When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Si Nona Cantik



Mendadak Profesor Kaidan melipat kedua tangannya lagi, wajah kembali menengadah menatap langit hingga iris cokelat memantulkan pendar sang surya seakan mengingat suatu memori. Entah apa yang terjadi, aku sedikit bingung melihat tingkah beliau.


Tak lama suara berat nan khas mengumbar. "Veteran, ya ... mengingat bagaimana pertemuan pertamanya denganku, semua perlahan menjadi masuk akal."


Wajahnya kembali menuju padaku dan Crist secara bergantian. Ah, beliau tersenyum kecil melihat ekspresi kami sebelum memperjelas kata-katanya. "Bapak pernah katakan padamu Red, waktu Bapak membantu misi Grade SS itu. Bapak kewalahan, terlebih tim medis kita karena satu Elite muncul menyergap. Tapi, tiba-tiba ada nona cantik datang membantu."


Misi Grade SS dan nona cantik? Ah! I-itu setelah aku tertabrak ketika mengerjakan Misi Grade C dan berada di ruang rawat, beliau memberikan Misi Grade SSS yaitu menolong dan menjaga ... Fate. Astaga, kalau diingat kembali waktu itu sungguh memalukan! Saat pertama bertemu dengannya aku berkata kasar. Hah, aku langsung menunduk.


"Jumlah mereka ratusan. Kami kewalahan, seperti tidak ada habisnya! Bahkan ketika Bapak datang dan menangani mereka semua, masih tersisa dua puluh lima kelas Pawn, sepuluh Knight, dan satu Elite tapi mereka berhasil dijatuhkan dalam hitungan menit oleh seorang ... nona cantik," ucap beliau dengan penekanan pada akhir kalimat. Heh, apa guru waliku ini sedang meledek? Karena mendengarnya, aku merasa tersipu.


Profesor Kaidan tertawa melihat reaksiku dan lanjut berkata, "Meskipun hibrida kelas Elite yang menyerang kami tidak terlalu kuat, tapi dengan jumlah sebanyak itu Fate berhasil mengalahkan semuanya sendirian."


Crist langsung menaikkan kedua tangan dan pundaknya secara bersamaan, dia mengukir senyum namun binar mata menggambarkan betapa terkejutnya dia. "Iya Pak, ia luar biasa tapi aku sudah tahu misi yang Bapak maksud. Cuma ... ada satu detail yang membuatku bingung, bagaimana cara Fate mengalahkan para hibrida? Ia seharusnya belum memiliki Heart Core, pertama kali bertemu Bapak saat itukan?"


Itu mencelikkan benak. Fate juga berasal dari dunia lain dan ia mengatakan saat tersadar langsung bertemu dengan Profesor Kaidan, seharusnya belum memiliki Heart Core yang bisa mengalahkan mereka. Bahkan senjata kemiliteran biasa tidak mempan pada sisik tebal para hibrida dan kekuatan dragonic tak akan stabil digunakan tanpa media yang tepat. Jadi, bagaimana bisa?


Orang tua ini justru tertawa kecil seperti ... terkejut? Namun, kagum juga. Mungkin beliau melihat sesuatu yang dia sendiri tak percaya itu bisa terjadi? Terbilang Fate memang memiliki banyak kejutan.


"Percaya atau tidak, ia menggunakan Heart Core milikku."


Apa Profesor Kaidan sungguh-sungguh? Karena, mustahil! Heart Core sudah dirancang menyesuaikan tingkat kekuatan dragonic penggunanya karena jika kekuatan sang pemilik besar tetapi medianya lemah, maka kristal bulat itu tidak akan berkerja atau bahkan pecah. Bisa dibilang, senjata kami terkunci hanya untuk digunakan oleh kami sendiri; bahkan aku pernah mendapatkan izin menggenggam Heart Core guru waliku namun berakhir tak berpendar sama sekali.


Jadi, bagaimana bisa? Fate benar-benar penuh kejutan ....


"Hal ini masih menjadi penyelidikan hingga sekarang. Lucian sudah bertanya pada Fate dan Fate menjawabnya dengan jujur, bahan EVE ikut meyakinkan ia tidak berbohong. Hanya saja, jawabannya membuat kami semakin bingung. Ia mengatakan seakan Heart Core Bapak yang membimbingnya."


Aku tertegun sampai menghela napas, itu sangat ... mengejutkan. Tak lama suara tawa dalam erangan frustasi terdengar. Aku menoleh, Crist terlihat menggaruk-garuk kepala dengan kasar hingga rambut ungu panjangnya sedikit kusut atas senyum masam.


"Jujur, dari awal bertemu dengan Fate aku lebih takut terhadapnya dibandingkan denganmu, Red."


Heee, benarkah? Gadis itu tidak menyeramkan, bahkan mungkin lebih terlihat seperti ... anggun? Kecuali kalau ia tahu aku kurang menjaga diriku sendiri.


"Auramu lebih menakutkan, tapi aku lebih takut terhadap Fate bukan karena ia kuat, kamu jauh lebih kuat. Hanya saja, kemampuan adaptasinya bisa dibilang mengerikan."


Pemuda itu memperbaiki posisi kacamatanya sebelum melipat kedua tangan. "Orang normal akan merasa panik; bingung; atau bahkan takut saat berada di daerah yang tidak ia kenali. Tapi Fate, ia cepat beradaptasi bahkan langsung terjun untuk menyelamatkan setelah tahu keadaan tim Pak Kaidan sudah tidak bisa bertarung lagi dengan tenang. Terkadang aku ragu kalau ia benar-benar amnesia atau tidak. Tapi hasil cek dengan EVE mengatakan ia tidak pernah berbohong sekali pun sejak ia tiba di sini."


Tunggu, amnesia? Crist sudah tahu mengenai Fate? Dari penjelasannya sangat detail dan benar, aku sendiri mendengarnya langsung dari gadis itu tetapi Crist ....


Apa ini ada kaitannya dengan tugas dan pekerjaan dia?


Sebentar! Crist mengevaluasi seluruh murid yang ada di Vaughan, berarti itu termasuk aku juga 'kan? Apa dia juga tahu mengenaiku? Dia mengatakan kekuatanku besar, berarti Crist juga mengerti aku tidak stabil? Tapi ... kenapa? Apa selama ini dia mendekatiku karena ingin mencari kebenaran tentang diriku? Seketika banyak pertanyaan terbesit tetapi ketika aku menatapnya, Crist hanya menampilkan wajah teduh dalam senyum yang tidak aku mengerti.


Sampai suara napas yang panjang menarik perhatian kami, Profesor Kaidan kembali mengeluarkan pendapatnya. "Fate anak yang baik. Hanya saja, jika kau berbicara dengannya, benar-benar berbicara dengannya ya, terkadang sampai lupa kalau ia seorang gadis yang baru akan menginjak umur delapan belas tahun. Strategi dan taktik ... terkadang serasa berbicara dengan ahli strategi, bukan gadis berumur delapan belas tahun."


Baru akan menginjak umur delapan belas tahun? Ha-ah, masih sangat muda! Umurku ... berapa tahun? Eh, kapan aku lahir? Namun mendadak tatapan mata cokelat beliau meredup, seakan mengingat sesuatu hal yang sedih. "Lucian berkata padaku, jika kamu memperhatikannya baik-baik; jika kamu melihat matanya baik-baik, ada momen di saat ia melihat ke langit dengan tatapan seakan ... mencari."


"Kami tidak tahu apa yang ia cari, tapi Bapak dan Lucian merasa meski ia terlihat tenang, jauh di lubuk hatinya ia mencari ... jawaban. Ingin mengingat tentang ingatannya; mencari tahu alasan mengapa ia di sini, walau mungkin itu menyakitkan, ia menginginkan kebenaran. Oh, sebab itu ... ya, karena itu Lucian tanpa sadar memanjakan Fate, justru sampai menganggap Fate sebagai anaknya sendiri."


Begitukah? Seketika sunyi menemani sampai suara alam ataupun decit burung terdengar jelas; udara pagi yang dingin kembali terasa dalam panorama pepohonan nan rimbun. Jika dipikirkan baik-baik, Fate memang sering menghabiskan waktu untuk berlatih dan berpatroli. Memang ia selalu hadir dalam kegiatan club dan diajak berbicara pun tidak keberatan, tetapi waktunya lebih sering habis dengan para profesor dan Disiplinaria.


Rata-rata para murid mengenal Fate sebab hasil laporan yang ada. Mungkin, hanya aku yang tahu banyak mengenainya. Mencari alasan dan ingatan, ini mengingatkanku untuk kembali menuntun Fate mendapat memori dan ... bertemu dengan Sen lagi.


Sebenarnya, itu sedikit mengerikan untukku.


Perlahan, kehidupanku berubah menjadi lebih baik saat bertemu dengannya; di malam itu, mengucapkan kalau aku berbeda dan masih layak mendapatkan kebahagiaan.


Perlahan, aku bisa membuka mata; mengetahui masih ada yang peduli denganku dan menyayangiku setelah bertahun-tahun hilang dalam gelap.


Perlahan, mendapatkan suatu titik kebahagiaan dan kehangatan tersendiri; dapat menikmati saat bersama dengan gadis tersebut. Masa yang belum pernah aku alami lebih dari ratusan tahun.


Jika pada akhirnya aku harus menyerahkan dan kehilangan Fate ... aku tidak tahu, harus berbuat apa lagi. Namun, memang tak layak terus menyimpannya untuk diriku sendiri bukan? Sejak kapan aku menjadi egois? Memang aku siapa? Konyol. Aku juga ingin melihatnya senang 'kan?


Aku sudah tidak sendirian lagi, masih ada Profesor Kaidan, Crist, Daniel, Cecil dan yang lainnya. Namun, mengetahui hal ini ... kenapa, terasa sakit? Ah, menyedihkan. Aku mulai mengusap mata dengan punggung tangan karena pelupuk terasa berat.


"Setelah Bapak ingat baik-baik, Lucian sudah tertarik dengan Fate sejak awal karena orang normal biasanya lari atau kagum, bahkan tertegun saat bertemu dengannya. Tapi Fate ...," ucap guru waliku kembali menarik atensi tertuju padanya.


Mendadak Profesor Kaidan mengembuskan napas yang berat dan lanjut berkata, "Dia hanya mengatakan, 'penampilan Anda sangat menipu' sambil tersenyum."


Eh? Beliau mulai memijat dahi dengan lelah. "Entah kenapa aku merasa Lucian akan membuat lebih banyak masalah melalui Fate."


Head Master Lucian memang ... eksentrik. Maka dari itu Profesor Kaidan sering terlihat sangat lelah, karena beliau selalu membereskan kekacauan yang Lucian tinggalkan. Bahkan sering tanpa sadar beliau mengeluh dan bercerita padaku, padahal aku tak mengerti apa yang terjadi di antara mereka. Aku sedikit tertawa mengingat ini.


Untuk masalahku, akan kukesampingkan. Tidak mau membuat orang-orang khawatir padaku lebih dari ini.


Juga, tak ingin egois.


Tiba-tiba suara dering ponsel memekakkan. Jujur itu membuatku terkejut, kenapa bunyinya keras sekali? Ah, ternyata dari Crist. Mungkin agar tidak terlewatkan dengan informasi yang ada? Sebelumnya dia mengatakan akan terus senggang selama tidak ada panggilan bukan?


Crirst langsung mengeceknya. Itu hal seriuskah? Karena mulai menggigit bibir bawah atas raut masam.


"Dalam waktu dekat kita akan melakukan misi berupa sergapan skala besar." Crist menoleh pada Profesor Kaidan. "Jika data ini sudah diproses, Bapak akan segera menerimanya."


Saat itu juga beliau memejamkan mata dalam wajah yang tak bisa kubaca. Kedua tangan masih setia menyilang di depan dada. Memiringkan kepala sekali, akhirnya guru waliku mulai mengangguk mengerti pada Crist.


Perlahan beliau membuka mata atas tatapan tajam, beranjak dari bangku dan membalikkan badan. Tanpa menoleh kebelakang, tangan kanan terangkat seolah-olah menjadi isyarat memanggil.


"Red, ikut Bapak ke kantor, sekarang. Laporkan Misi Grade A itu dan setelahnya kamu ada tugas lain, selesaikan sebelum tenggat waktu yang ditentukan."


Bagai sebuah pertanda tersendiri, seketika terasa kode etik Departemen Eksekusi merasuki tubuh. Aku langsung ikut berdiri dengan memejamkan mata, membiarkan indra pendengar melakukan tugas; ikut membuntuti beliau dalam derap dentum sol nan tegas, menyaruk langkah demi langkah pada lorong-lorong akademi sampai terasa embusan pagi sang bayu menerpa tubuhku yang masih sigap menemani sang ketua, membuat jas jubah hitam terhempas dengan lembutnya.