When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Panic Attack



"Cil, benar tak ingin ikut menjenguk Daniel?" tanyaku gugup. Namun, dia tetap menunduk, hanya dua tangan menggenggam di tengah paha yang terlihat. "Yang lain sudah pergi. Setelah ini kalau aku juga pergi, kamu akan sendirian di club."


Aku menjadi sedikit cemas. Sedari tadi aku ajak bicara, dia tetap diam; terus terdiam. Hanya menggeleng kecil sebagai respons.


Ah, sebenarnya apa yang terjadi? Aku mulai duduk menyerong, berhadapan dengan Cecil yang masih setia menunduk dalam-dalam membuatku terus bertanya. Terutama dengan rambut panjang yang menutup hampir seluruh raganya.


Tak henti aku memanggil namanya, tapi si gadis masih tidak menanggapi. Entah kenapa ini mengingatkanku pada Fate ketika di perpustakaan; hanya diam mematung. Seketika kelopak mataku tersibak lebar, jangan-jangan Cecil juga---


Segera aku menyentuh pundaknya dan terasa dia bergetar kecil. Astaga, apa gadis ini baik-baik saja? Langsung aku menyentuh pipi---eh, basah?


Saat itu juga Cecil mendongak hingga helai rambut putih berjatuhan, terlihat acak-acakan. Mata merah muda khas neon menatapku, sayang binarnya telah hilang membuat kesan wajah yang selalu geram itu luntur. Menyisakan pandangan mengukir suatu denyut nyeri di balik tulang rusuk, hanya melihat saja membuatku sesak.


Lantas aku buru-buru berkata, "Cecil apa yang---"


"Cepat pergi!" Seketika dia membuang muka dan membentak kencang, membuatku syok dan beku di tempat.


Ekspresinya, sungguh tak dapat kubaca.


"Tapi kamu---"


"Cepat pergi dari sini! Biarkan aku sendiri!!" jeritnya kencang-kencang sampai menyentak kaki.


Refleks aku mengikuti titah dan langsung keluar gedung club. Tuhan, apa-apaan itu---ah, apa dia marah? Kenapa? Apa yang terjadi di hari ini ... astaga, aku tak habis pikir! Sontak aku berjongkok tepat di depan pintu club.


Tunggu-tunggu, tadi aku sempat melihatnya dengan jelas sekilas.


Ternyata tadi Cecil menggenggam ponsel, dan layarnya ... melihat rekaman suara dari Daniel? Iya, benar, pengirimnya Daniel. Apa yang terjadi pada si laki-laki pirang sampai membuat Cecil menangis?


Apa mungkin---


Ya, Tuhan. Ya, Tuhan! Bergegas aku mengecek ponsel, ada pesan dari Crist di sana tetapi hanya memberitahu nomor kamar rawat. Mana kabar terbaru mengenai Daniel? Ia baik-baik saja 'kan?! Aaargh, benar-benar, kepalaku kacau! Aku mulai memasukkan ponsel pada saku dan mengusap wajah berkali-kali, lalu beranjak bangun.


Kakiku cepat menyaruk langkah sebab gejolak membara dalam dada padahal udara dingin musim gugur menjamah epidermis tiada ampun. Entah kenapa, mungkin kebiasaan terlampau mengkhawatirkan hal kecil. Tidak tahu lagi ini kelebihan atau kebiasaan burukku yang lain.


Saat sampai di jalan utama, aku melihat banyak orang berlalu lalang. Tampak sibuk. Ah, wajar saja karena kasus ini sampai merenggut dua pengguna dragonic dan membuat anggota tim lain dalam keadaan kritis. Mengetahui ini, aku justru semakin dibuat cemas. Saat kembali menderap---eh, itu Lux!


"Lux, Luuuux, tunggu!"


Sigap aku mengejar dia yang melangkah cepat entah ke mana, lalu menarik lengan si pemuda sedapatnya ketika hampir dekat. Sontak Lux menoleh ke arahku, tatapannya begitu serius lebih-lebih terlihat garang membuatku melepas tautan dan mengambil satu langkah mundur.


Beberapa detik kemudian wajah tirus itu meneduh, suatu ukir senyum pun terlukiskan. "Oh, maaf Red! Aku agak buru-buru. Mencari Fate 'kan?"


"Oh, iya! Bagaimana kabarnya, ia baik-baik saja?"


"Kamar tiga ratus tiga belas dan kondisi baik. Maaf ya, Disiplinaria agak sibuk karena kasus ini, jadi aku tidak bisa lama-lama mengobrol, dah!"


Seketika pemuda itu pergi, tampaknya benar sangat buru-buru. Kini langkahnya kembali secepat tadi dan dia mulai menelepon seseorang. Aku sendiri juga harus bergegas.


Cepat aku kembali melangkah.


Bahkan selama di perjalanan aku terus menutup mulut dengan tangan kanan, suatu kebiasaan ketika berpikir keras. Tapi apa yang aku pikirkan? Tidak ada, kepala terasa kosong melompong---bukan, lebih tepatnya terlalu banyak yang aku pikirkan hingga kepala sudah tak bisa lagi memprosesnya. Ah, aku menggeleng kecil, berusaha kembali fokus.


Sesampainya di Rumah Sakit Vaughan, aku langsung menuju lantai tiga.


Tiga ratus tiga belas, berarti Fate selalu dalam kamar rawat yang sama seperti kemarin-kemarin. Mungkin karena gadis itu jarang masuk rumah sakit? Jadi mereka menempatkannya pada kamar biasa.


Lantas aku terus meniti langkah dan menyisir setiap pintu, kalau tidak salah di sekitar sini---oh, itu dia! Namun, dari sela-sela pintu aku bisa melihat Fate dikelilingi oleh orang-orang penting. Cukup ramai. Ada Profesor Gil, Profesor Caterine, dan Head Master Lucian. Dari wajah mereka, sepertinya membahas sesuatu yang cukup serius.


A-aku ragu-ragu untuk masuk di tengah-tengah mereka, tapi ingin tahu juga bagaimana kabar Fate. Perlahan, aku melangkah maju karena sedikit pun tak dapat melihat wajah si gadis dari arah sini.


Mungkin, jika banyak orang yang mengelilingi Fate artinya dia tidak apa-apa ... aku harap.


Akh, benar-benar tak bisa tenang!


Lebih baik menyusul Crist ke kamar rawat Daniel. Lantas beralih meraih ponsel di saku celana untuk mengecek nomor kamar---tunggu, kenapa ... tanganku tak henti bergetar? Apa lagi ini?! Mati-matian aku menggenggam ponsel dengan dua tangan lantaran ini terasa tidak benar! Tiba-tiba rasa takut merambat punggung dan merengkuh erat, membuat perutku nyeri seperti terjerat---aaaa!!


Langsung aku berlari meski banyak orang memenuhi lorong rumah sakit.


Sesampainya, aku disambut oleh Daniel. Dia melambai-lambai tinggi dengan tangan kirinya, sedangkan Crist tersenyum lembut. Hanya mereka berdua, sepertinya yang lain sudah pergi. Namun, napasku masih tak teratur; dada naik turun secara kasar.


"Kok baru datang sih? Kukira beli oleh-oleh dulu, tahu-tahunya masih tangan kosong!" celetuk Daniel bersungut-sungut.


Ah, benar ... Daniel baik-baik saja. Tapi kenapa rasa khawatirku belum hilang? Susah payah aku berusaha tetap tenang, lalu berjalan dan duduk pada bangku dekat Crist. "Sebelumnya, aku ke kamar Fate dulu."


"Nah, bagaimana kabarnya?"


Aku tak menjawab pertanyaan Daniel, lebih tepatnya tidak mampu.


Mungkinkah benar baik-baik saja? Aku tak sempat melihatnya tadi. Berakhir hanya menunduk dan menggenggam tangan karena tidak henti bergetar, aku juga menekan-nekan telapak tangan kiri bagian bawah. Kenapa? Tidak tahu, ini spontan aku lakukan.


"Kalian enggak marahankan?" tanya Daniel tiba-tiba.


Dan seketika aku tertegun, beralih memandangnya hingga kelopak mata melebar. "Maaf ya aku bilang gini, Fate itu selama misi aneh tingkahnya. Kebanyakan melamun, kayak lemot gitu ... murung terus. Walau masih bisa melaksanakan misi dengan tenang, tetap berasa ada yang aneh. Kalian berdua okekan?"


"Tidak ... tahu." Sekarang suaraku bergetar, bahkan terdengar melengking---ah, mengapa?


Refleks ingin menyentuh leher tetapi tangan kananku langsung dicengkeram, pundak juga didorong memaksaku duduk tegap dan melihat orang yang berbuat demikian.


"Sudah kubilang, kalau kamu merasa tidak nyaman segera hubungi aku!" tegur Crist serius, bahkan kening ikut berkerut seperti apa yang terjadi padaku suatu hal yang genting.


Sontak emosi meluap hingga wajahku terasa panas, rasanya sesak; degup jantung tak lagi sama. Sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang seluruh tubuh secara mendadak---ah, apa lagi ini?! Kepalang takut luar biasa, apa lagi air mata mulai membasahi pelupuk. Deras. Semakin banyak dan tak terkontrol. Aku takut. Takut. Aku takut.


"Aku takut."


Satu kalimat berhasil lolos dari bibir dan aku langsung mencoba menyipitkan mata, berusaha meredam perasaan merongrong yang mencakar relung dada tiada ampun---agh, sakit sekali. Aku ingin meraih tangan yang terus Crist pegang, tapi pemuda itu justru mencengkeram tanganku yang lain.


"Jangan ditahan," ucapnya. Wajah masih serius, lebih-lebih mata biru semakin intens menatapku.


"Tapi---"


Seketika Crist menarik dan mendekap kepalaku, saat itu juga tangisanku pecah.


Aku benar-benar ... tak tahan, berakhir membiarkan semua perasaan meluap. Aku membenamkan wajah pada dadanya yang bidang; pada pelukannya, agar tak terlalu terdengar keras dan tidak mendengar apa pun.


Sebab menyakitkan. Pusing. Rasanya perih sekali dalam rusuk kiri, menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai aku meremas jaket belakang Crist. Kemudian mencengkeram. Lalu menariknya sekuat tenaga berharap pilu itu hilang. Menarik lagi. Menangis lagi.


Menyedihkan.


Namun, pemuda ini tak berkomentar apa-apa, hanya terus mengelus kepalaku dan terasa ... di setiap belaiannya ada suatu kesejukan tersendiri.


"Crist, Red kenapa? Aduh, gara-gara aku tanya itu ya?!"


"Dia terkena serangan panik. Kayaknya kejadian hari ini membuatnya gelisah, apa lagi tadi club sangat gaduh."


"Tapi enggak apa-apakan? Panggil guru walimu! Atau Pak Kaidan!!"


"Rasanya tidak perlu. Harusnya setelah ini, dia baik-baik saja ... dan jangan naikkan nada bicaramu, Daniel."