok ayah yang bangga.
Aku pun menunduk dan menautkan jemari.
"Maaf saya selalu ... membuat Bapak susah."
Sontak beliau menyentuh pundakku sampai aku terkejut. Profesor Kaidan telah menatapku secara dalam, raut kagum dan senang di wajah pun luntur.
Beliau bertanya dengan suara berat yang terkesan serius, "Ini yang mengganggu pikiranmu?"
Menganggu pikiran ... aku sendiri tidak begitu yakin karena isi kepala kacau seumpama benang kusut. Sejak awal, rasanya kepalaku sungguh berat.
Aku kembali menunduk, tak berani balas menatap mata beliau yang serupa kulit kayu jati.
"Red, Bapak justru senang merawatmu."
"Tapi saya---"
Seketika kedua pipiku beliau pegang, memaksa untuk menatap ke kedua matanya.
"Kamu tidak menyusahkan. Kamu tidak merepotkan. Bapak senang ada kamu di akademi."
Refleks mataku membelalak. "Kenapa?"
"Kenapa? Mmm, tidak tahu. Mungkin ... karena Bapak sayang kepadamu."
Lagi-lagi kelopak mataku melebar, menyaksikan tatapan tenang dari Profesor Kaidan.
Wajah orang tua di depan masih menampilkan senyuman penanda tulusnya kalimat yang diucapkan.
Namun, aku ... tidak mengerti maksudnya; tak paham.
"Kenapa?"
"Karena Bapak sayang kepadamu, Red."
"Kenapa?"
Kini terasa mataku mulai berkaca-kaca, bahkan hati seperti bergejolak karena pancingan suatu emosi yang memaksa keluar.
Wajahku terasa panas.
"Karena Bapak sayang ...," ucapnya lunak sembari mengelus kepalaku. Sungguh tenang dan lembut, terasa penuh kasih di dalamnya.
"Kena ... pa ...."
Kini suaraku menjadi samar dan sedikit melengking. Terasa tenggorokan tercekik karena emosi di dada memberontak ingin lepas.
Samar-samar bibirku terasa bergetar, aku pun menggenggam erat kedua lengan jas abu beliau.
"Seharusnya Bapak yang meminta maaf kepadamu, Red. Maaf tidak bisa selalu ada untukmu, tapi Bapak akan berusaha membuatmu bahagia."
Keteguhan hatiku luluh, beliau masih menatapku dengan senyuman, tampak ada rasa iba dan cinta di dalamnya.
Seperti ruang kosong di dalam dada terisi, aku mulai ... menangis.
Terisak kecil, aku berusaha menekan perasaan ini.
Kini pundakku bergetar karena berusaha keras untuk menahan jeritan batin. Napas sampai terasa sesak.
Apa beliau sungguh-sungguh dengan ucapannya?
"Bapak, apa---kenapa ...."
Aku ingin berucap, tetapi ledakan emosi mengalahkanku. Aku berakhir menangis semakin deras.
Air mata masih belum menunjukkan tanda akan menyerah, tetapi beliau merangkulku lembut dan membelai punggungku dengan penuh kasih sayang.
Aku ... sejujurnya, tak begitu paham konsep keluarga.
Aku terlahir begitu saja dan terkurung, lalu mengunci diri selama ratusan tahun.
Yang aku ketahui hanyalah dari televisi, melihat orang-orang di sekitarku dan ... ia yang telah tiada.
Ketika menjalankan misi, aku sering melihat satu kesatuan keluarga. Anak menggandeng tangan kedua orang tuanya, larut dalam suatu senyum penuh canda. Terasa akrab dan akur. Suatu hal yang tak aku kenali.
Namun, melihat itu di dalam hatiku terasa bara api menyala.
Cemburu.
Aku juga ingin. Ingin terlingkup penuh kasih sayang seperti itu, tetapi melihat kondisiku sendiri ... aku menyerah.
"Bapak begitu menyayangimu."
Tak bisa lagi aku menahan gejolak ini, aku biarkan itu lepas dan mengambil seluruh kekuatanku.
Aku menangis, segugukan dan menjadi karena tumpahan kasih sayang yang kini menyelimutiku.
Aku menggenggam jas cokelat beliau di bagian punggung karena emosi ini begitu kuat.
Rasanya tenggorokan panas dan tercekik, tetapi Profesor Kaidan terus mengelus kepalaku; berusaha menenangkan emosiku yang meluap-luap.
Seketika aku ingat kesabaran beliau ketika membacakan buku-buku yang ada; kembali mengajariku menulis; menuntunku pada teknologi dunia ini.
Itu semua beliau lakukan dengan sabar, tidak ada nada keras; tidak ada suara tinggi. Bahkan sesekali mengajakku bermain; memancing dengan tenang ke danau tak jauh dari akademi; makan makanan enak dalam restoran yang tidak aku ketahui.
Meski terkadang aku tak mengerti harus berkata apa dan berakhir diam, beliau tidak pernah lelah mengukir senyuman.
Aku semakin merintih, tetapi beliau terus menuangkan kehangatannya dengan penuh kasih sayang; memelukku semakin erat lagi.
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa; berkata apa; melakukan apa; kubiarkan emosiku terkuras habis.
Apakah begini rasanya ... jika memiliki seorang ayah?