
Setelah membeli cermin yang baru di kamar entah kenapa sekarang ... rasanya, senang melihat diri sendiri. Aku tertawa kecil. Jika diingat, dulu sangat benci berkaca sampai memecahkan cermin dengan tangan kosong, berkali-kali. Tapi sekarang---haaah, semua berlalu dengan cepat.
Aku melangkah menuju lemari baju dan memeriksa isinya. Kalau tidak salah masih menyimpan satu seragam akademi dari Profesor Kaidan ... ini dia! Apakah yang aku kenakan tetap menjadi kelam? Aku mengeluarkan kemeja putih dan almamater abu, mulai mengganti baju.
Kenapa terasa gugup?
Eh?
Demi memastikan, aku pun melihat ke cermin---
Tap! Tap! Tap!
Langsung aku berlari menelusuri lorong kamar dan menuruni tangga club. Sepertinya ketuk kaki cukup keras pada lantai kayu sehingga ketika turun, seluruh mata tertuju padaku.
"Apa sih pagi-pagi rusuh---woaaa, Red! Lumayan, lebih rapi."
Daniel yang pertama merespons dengan menyengir kuda dan menatapku penuh raut ceria. Bergegas aku duduk pada sofa tepat di sampingnya. "Iya! Bagaimana? Bagus?"
Bukannya menjawab, laki-laki pirang ini hanya terdiam melihatku dengan tatapan bingung. Ia memiringkan kepala satu kali dan berkata, "Ya sih, jarang lihat kamu pakai seragam, biasanya hitam terus hitam lagi. Jadi peringatan dua tahun di Vaughan kamu baru pakai seragam?"
"Ti-tidak, itu ...."
Aku mulai gugup, menunduk dan mengelus tengkuk. Tidak mungkin menjelaskan segala yang aku kenakan menjadi hitam bukan? Ketika sedikit melirik, mata jelaga menyaksikan Daniel terus menatapku. Kemudian dia menyipit seraya menyentuh dagu, seperti menyelidiki.
"Terus kamu senang banget lagi ... oh, sukses nyatain cinta sama Fate jadi perayaannya pakai seragam? Atau mau kencan masa muda jadi pakai seragam?"
"BUKAN!" Keras-keras aku langsung menyalak.
Astaga, Daniel ....
Aku mulai mengembuskan napas panjang, sepertinya berbicara pada orang ini sangat sia-sia. Terbukti si pirang tak henti menyengir kuda dan menepuk pundakku berkali-kali. Apa-apaan itu? Aku mengalihkan pandangan pada sekitar---ah, sepertinya teriakkanku cukup keras?
Beberapa murid terlihat terkejut sebelum kembali pada aktivitas mereka, kecuali Crist. Pagi ini berbeda dari biasanya. Tidak ada teh dan dokumen dalam genggaman yang biasa menemani duduk pada bangku meja makan, mata biru tua nan tegas kini melihat ke arah ponsel dan layar holografi bergantian.
Kalau tidak salah beberapa hari yang lalu dia mengatakan akan ada misi penyergapan dalam skala besar, apa waktu yang dulu dimaksud ... adalah sekarang?
Seketika Crist menutup seluruh layar di hadapan dan memasukkan ponsel dalam saku celana. Di saat bersamaan ketika dia beranjak dari bangku, suara EVE begitu menggema memenuhi telinga; entah melalui pengeras suara akademi atau telepati langsung melalui Heart Core.
"Perhatian! Kode Kuning! Kode Kuning! Kode Kuning! Kepada seluruh murid dan staf Vaughan wilayah Centru, segera berkumpul dalam aula Kantor Pusat!"
Kalimat itu terus bergema hingga terasa merasuk dalam kepala. Tanpa aba-aba; tanpa banyak bicara; tanpa mengindahkan sekitar, langsung beranjak dan terlepas dari kegiatan biasa kami. Beberapa anggota Dion mulai berganti pakaian menjadi seragam formal akademi.
Aku langsung pergi ke luar gedung club, menderap langkah melewati lorong menuju pada satu tujuan. Tak hanya aku tetapi orang lain juga. Dalam sunyi, derap sol terdengar ritmis pun suara detak jam tenggelam; seolah-olah sudah terlatih dengan baik; tak gentar meski tahu tugas selanjutnya membawa kami pada peristirahatan jenjam.
Terlihat banyak orang sudah berkumpul dalam aula Kantor Pusat, aku ingat lantai teratas gedung ini merupakan ruang EVE. Entah karena efek banyaknya anggota yang berkumpul atau panggung di depan masih kosong ... dalam barisan, kulihat banyak murid Departemen Eksekusi masih berbicara dan mengobrol dengan sesama temannya. Tak tahu apa mereka sungguh-sungguh menggenggam kode etik kami atau tidak. Aku mengembuskan napas panjang dan masih tegap dalam posisi istirahat.
Tidak seperti kami, mereka anggota Departemen Disiplin sangat rapi dan sungguh etis meski jumlah mereka tak banyak--sembilan orang. Terbanyak pertama adalah kami para Eksekusi, diikuti oleh Departemen Gear, lalu Konsultasi, dan terbanyak ke empat adalah Departemen Dragonic.
Berbeda dengan departemen lain, Disiplinaria--para anggota Departemen Disiplin--hanyalah orang-orang terpilih. Mungkin sebab itu mereka sungguh berbeda, bahkan memiliki seragam tersendiri. Rok hitam panjang selutut; celana panjang untuk laki-laki, mengenakan rompi hitam yang membalut kemeja abu-abu. Tak lupa pita tangan berwarna merah bertuliskan 'Disiplinaria' masih setia mereka kenakan pada lengan kiri.
Mendadak bunyi tepuk tangan menembus udara, meski hanya sekali tetapi sangat keras bak menusuk tepat pada telinga. Semua perhatian langsung tertuju pada sumber suara, Profesor Kaidan berdiri di atas panggung dalam raut tak suka. Semuanya senyap seketika meski mata cokelat melirik dingin hanya pada barisan Departemen Eksekusi. Kadang, aku tak percaya orang tua terkenal tegas dan sangat kritis itu merupakan waliku yang memperlakukan diri ini begitu lembut dan penuh kasih.
Perlahan, terlihat panggung mulai dipenuhi oleh aura penuh karisma lantaran para ketua Departemen mengisi barisan belakang panggung. Sepertinya ini perkara yang sangat besar hingga orang penting seperti mereka menyempatkan diri hadir di depan kami. Bahkan, perawakan semampai dari pria penuh wibawa nan bahana turut hadir, membuat Profesor Kaidan sedikit membungkuk dan berjalan mundur demi mengisi barisan sang kepala departemen.
Mata merah darah mulai menyisir sekitar bersamaan dengan tumit kian mengikis jarak, hingga beliau berdiri tegap sempurna di depan panggung. Dalam satu senyum simpul, Head Master Lucian mengisi pertemuan akbar kali ini.
"Bagus, semua berkumpul dengan cepat. Tanpa basa-basi akan kujelaskan kenapa kalian dikumpulkan di sini. Baru-baru ini kita mendapatkan sinyal kekuatan naga yang sangat besar di Kota Leighton. Meskipun bukan kelas General tapi besar cakupan misi dan perkiraan banyak musuh membuat misi ini menjadi misi penyergapan Grade SS."
Tanpa bantuan pengeras suara, vokal khas nan eksentrik itu terdengar baik olehku. Mungkin karena bantuan EVE secara tidak langsung melakukan telepati pada Heart Core atau memang suara beliau tegas menggema di tengah kesunyian.
Sang Head Master menjentikkan jari dan tak lama serpihan kubus cahaya muncul perlahan di sisinya hingga membentuk sebuah masa holografi sempurna berupa gadis serba biru. EVE mulai merentangkan tangan ke depan dan sebuah gambaran peta yang amat besar muncul di sana. Aku yakin meski kami banyak dan ada yang berdiri pada barisan belakang, mereka semua bisa melihatnya.
"Kota Leighton berada sebelah selatan akademi kita. Jaraknya lumayan jauh sekitar melewati dua kota, dan bagi yang tidak kuat melakukan teleportasi langsung menggunakan Heart Core berhati-hatilah karena akan menimbulkan efek samping. Walau mungkin tidak pingsan tapi aku harap kalian tiba di sana dengan kondisi siap, karena pusat energi ada pada ... Dream Land."
Tunggu, Dream Land? Wahana taman bermain terbesar sedunia? Bagaimana bisa? Maksudku, jika tempat itu memang ada naga bisa sangat berbahaya, banyak turis dan wisatawan berkumpul. Namun, layar holografi EVE di depan mulai melakukan perbesar pada tampilan peta dan memperlihatkan taman bermain nan megahnya. Beberapa murid terlihat memasang wajah berseri, memang untuk kita mahasiswa Vaughan ... sangat jarang bisa berlibur ke tempat tersebut terbilang padatnya misi, mungkin mereka senang bisa mengunjungi Dream Land.
Tetapi tidak sedikit pula yang langsung memasang wajah serius dan masam. Seperti seluruh anggota Departemen Disiplin, mayoritas anggota departemen lain---ah, sepertinya bukan aku saja yang berpikir bahwa hal ini sangat berbahaya. Aku membayangkan jikalau hibrida berkumpul, ada berapa banyak orang yang meninggal dunia?
"Akan ada dua pembagian tim, Regu Base dan Regu Lapangan. Regu Base tetap di akademi, membantu pertukaran informasi dan tim bantuan tambahan serta support markas. Satu lagi tim yang akan pergi ke lokasi, yaitu Regu Lapangan. Regu Lapangan terbagi menjadi sembilan tim dengan masing-masing komposisi adalah dua Eksekusi; satu Disiplin; satu Dragonic; satu Konsultasi. Kalian setiap anggota departemen tentu tahu harus melakukan apa nanti."
Beliau mulai berjalan ke sana kemari atas muka panggung dengan netra merah menilik tajam ke masing-masing barisan. "Lima orang anggota Departemen Gear akan pergi ke lokasi terlebih dulu untuk menyiapkan kubah pelindung, agar nanti para warga sipil tidak sadarkan diri dan membuat tirai ilusi untuk bagian luar tempat kejadian perkara."
Seketika ketukan langkah itu berhenti tepat di depan barisan Departemen Disiplin. Dengan menyilangkan kedua tangan di dada, Head Master Lucian lanjut berkata, "Seluruh Disiplinaria wajib datang pada lokasi setelah lima anggota Gear memberikan kode hijau, segera; saat itu juga, dengan teleportasi langsung. Sebelumnya, kalian akan mendapatkan peralatan dari Departemen Gear untuk menekan aura dan kekuatan kalian, jangan sampai para reptil itu menyadari keberadaanmu."
Ah, sekilas aku bisa melihat Lucian bertukar tatap dengan Lux dan Fate, memberikan kilatan senyum kecil sebelum melanjutkan penjelasan.
"Setelahnya, Regu Lapangan yang terdiri dari sembilan tim mulai melakukan pergerakan dan melacak lokasi kejadian, berbaur dengan normal di tengah keramaian. Jika keadaan mulai genting, langsung berikan sinyal agar lima orang Departemen Gear mulai menyalakan kubah pelindung. Disiplinaria, awasi perkembangan pemasangan pelindung dan bantu membuatnya stabil."
Kemudian beliau kembali berjalan atas panggung demi menelusuri barisan para murid. "Sepuluh orang Departemen Gear akan tiba dengan helikopter An Mi-17 milik akademi setelah pemasangan pelindung, untuk membantu membuat markas sementara dan pemasangan transmiter agar EVE bisa terkoneksi pada Regu Lapangan. Tugas ini akan dibantu oleh Departemen Konsultasi yang ada di lokasi."
Tak lama langkah beliau berhenti tepat pada posisi semula. "Informasi dan tugas tambahan lainnya akan aku serahkan pada Kaidan sebagai komando pusat untuk misi kali ini. Aku percayakan pembagian anggota pada kalian para ketua departemen, pastikan seluruh murid yang bertugas mengenakan baju bebas agar mudah berbaur dan tidak mencolok."
Lucian melihat sekitar dengan menaikkan tangan kanan, lalu dengan cepat mengempaskannya ke arah kanan hingga jubah hitam yang dikenakan turut terhempas. "Lindungi semua warga sipil! Dan bunuh naga-naga yang menyerang! Laksanakan, segera!"
"Baik!" gema seluruh orang yang ada dalam ruangan secara serempak.
Kata-kata tegas beliau mengakhiri pertemuan. Para ketua departemen langsung memberikan hormat pada Head Master Lucian. Beliau mulai meninggalkan panggung dan di saat yang sama para ketua turun, berdiri tepat di depan barisan departemen kepemimpinannya masing-masing.
Kini kedua mata cokelat tua menyisir setiap individu dalam barisan Departemen Eksekusi. Namun, Profesor Kaidan berakhir menggaruk pipinya agak bingung. Apa karena jumlah kami yang sangat banyak hingga beliau sedikit ... kesulitan menentukan siapa yang harus bertugas?
Berbeda dengan Profesor Gil, beliau seperti ... berucap sekali? Dan tak lama para Disiplinaria sudah meninggalkan aula.
Selang beberapa menit, EVE perlahan melayang turun mendekati Profesor Kaidan dan ... membisikkan sesuatu? Sepertinya membantu memilih anggota, terbukti dari beliau mengangguk-angguk kecil merespons bisikan sang gadis hologram. Beliau pun menatap satu persatu dari tiap individu dan mulai memanggil nama.
Orang yang dituju melangkah maju, berdiri tegap di belakang beliau dengan kukuh tanpa melupakan kode etik khas nan tegas milik Departemen Eksekusi. Aku dan Daniel termasuk yang dipilih, dari total delapan belas orang yang siap bertugas.