When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Acara Penutupan II



Sebenarnya sangat-sangat tidak mau datang tetapi hati berkata lain. Ya, instingku berkata harus kemari. Mengandalkan insting bertahan itu tidak salah 'kan? Crist juga berkata demikian. Aku mengangguk kecil dengan berjalan ke taman samping akademi, tempat panggung besar itu digelar.


Tetapi selama melewati jalan setapak aku tak melihat kios bertebaran. Semuanya sudah rapi dan bersih, dalam waktu singkat. Memang kerja sama para penghuni dan staf, terutama anggota Departemen Gear luar biasa.


Malam ini eksistensi ratus gemerlap para gemintang menemani sang rembulan, dekut burung hantu atau makhluk nokturnal seperti biasa menemani; membuat ketenangan nan permai dalam jalan remang-remang dari lampu taman menghiasi. Sampai akhirnya tiba di lokasi tujuan, baru terasalah keramaiannya. Bahkan aku sangat yakin orang-orang yang berkumpul saat ini lebih banyak daripada siang tadi ketika upacara penutupan dari Head Master Lucian.


Aku memilih tetap setia di balik temaram bawah pohon, menjauhi keramaian depan sana. Ekspresi seluruh murid yang hadir tampak penuh harap pada lampu-lampu panggung yang menyorot lembut menembus gulita, beberapa staf juga turut hadir. Kini banyak alat musik mengisi panggung.


Ternyata benar akan ada konser. Jika kelompok hobi---ah, Lux dan beberapa teman club-nya merupakan anggota light music, tetapi kenapa siang tadi dia juga menyeret Fate? Tatapanku mulai nanar sekarang, apa desas-desus itu benar?


"Nah, ketemu juga ini anak!"


He? Seketika terasa seseorang menarik tanganku---sebentar, Daniel?


"Kau susah banget dicari kalau malam-malam begini, sekali-sekali cobalah pakai baju yang cerah!" gerutu si pirang tiada henti.


Tak lama suara kekehan terdengar. Ternyata Crist juga hadir. Ha-ah, mereka benar-benar tidak melepasku dengan mudah. "Syukurlah Red kamu datang, atau kamu mungkin akan melewatkannya."


"Eh? Melewatkan ap---"


Mendadak teriak para murid memecah hening bak bersorak penuh antusias. Spontan aku memperhatikan ke depan---ah, perkumpulan light music tiba tetapi sorot mata jelaga hanya tertuju pada satu; rambut perak nan panjang begitu gemerlap seakan kerlip bintang turun di atas panggung, membuat sekitar terasa berjalan lambat.


Aku tahu beberapa anggota light music tiba atas pakaian glamor lagi bergaya. Namun kelopakku tersibak menyaksikan Fate dalam baju jin mini dengan pita ikat samping; atas gaun perpaduan warna hitam dan perak dengan bandana senada.


Tatapanku melemas sekarang, figur bak boneka begitu membius terlebih kulit putih pualam memperkuat penokohannya. Tubuh semampai berjalan tegap menuju bagian depan panggung, bahkan derap langkah kaki berbalut bot hitam yang tinggi sungguh lugas seakan-akan suara riuh para murid berakhir mendam pun sunyi.


"Ha-ah, manisnya ...."


Refleks aku menutup mulut dengan dua tangan. Apa-apaan ... Red, apa yang kau pikirkan?! Sontak aku menggeleng dan sedikit melangkah mundur, melirik ke sana kemari. Tidak ada yang mendengarku 'kan? Sepertinya tidak, karena Crist dan Daniel masih setia memperhatikan ke depan sana. Aku langsung mengembuskan napas panjang. Benar-benar, sering sekali terbawa perasaan sendiri hingga lupa sekitar.


"Eh, itu Cecil 'kan?"


Daniel langsung berlari sedikit ke depan, gelagatnya seperti ... mencari-cari seseorang di tengah keramaian?


"Aduh, kenapa dia sendirian? Maaf, aku ke sana dulu ya!" serunya sekilas karena gesit berlari memasuki kerumunan di depan.


Sepertinya sangat ramai sampai Daniel berdesakan dan hilang dari pandangan. Laki-laki pirang itu memang begitu perhatian terhadap Cecil. Meskipun mereka sering berkelahi kecil tapi entah kenapa, terlihat akrab dan hangat ketika melihatnya bersama.


Aku menoleh ke samping, Crist kembali tersenyum membalas tatapanku. Tidak apa-apakah jika dia berada paling belakang hanya untuk menemaniku? Mendadak bunyi dengung nan melekit begitu menusuk telinga, lantas aku kembali melihat ke atas panggung.


Lux mulai menyapa orang-orang yang hadir di depan panggung. Ha-ah, sungguh ramai tapi tampak si pemuda memang pandai berkata manis dan membuat mereka semua senang. Sepertinya akan dimulai, bahkan gitar elektrik telah disiapkan ... begitu juga dengan Fate---eh, dia memainkan bass? Tapi satu mikrofon tinggi juga ada di depannya.


Tak lama terdengar suara ... Fate bernyanyi? Fonetiknya begitu datar dan lembut, belum ada pertanda iringan musik dari instrumen lain menemani. Ah, begitu menyentuh. Sampai alunan lunak dari keyboard menggiring suara merdu nan tenang dalam malam yang bermandikan cahaya rembulan. Pelan namun pasti, alat musik lain terdengar sedikit demi sedikit menuntun lantunan melodi dalam satu padu yang indah.


Baris lirik itu Fate nyanyikan dengan penuh suara tinggi nan kuat, ditambah dengan iringan drum bertenaga berbeda dengan awalan yang begitu tenang. Bahkan melodi dari keyboard masih setia menemani menambah kesan keseriusan sang vokalis dalam melantunkannya.


"Jika kamu bertemu dua perasaan yang orisinal ...."


Mendadak alunan alat musik terhenti, menyisakan suara Fate terdengar khas kembali memenuhi gelapnya malam. Aksen bergema, ia ucapkan dengan nada panjang yang pelan. Bahkan para penonton turut sunyi dalam khidmat, dan aku ... entah mengapa aku---


"Mungkin aku bisa kembali merasa ... bahagia."


Gitar elektrik memekakkan beriringan dengan ketukan energik dari sang pemain drum. Gadis itu mulai melantunkan baris kata lainnya. Begitu terkena bak menyentuh hati. Terutama nada tingginya terdengar halus dan dewasa, tanpa ada lengkingan yang mengusik. Mungkin, Fate terbiasa bernyanyi?


Mereka semua terlihat profesional.


Namun lagu yang gadis itu bawakan sungguh merengkuh hati, seperti harapan pada sebuah senyuman nan jauh untuk orang lain; keinginan untuk kebali mengisi dan menyembuhkan kebohongan fana yang menutupi; kebahagiaan yang didapat dari melihat orang lain bahagia.


Satu lagu selesai dengan gema suara dari keyboard beralih menjadi alunan piano nan pelan.


Saat itu juga suara orang-orang yang menyaksikan pecah, wajah mereka penuh semangat sampai beberapa orang menampilkan semburat merah di pipi. Mereka menyukainya. Tak khayal, memang pertunjukan tadi luar biasa bahkan untuk diriku sendiri, kagum melihatnya.


Memang gadis itu memiliki banyak kejutan dan ... begitu sempurna di mataku. Aku semakin bertanya, apa Fate membutuhkan diriku? Apa yang Crist katakan menyisa dalam benak, Tuhan memberikanku Fate karena dia yang aku butuhkan tetapi apa yang bisa kuberikan untuknya? Seketika mata kembali sayu, mungkin aku hanya akan membebani ... terlebih kejiwaanku begitu lemah.


Ha-ah, aku mulai mengusap wajah dengan lelah.


"Eeem, Red."


Lantas menoleh ke asal suara pada saat bersamaan terasa pundakku disentuh. Eh? Crist berwajah masam dengan melukiskan sedikit kekhawatiran, tangan kanan juga menggenggam ponsel.


"Tidak apa-apa aku pergi? Ada urusan ... oh, sehabis ini tolong langsung pulang ke club dan istirahat! Sepertinya aku akan pulang agak larut."


Aku mengangguk sebagai jawaban dan saat itu juga Crist pergi. Sepertinya ia mendapatkan panggilan dari Profesor Caterine. Aku harap dia baik-baik saja sebab selalu sibuk bahkan di saat libur seperti ini.


Sampai sekarang kehebohan para penonton tak kunjung reda, seakan meminta lebih dan memang baru menyajikan satu lagu tapi sudah semeriah ini. Akhirnya mereka membawakan lagu lain, kali ini melodi terdengar begitu bersemangat. Ah, tentang perjuangan.


Sorot lampu memenuhi panggung membuatku menyaksikan ... sekilas, walau hanya sesaat, gadis itu tersenyum dengan lepas; suatu ekspresi bahagia yang belum pernah ia perlihatkan begitu gemilang hingga terasa menggetarkan hati.


Apa Fate suka bernyanyi? Atau dia suka perlakuan Lux padanya? Mungkin Lux memang serasi jika disandangkan dengan Fate? Terlebih para penonton terdengar membahas topik yang sama seperti tadi siang; membicarakan betapa serasinya mereka---tunggu, bukankah Fate sudah memiliki Sen?


Aku mendengkus, sejak kapan begitu memedulikan perkataan orang lain? Berakhir melangkah mundur dan bersandar pada pohon solid di bawah temaram. Namun, kenapa tiba-tiba dada terasa buncah? Ah, aku tak suka perasaan ini.


Aku menyukai konser itu, ya, menikmati lagu-lagu yang mereka bawakan tetapi tidak semua. Lantaran acara sebelum selesai, aku sudah meninggalkan tempat dalam sunyi.