When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Jawaban Atas Kegagalan



"Bisa gerakan tanganmu perlahan?" tanya Profesor Caterine.


Kini Daniel mencoba merentang-rentangkan jemari protestic-nya.


Kuperhatikan pergerakannya sangat kaku sampai beberapa jari ada yang tak merespons. Decak kesal sempat terumbar samar ketika wajah cakapnya melukiskan suatu kegusaran. Sepertinya cukup sulit hanya untuk menggerakan jari, bahkan dia juga menggigit bibir bawah beriringan dengan keringat turun perlahan.


Tak lama Daniel mengembuskan napas panjang dan tersenyum dalam tawa canggung. "Kayaknya masih agak kaku."


Sontak decit bangku besi tengah ditarik paksa mengudara lantaran Profesor Caterine duduk pada bangku sebelah kasur, berlawanan dari aku dan Crist. Dengan hati-hati beliau memperhatikan dan memegang tangan Daniel, seperti melalukan pengecekan.


"Tentu saja masih kaku. Kamu baru mendapatkan tangan ini dalam waktu sehari, masih harus rehabilitasi. Dan tangan ini memang masih dalam tahap pengembangan dengan menggunakan teknologi terbaru."


"Heh, aku pastikan perkembangan teknologi protestic ini berkembang pesat!" Kali ini Daniel menyengir lebar; tak ada hawa negatif seperti sebelumnya.


Mungkinkah hal tersebut menarik perhatiannya?


Halnya, itu juga mengundang Profesor Caterine mengukir senyuman. "Hoya, oya, semangat sekali. Aku sudah menyampaikan pengajuan konsep penyambungan syaraf punyamu itu, dan Dominic tampak tertarik. Mereka sudah memulai tahap awal, dan akan melanjutkannya saat kau sudah pulih."


Eh, Profesor Dominic? Dominic Dante, sang ketua Departemen Gear? Ada urusan apa Daniel dengan beliau? Ah, jangan-jangan dia akan mengundurkan diri dari Departemen Eksekusi dan mulai bergelut dalam Departemen Gear?


Dilihat dari bagaimana si pirang merespons, tampaknya iya. Jelas dari binar mata dan ekspresi senang mendapat kabar baik mengenai ... penyampaian konsep? Apa lagi balasan diterima langsung dari ketua departemen itu sendiri dan bersifat positif.


"Daniel, apa kamu akan meninggalkan Departemen Eksekusi?"


Si laki-laki mengangguk. "Iya, keadaanku begini bakalan mempersulit barisan depan Vaughan, lebih baik fokus memberikan support. Kalau tangan ini dah sempurna juga enggak akan sama kayak tangan asli. Lagian, begini-begini aku sangat andal menangani mesin loh!"


"Kalau begitu kenapa tidak dari awal masuk Departemen Gear?" tanyaku lagi.


"Lah, laki-laki sejati selalu berada paling depan! Jadi aku masuk Departemen Eksekusi, apa lagi?"


Heee, iyakah? Aku berakhir mengerjapkan mata beberapa kali. Kukira pembagian departemen berdasarkan kemampuan masing-masing, bukan dari masalah gender 'kan?


Kudengar Daniel pekerja magang dalam pabrik elektronik dan perkembangan teknologi sebelum masuk Vaughan, benarkah itu? Aku tak paham jalan pikirnya. Bukannya dari dulu selalu ingin menjadi nomor satu dan mengalahkan orang berbakat? Kenapa tidak maju dengan bakat yang sudah dimiliki saja?


Ah, kini Crist terkekeh pelan dan tampak seperti ... meledek? "Bilang saja gengsimu tinggi."


Hal itu sukses membuat yang dituju berdesis pelan. "Hih, kacamata enggak tahu diri!"


"Hahahaha, tapi aku sudah tidak mengenakan kacamata lagikan?"


"Terserah!"


Mereka berdua ... aku tidak tahu lagi sedang bercanda atau apa, tapi hal tersebut membuat sang dokter terbaik Vaughan tersenyum dan itu terlihat usil. Apa lagi gelagatnya menyilangkan tangan sampai dada terangkat---astaga, sungguh benci dengan apa yang dilihat pun aku menunduk dalam-dalam.


Beliau benar-benar mengingatkanku pada orang terkasih yang mana ia selalu mengerjaiku dan---aaaaa! Aku tak mau mengingatnya! Ka-karena aku mulai paham bahwa itu ... lalu kami ... ah!


"Crist, kau tampak bersemangat juga. Sepertinya bisa membantuku, hm?"


Yang dituju seketika mengembuskan napas. Lantas aku sedikit mengintip dengan merentangkan beberapa jemari. Tak lama lengan Crist mulai memijat kening dalam ekspresi lelah begitu kentara, selaras erangan samar yang dapat aku dengar berkat duduk di sampingnya.


"Miss, haruskah bahas di sini?"


"Harus, karena kamu akan mencatat kasus yang diderita temanmu ini."


Seketika wajah Crist berubah serius, sama seperti lengan kukuhnya mulai berdansa di depan layar holografi yang muncul entah sejak kapan.


Dalam sunyi, bibir telihat seperti merapal sesuatu sedangkan mata biru tua menyisir tiap baris kata demi kata. Sangat cepat. Memancing rasa penasaran sampai aku menurunkan tangan dan memperhatikan mereka dengan saksama.


Beliau kemudian melihat ke arah Daniel dengan tatapan yang tak bisa kubaca. Kemudian menyentuh bibir dengan telunjuk beberapa kali sebelum bertanya, "Bisa jelaskan bagaimana tanganmu bisa putus?"


Lantas Daniel memegang kepala, seperti berusaha keras mengingat kejadian.


Ah, sesuatu mungkin mencelikkan benaknya. Dia langsung menoleh pada Profesor Caterine dan berkata, "Awalnya kami hanya mengecek portal dan melakukan eliminasi naga seperti biasa. Meskipun aku agak bingung soalnya ada Fate padahal bukan misi sulit yang perlu bantuan Disiplinaria. Dari data yang aku terima juga musuh cuma Class Knight dan Pawn, jadi ya ... aneh."


Benar apa kata Daniel karena dari yang pernah Fate katakan, Disiplinaria hanya dikirim keluar untuk misi melawan naga dengan wujud manusia yang biasanya kelas Elite dan ke atas.


Jadi, untuk apa?


"Sampailah kami di portal dan memasukinya. Portal yang kami lalui itu portal satu arah. Terus kami menemukan naga di dalam portal itu dan berhasil mengalahkannya. Tapi ada yang aneh lagi. Setelah kami mengalahkan musuh, portalnya tetap enggak mau terbuka. Kami lupa bahwa yang bisa membuat portal dimensi hanya kelas Elite atau ke atas, dan ternyata terjadi pengkhianatan---"


"Tunggu!" Seketika seluruh orang dalam ruang rawat menoleh padaku, terlebih Crist yang berekspresi terkejut.


Dan dengan gugup aku lanjut berkata, "Bukannya ini data dengan izin tingkat tinggi?! A-ah, saya permisi---"


"Tetap duduk di sini," timpal Profesor Caterine tiba-tiba sampai membuatku beku di tempat, "jika kamu merasa tidak asing dengan apa yang temanmu sebutkan, berikan juga informasi itu. Kita membutuhkan data ... sekecil apa pun."


Aku menoleh pada beliau dengan tatapan ragu-ragu lantaran pembahasan yang keluar tergolong kode merah, ditambah muncul rasa takut dan bingung. Maksudnya, pengkhianatan? Dalam Vaughan?! Tuhan, itu hal yang sulit aku terima. Kenapa menjadi kacau seperti ini? Apa pernah terjadi sebelumnya? Kenapa harus sekarang? Mungkinkah benar karena aku---


Seketika tangan terasa digenggam, memancingku melihat pada orang yang berbuat demikian tapi Crist hanya tersenyum nan teduhnya.


"Red, aku tahu ini sulit. Tapi seperti yang Miss Caterine katakan, kami memerlukan informasi sekecil apa pun. Dan sampai kapan kamu akan lari?"


Ah, benar ... mereka membutuhkan informasi seperti EVE dan Profesor Kaidan sering sebutkan. Aku juga ingat apa yang Lord Metatron pernah katakan, harus menerima kenyataan meskipun pahit karena ketidaktahuan adalah dosa. Juga tak mau terus berlari.


Namun, kenapa dalam hati justru ada suatu bara yang tak nyaman? Entah kenapa, firasat buruk tidak kunjung hilang. Tetapi aku menggenggam tangan Crist semakin erat dan duduk kembali pada bangku, memilih menunduk sepanjang pembicaraan meski telinga kupasang baik-baik.


Kenapa jantungku ... juga berderu liar?