
Perlahan, aku meniti langkah bersama Sabel melintang di depan wajah; erat menggenggam hingga tampak buku jari memucat, berusaha seminim mungkin tak menimbulkan suara gemeresik agar tidak memancing perhatian.
Sebab kesiagaan kini sungguh tertumpu pada pepohonan di sekitar yang lumayan menghalau penglihatan, apa lagi ... tidak tahu di mana saja posisi musuhku berada.
Sebelum ini; setelah pembagian prototipe Heart Core, kami memasuki pintu besar yang menjulang itu dan ternyata adalah area simulasi yang amat sangat luas. Bahkan aku optimis berpikir lebarnya sama dengan lahan resort.
Maka dengan tempat sparing nan besar ditambah wilayah simulasi adalah pepohonan yang rindang, tentu menjadi suatu pertanda tersendiri bahaya mengintai di setiap detik.
Rasa-rasanya melawan naga sejauh ini lebih mudah daripada melawan para anggota Vaughan, apa lagi untuk sekelas teman-temanku.
Begitulah beberapa hal terbesit dalam pikiran ketika mata tak henti mendelik ke segala penjuru; bersiap atas segala kemungkinan serangan.
Namun, sungguh tak terasa hawa siapa pun disekitar saat aku berkeliling entah sudah memakan berapa menit. Termasuk keberadaan Fate yang sebelum ini berkata akan memberikan support belakang ketika aku maju sebagai garis depan dan umpan.
Lantas mengembuskan napas panjang demi melepas tegang---ah! Seketika terasa peluru melesat dan refleks aku melonjak tinggi membuat bercak cat berwarna kuning menghiasi tempatku berpijak sebelumnya. Tetapi ibarat tak memberikan ampun, aku yang masih berada di udara sudah dihujani dengan banyak tembakan.
Maka tanpa basa-basi mengganti senjata dengan Zweihande dan gesit menjadikannya penghalau agar noda cat tidak mengenai tubuh.
Aku yang sudah kembali mendarat, sontak berlari dalam kecepatan tinggi agar dapat menghindari peluru yang terus berdatangan. Hingga dirasa cukup, langsung menyentak langkah demi memutar badan untuk sekuat tenaga melempar Zweihande ke titik sumber tembakan.
Lalu suara dentuman yang heboh memekakkan sampai mampu merobohkan beberapa deret pepohonan akibat serangan pedang besar tersebut.
Dan benar saja, tampak Daniel melompat sejauh beberapa meter; keluar dari gumpalan asap yang disebabkan efek ledakan tetapi kedua tangannya sudah teracung mantap ke arahku dengan kedua peluru kembali melesat. Tuhan, ternyata dia mengambil kesempatan!
Lantas mengelak---oh, aku urung melakukan karena terlihat Fate telah menembak balik peluru-peluru Daniel, terbukti dari cat berwarna merah dan kuning pecah di udara.
Di saat itu pula keduanya terkunci pada baku tembak dari jarak jauh, tapi berkat serangan sebelum ini ditambah akurasi tinggi dari Fate, Daniel jatuh tanpa banyak perlawanan.
Namun, berkat itu pula menyadari ada Floating Hourglass meluncur ke sisiku yang luput beberapa jengkal dari kepala, dan aku yakin jika mengelak serangan Daniel ... pasti akan mengenainya.
Langsung aku menoleh ke sisi dan mendapati Cecil sudah beku di posisi, bak terkejut dengan apa yang terlihat. Mungkin menyadari taktik mereka gagal?
Maka aku mengambil kesempatan, melesat ke arah si gadis yang sudah dibuat kalang kabut. Kemudian mengayunkan Sabel tetapi gagal mengenainya karena Cecil sudah berlari secara acak---ah, mungkin dia juga diuntungkan dengan tubuhnya yang kecil.
Tentu aku tak melepasnya dan mengejar si gadis dengan pedang bersiap dalam genggaman. Satu sisi, Cecil sesekali merentangkan tangan kebelakang demi memberikan serangan Ice Lance--atau bola cat karet berwarna kuning?--secara terus menerus. Dan sungguh perbuatannya membuatku kesulitan untuk mendekat, ditambah medan pertarungan penuh pohon sangat menguntungkannya.
Tiba-tiba dari arah kiri muncul sebuah pisau yang melesat secara horizontal dan spontan kutepis menggunakan Sabel, membuat suara denging kedua bilah tajam mengudara.
Seperti mengambil kesempatan, di saat yang sama Cecil berhenti berlari demi melempar Floating Hourglass tetapi aku yang masih dalam perhatian tinggi dengan datangnya serangan kembali mengelak, dan menggunakan tangan yang bebas aku mencengkeram belakang baju Cecil; berganti mengarahkan pedangku padanya.
Akhirnya setelah sedikit berlari-larian, tim Daniel sudah jatuh sepenuhnya. Tertinggal tim Lux---
Seketika terasa ada aura tekanan seseorang di sisi membuatku refleks menoleh---tunggu, Crist?! Dia memberikan kedipan sebelah mata sebelum berlari menghampiri Lux, dan ... ah, bajuku sudah ternoda tebasan cat berwarna biru--lambang warna tim Lux--tapi bukankah Fate memberikan support dari belakang?
Lekas aku menoleh ke tempat Fate bertarung dan ternyata jauh di sana, si gadis telah terkunci adu tembak bersama Lux. Beberapa bercak cat berwarna merah--simbol dari warna timku--juga telah ternoda banyak di tanah sekitarku.
Sepertinya memberikan support jauh untuk menghadang Crist sembari menghadapi Lux, membuat dia cukup kesulitan untuk fokus membidik?
Mereka berdua benar-benar ... mengambil celah! Salahku juga tidak begitu fokus pada serangan pisau yang sebelumnya datang, dan lebih menggebu menjatuhkan Cecil. Langsung aku mengerang sembari menggaruk kepala setelah membiarkan si gadis kecil pergi menghampiri Daniel.
Mendadak Fate menghentikan pertarungan dengan Lux ketika menyadari Crist ikut menyusul ke arahnya, dengan menggunakan kecepatan maksimal dia melesat atas akselerasi bak bayangan menuju temaram dalam pepohonan di kejauhan.
Hal itu membuat Lux terdiam, mungkin menunggu serangan dari si gadis dengan tujuan agar mampu melacak keberadaannya? Dilihat dari medan pertarungan ini ... memang menguntungkan untuk mereka yang mengandalkan taktik.
Seketika dari arah kanan suara letusan senjata api terdengar begitu ramai, seperti tidak memberi celah dan ampun. Tentu saja, Crist dan Lux langsung terfokus dengan serangan itu tetapi Fate ternyata telah muncul tepat di dekat Crist dalam hitungan detik.
Sebelum si pemuda sempat menghindar atau menyadari kehadirannya, Fate telah menyarangkan tiga peluru sekaligus pada bahu; perut; dada, membuat Crist terhuyung dan penuh dengan bercak cat warna merah.
Namun, di saat bersamaan Lux sudah melancarkan serangan ke arah Fate tetapi si gadis berhasil menghindar meski wajah penuh kesan terkejut terpampang jelas. Mungkin, karena mengetahui Lux bukan mengenakan Class Gunner atau Swordmaster? Namun, menggunakan Class Executioner. Sebab itu pula ibarat menemukan celah, gesit Lux mengincar bagian leher Fate menggunakan pisaunya.
Gadis satu itu memang berbahaya, meskipun sekarang terlihat sangat kelelahan. Terbukti dari napasnya tersenggal-senggal---ah, mungkin karena ini juga Fate kehilangan fokus ketika mendapat serangan terakhir dari Lux? Seperti dipaksa menggunakan kecepatan tinggi secara terus menerus. Staminanya memang terbatas. Lekas aku menghampirinya.
Saat aku memegang jemari kiri Fate dan menyentuh pundaknya menggunakan tangan yang lain demi membantu si gadis, ruang simulasi ini membias; menyisakan kami di tengah-tengan tempat yang luasnya keterlaluan. Terlihat pula akhirnya Crist dan Lux melakukan sebuah tos--menepuk tangan lawan--tinggi-tinggi.
Heee, aku tidak tahu ternyata mereka sedekat itu?
"Oi, sejak kapan kalian jadi sok akrab?" celetuk Daniel tiba-tiba dan tentu langsung menarik perhatian yang lain.
Spontan Lux tertawa. "Memang kami dekat? Dari dulu sering menghubungi satu sama lain."
"Yah. Awalnya hanya sebatas Departemen Konsultasi yang membantu para Disiplinaria, tapi lama kelamaan kami menjadi akrab." Crist terkekeh sembari mengangkat kedua pundak. "Apa kalian lupa? Bahkan Lux langsung menghubungiku ketika mengabari akan berlibur bersama."
Ah, pantas saja ... ditambah sama-sama licik---oh, maksudku benar-benar memanfaatkan dan menunggu kami bertarung dengan tim Daniel baru mereka memulai bergerak. Dari beberapa sisi, keduanya memang mempunyai beberapa kesamaan, mungkin itu juga alasan memiliki kerja sama yang lumayan.
"Ternyata sparing seperti ini menyenangkan, bisa bertarung bersama ...," ucapku pada akhirnya, "tapi rasanya aku masih terlalu kesusahan. Maksudku, terlalu bergantung pada support dari Fate jadi tidak begitu memikirkan serangan dari Crist."
"Itu artinya kau sudah mempercayai rekanmu sendiri ... meskipun, jangan sampai terlalu bergantung dan berakhir lengah," jawab Fate.
"Kamu dah tahu kesalahanmu, jadi harus diperhatiin kedepannya!" Lengkingan berisik ikut mengudara dari Cecil yang sudah berkacak pinggang.
Spontan aku tertawa kecil seraya mengelus tengkuk. "Iya, aku akan terus perhatikan dan pelajari ... mungkin, tidak akan sempurna tapi akan terus berusaha."
"Sebenarnya kau sudah menunjukkan sedikit peningkatan, Red. Kau sudah bisa menilai dirimu sendiri dan memberikan koreksi." Lagi, aksen nan lembut di dekatku kembali terdengar.
Berbeda dari Lux yang justru mengedik tak suka. "Tetap belum cukup."
Kemudian si pemuda melipat tangan depan dada. "Kamu masih kurang sinkron padahal bersama dengan teman satu club-mu sendiri, bagaimana dengan orang asing? Ditambah, kau sudah terlalu lama hidup abadi jadi tidak begitu memperhatikan pertahanan sekitar dengan baik. Jika hal itu tidak diperhatikan, bisa-bisa kau mati konyol nantinya. Mau tidak mau, kita harus memaksa Red agar terbiasa."
"Oh, iya ya. Red, bisa jadi kamu enggak peduli sama serangan pisau itu soalnya lebih fokus ke depan ... akhirnya menjadi abai atau bahkan lupa, biasanya kamu juga gitu," sambung Daniel.
"Yap, aku setuju dengan Lux."
Mendadak aksen eksentrik nan khas mengudara---tunggu, suara itu ... Head Master Lucian?!
Dan benar saja, seketika layar holografi nan besar muncul di depan kami semua menampilkan sosok beliau yang sedang duduk pada meja kerjanya. Mungkinkah sejak kami masuk ke ruang ini sudah diperhatikan?
"Kau beruntung mendapatkan satu tim dengan Fate karena dia memang support spesial yang mudah beradaptasi, tapi bagaimana jika kau digabungkan dengan temanmu yang lain? Atau bahkan orang yang sama sekali belum kau kenal? Belum tentu bisa berbuat banyak."
Lalu beliau bertopang dagu seraya menunjukkan sebuah senyuman yang terkesan misterius. "Lux, Fate, latih mereka menggunakan gaya bertarung Disiplinaria jika dibutuhkan."
Hal tersebut membuat Lux ikut memberikan seringai tetapi Fate justru mendengkus dalam wajah datarnya. "Kau mau membunuh mereka?"
"Naaah, lagi pula mereka masih muda," jawab beliau dengan kekehan santai sembari mengedipkan sebelah mata, "aku tambah masa persiapan menjadi tiga hari untuk latihan dan sparing. Dan Lux, terus berikan data perkembangannya."
Sontak layar tersebut tertutup yang membuat senyuman di wajah cakap Lux kian melebar hingga mata emasnya terpejam. Bersamaan menaikkan ke dua pundak, dia berkata, "Bagaimana kita lanjutkan lagi sparingnya setelah makan siang? Nanti setiap orang akan mendapatkan giliran satu tim dengan Red, termasuk aku."
"Nah, aku tuh baru mau bilang kita makan dulu. Lumayan capek ternyata karena ini kayak latihan biasa. Apa lagi tadi Fate memaksakan kecepatannya sampai aku enggak sadar dah hilang dari depan Lux!" ucap Cecil yang sudah berdiri di tengah-tengah kami.
Dan Daniel ikut menyambung, "Aku juga lupa kalau liburan ini sebenarnya buat melatih Red biar terbiasa di Eother, kita terlalu asyik sendiri."
"Kayaknya kamu saja."
"Hei, kita di sini sama-sama ya!" celetuk Daniel pada pernyataan Crist.
Tetapi hal tersebut memang membuatku teringat jika nanti akan dipindah tugaskan ke Eother sebagai murid Grade S yang membantu cabang Vaughan di sana. Tentu saja, harus penuh dengan persiapan.
Tidak terbayang nanti latihan tiga hari terakhir kami di sini akan seekstrem apa. Menggunakan gaya latihan para Disiplinaria, 'kan? Dan memaksaku terbiasa ... ah, aku berakhir memberikan senyum masam.