When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dalam Mimpi VI



"REDstar."


Aku terkejut.


Suara dan aksennya itu mirip Rei, tetapi---


"Terima kasih sudah menemaniku."


Aku melonggarkan dekapan ... Rei, dia terlihat jauh lebih dewasa persis yang aku lihat di dalam kamar bersama sang vikaris.


Rambut biru laut panjang tergerai dengan kedua mata serupa kristal topas. Namun, tatapannya kosong, bahkan aku ragu dia benar-benar melihatku atau tidak.


Tangan gemetarnya mencoba menyentuh wajahku, aku biarkan.


Bahkan tak peduli dia masih bersandar di kedua tangaku.


Sebab wajah minim ekspresinya tampak begitu lemas, memancing suatu gejolak di dalam dadaku; membuatku tak tega.


"Padahal baru bertemu, tapi kamu sudah menolongku---ahaha, tidak ... seharusnya, maaf sudah menyeretmu," lirihnya.


"Saya sungguh ingin menolong. Kamu terjebak---"


"Sstt, aku sudah ingat."


Cepat dia memotong ucapanku, bahkan susah payah meletakkan telunjuk kanannya ke depan bibirku.


Kini kedua matanya terpejam. Bibir tipisnya pun mengulas senyum.


"Jadi, aku dalam pengaruh iblis dan menyeret penduduk kota ini ke mimpi burukku? Bahkan desaku sendiri ...."


Mendengar itu, aku hanya terdiam.


Tidak tahu kapan mereka tiba di Rhodes, tetapi rumor tentang orang terjebak dalam mimpi buruk baru-baru ini terdengar.


Mendadak terasa bajuku sedikit ditarik, memancing mata kembali menatap Rei. Ekspresinya ....


"Terima kasih sudah menyadarkanku. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku masih terjebak dalam mimpi dan melihat ingatan menyakitkan yang sebenarnya tidak terjadi." Dan genggaman tangannya di bajuku semakin dia eratkan.


"Saya bisa keluar masuk dari mimpi karena---ah, anak ... iblis."


Pandanganku berakhir sedih setelah mengucapkan kalimat yang menyesakkan itu, tetapi ada benarnya bukan?


Namun, Rei justru tertawa kecil.


"Percayalah, apa pun yang kamu pikirkan itu tidak benar. Ada cahaya di dalam dadamu. Sekarang aku akan menyelesaikannya, ini karena kesalahanku maka aku akan bertanggung jawab."


"Tapi Mei---ia sudah menjadi vikaris dan terus berdoa untukmu. Ia menunggumu!" seruku, bahkan genggaman tangan di bajunya semakin aku eratkan.


"Iblis itu ada dalam diriku. Kalau aku terbangun berarti melepasnya dan kalau masih tertidur, orang-orang di kota ini terus terjebak di dalam mimpi. Kesempatan baguskan? Karena iblis itu ada di dalam diriku, cukup aku saja yang menjadi segel."


"T-tapi efeknya, jiwamu tak akan kuat!"


"Ini keputusanku, untuk kalian semua dan Mei ... berbahagialah. Lihat dunia luar yang luas untukku."


"Tunggu, tapi---REI!!"


...'Tolong, terus ... hidup!'...


Sontak cahaya putih yang menyilaukan menyebar ke sekitar.


Refleks aku memeluk si gadis, tetapi kini rasanya seperti memeluk kehampaan. Tubuhnya pecah menjadi bulir-bulir cahaya; memaksaku memejamkan mata erat-erat.


Mendadak dirasakan pula seperti tenggelam ke dalam air yang rasa dinginnya langsung merambat ke tubuhku, membuatku kembali membuka mata.


Dan ternyata, aku telah tiba pada tempat yang asing.


Aku berusaha berdiri dan melihat sekitar.


Kabut; kelabu; mendung, bahkan petir merambat dari tiap-tiap gumpalan awan tepat di atasku. Tempat ini tampak begitu kelam.


Aku mulai berjalan.


Langkahku begitu menggema.


Keadaan di balik pintu sungguh berbeda.


Terlihat hamparan hijau mendominasi; burung-burung terbang melintasi; mentari menghangatkan dalam afeksi, dan yang terpenting ....


Dia, yang kudirindukan, ada di sana.


Seketika aku mengerti berjalan.


Ini pasti mimpi.


Mimpi.


Suatu bentuk kebohongan yang tak terhitung rupanya.


Namun, aku lebih memilih tidak peduli akan hal tersebut dan kembali mendekatinya.


Aku berakhir dipenuhi dengan perasaan sinisme, tidak menghiraukan sekitar lagi dan lebih peduli pada rasa ingin kembali; mengobati rasa kesepian, dengan kehadiran ....


Dirinya, yang ini.


Dia. Engkau. Yang kucintai.


Jika engkau melihatku; jika engkau menyadari keberadaanku; ketahuilah sepanjang waktu aku berdoa, tetapi apakah sampai kepadamu? Karena harapan itu hanyalah sebuah tanda keputusasaanku.


Karena tidak mungkin dia akan kembali kepadaku lagi.


Tetap saja, walau ini hanya ilusi; meski ini hanya mimpi, aku tak bisa berdalih bahwa menginginkan ....


Menginginkan engkau, yang kini berdiri tepat di depanku.


"Aku tahu itu salahku, ketika kamu lepas kendali aku justru meninggalkanmu. Membuat akhir yang buruk; membuatmu merasa sengsara. Itu salahku."


Tak mau dengar. Tak mau dengar. Tak mau dengar!


Aku menggeleng dan menutup erat kedua telinga. Juga dirasakan kekuatanku seperti terangkat perlahan-lahan, membuat tubuhku terjatuh; berlutut di atas dinginnya tanah.


Engkau menanamkan cinta, itu meluap dari dalam hatiku dan menjadi ekstasi yang sudah aku hancurkan.


Rusak, dengan tanganku sendiri.


Aku, olehku; karenaku.


Bukan kamu.


"Bukan salahmu, tapi aku. Maka ketika mendapatkan kesempatan itu, aku berharap untukmu. Aku ingin menebus dosaku."


Kenapa?


Kenapa tidak kembali ke masa itu lagi saja?


Aku ingin mengucapkan itu semua, tetapi tak mampu.


Tercekik; sesak, hanya ada suara lengkingan keluar ketika mulutku terbuka.


Air mataku mengalir sekarang dan mungkin untuk selamanya.


Aku kembali kalah oleh perasaan sendiri.


"Jika kita kembali, kamu akan jatuh ke tangan iblis itu dan kita akan mengulangi hal yang sama."


Lengannya mulai merangkulku dan di saat itu pula pertahananku hancur.


Aroma begonia kembali menjamah hidungku, meluapkan perasaan di dalam dada yang terus memaksa keluar; rasa yang penuh akan kenangan; satu titik kehangatan ketika hidup tak mengenal apa arti kebaikan, beratus tahun lamanya, hanya dia cahayaku.


Tapi kini, tak bisa lagi ....


Jadi, kumohon, sekarang, bawa diriku untuk bersamamu.


Aku tak punya pilihan 'kan?


"Percayalah, di luar sana, kamu akan menemukan cahaya. Teruslah hidup; teruslah melangkah, dan ingatlah, aku mencintaimu ... lebih dari yang kamu bayangkan."