When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dia Marah Besar! II



"Fa-Fate, sebenarnya ada apa?"


Dengan tergesa aku mengekori gadis yang rambut perak panjangnya tak henti melambai lembut di setiap langkah. Kami masih di dalam club tapi hapal ini menuju ke belakang gedung.


Seketika derap berhenti di ruang terbuka hingga desir angin dari celah pohon menyambut. Sangat jarang orang pergi ke tempat ini tapi di sini aku bersama Fate berada.


Lantas dengan melipat kedua tangan depan dada, tangan kiri--Fate kidal--sedikit terentang dengan jemari lentik menunjuk pada salah satu bangku yang mengelilingi meja bundar; seolah-olah memintaku duduk di situ. Anehnya, tubuhku otomatis menuruti. Apa karena hawa mencekam tak henti dia keluarkan? Terlebih senyum ... membuatku merinding!


Ini mengingatkan pada kejadian jauh-jauh hari saat Fate mengawasiku di rumah sakit. Apa masalah yang sekarang juga sama? Tapi aku tidak terluka, justru baru bangun tidur.


Kami pun duduk berhadapan, beberapa bangku di kiri dan kanan yang melingkar dibiarkan kosong. Tak lama Fate mulai menaikkan paha ke salah satu kaki dan tangan tetap saja melipat depan dada. Mata perak kebiruan sempat melirik beberapa titik ruangan sebelum tertuju padaku yang sedang menautkan jemari.


Sampai beberapa waktu berlalu, belum juga dia berkata.


"Umm, Fate ... maaf," ucapku pelan, berusaha memecah canggung yang kiat pekat.


Namun, tak sesuai dugaan. Dia justru tersenyum lagi, sangat lebar sampai-sampai mata membentuk suatu garis. "Untuk apa meminta maaf kalau kau tidak tahu salahmu?"


Menusuk!


Tuhan, aku memang tidak tahu tetapi tak tahan dengan kondisi---ah, sungguh rasanya ingin mengatakan maaf beribu kali, tapi salahku apa? Tidak tahu! Aku berakhir menutup wajah menggunakan dua tangan.


"Dan kau Crist, boleh keluar dari persembunyianmu." Aku langsung menaikkan kepala; melihat ke mana gadis itu menatap. Benar saja, sosok pemuda keluar dari balik temaram rak buku yang membatasi tempat ini dengan ruang sebelumnya.


Sontak gurat sabit nan khas kembali dia umbar saat menaikkan kedua bahu. "Ketahuan ... ahahaha, kamu memang sesuatu Fate. Maaf kalau tidak sopan, tapi aku khawatir dengan Red."


Kemudian Crist duduk tepat di bangku sebelahku. Sontak dalam senyumam ringan, mata biru tua melihatku--dan itu membuatku sedikit lega--sebelum kembali menatap Fate. "Ada masalah apa dengan Red?"


Yang dituju justru memijat kening, menarik napas dalam-dalam dan menurunkan salah satu kaki yang naik. Tak lama, Fate bersandar pada bangku kayu tidak berlengan sembari menyunggingkan senyum misterius.


"Kau orang kesekian mengambil peran sebagai walinya, tapi tidak ada satu pun dari kalian menuntun dia dengan baik. Memanjakan dan hanya memanjakan, hasilnya menjadi seperti ini."


Tidak mengerti apa yang gadis ini maksud, tetapi kalimat itu sukses membuat Crist tersenyum masam atas kekehan yang amat sangat terpaksa.


"Red, sampai kapan kau bertingkah masa bodoh dengan pengorbanan orang-orang disekitarmu?"


Aku sedikit mengernyit terhadap pertanyaan Fate. "Maksudnya?"


"Keabadianmu harus kau rahasiakan, tapi justru kau umbar."


Oh, masalah itu. Dia sempat bicarakan ketika kita dalam misi bawah tanah. Aku jadi merasa tak enak mengingat hal tersebut.


"Kau selalu gegabah dan sembrono, melakukan hal sesukanya tanpa melihat konsekuensi. Sampai kapan kau bertingkah begitu? Jika orang lain sampai tahu, kau jelaskan sendiri pada mereka."


"Ini masalah yang waktu itu bukan? Maaf. Aku lakukan bukan karena berniat buruk seperti mencelakai diri sendiri atau tidak memercayai teman, hanya tidak mau seseorang terluka. Entahlah, aku tak mau ada seorang pun tersakiti," ucapku lemah pada akhir kalimat, mata turut menjadi sayu.


"Dan orang-orang juga berpikir hal yang sama tentangmu. Apa alasanmu memilih mengajukan diri sendiri daripada bekerja sama?"


"Eeem, karena aku tidak mau melibatkan yang lain? Maksudku, jika aku bisa kenapa tidak?"


"Jadi kau memandang rendah orang lain?"


Aku langsung tertegun. "Eeeh, tidak! Tentu tidak. Karena aku abadi ... dengan kehadiranku, aku bisa meminimalkan kemungkinan terburuk 'kan?"


"Lalu bagaimana caramu menyembunyikan rahasia keabadianmu?" ucap Fate dengan mengesah dalam senyum samar.


Eh? Benar juga. Kita kembali ke pembahasan awal. Aku menjadi bingung, hanya bisa mengusap tengkuk dalam tatapan linglung.


"Ahahaha, sudah-sudah. Mungkin Red belum terbiasa berbaur dengan keadaan seperti ini." Ah, Crist. Aku sampai lupa masih ada dia di sini karena pemuda ini terus sunyi, mungkin berusaha mendengarkan percakapan kami. "Dia sudah beratus ... atau bahkan beribu tahun menjalani hidup dalam keabadian, dan sekarang bingung bagaimana menjadi makhluk mortal biasa."


"Bukan begitu ...," tutur Crist amat lemah, bahkan aku curiga Fate dapat mendengarnya di seberang sana.


"Sekarang kau membelanya karena merasa iba, benar? Tapi kau juga perlu memikirkan hal kedepannya. Jika dia berbuat salah, beri tahu; ingatkan. Dengan begitu dia bisa belajar dari kesalahannya. Jika kau terus memaklumi, sampai kapan dia akan sadar dengan kesalahannya? Dia hanya akan berjalan di tempat."


Apa yang Fate ucapkan sukses membuat Crist menunduk dalam, bahkan sampai menutup mulut dengan telapak tangan kanan yang sikunya sudah bersandar atas paha; ibarat menelan pahit rasa bersalah.


Tapi baru sekarang aku melihat gelagatnya seperti ini!


"Aaaa, Fate, jangan terlalu kasar pada Crist!"


Namun, aku justru dibalas dengan suatu tatapan yang menusuk bak menghunjam tepat ke jantung bersamaan dalam senyum cerah---ralat, itu lebih terlihat horor. "Mungkin ini tidak akan terjadi kalau kamu lebih berhati-hati dengan dirimu sendiri?"


"Ah, maaf ...."


Aku dan Crist berakhir menunduk pasrah terhadap satu-satunya gadis di hadapan. Kami diomeli habis-habisan, begitu yang aku pikirkan. Sungguh ini adalah masalah aku sendiri, tapi sampai membawa Crist ikut terlibat ... benar-benar merasa tak enak. Seperti burung unta, hanya ingin membenamkan kepala dalam tanah.


Selang beberapa menit, sunyi menyelimuti hingga suara gemeresik dedaunan menjadi irama tersendiri. Ragu-ragu aku menaikkan kepala, dan Fate sudah kembali atas wajah datar tanpa senyum mengerikan itu.


"Ini ... sudah?"


"Oh, jadi kau mau lebih?"


Cepat Crist menyambar, "Red, jangan dipancing!"


"Eh, ta-tapi aku hanya bingung---ah, maksudku, aku minta maaf sedalam-dalamnya!" Aku membungkuk penanda kesungguhan ucapan.


"Sungguh, yang Crist katakan ada benarnya." Kembali tegap, aku mengusap mata dengan telapak tangan kanan. Menatap kosong entah ke mana. "Di dunia asal tidak ada yang memperlakukan aku sebaik ini. Bahkan sempat berpikir: mungkin sudah takdirku hanya menjadi bulan-bulanan; tak layak berdiri di tengah kalian. Sebab kenangan itu ...."


Spontan memejamkan mata---ah, ingatan yang rusak kembali, aku mengelus leher beberapa kali sebagai usaha menenangkan diri.


"Kenangan itu membuatku berpikir bahwa diri ini hina, seharusnya berkorban untuk semua orang demi membayar dosa-dosa. Berakhir sering menyiksa diri dan secara tidak sadar, itu menjadi kebiasaan. Seperti sekarang."


"Red, apa itu sebabnya?" bisik Crist nanar. Sontak aku menoleh dan kudapati pemuda ini sudah memasang wajah tak percaya, bersamaan dengan sedih dan iba yang kubalas suatu senyum masam.


"'Di dunia asalku'," ucap Fate dalam beku menusuk dan refleks membuatku kembali tertuju padanya. Ternyata, dia sudah menunjuk tepat ke arahku. "Kau selalu menggunakan kata-kata itu sebagai alasan. Seakan kau---ah, tidak, kau masih terperangkap dengan masa lalumu."


"Kau dan aku sama-sama datang dari dunia yang berbeda. Kau pikir kita ada di dunia ini tanpa alasan?" Gadis itu menggeleng hingga anakan rambut peraknya berjatuhan dari pundak. "Tidak ada yang namanya kebetulan. Selalu ada alasan di setiap kejadian, termasuk hal ini."


Alasan ... kalimat yang diucapkan membuatku kembali mengingat banyak hal: kesempatan ke dua; harapan terkabul; hidup normal. Aku pun memejamkan mata rapat-rapat seraya membungkam mulut lantaran benar apa yang dikatakan, kenapa aku tak menyadari potongan jawaban nan dekat? Ah, lebih tepatnya kabut bergumul dalam mata terlalu pekat hingga tidak menyadari bagaimana aku melihat.


Samar-samar suara embusan napas terumbar.


"Tidak ada yang memintamu untuk bisa beradaptasi langsung dengan dunia baru. Tapi kau harus bisa menerima ...," ucap Fate menggantung, memancingku mengarahkan atensi padanya.


Kini mata perak kebiruan menatap langit, membuat iris bersinar cerah bagaikan rembulan nan elok. Terlebih wajah pualam mengukir suatu ekspresi tak kumengerti, seperti melihat banyak kilas cerita jauh di atas sana. "Sekarang kita hidup di dunia ini. Dengan budaya, bahasa, dan kondisi dunia ini."


"Aku tahu." Kembali aku menunduk dan menautkan jemari. "Karena itu benar tak ingin menyakiti siapa pun, atau melihat orang lain terluka. Dan sadar apa yang aku perbuat tidak menyelesaikan apa pun, justru menambah beban. Maka dari itu, aku mohon ... bersedialah menuntunku ke jalan yang benar."


Pada dasarnya, aku hanya tidak mau kehilangan siapa pun.


"Terutama kamu, Fate. Baru sekarang bertemu yang sepertiku baik di dunia asalmu dan dunia ini 'kan? Aku harap, aku tidak merepotkan kalian." Setidaknya, aku ingin berusaha meskipun amat lambat.


"Ahahaha, tentu Red. Kami senang memban---"


"Berhenti sampai di situ!" Seketika ada yang memotong ucapan Crist---eh?