When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| "Muak"



"Kamu yang seperti ini, membuatku muak!"


Seketika suara debuk menggema menyelaraskan nada kertak ketika hantaman luar biasa terasa di pipi, begitu dahsyat sampai tubuhku ikut terbawa dorongannya dan terjungkal ke lantai---ah, lumayan sakit tapi tunggu-tunggu, apa yang terjadi?


Mata jelagaku langsung menuju pada ujung kelopak dan melihat ... Daniel?


"Sampai kapan kamu enggak mau buka mata, hah?!"


Dan pemuda itu naik ke atasku, mencengkeram kerah bajuku menggunakan kedua tangan sampai suara eratannya menggelitik telinga dalam mata hijau berkilat menantang, pun alisnya hampir menyatu.


Jelas Daniel marah besar dari rahang yang mengeras. Namun, berkat itu aku bisa melihat Crist terjerembap di atas bangku memanjang lorong rumah sakit, susah payah untuk bangun dan tampaknya terluka.


Juga, pedang Sabel milikku tergeletak tak jauh darinya.


Ada apa ini?


"Jangan sampai kamu manjain dia lagi!" Tatapan garang itu beralih jauh ke belakangku sembari menunjuk dengan tangan kiri, dan aku ikut menoleh---eh? Profesor Kaidan?!


Tidak sopan! Tapi ketika aku hendak membuka mulut mendadak suara teriakan Crist menggema sepenuh lorong. "Daniel! Kamu sudah janjikan tidak akan menyakiti dia?!"


Langsung Daniel menceletuk, "Kamu sendiri kerjaannya memaklumi dia terus! Kalau tadi Red sampai sukses menyakiti dirinya sendiri, terus kamu maklumi juga begitu?!"


Seketika, meskipun dari jauh, tampak sangat jelas Crist menggeram sampai wajahnya merah. Apa lagi nada bicara semakin tinggi dan berteriak lantang, "Dasar temperamental! Kamu suka mementingkan egomu sendiri daripada orang lain! Kalau kamu kayak begini terus, kamu tidak akan bisa memahami orang lain! Apa lagi seseorang yang perlu perlakuan spesial, seperti Red!!"


"Dah tahu!" balas Daniel tak mau kalah. Lalu mendesis sebal seraya menggertakkan gigi dan kembali mencengkeram kuat-kuat kerah bajuku. "Makannya aku selalu menghargai orang yang lebih kuat daripada aku, dan Red termasuk!"


Tatapan marah itu ... entah mengapa, terlihat suatu kesedihan juga. "Aku tahu amarahku enggak jelas, aku tahu kelemahanku!"


Jujur saja, baru pertama kali melihat ekspresi Crist sebegitu tertegun. Biasanya dia selalu menanggapi segala hal dengan tenang tetapi setelah ucapan Daniel, wajah itu melunak dalam ekspresi tak percaya; menatap si pirang bak penuh rasa terpukul.


"Kalian berdua, juga membuatku muak!" Kalimat menusuk tersebut kembali Daniel serukan dengan lantang sampai menunduk-nunduk pun suaranya memekakkan telinga.


"Mentang-mentang kalian jauh lebih dewasa, kalian main memutuskan dan bertindak semaunya saja! Kalian pikir kalau perbuatan ini baik, itu buruk, dengan ego kalian sendiri! Hanya karena Red suka perlakuan baik kalian dan menghormati kalian, bukan berarti kalian bisa seenaknya memutuskan segala hal buat dia! Pikir Red inilah, itulah, tapi apa kalian pernah lihat kondisi dari sudut pandang Red?!"


Kini genggaman tangan pada kerah bajuku semakin kuat seperti seluruh emosi menumpu pada buku jari; seperti suatu kekesalan ... yang telah lama terpendam.


"Enggak! Kalian enggak pernah lihat sesuatu dari sudut pandangnya! Padahal yang Red butuhkan cuma diingatkan dan dinasihati, karena dia bodoh akan masalah itu! Dia enggak mengerti cara hidup kayak kita makannya dia berusaha! Tapi kalian enggak pikir sampai situkan?! Kenapa? Karena kalian pengin Red terus bergantung sama kalian! Dasar orang tua egois!!"


"Daniel ...." Akhirnya suaraku berhasil keluar. Kendatipun pelan tetapi sukses menarik perhatian mata hijau tertuju padaku, membuat dia berdecak samar.


"Red bisa berbuat lebih." Tatapan Daniel sungguh terlihat dingin. "Pernah enggak kalian bayangin jadi Red? Walau masa lalu dah berantakan kayak apa dia masih bisa senyum dan ketawa asal kita bisa menuntun dia dengan baik, dia masih bisa tenang. Aku? Aku mana bisa gitu! Aku emosi parah!! Makannya aku menghormati dia! Dia bisa lakuin hal yang aku enggak bisa, tapi di mata kalian Red cuma anak lemah yang enggak berdayakan?!"


"Daniel, sudah---ah!"


"Kamu juga dengar enggak?!" Spontan Daniel menarik kerah bajuku untuk mendekat dan berteriak tepat di depan muka. "Kamu bisa berbuat lebih dari ini, ngapain lari terus? Sampai kapan kamu enggak mau sadar dan menyakiti orang lain dengan kamu yang begini?!"


Aku tidak mengerti apa yang Daniel bicarakan tetapi wajah itu tidak main-main menunjukkan perasaan kesal hingga menggeram tiada henti, sampai terlihat pula dua taringnya yang solid.


"Kalau aku yang berbaring di kasur itu, enggak mungkin kamu terguncang sampai kayak gini. Perhatian kamu buat Fate lebih daripada orang lain, makannya aku suka pancing kamu buat jujur! Tapi kamu terus saja ngebohongin diri sendiri, kapan mau jujur sama perasaan? Kamu cintakan sama Fate, Red Sirius?!"


Seperti hunjaman petir di siang bolong, seketika deru napas dan detak jantungku berhenti mendadak; kelopak mata turut tersibak, menatap Daniel penuh rasa nyeri yang samar. Ucapannya menusuk lantaran sangat frontal; menyakitkan karena benar, teramat benar sampai begitu nyeri.


Aku memang ... mencintai Fate.


Aku sadar begitu haus kasih sayang karena rasa takut akan kesepian; selalu berusaha mencari sumber kehangatan. Namun, juga mengerti tak ada yang peduli.


Semua menaruh kehati-hatian berlebih sebab aura ini; jiwaku nan rusak, dan tak mungkin mereka langsung percaya pada sesosok makhluk asing pertama tiba di dunia---ah, memang Profesor Kaidan peduli sejak awal melihatku tetapi di balik kepeduliannya, beliau hanya bertugas sebagai pengawas.


Sampai akhirnya aku berpikir ... memang hidupku seperti ini, dan terus membuat gambaran jelek mengenai diri sendiri. Aku adalah iblis; monster; tak pantas mendapat belas kasihan.


Maka dengan begitu, aku terbiasa dengan tingkah orang lain yang menjauhiku; menganggapku berbeda. Ditambah hanya tersisa ingatan buruk, semakin memperkeruh cara pandangku terhadap diri sendiri.


Caranya melihatku, sama seperti melihat orang lain. Caranya berbicara padaku, sama seperti berbicara pada orang lain. Caranya memperlakukanku, sama seperti memperlakukan orang lain. Aku menyukai itu semua, seperti benar-benar hidup sebagaimana dan selayaknya manusia biasa; mendapatkan pengakuan dan terlepas dari rasa kesepian.


Tetapi hal tersebut terlalu aneh karena ... untuk apa, ia memperhatikanku? Semua usaha membuat gambaran jelek tentang diriku menjadi sia-sia.


Sebab, juga mengerti bahwa Fate sudah memiliki orang yang berarti untuknya; orang yang memberikan kehangatan hanya dengan mengingat namanya; orang yang dicintainya ... Sen.


Jika dibandingkan denganku, aku hanya benalu. Apa arti diriku untuknya, selain pengganggu di tengah-tengah mereka?


Aku berakhir selalu menolak keberadaannya, langsung maupun tidak langsung; sadar ataupun tidak sadar; berkali-kali menyebut ia aneh tapi tetap saja ... tidak menjauhiku. Justru selalu memberiku nasihat; menuntunku; mendengarkanku. Terlebih di masa terburuk, Fate selalu ada.


Aku pun membuat batasan diri, membohongi perasaan sendiri; menyangkal rasa dalam hati, bahwa itu hanya sebuah omong kosong lantaran sudah memiliki cinta teramat sangat pada Aion. Mungkin itu kenapa semakin tak bisa lepas darinya, padahal ... ia telah tiada.


Aion sudah tidak bersamaku lagi.


Namun, terus saja aku menggunakan Aion sebagai pelarian. Lalu rasa benci pada diri sendiri semakin menjadi yang mana seharusnya aku tidak membunuhnya; seharusnya aku tidak ada; seharusnya aku tidak merasakan kehangatan; seharusnya aku tidak dimaafkan; seharusnya aku ... tak mengenal mereka.


Jika tidak melakukan itu semua, bagaimana cara menutup perasaanku? Harus bagaimana lagi aku berbuat? Berakhir sangat putus asa dan tanpa sadar, ternyata telah berlari terlalu jauh.


Menyedihkan sekali ... diriku ini.


Aku memejamkan mata sesaat demi mengatur napas dan berkata, "Terima kasih, Daniel."


Sebenarnya ingin mengucapkan maaf karena tindakanku telah membuatnya kepalang marah tetapi rasa bersyukur telah disadarkan lebih besar lagi. Juga bersyukur berada di tengah-tengah mereka, telah menuntunku sampai sejauh ini dan menghapus segala pemikiran jelek yang dulu terus melanda.


Yang dituju justru berdecak pelan dan membuang muka, samar-samar kudengar Daniel mengumpat atas semburat merah di pipi, "Sialan, bisa-bisanya di saat kayak gini malah senyum."


Dan dia melepas kerah bajuku dalam tangan yang tak henti bergetar. Terdengar juga Daniel berdesis pelan seperti menahan sakit dan ketika telah berdiri--meski sedikit membungkuk--aku menyadari tangan protestic-nya retak membuat oli mengalir dan menetes pada ujung-ujung jemarinya yang kaku. Lantas ganti menilik---Tuhan, oli sudah memberi noda hitam kebiru-biruan pada baju putihku!


"Oke ... apa yang terjadi?"


Mendadak Cecil muncul jauh di depan sana dengan membawa beberapa minuman di kedua tangan. Mata merah muda bak neon menatap bergantian pada semua orang dalam lorong hingga perhatiannya tertuju pada satu, Daniel.


"YA AMPUN!! Itu tangan kenapa?!" teriak Cecil tak keruan sampai mulut menganga, buru-buru berlari menghampiri Daniel; melewati Crist yang masih setia menunduk dalam.


"Cil, Red keras banget."


"HA?!" kejut Cecil hingga langkah menyentak, menatap Daniel tak percaya sampai menaikkan sebelah alis, "kamu tuh masokhis apa bodoh sih?! Jelas-jelas grade kekuatan Red itu S+, pukul dia pakai tangan kosong ya kayak pukul tembok! Aduh ... Red, nih buat kamu!"


Tiba-tiba Cecil menyerahkan satu minuman dalam gelas plastik tertutup rapat padaku yang setia duduk di atas lantai. Masalahnya aku masih merasa bingung, ini kenapa? Ada apa ya?


"Habisnya Cil, sebal!"


"Sebal sih sebal tapi pikir juga dong! Kebiasaan kamu tuh!"


"Iya, iy---aduh, ih Cil, pelan-pelan! Sakit tahu!"


"Daniel, tangan kamu tuh sudah menyambung ke syaraf! Aduh, ngilu banget pasti, harus cepat ini parah banget---ya ampun, sampai mau pecah dan oli menetes-netes!"


Dan Cecil dengan Daniel meninggalkan lorong yang panjang ini.


Entah mengapa melihat mereka---ah, bagaimana, ya? Tingkah panik Cecil sungguh lucu seperti seorang ibu-ibu yang bisa aku lihat dalam acara televisi di siang bolong. Lalu ini bukannya minuman kesukaan Daniel? Jus pisang dengan susu, sudah siap minum juga.


Lantas aku cicipi---hah, astaga! Terlalu manis! Segera aku menutup mulut dengan tangan kiri pun memejamkan mata erat-erat. Mendadak satu sentuhan di pundak terasa ... oh, Profesor Kaidan?


"Kenapa Red? Bibirmu pecah? Sakit?"


Langsung kuserahkan minuman tadi pada beliau. "Terlalu manis, gigiku ngilu."


Dan beliau berekspresi terkejut--persis seperti Cecil sebelum ini--disusul banyak perawat mulai berdatangan menghampiri kami.