When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Pembukaan Sparing antar Club



Tak kusangka setelah beberapa waktu libur, hari ini tiba. Benar-benar tidak ada penundaan atau pembatalan sama sekali, padahal tugas kami sebenarnya masih banyak namun pertarungan dengan sesama pengguna dragonic juga diperlukan.


Berlatih dengan seseorang yang lebih andal; evaluasi; pengasahan kemampuan dan taktik. Itu mengapa sparing selalu dilakukan sebelum pendataan ulang meskipun jumlah kami sedikit; walau menahan sementara tugas untuk membasmi hibrida, hasil dari ini semua sepadan.


Begitulah sparing dan pendataan grade ulang dilakukan setiap enam bulan sekali.


Aku menatap pada gedung kubah putih raksasa nan jauh di sana. Tungkai jenjang berayun ritmis, selaras dengan mata jelaga menyelisik penjuru halaman berhektar luasnya.


Banyak orang berlalu lalang, rata-rata dari mereka berjalan berkelompok. Aku dapat simpulkan itu adalah anggota club lain, bahkan beberapa staf dan guru juga terlihat. Langkah mereka tertuju pada satu tempat, Gedung Pusat Pelatihan. Ah, pasti akan sangat ramai nanti.


Dengan gugup aku merapikan jas jubah hitamku karena saat ini, seluruh penghuni Vaughan mengenakan seragam formal dan seharusnya para murid memakai almamater abu dengan kemeja putih ... kecuali aku. Selalu seperti ini, berbeda sendiri.


Awalnya mereka melihatku dengan tatapan aneh tetapi lama kelamaan mungkin terbiasa dengan penampilanku yang serba kelam---ah! Mendadak terasa pundak dirangkul seseorang hingga aku sedikit menunduk ... oh, Daniel?


"Oi, Red! Datang duluan ke sini gara-gara waktu itu kena omel ya?" ringisnya dengan penuh semangat, "cie belajar lebih dulu demi si dia."


Spontan aku menoleh ke belakang, mereka semua sudah tiba di sini termasuk ... Fate. Aku merasa sedikit tersipu. "Tidak juga."


Eh? Daniel justru menyeringai makin lebar dengan menaik-naikkan kedua alis, sontak aku menunduk karena ... merasa malu. Perlahan ia mulai melangkah dengan menyeretku dan berkata, "Ayolah, jalannya bareng-bareng kenapa, macam anak kambing hilang induk sendirian begini."


"Itu tuh anak ayam bukan kambing!" seru Cecil dengan menendang kaki si pirang kuat-kuat.


"Aduduh. Sssh, sakit ih, Cil! Pagi-pagi sudah galak ...."


Tanpa mengindahkan Daniel yang kesakitan, gadis mungil itu berlari kecil ke depanku dan berkata, "Bracket pertarungan siapa lawan siapa tuh sudah keluar tadi jam tujuh setelah sarapan. Aku belum sempat umumin tapi kamu sudah pergi duluan. Kamu ceklah itu. Kamu masuk Bracket A kalau enggak salah, terus ya kayak biasa ... total empat bracket. Fate di Bracket C; Crist Bracket D, kalian terpisah-pisah."


"Ah, iya, terima kasih, Cil," ucapku pelan. Kini berusaha membantu Daniel melangkah, ia masih meringis kesakitan. Sepertinya itu tepat di tulang kering, pasti nyeri.


Seketika suara kekehan yang samar terdengar di belakangku, mereka semua tertawa kecil. Sebenarnya tingkah Cecil dan Daniel yang sedikit frontal seperti ini tidak terlalu buruk. Mereka bisa mencairkan suasana karena sebelumnya terlihat ekspresi tegang dari para anggota, kecuali Fate.


Gadis itu tetap dengan wajah datarnya, dan entah kenapa merasa ada tatapan mencekam menuju padaku sedari tadi. Namun melihat dan mencari ke mana pun juga, tak menemukan itu siapa dan di mana. Mungkin hanya perasaanku saja terbilang sering memiliki firasat seperti ini sejak kehidupanku di dunia asal.


Kami terus berjalan memasuki gedung hingga menuju sisi belakang. Langkah dan suara saling berbincang di lorong terdengar ramai, sampai kami tiba pada ruang simulasi raksasa. Bangku yang berjajar hampir penuh, sedangkah ruang khusus pengamatan di lantai dua pasti penuh dengan para ketua departemen dan staf kepercayaan mereka.


Untuk sebagian orang, bisa berdiri di tengah arena itu saat ini adalah suatu kebanggaan tersendiri tetapi tidak untukku. Tak ada niatan untuk mengejar peringkat, lebih ingin ... pengalaman.


Seluruh anggota Club Dion menempati wilayah yang masih kosong di sisi kiri. Crist dan Cecil yang tiba belakangan mulai membagikan satu kotak jus. Ah, ternyata mereka berbelanja dulu.


Aku mulai menyeduh minumanku. Sebenarnya tidak begitu dekat dengan Dominguez meski kami sama-sama anggota Departemen Eksekusi. Ia selalu sibuk terbilang merupakan anggota senior, selain itu dia juga personel inti Club Mercy. Namun ketika sparing aku sering melawannya, mungkin sudah tiga kali. Dia selalu menggunakan Class Gunner dan lumayan lincah meski badan lebih besar daripada aku.


Aku menaikkan kedua pundak. Tak salah, ia adalah Grade S terlebih kontrolnya Grade A. Tak boleh lengah melawannya. Dominguez sedikit kasar jika bertarung, maksudku tak segan-segan melukai. Jika dipikir kembali, hal tersebut wajar bukan dalam sparing? Seperti berusaha keras menjatuhkan musuh.


Aku mulai menutup layar holografi biru di depan. Akademi Vaughan wilayah Centru memiliki dua belas club, tiga dengan anggota penuh dan club sisanya kurang dari sepuluh anggota termasuk club kami. Kira-kira jumlah seluruh murid sekitar dua ratus dan yang ikut pertandingan ini ada tiga puluh enam orang, tapi takdir mempertemukanku dengan Dominguez tepat setelah pertandingan pertama.


Aku mendengkus. Besok, ya ....


Sebenarnya menurut data keseluruhan, laki-laki kekar itu lebih baik daripada aku. Benar apa yang Fate katakan, karena stamina dan kemampuan pemulihanku yang luar biasa sehingga bisa jauh lebih unggul darinya. Mungkin aku sudah harus mulai belajar menggunakan taktik, tapi bagaimana? Masih belum terlalu paham.


Apa dengan hal dasar terlebih dulu? Yaitu tidak terburu-buru dan tetap tenang. Ya, benar, dari hal kecil dulu. Aku mulai mengangguk.


"Memikirkan sesuatu, Red?" Aku langsung menoleh ke asal suara yaitu Crist yang duduk tepat di sisi kanan, bibir kukuhnya mengukir senyum simpul.


"Ah, ya ... sepertinya akan bertemu Dominguez lagi," jawabku.


Crist mulai melipat tangan depan dada dan sedikit memiringkan kepala, kedua mata biru pun terpejam. Seperti berpikir. "Hmmm, oh! Si pria besar itu? Bukannya kalian satu departemen?"


Aku mengangguk dan mulai menautkan jemari. "Iya, tapi kami kurang dekat. Dia ... selalu sibuk."


Sebenarnya aku tak dekat dengan siapa pun, hanya orang-orang dari Club Dion yang biasa berbicara denganku. Profesor Kaidan juga, terlebih ... Fate. Gadis itu yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku.


"Sepertinya anggota Departemen Eksekusi tidak saling dekat," ucapnya santai dan mulai bersandar pada bangku, "tidak bisa disalahkan, kalian merupakan satu-satunya departemen yang memiliki banyak anggota. Heem, Departemen Gear juga tapi tidak sebanyak kalian."


Ah, benar juga. Terlebih kami sering bertugas keluar. Biasanya saling bertemu ketika berkumpul mendapat panggilan dan mengerjakan misi. Tunggu, apa ini terhitung?


"Tapi kudengar dari anggota Mercy yang lain, dia orang baik." Kini perhatianku kembali tertuju pada Crist, ia masih setia dengan senyum ringan itu. "Dia merupakan anggota yang sangat loyal, apa lagi terhadap ketuanya."


"Ah, Lux Fedrian?"


"Ya, bahkan mereka mengatakan Domi seperti anak kucing yang penurut." Crist terkekeh. "Dia sangat menghormati Lux, mungkin orang yang seperti itu tidaklah buruk ...."


Heee, begitukah? Aku mulai menutup mulut dengan tangan kanan, kebiasaan ketika berpikir. Mungkin apa yang Crist katakan benar tetapi kenapa rasa gelisahku tak hilang? Ha-ah, selalu berpikir berlebihan.


Aku mulai mengusap wajah.