When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sang Veteran Perang



Kembali bersandar pada bangku, tak disangka hanya dengan makan oats dan buah yang ditaburi yogurt akan bisa sekenyang ini.


Aku mengecek ponsel---eh? Sudah jam setengah delapan?! Ha-ah, tidak terasa waktu berlalu sebegini cepat ... mungkin, karena menikmati tiap detik bersama dengan Profesor Kaidan dan Crist. Tapi harus melapor misi---tunggu, ketua Departemen Eksekusi sedang duduk di depanku, kenapa tidak langsung berikan datanya pada beliau?


Lekas aku duduk tegap dan melambaikan tangan sekali ke depan demi membuka layar biru holografi sensoris dari Heart Core. "Bapak, soal data Misi Grade A kemarin---"


"Red," ucap guru waliku begitu lembut, lebih-lebih tenggelam.


Sontak aku kembali melihat beliau dengan sedikit menurunkan layar di hadapan. "Memang tugas semakin cepat diserahkan semakin baik, tapi Bapak ada waktu longgar sampai jam delapan. Kalau kamu tidak keberatan, boleh kita bersantai bersama sebentar? Setelah ini kamu boleh melanjutkan tugasmu."


"I-iya, aku ... tidak keberatan," ucapku terbata-bata karena entah kenapa, merasa tersipu. Aku mulai menutup layar di depan, menautkan jemari dan sedikit menunduk.


Jujur, rasanya senang.


"Hahahaha Red, sudah lama Bapak tidak ada kesempatan menghabiskan waktu bersama seperti ini. Maaf Bapak sering sibuk. Kamu juga Crist, tidak keberatan?"


Yang dituju mengangguk menjawab pertanyaan beliau, sedikit memperbaiki kacamata atas sudut bibir yang tertarik samar. "Selama belum mendapat panggilan, aku selalu senggang."


Vokal berat sedikit basah khas Profesor Kaidan terumbar lantaran beliau terkekeh dan berkata, "Sudah lama dekat dengan Red? Aku terkadang melihat kamu bersamanya."


Eh? Crist justru tersenyum canggung dan menggaruk kepala. "Heem, mungkin lebih seperti---"


"Bapak, Crist orang yang baik!" Cepat aku berkata dengan menggebu-gebu---ah, aku mendorong mangkuk kosongku sedikit ke tengah, takut kalau benda ini terjatuh. Seperti biasa, terlalu terbawa perasaan sendiri tetapi Crist memang orang yang baik. Dia sering membantu dan ... perhatian.


Heee? Kenapa mereka justru tertawa? Aku sungguh-sungguh!


"Bapak juga ada pengakuan, sebenarnya Bapak menjadi walimu adalah sebuah misi." Aksen Profesor Kaidan terdengar tegas.


Aku kembali menatapnya dan beliau terlihat serius, bahkan jemari saling menyilang di depan wajah dalam dua siku di atas meja, membuatku tak dapat membaca pergerakan bibir kukuhnya. "Umur panjang bukanlah perkara kecil dan tidak sembarangan orang bisa memilikinya. Apa lagi kalau tidak bisa mati, sama sekali. Kami tidak tahu saat itu kamu berada di sisi musuh atau tidak, jadi tugas Bapak untuk mengawasimu."


Mendengar itu seketika seluruh tubuhku menegang. Aku merasa sedikit gugup. Tentu aslinya mereka takut padaku, aku berbahaya bukan? Itu kenapa selalu mencoba menjauh---ah, tidak, apa yang aku pikirkan? Jangan berprasangka buruk, karena jika sungguh berbahaya tentu mereka akan membereskanku saat itu juga tetapi justru ... merawat? Terutama Profesor Kaidan, beliau sangat lembut.


Akhirnya kuputuskan kembali mengarahkan atensi pada orang tua di depan. Beliau sudah berwajah santai bahkan ... menggaruk kepalanya? Ada apa?


"Aaaakh, tapi, lihat ... semakin lama Bapak memperhatikanmu, semakin ada sesuatu tumbuh dalam hati." Jeda sebentar, beliau bersandar pada bangku dan mengembuskan napas panjang. "Akhirnya Bapak mengerti ... Bapak sayang padamu, Red."


"Hah?!"


"Ahahaha, iya, aku juga mengerti perasan itu." Kenapa Crist ikut mengucapkan hal yang serupa? Aku tak paham dan berakhir menatap mereka dengan bingung sampai memiringkan kepala.


Beliau mulai menengadahkan kepala tetapi mata cokelat masih tertuju pada Crist. "Benarkan?! Apa lagi melihat ekspresinya ... ya ampun, coba kalau Bapak bertemu Red sewaktu dia kecil, pasti lucu. Lalu melihatnya tubuh besar!"


"Atau mungkin saat masih bayi! Hmmm, kira-kira selucu apa ya dia?"


Ha-ah, sepertinya Profesor Kaidan tidak memperhatikanku. Ekspresi dan gelagatnya masih sama, sibuk oleh pikiran sendiri. Telingaku panas mendengarnya tetapi---aaaa, aku berakhir kembali menutup wajah dengan kedua tangan dan menunduk dalam-dalam. Entah kenapa, jantungku ikut berderu! Kenapa Beliau terang-terangan mengatakan hal itu?! Aku bisa mendengarnya!


"Atau lebih bagus lagi kalau Red menjadi anak Anda, Pak Kaidan."


Eh, anak? Kata itu menarik perhatian, akhirnya aku menurunkan tangan demi melihat mereka---heeee? Profesor Kaidan tersipu? Wajah sawo matangnya merah padam dengan sedikit memalingkan muka, bahkan tangan kanan seperti memilin rambut. Baru pertama kali melihat reaksi beliau seperti ini, dan Crist ... Tuhan, dia kenapa? Pemuda itu menatap beliau dengan kedua kelopak yang membentuk garis sebab seulas bentuk sabit nan lebar di bibir, sungguh terlihat seperti orang iseng; hampir tampak jahat.


Tak lama beliau berdeham dan menarik napas dalam-dalam, juga melipat kedua tangan di depan dada. Seperti mencoba menenangkan diri. "Hmm, Bapak sedikit tidak percaya kamu memiliki masa lalu seperti itu. Apa itu semua benar?"


Aku tertegun sampai berkedip berkali-kali. Apa kalimat tersebut tertuju padaku? Ah, sepertinya iya. Ekspresi beliau tampak kembali serius dengan mata cokelat menatap lurus padaku, ibarat menantikan suatu jawaban.


Aku mulai meletakkan tangan ke atas meja dan mengangguk kecil. Menautkan jemari dan berkata, "Sebenarnya dulu ... aku dikendalikan. Kadang, rasanya tidak dapat berpikir sama sekali---ah, ya, semenjak kejadian itu seperti benar-benar tenggelam dalam gelap, dan aku juga sadar kejiwaanku lemah, bahkan baru kali ini bisa berbicara dan berpikir dengan bebas atas kehendak sendiri. Aku takut suatu hari nanti; tanpa sadar, terlepas lalu melukai orang-orang. Maka dari itu aku selalu menghinda---"


"Percaya pada Bapak." Dengan cepat Profesor Kaidan memotong ucapanku dalam ekspresi tak kumengerti. "Bapak dulu pernah berkata itukan? Tidak perlu khawatir Red, ada lebih dari sepuluh orang berpengalaman yang bisa menahanmu kalau itu terjadi. Sekarang, Bapak harap kamu bisa menikmati hidupmu di sini dengan lebih baik."


Kelopak pucat menggulung, aku membiarkan hening kembali menyapa. Terasa surya berpendar di balik kumulus awan. Masih di tempat yang sama; masih dengan ekspresi sama, Profesor Kaidan menampilkan wajah nan teduh. Rasanya, belum ingin meninggalkan tempat ini ... sebentar, meski hanya sesaat. Gemeresik angin terdengar, mungkin membawa helai daun yang tanggal dari inangnya; terombang-ambing sejenak sebelum mendarat di suatu titik asing karya Tuhan. Seperti itu pula mendengar mereka berbicara membuatku tenang. Sangat nyaman.


Menikmati hidup, ya ....


Rasanya---ah, tak hanya mereka berdua yang peduli padaku, masih ada yang lain. Bahkan orang-orang di club seperti Cecil, Daniel, dan juga ... Fate. Aku sedikit menunduk ketika mengingat kejadian di rumah sakit. Tak kusangka akan berteriak dan berkata hal yang menyakitkan padanya. Jika dibandingkan denganku, gadis itu memang jauh lebih baik; memiliki banyak pengalaman dan cara berpikir cepat; sangat sabar terutama saat menghadapiku.


Aku menyentuh belakang leher dan berkata, "Aku ingin berterima kasih pada Fate. Dia juga selalu menolong dan memperhatikanku dengan baik. Bahkan saat itu ketika di ruang rawat ...."


Tatapanku menjadi sayu. Menghela napas sebentar dan lanjut berkata atas senyum masam. "Rasanya sedikit canggung. Fate lebih muda daripada aku, jauh sangat muda, tapi justru lebih dewasa dia ...."


Ketika aku kembali menatap mereka, Profesor Kaidan dan Crist bertukar pandang. Eh, apa yang terjadi? Tetapi mata biru tua hanya menelusuri sekitar. Beberapa menit kemudian dia mengangguk dan melipat tangan di atas meja, tingkahnya seolah-olah akan membahas sesuatu yang cukup serius.


"Red, kamu tahu di Departemen Konsultasi aku juga bertugas mengurus evaluasi mental siswa-siswi kitakan? Aku mengevaluasi Fate." Tatapan itu mendadak menajam, bahkan Crist merapikan posisi kacamatanya. "Dan hasil miliknya mengatakan ia seorang ... veteran perang? Hal tersebut membuat umur mentalnya lebih dewasa daripada umur aslinya. Sepertinya ia sudah melihat terlalu banyak hal."


Ini mengingatkanku pada ucapan Lord Metatron setelah acara penutupan sparing. Beliau berkata yang terjadi di dunia Fate adalah peperangan. Berarti sesuai dugaanku, gadis ini terjebak dalam perang bukan sebagai penduduk biasa tetapi benar-benar terjun di tengah peperangan itu sendiri.


Sebenarnya, kenapa bisa? Dan siapa Fate yang sesungguhnya? Apa dia seorang strategis? Karena kemampuan analisis dan taktik sangat bagus---tunggu, semuda itu? Sungguh?! Aku mulai menutup mulut dengan tangan kanan.


Sebentar, jika dipikir kembali, Profesor Kaidan mengatakan menjadi wali dan mengawasiku adalah sebuah misi, tetapi Head Master Lucian ... beliau langsung turun tangan menangani Fate. Bukankah berarti---ah, dan juga kenapa Lord Metatron bisa berada dalam tubuhnya?


Sungguh sang gadis perak tak henti menyimpan kejutan. Tampaknya yang memiliki banyak rahasia bukanlah aku, tapi Fate. Aku mulai mengusap wajah perlahan. Konyol, berusaha membantu tetapi pengetahuanku tentangnya masih sangat minim.


Rasanya, ingin bisa mengenal dia lebih dalam lagi.