When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Akhir di Centru



Terasa kurang.


Meskipun persiapan untuk pergi ke Eother diperpanjang tiga hari menjadi satu minggu penuh, aku masih merasa tak cukup.


Juga sedikit tak percaya waktu dua tahun sudah kulalui dalam akademi nan luas ini harus berakhir. Walaupun singkat tetapi banyak sekali hal-hal dirasa, mungkin tidak seperti dulu ... hanya seorang diri dalam mengarungi gulungan waktu selama berpuluh tahun, kini aku memiliki mereka.


Dan tidak seharusnya membuat mereka kecewa, terlebih sekarang sudah berdiri pada lapangan lepas landas pesawat yang ada di halaman militer belakang akademi. Hanya saja, keadaan di sini cukup tenang, tidak seperti ketika mendapatkan kode merah pergi ke Nifle.


Sangat tenang, lebih-lebih sunyi.


Dan lama kelamaan ... terasa banyak duri yang mengerubungi dadaku.


Lantas kedua netra merah menatap pada Profesor Kaidan jauh di depan sana sedang berbincang-bincang dengan beberapa kelompok orang, mungkin merundingkan masalah lepas landas atau apa pun itu keperluan kami untuk pergi ke Eother.


Sontak aku mendengkus dan berjalan mendekati beliau seraya menggeret koper---


"Oooi, Red!"


Lekas aku menoleh ke belakang---ah, Daniel dan Cecil berhenti berlari ketika atensi langsung tertuju pada mereka dengan si pirang menyengir lebar dan melambai-lambaikan tangan. Berbeda dari Crist yang masih berlari menghampiriku hingga tampak napasnya tersendat-sendat.


"Pelan-pelan, Crist."


"Haaah, tidak-tidak. Aku bersyukur sempat menyusulmu sebelum pergi, untung juga kami mendapatkan izin pemberhentian misi untuk sesaat. Aku takut tidak sempat memberikan ini." Dan si pemuda mengeluarkan buku dari tas pinggang---oh!


Itu buku kecil yang selama liburan sibuk terus dia tulis! Jadi ... untukku?! Buktinya salah satu tangan yang bebas dia raih demi menyerahkan buku tersebut dalam genggaman.


"Aku tahu masih banyak hal belum kamu mengerti dan sering kebingungan kalau terjebak dalam kondisi tertentu, jadi aku membuat semacam buku panduan."


Mendadak Crist tertawa kering. "Yah ... aku harap kedepannya kamu bisa menangani berbagai hal dengan sendirinya, tapi untuk awalan, mungkin tulisanku bisa membantu."


Aku pun tersentak seolah-olah kalimat barusan juga mengingatkan sesuatu dalam kepala---ah, betapa tidak tahu diri. Crist merupakan temanku yang baik ... ralat, sahabat yang sungguh baik; yang pintar membaca keadaan; yang mendengarkan untuk selalu siaga; yang meraba semesta lalu menuangkannya menjadi pikiran-pikiran tiada pernah terpikirkan olehku.


Rasa-rasanya aku tiada mampu berbuat sesuatu untuk dia yang juga telah berkorban banyak, maka aku secara spontan memeluk Crist erat-erat sampai koper di genggaman terjatuh, lantaran perlakuannya membuat hati bergetar atas rasa senang hingga sesak sudah dada ini. Dengan suara bergetar pula aku tak henti berkata terima kasih.


Namun, Crist justru menepuk punggungku berkali-kali dan berkata, "A-aah, Red! Seharusnya pelukan dan air matamu itu untuk Fate 'kan?"


He?


Refleks aku melepas sahabatku itu sampai dia menarik dan mengembuskan napas yang panjang, tapi atensiku langsung tertuju ke kiri di mana Fate sudah berdiri atas mata perak melihat padaku.


Akhirnya Crist menepuk lengan atasku beberapa kali ibarat pertanda tersendiri dan meninggalkan kami berdua; berhadap-hadapan.


Namun, sesaat kemudian justru sunyi merengkuh. Padahal banyak sekali hal yang ingin disampaikan tetapi tiada satu patah kata pun mampu aku utarakan. Malahan, menunduk atas kelopak mata sedikit tertutup. Atau bisa jadi diri ini kehabisan kata untuk menggambarkan emosi yang telah bercampur aduk tak keruan.


Ternyata banyak sekali perasaan tertahan untuk sosok gadis di depan, membuatku pada detik-detik ini menjadi frustrasi dan tak tahu harus menangis atau pasrah; meninggalkan seseorang kiranya dia adalah sebuah anugerah, hingga mendadak ... bibirku berkata dengan sendirinya dalam suara yang amat lemah.


"Maaf."


Mungkin saja pada alam bawah sadar dibuat tak berdaya sampai meminta maaf karena telah bertindak bodoh; berpikir bodoh; menjadi bodoh; terlahir bodoh; dan bodoh-bodoh lainnya yang lekat padaku mengingat akan perkataan Lux waktu itu ....


Benar-benar, ketidahtahuan adalah dosa dan aku merasa malang padanya harus memiliki pasangan sebegini hina ... yaitu aku.


Tapi di saat bersamaan, tidak sudi melepas Fate begitu saja.


Sejak kapan aku berubah sebegini egois?


Mendadak terasa sesuatu yang lembut melilit leher---eh? Spontan aku mendongak yang mana Fate di sana dengan senyuman nan teduh memakaikan syal dari tas jinjing ... tunggu, syal merah milikku bukan?


Refleks tangan meraba syal ini karena modelnya jauh lebih bagus dari yang asli sebab seingatku, sudah setengah hancur sepeninggalan bertarung dengan Sen.


"Waktu itu kau meninggalkan ini." Dia ucapkan kalimat tersebut dengan suara malu-malu. "Aku juga memperbaikinya, aku harap ... kau suka."


Seketika jantung bergemuruh kencang seumpama ingin roboh, memandang semakin lekat pada gadis yang sudah merah meledak pada wajah, pun mekar di kedua ujung telinga.


Dan pemandangan tersebut membuat dadaku menyempit oleh determinasi yang kembali terpantik nyala sampai-sampai aku dibuat terdiam selama beberapa menit, dan setelah itu terpancing untuk berkata dengan suara rendah, "Boleh ... peluk?"


Fate pun menjawab dengan suatu anggukan. Maka secara pelan-pelan lengan kiriku menyelinap demi merangkul pinggangnya, juga tangan kanan yang tergerak naik demi menyelipkan jemari pada helai-helai rambut perak.


Kudekap dia penuh rasa kehati-hatian tetapi lembut pula, ibarat gadisku ini seumpama potongan kaca yang gampang sekali hancur.


Mungkin aku merasa ... kami hanyalah burung-burung kecil yang telah patah sayapnya; yang mencoba saling menjahit luka dengan ketidaksempurnaan dalam diri masing-masing; yang menutup kekosongan dalam hati dengan kehangatan lantaran bagaimana bisa perlakuan sederhana membuatku merasa begitu dicinta?


Barangkali memang baru sekarang seseorang memperlakukanku sebegitu baik setelah sekian lama hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa merasa, dan aku ingin sekali berjuang lebih keras agar dia sudi kuisi hatinya dengan cara-cara yang lebih manis juga tulus.


"Aku akan berusaha dengan baik."


Fate pun membalas dengan nada suara yang membuatku merasa begitu nyata dikasihi, "Jika kau kesulitan, kau bisa menghubungiku."


Sungguh aku kembali dibuat sinting oleh hal tersebut pun terdorong untuk mendekapnya kian erat; membuatku ingin kembali meneriakkan pada semesta betapa gadis ini sungguh kucinta, dan aku bertekad untuk bisa belajar lebih baik lagi mengenai kehidupan agar bisa menjadi lelaki yang setidaknya layak bersanding dengannya.


"Iya, aku akan ... menghubungimu."


Ibarat mengerti akan isi hatiku, lengan si gadis mulai ikut merangkul punggung, kemudian tangan yang lain beranjak naik dan dirasalah jemari-jemari lentik mengelus rambut merahku perlahan.


Dengan begitu, secara refleks aku mengecupi pucuk kepala Fate ibarat bersumpah akan membawakan semesta yang baik sebab gadis ini masih bisa menjadi malaikat dan tersenyum secerah matahari.


Aku ingin menjadi lelaki yang mampu mendatangkan senyuman tersebut.


Hingga akhirnya, aku mendampilkan pipi pada kepala si gadis hingga merasakan harum bebungaan yang membuat dada tenang; damai; seolah-olah menjadi kekuatan tersendiri untuk mengarungi dunia.


Sudah cukup aku berkali-kali jatuh, kini semua cerita sudah kurangkai rapi dalam memori agar mampu merawat hatinya yang rapuh ... tanpa rindu-rindu kembali meriuh.


Lantasku bisikan, "Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Red," balasnya membuat dadaku berat oleh perasaan kasih pada gadis yang sudah mencuri hati.


Dan juga selamat jalan, semoga saat bertemu ... cinta kita telah resmi dikumandangkan atas nama Tuhan.