When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Fall



"Sebenarnya banyak hal belum saya mengerti. Jika tidak keberatan, mau belajar tentang dunia ini bersama-sama?"


Tatapan teduhnya menuju kepadaku, Fate seperti terkejut mendengar itu. Apakah ada yang salah?


Namun, entah mengapa rasa ingin melindungi tumbuh dalam hati. Aku pikir, Profesor Kaidan memilihku untuk menjaganya karena kami bukan berasal dari dunia ini, dengan begitu kita bisa belajar bersama-sama.


Kali ini, aku ingin menemukan alasan mengapa orang terkasihku memilih aku untuk hidup ke dua kalinya sebagai harapan terakhir ... karena sebenarnya, banyak harapan bisa ia pilih.


"Iya, terima kasih."


Tanpa sadar tangan kami bertemu dan saling bergenggaman.


Gemuruh di luar begitu mengusik, tak ada tanda badai akan mereda. Terlebih sekarang hujan sepenuhnya beku menjadi bulir-bulir salju mengingatkan kami masih berada di musim dingin, tetapi tatapanku terkunci kepadanya.


Kedua mata itu bagai rembulan yang kini tertutup awan. Namun, dinginnya tangan Fate membuatku kawatir.


Masih berpegangan, aku mengusap pelan punggung tangan kirinya dengan ibu jari. "Fate, kamu sakit?"


"Eh? Tidak, aku merasa baik-baik saja."


"Tapi ... tanganmu dingin," ucapku nanar.


"Oh, ini. Tidak perlu khawatir, memang suhu tubuhku rendah."


Tetap saja tak wajar dimiliki manusia normal walau di musim dingin seperti ini. Seperti orang anemia, atau lebih parah. Ah, teringat alasan kami di sini. Mungkin berendam di air panas bisa membuatnya lebih baik.


"Mau coba pemandian air panasnya?"


Fate mengangguk terhadap pertanyaanku, lantas aku langsung mencari itu ada di mana.


Aku berjalan melewati ruang tengah, ternyata itu ada di pojok paling kanan di mana kamar tidur berada.


Kukira ini kamar mandi biasa, ternyata ada satu bak mandi sepenuh ruangan begitu mencolok.


Aku kembali menutup tirai yang membatasi ruang tersebut, duduk pada pinggir kasur yang tak jauh dari sana.


"Fate, ada di sini!" seruku yang disusul suara langkahnya di lantai kayu kian mendekat.


"Sungguh? Baiklah," ucap Fate yang mulai melepas almamater abu---heh?!


"Berhenti! Ganti pakaiannya di dalam."


Sontak aku mengembuskan napas panjang. Astaga, kenapa ... kalau penyebabnya berhubungan dengan amnesia, sungguh aku harus membantu Fate ingat kembali.


Melihat gelagatku, dia mengangkat kedua bahu lalu membalik tirai penutup kamar mandi, tetapi langkahnya berhenti.


"Kau tidak ikut coba?"


"... Setelahmu, saya tunggu di luar."


Tuhan, serius ada orang sepolos ini?! Karena hilang ingatan, ya, karena hilang ingatan. Red, jangan berpikir tidak-tidak!


Tak lama aku bisa mendengar suara air yang mengalir, suhu kamar juga terasa menghangat. Fate pasti sudah ... berendam. Astaga, cepat aku menggeleng.


"EVE, tampilkan profil."


Kemudian layar holografi biru muncul tepat di depan.


Segera aku mengeceknya, berjaga-jaga ada sesuatu dalam tubuh karena merasa jantung berdetak kencang.


Aku menutup mulut dengan tangan kanan; mencoba berpikir.


Layar di depan menampilkan kondisi badanku baik-baik saja, sepenuhnya dalam kondisi normal. Aku menutup kembali layarnya.


Kalau begitu, apa yang terjadi kepadaku?


"Saya sedikit salut dengan teknologi yang ada di sini, terutama Heart Core. Itu bisa membaca kondisi fisikmu sehingga tahu di mana letak wajah dan memunculkan layar hologram tepat di depanmu. Tapi Heart Core hanya bisa membaca bagian luarmu saja seperti status, luka, misi, dan keberadaanmu."


"Iya, aku juga berpikir demikian. Benda itu unik," ucap Fate di balik tembok, samar-samar tenggelam dalam gema.


Namun, aku terdiam sesaat, merenungi kata-kataku sendiri.


Jika diingat kembali, EVE tidak mengerti aku ini apa. Kekuatan dan dari mana aku berasal pun tak tahu.


Mereka hanya mengatakan kekuatanku sangat besar, tapi tidak stabil. Meskipun begitu, mereka menetapkanku dalam Grade S. Terlebih badanku---ah, ya ... hal seremeh ini, kenapa terlupakan olehku?


Aku menyeringai karena kembali ingat tentang diriku yang sebenarnya. Aku mengembuskan napas tertahan, menyandarkan badan pada sandaran kasur.


Mudah saja, karena aku lahir atas kehendak para iblis dan jiwaku adalah tujuh dosa mematikan itu sendiri.


Manusia di duniaku mengharapkan diri ini demi kepentingan mereka sendiri. Para penganut iblis. Suatu saat, Tuhan pasti akan menghukum dan memasukkanku ke neraka terdalam.


Aku adalah bentuk dosa itu sendiri.


Heh, aku tertawa kecil. Dasar makhluk menyedihkan.


"Aku sudah selesai, mau coba?"


"Hah!"


Aku terkejut sampai hampir terjatuh dari kasur. Rasanya campur aduk antara kaget dan ... perasaan itu, karena dia begitu dekat dengan harum semerbak menjamah hidung.


"Wangi rose."


"Hahaha, iya, aku suka wangi bunga-bungaan."


Astaga, tidak-tidak, ini salah! Dia masih mengenakan handuk baju, rambut perak panjangnya tergerai dengan anggun. Aku---ah, perasaan ini seperti membunuhku perlahan!


Langsung aku menyegerakan langkah; melewati dia yang kebingungan melihat tingkahku; rapat-rapat menutup tirai ruang ini.


Tenangkan pikiran, Red, tenang.


Aku berganti pakaian dan langsung berendam dalam air panas sepeninggalan ... Fate. Aaaa, kenapa tiba-tiba aku merasa malu sendiri?! Langsung aku menutup wajah dengan kedua tangan.


Perasaanku sulit ditebak jika di dekatnya, seperti ... waktu pertama bertemu dengan ia yang telah tiada.


Kini perasaan dalam hati berganti dengan sakit begitu menghunjam. Aku beringsut dan memeluk lutut, membiarkan air menenggelamkanku hingga semulut. Terdiam untuk waktu yang cukup lama, kembali larut dalam pikiran.


Seandainya waktu itu aku tidak bertemu dengannya, ia tak perlu mati mengenaskan di tanganku. Masih bisa tersenyum manis, bertemu orang yang lebih baik dan bahagia bersama. Maafkan aku. Ah, bahkan kata maaf tidak cukup. Aku harus---


"Red, jangan lama-lama! Buku ini mengatakan berendam dalam air panas terlalu lama itu tidak bagus," seru Fate yang membuatku sadar kembali.


Namun, malu sekali rasanya! Keluar. Tidak. Keluar---aaaa, aku memilih berendam lebih lama lagi.


Tiba-tiba Fate berkata, "Ada yang datang."


Eh?


Datang? Siapa? Maksudnya, aku hanya memesan kamar untuk berdua. Kini kepalaku membayangkan penuh hal negatif, bergegas aku mengeringkan badan dan mengenakan baju.


Segera aku berlari ke luar.


Eh?


Sejenak penglihatan terasa berbayang, ruang begitu berputar hingga aku merasa ... ringan dan samar mendengar suara jeritan.


"Red!"


Bruk!