When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Melewati Batasmu



Seketika Lucian berteriak ketika aku membanting Theo. "Oh, ternyata benar bisa!"


Sebentar, jadi tadi tak sungguh-sungguh menyuruhku menggunakan satu tangan?! Maksudnya, beliau sampai terkejut tapi senang---ah!


Mendadak kakiku ditekel dan langsung jatuh menelungkup. Astaga, apa yang ... terasa seseorang duduk dan menahan badanku dari belakang---tunggu, Theo? Kenapa? Terlebih tatapannya amat mencengkam, persis orang-orang di dunia asal ketika ingin melukaiku.


Apa yang terjadi?


"Ah, maaf." Terlihat dia bangkit dengan tergesa, bahkan sampai beralih ke depan demi mengulurkan tangan; membantuku berdiri. "Itu semua refleks, aku harap kau tidak keberatan."


Aku menggeleng kecil dan meraih tangan Theo. Refleksnya lumayan mengejutkan. Namun, lagi-lagi aku mendengar Head Master Lucian tertawa. Bedanya kali ini sedikit lebih keras.


"Hmmm, lumayan." Perlahan, beliau mendekat ke arah kami. "Red, ternyata kau bisa mengerti juga apa maksudku."


Beliau ini benar-benar ... semua yang diucapkan, entah mengapa terasa sarkastis dan membuatku sedikit kesal. Aku berakhir menatap datar pada beliau.


"Hahahaha, ada apa? Sekarang wajahmu persis seperti Kaidan!"


Aku mendengkus mendengarnya, bahkan Theo ikut mengembuskan napas panjang.


Namun, perlahan ekspresi sang Head Master berubah tenang atas suatu senyum bahagia dan mungkin itu pertama kalinya kulihat. "Kau benar bisa melewati batasmu. Kau kuat dan jangan kau sia-siakan. Jadi, bagaimana kalau kau tidak begitu bergantung pada senjatamu tapi pada tubuhmu juga? Optimalkan menggunakan tubuhmu."


"Tubuhku?" Aku membeo seraya mengerjapkan mata berkali-kali karena tak paham maksudnya.


"Ya, tubuhmu. Gunakan seluruh tubuhmu."


Menelan mentah-mentah penjelasan beliau, aku pun kembali siaga dengan erat menggenggam pedang. Berbeda denganku, Theo telah siap sedari tadi. Bahkan terlihat lebih serius. Terbukti dari mata ungu kini sedikit menyipit.


Langsung aku melesat membuat denging melanda kala kami memilih menyerang secara bersamaan dan kedua bilah pedang saling bertumbukan. Namun, dia membelokkan senjataku bak ingin melilitnya; memaksaku menaikkan pedang tinggi-tinggi demi melepasnya. Detik kemudian pedang Theo berubah haluan, bergerak horizontal menyerang perut ... jika aku tak berkelit seper sekian detik.


Posisi mengintimidasi, aku yang masih mengangkat pedang tinggi-tinggi langsung mengeluarkan serangan lurus menghasilkan percikan api--meski senjata berbahan plastik--lantaran Theo sudah menengadah dengan pedang melintang demi menolak seranganku, tetapi jelas tangannya bergetar dan mungkin pertahanan dia akan pecah.


Tak sesuai dugaan, Theo langsung memiringkan senjata membuat pedangku meluncur ke bawah---ah, cara ini! Gesit aku menyentakkan badan kebelakang dan benar saja, dia memutar tumpuan badan demi mengiris leherku jika tidak segera menghindar.


Entah kenapa aku mulai melihat ritmenya.


Theo selalu berusaha memosisikan aku lebih rendah darinya agar bisa menyerang leher, selalu leher, pun mengincar senjataku daripada aku sendiri---tunggu, apa itu yang Head Master Lucian ingin tunjukkan padaku? Begitu rupanya ....


Akhirnya aku kembali melesat dan terasa kecepatan kami kian bertambah seperti enggan memberikan jeda. Kiri kanan, dengan cerdik mencoba mengukir luka.


Satu titik, dia memukul ujung senjataku demi membuatku lengah tetapi saat itu juga aku melepas tangan kiri dan dia langsung menyerang lagi, tapi kutahan kuat-kuat. Theo tampak terkejut karena aku mampu menahan serangannya meski menggenggam pedang hanya menggunakan satu tangan.


Namun, getaran dan tekanannya cukup kuat hingga pedangku miring tetapi itu membuat Theo tergelincir dan masuk wilayah serangku. Mengambil kesempatan, tangan yang bebas mencengkeram pundaknya tapi dia langsung berkelit ke belakang dan berakhir mengunci tanganku itu.


Lantas aku menolaknya dengan berusaha mati-matian mengeraskan otot-otot tangan dan ikut berkelit ke belakang, menusuk mantap menggunakan pedang dalam genggaman tangan kanan. Namun, sangat tak terduga ....


Theo menahan seranganku menggunakan pedang yang juga dia genggam dengan satu tangan, tetapi hentakannya sangat kuat hingga pedangnya terlepas dari genggaman, begitu juga dengan senjataku; dua bilah pedang kini terpelanting jauh dan kami berakhir bagai sedang bergulat.


Mengambil kesempatan, aku menendang salah satu tumitnya membuat dia ambruk tetapi ketika masih dalam jatuhan, Theo membalikkan badan; membuat posisiku di bawah dan melilit tangan kiriku.


Aku biarkan, sebagai ganti kugunakan tangan kanan demi menahan pergelangan lengan atasnya. Kemudian mengoptimalkan seluruh badan, aku gunakan salah satu kaki untuk menyentak pinggulnya menggunakan lutut tetapi dia justru menggunakan kesempatan ini demi melilit kakiku dengan dua kakinya.


Astaga, berakhir saling mengunci bagai dua ular atas karpet hijau alam. Kami bertatapan dan jujur ini sangat dekat, tapi sungguh mata lavender itu bukan main-main karena Theo sampai mengeratkan gigi, seperti berusaha menahanku secara penuh. Mungkin dia tahu, jika tidak berusaha keras seperti itu ... aku bisa terbebas dengan mudah berkat tenagaku yang lebih besar.


Lucian pun mendekat, tangan ikut menyilang di depan dada. Ada suatu senyum bangga di wajah kukuhnya. Lalu dengan menyentuh dagu beliau berkata, "Oh ... ternyata kau masih bisa menggunakan kepalamu, huh?"


Apa maksud beliau aku ini bodoh? Astaga, sekarang aku mengerti kenapa Profesor Kaidan selalu terlihat lelah ketika dengannya.


Satu tepuk tangan yang keras terdengar dan saat itu juga Theo melepasku, raut wajah juga kembali tenang. "Istirahat, aku sudah siapkan air untuk kalian di meja itu."


Pelan-pelan, aku mencoba berdiri pun iris jelaga menuju ke mana mata merah darah itu mengarah. Ternyata beliau selalu memperhatikan setiap detail, seperti menyiapkan pedang khusus untuk kami dan minuman isotonik seperti sekarang ini.


Lantas aku duduk pada salah satu bangku yang tersedia dan menyandarkan kepala ke atas meja. Entah kenapa kepalaku panas, apa karena fajar sudah mulai menyingsing?


Sedikit memiringkan kepala, kulihat Theo menarik napas beberapa kali sebelum minum. Sepertinya si pemuda benar-benar lelah tapi terus berusaha. Apa lagi telapak tangannya terlihat mengalami penebalan yang hanya muncul jika sering menggunakan pedang, jelas dia pekerja keras.


Ah, sepertinya Theo sadar aku perhatikan karena mata ungu kini melirik padaku. "Sekarang aku mengerti kenapa Pak Kaidan langsung mengangkatmu sebagai anak didiknya dan menjadikanmu Ace untuk Departemen Eksekusi di awal kedatanganmu."


Eh, dia tahu? Spontan aku duduk tegap dan menatapnya dengan saksama. "Pak Kaidan mengerti kau memiliki banyak potensi. Jika dalam keadaan terpaksa mengharuskan kamu bertarung satu lawan satu dengan naga, mungkin kau bisa melakukannya. Ya ... selama itu bukan naga tingkat General."


"Buktinya, kau selalu menyelesaikan tugas sesusah apa pun, terlebih sering menerima misi solo ... meski kau pulang dengan luka parah. Misi solo itu sangat jarang diberikan kepada para murid."


Pelan-pelan tangannya meletakkan botol minuman ke atas meja.


"Sayangnya, kau kurang pengalaman bertarung hingga kau berakhir bingung melawan tipe musuh yang berbeda, berakhir menyerang secara acak. Tapi setelah beberapa waktu, kau mulai paham situasi dan bisa menanganinya. Untung staminamu banyak dan instingmu tajam. Jika tidak, orang yang berpikir lambat bisa hancur di tengah pertarungan."


Mendadak Lucian tertawa hingga aku tertegun, bahkan Theo ikut terkejut lantaran sangat kencang, sampai beliau menepuk-nepuk keningnya sendiri. Selang beberapa menit, tawanya mereda pun menggeleng kecil. Entah apa yang merasukinya.


Tak lama, beliau melipat tangan depan dada dan berkata, "Untuk masalah kekuatan, secara kasar Red setara denganku."


Membungkam mulut rapat-rapat, aku tertegun dan tak percaya dengan apa yang didengar. Dalam segi Raw Power, aku setara dengan orang nomor satu di Vaughan? Ah, beliau terkekeh dan menaikkan kedua pundak. "Hanya saja, cuma itu kelebihannya. Sisanya ... heem, cukup mengenaskan."


Perlahan tangan kanannya terangkat dan beliau menunjuk kepala. "Terutama di sini."


Tuhan, beliau sungguh mengatakan aku idiot 'kan? Meski tak langsung---ah, sudahlah, kepalaku pusing. Aku sedikit meringis dan mulai meneguk minuman yang tersedia.


Lagi-lagi suara tawa yang sedikit mengusik terdengar. Aku tak peduli tetapi Lucian mengucap suatu kalimat yang menarik perhatian, "Untungnya kamu tipe orang yang mampu belajar dengan cepat."


"Ya, aku juga menyadari hal itu." Theo mulai bergumam dalam gelagat berpikir. "Menahan serangan seseorang secara langsung itu berat. Itu mengapa aku selalu membelokkan seranganmu dengan memiringkan senjata, dan kau gunakan itu di saat terakhir karena menyadari aku mulai menggunakan kekuatan penuh, padahal kekuatanku jauh berbeda denganmu sehingga kau lebih diuntungkan. Ya, itu kesalahanku. Aku tidak menyangka kau bisa mengerti dan paham teknik yang aku gunakan secepat itu."


Oh, maksudnya ketika aku menahan serangannya menggunakan satu tangan? Aku menggeleng dan menjawab, "Sebenarnya aku belum terbiasa menggunakan pedang dengan satu tangan, jadi ... itu miring."


Theo menatapku tak percaya hingga mengerjapkan mata berkali-kali. Satu sisi, Lucian tertawa sangat puas. "Hahaha! Sepertinya kontrolmu yang lemah itu bisa menguntungkan."