
"Kaidan, apa yang kau ajarkan pada anak didikmu?"
Eh? Refleks aku kembali menoleh ke asal suara, tetapi mata merah darah telah menatap tanpa ekspresi pada orang tua yang mendekat dengan tergesa.
Profesor Kaidan menggaruk rambut cokelatnya dengan canggung dan menjawab, "Aku ajarkan seperti biasa."
Lucian menaikkan sebelah alis sekilas sebelum melipat kedua tangan depan dada. Wajah masih belum menunjukkan suatu perubahan tetapi nada bicara menyatakan ada aksen penolakan di sana. "Oh? Kalau begitu kemampuan melatihmu jatuh sekarang."
Kenapa? Apa yang mereka debatkan? Pertanyaan itu aku telan mentah-mentah sebab suasana menjadi sedikit tegang. Semua juga terlihat heran. Apa yang terjadi?
"Aku serahkan seluruh tanggung jawab bocah ini padamu. Itu tugasmu. Sepertinya kau lalai."
Guru waliku mendengkus dan menjawab dengan tak kalah mencetus, "Aku tidak tahu apa yang kamu maksud?"
"Iya-iya, aku mengerti. Tidak apa kau sayang padanya, tapi jangan kau manjakan. Jika kau terlalu manjakan, dia tidak akan berkembang." Lucian mengembuskan napas.
Meski tangan masih melipat, beliau sedikit merentangkan lengan kanan ke luar. "Jika kau sungguh-sungguh melatihnya, seharusnya gaya bertarung dia tidak akan sehancur ini. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tidak sulit diajarkan. Dia cepat paham. Tadi kau juga dengar penjelasannya 'kan?"
Tu-tunggu, anak kecil? Yang beliau maksud aku bukan?! Tapi kecil dari mana? Tuhan, apa Lucian lupa aku sudah berumur ribuan? Dan badanku ... lumayan besar.
Namun, mata cokelat menatap sendu padaku seolah-olah Profesor Kaidan menyetujui kalimat tadi---sebentar! Apa maksud semua ini?! Ah, memalukan! Langsung aku menutup wajah dengan kedua tangan tetapi suara kekehan terdengar, memancing untuk melirikkan iris hitam pada ujung mata. Maka terlihatlah Crist menahan tawa hingga menutup mulut dan memalingkan muka.
Astaga, benar-benar ... aku berakhir mengembuskan napas panjang.
"Aku setuju." Mendadak Fate ikut buka suara.
Dalam gelagat mengiyakan, bibir tipis merah muda kembali melontarkan kata-kata. "Alasan aku bisa sekuat ini karena pengalamanku dan karena Arthur, ayah angkatku, melatihku sendiri. Latihannya ... bisa dikatakan sebanding dengan latihan dari Pak Lucian."
Begitukah? Pantas saja gadis ini terbiasa dengan latihan tanpa ampun. Namun, berlatih di bawah pengawasan beliau tidak buruk juga. Meskipun aku tak melakukan sparing seperti yang Fate lalui, aku paham apa yang beliau inginkan dari muridnya adalah berkembang dan melewati batas kemampuan, saat itu juga.
Mungkin itu mengapa Lucian senang menekan sampai pada titik hidup dan mati.
Perlahan, aku kembali mengarahkan kepala ke depan. Netra merah terpejam ketika Lucian mengangguk-angguk, indikasi merasa senang mendengar perkataan si gadis. Sepertinya orang tua ini sungguh senang ketika disetarakan dengan Arthur.
Satu sisi, Profesor Kaidan justru ... terkejut? Terbukti mata cokelat tak berkedip sama sekali ke arah gadis yang membalasnya dengan tatapan datar. Bahkan, kini Fate memiringkan kepala, menandakan merasa bingung dengan ekspresi beliau.
"Aku cuma---haaah." Guru waliku mengerang frustrasi pun menggaruk kasar belakang kepalanya. "Aku tidak tega. Dia anak yang baik. Aku memang menyukai dia, sangat penurut. Kamu sendiri juga tahukan ... setiap hari, aku selalu membereskan masalah yang ada."
Tak lama, beliau memijat kening. "Terutama kau, Lucian. Kepalaku sakit ketika melihat namamu dalam dokumen yang berserak di atas mejaku, sangat berbeda dibandingkan anak ini."
"Itu mengapa aku katakan padamu tadi, jangan terlalu manjakan dia," sergah Lucian.
Ah, Profesor Kaidan mulai tersenyum yang bisa kukatakan terlihat ... jahat? "Ya, kamu benar. Kalau begitu aku juga tidak akan memanjakanmu, wahai kakak tertuaku."
Kakak tertua? Aku langsung menatap bergantian ke arah Profesor Kaidan dan Lucian. Mereka sama sekali tidak mirip.
"Baguslah, akhirnya aku bisa bernapas lega," tambah guru waliku.
Seketika Lucian meneteskan keringat sebesar jagung dan payah menelan ludah; tampak panik dan mulai melirik Fate seperti meminta bantuan. Tetapi si gadis justru mengangguk setuju. "Kau memang perlu menyelesaikan pekerjaanmu sendiri, Ayah."
Sontak Lucian mengangguk amat cepat dalam mata berbinar nan berseri, selaras dengan gurat sabit di wajah---tunggu, beliau tunduk ... begitu saja?
Aku sudah tak paham lagi apa yang sebenarnya terjadi ....
"Ah, maaf. Refleks," ucap Fate dalam semburat merah di pipi pualam.
"Lihat itu." Decak aksen minim asa mengudara saat lengan Profesor Kaidan terlipat depan dada, juga menilik pada Lucian. "Kau mengakuinya juga, huh."
"Hei, aku memang memanjakan dan sayang padanya, tapi tidak ketika sparing!" sopran Lucian dalam wajah tak kelewat merah.
"Apa mereka sadar kita masih di sini?"
Eh? Astaga! Aku langsung menoleh tepat ke samping, yang mana Daniel berwajah amat sangat datar. Melihat kegaduhan dua orang tua di depan, aku sampai lupa pada temanku sendiri.
Theo yang sudah memejamkan mata menjawab dengan menaikkan kedua pundak. "Sepertinya tidak."
Cecil pun menoleh pada Rose. "Boleh kita mengobrol soal taktik dan strategi lagi?"
"Tentu saja." Dan mereka beranjak dari duduk---ah!
"Dah, kamu sini saja." Mendadak Daniel menahan dan mendorong kepalaku. "Lihat guru walimu lagi pertahanin hak asuh, kau mengerti sedikitlah."
Hak asuh? Hah, mereka sudah menjauh! Cepat sekali ....
Lantas Crist tertawa lepas, entah kenapa, dan itu mengundang atensi Profesor Caterine. Terbukti dari mata ungu kecubung mulai melirik dengan sedikit ... menggoda?
"Hoya, oya. Crist, apa kamu juga mau aku manjakan?"
Whoa! Seketika Crist menggeleng cepat dengan merapal kata tidak secara beruntun; tanpa henti. Saat itu juga Daniel langsung menggeret Crist untuk ikut pergi.
Namun, Profesor Caterine justru kembali tersenyum, mulai menyentuh pipi dan berkata dalam aksen khas, "Aw, kalian membawa emas berlianku begitu saja. Sangat tidak berperasaan."
Emas berlian? Tapi mereka hanya menggeret Crist---heh, sopran mengolah nada kembali terdengar ketika Lucian terus berceloteh hingga memaksaku harus mendengarnya.
Katanya, aku bisa tahan dalam berbagai macam serangan tapi tak paham bagaimana caranya karena tidak ada pengalaman; butuh diajarkan secara penuh. Apa yang beliau ucapkan, menurutku benar. Aku sendiri merasakannya. Namun, guru waliku tampak khawatir, jelas dari raut wajahnya.
"Bukannya kau tahu mengenai dia lebih daripada aku?" Lucian mulai berwajah serius ketika berkacak pinggang. "Sampai kapan kau mau melihat dia terus terluka? Padahal dia kuat lebih dari yang kau bayangkan."
"Baik-baik, aku paham." Profesor Kaidan mulai mengembuskan napas, lalu balik melirikku atas senyuman masam. "Latihan sudah selesai, mau pergi?"
Aku mengangguk dan bergumam sebagai jawaban. Mulai beranjak dari bangku dan mengikuti ke mana beliau pergi, tetapi tampang gusar masih setia di wajahnya.
Selama diperjalanan pun, tak ada dari kami buka suara hingga langkah derap pada lantai beton terdengar jelas. Seperti tenggelam dalam pikiran sendiri, mungkin beliau memang ....
"Bapak." Seketika atensi mata cokelat bak kayu jati tertuju padaku atas rasa pilu masih menghiasi. "Sebenarnya, aku tidak masalah."
Kelopak sawo matang langsung tersibak tapi aku lanjut berkata, "Bapak sudah memberikanku berbagai macam hal; mengajarkanku banyak hal. Jika Bapak ingin tegas padaku; ingin memarahiku, aku tidak keberatan. Karena aku tahu ... Bapak lakukan itu karena peduli."
"Red ...."
"Kalau Bapak kejam padaku sekalipun, aku tak akan marah. Aku tidak bisa membenci Bapak."
Dan tawa yang amat terpaksa terdengar mengusik. "Red, Bapak tidak akan kejam padamu."
"Aku tahu." Perlahan, aku mulai menunduk dalam. "Tapi Bapak tidak tahu kalau aku juga mengkhawatirkan Bapak."
Seketika sunyi, apa perkataanku berlebihan? Aku mulai kembali menoleh ke samping---eh? Wajah beliau tampak begitu terkejut. "Dari mana kamu belajar bisa menjawab begitu?"
"E-eeh? Heh?! Apa itu salah? A-aku hanya ...." Seketika aku memejamkan mata, entah mengapa merasa sedikit tersipu.
Langsung aku menunduk dan menyentuh belakang leher. "Dulu aku sering menyusahkan Bapak. Aku tidak tahu ... bagaimana membalasnya."
"Kata-kata itu lagi? Red, sudah Bapak bilang kamu tidak---"
Sontak aku menggenggam tangan kanan beliau ketika lengan kukuh itu tertuju padaku. "Aku juga ingin bisa melindungi Bapak, seperti Bapak melindungiku. Apa Bapak memercayaiku?"
Refleks, kata-kata tersebut meluncur tanpa permisi tetapi ... memang itu yang aku rasakan.
Wajah tertegun beliau perlahan luluh dalam suatu sentimen nan teduh. Senyum nyaman pun kembali. Dalam vokal lembut pula beliau bertutur, "Kalau begitu, mulai dari sekarang Bapak tidak akan main-main mengajarimu. Kamu harus siap-siap, ya!"
Aku mengangguk beriringan suatu senyuman yang lepas begitu saja. Mungkin, karena hati merasa lega mendengarnya. Terlebih lengan kukuh beliau juga menepuk kepalaku beberapa kali.
"Haaah, kamu memang anak yang baik. Kenapa di dunia asal diperlakukan keji ...." Meskipun pelan, aku bisa dengar gumaman beliau.
"Karena di sana aku lepas kendali."
"Iya, tapi---huh, apa kamu masih sering mendapat bisikan atau perasaan mencekam?"
"Eh? Tidak. Kalau Bapak tak tanya, aku lupa. Sudah lama tidak merasakan hal-hal itu lagi. Tapi aku merasa ...."
"Merasa?"
"Aku rasa ... sepertinya, aku juga menyayangi Bapak!"
Seketika beliau tersentak; mematung; menatapku tanpa berkedip dan ekspresi. Aku ikut menghentikan langkah, sibuk dalam gelagap gugup karena sikap tiba-tibanya tetapi ... tak lama, beliau mendekapku. Erat; sangat kuat, hingga aku terpaksa ikut menunduk karena perbedaan tinggi. Ini sangat mendadak namun terasa hangat, tubuh beliau juga bergetar.
Saat itu juga, aku merasakan basah di pipi. Yang jelas, itu bukan air mata milikku.