When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Lari Atas Sebuah Anomali



Lari, terus saja berlari.


Aku belum pernah berlari bak orang kesetanan seperti ini sepanjang hidup, melewati hutan dan sungai; melintasi Rhodes dan Tran, mungkin juga diuntungkan dengan dataran rendah meski salju menghadang langkah. Tidak peduli dengan jantung berdebar hebat; otot-otot terasa remuk; dingin merengkuh sekitar; bulir keringat mendominasi, terus saja aku berlari karena dorongan adrenalin nan memuncak ibarat mengejar napas yang telah tersendat-sendat.


Seperti melakukan keajaiban; rekor, bagaimana bisa ada yang berlari mengarungi wilayah utara ke tengah hanya dengan berlari kecuali orang itu teramat sinting? Bagaimana aku mampu melakukannya? Sudah tak terpikirkan lagi, asalkan badan; kaki, bisa terus melaju maka melajulah sampai porak poranda. Rasanya sesak semakin menyerang karena hal tersebut, maka aku mulai melepas jaket dan membuangnya entah ke mana.


Sebab aku tak butuh lagi segala yang menghalangi, akan kuterjang semua termasuk dingin yang semakin mencambuk karena di kepala hanya ada satu: berlari kembali ke akademi dan menemukan Fate.


Akhirnya aku memasuki wilayah perkotaan. Terlihat lampu-lampu jalan dan rumah yang menyala mulai dimatikan; samar-samar pada ujung cakrawala semburat cahaya muncul secara malu-malu. Dengan begitu, aku pun mengerti telah berlarian semalaman penuh.


Ketika pandangan menangkap gerbang akademi nan besar dan khas, seketika pusing luar biasa menyerang kepala, juga mata mulai berbayang.


Semakin memasuki akademi, makin hilang sudah kekuatanku. Tubuh pun ambruk saat tiba tepat di depan air mancur.


Aku membuang dan mengambil udara dengan brutal, sampai jantung memprotes dengan berdetak keras seumpama ingin keluar dari dada; sampai mulut terus terbuka ibarat berusaha untuk bantu bernapas; sampai baju kaus dan rambut basah dengan keringat membanjiri lantaran sudah tidak mampu, mati rasa---ah, sungguh benci ketika pandangan mulai dipenuhi kabut yang mengusik.


Namun, tiba-tiba ada botol air mineral mendarat di depanku, memancing untuk melirik pada orang yang memberikannya ... Lux.


"Kebetulan! Aku sedang patroli pagi wilayah gerbang depan, justru menemukanmu tergeletak." Dan dia menampilkan sebuah senyuman.


Berangsur-angsur, tubuhku terasa lebih ringan---tunggu, ada lingkaran sihir di bawahku? Ah, healing! Perlahan, kucoba untuk duduk bersimpuh dan menyaksikan Rose sedang mendekap kedua tangan. Kemudian berkata, "Stamina tidak bisa dipulihkan dengan healing, jadi kondisimu belum sepenuhnya pulih."


"Cu ... kup ...."


Iya, ini sudah lebih dari cukup; aku merasa jauh lebih baik. Tapi, Tuhan ... suaraku benar-benar rendah; pendek; parau, tenggorokan tercekik dan gersang. Aku langsung mengarahkan mata ke sisi untuk mengambil botol mineral dan meminumnya sampai habis dalam satu kali napas.


Aaaah, aku mengembuskan napas panjang. Rasanya kembali hidu---


Byur!


Dan aku berakhir basah kuyup.


Lantas mata memandang sinis pemuda yang sembarangan mengguyurku dengan air dalam ember berukuran sedang itu. Heh, dari mana dia mendapatkannya? Sempat-sempatnya menyiramku! Tapi dia justru tertawa meledek. "Apa? Kamu berkeringat, jadi sekalian."


"Lux, kamu mengertikan kita masih masih ada di penghujung musim dingin?"


"Nah, dia masih hidup." Dan si pemuda menaikkan kedua pundak. "Justru karena musim dingin jadi sedikit basah bukan masalahkan? Nanti kering."


Tentu masalah! Tuhan, andai aku tidak sedang memulihkan stamina akan kulempar botol minuman ini tepat ke wajah menjengkelkannya! Haah, tenang Red, sabar. Jangan sia-siakan energi. Sontak aku menarik dan mengembuskan napas dalam-dalam.


Selang beberapa detik suara dengkus mengudara, tampak Rose mulai berdiri seraya menepuk bagian belakang roknya. "Kalau begitu biar aku beli sarapan dulu."


Si gadis pun berjalan menjauh dari sin---


"Red." Seketika atensi tertuju pada Lux yang bersuara jauh lebih serius dari sebelumnya. "Pagi ini aku lihat Fate sedikit aneh. Ia berjalan pelan sambil menunduk. Aku panggil juga tidak menyahut. Dan aku mendapat laporan ... banyak jejak kaki seseorang memenuhi salju yang ada di akademi."


HAH! Itu mencelikkan benak.


Berarti semalaman Fate berjalan lepas mengelilingi akademi?! Ah, mungkin apa yang aku ucapkan terlalu berlebihan? Ditambah ia ... dan ucapnya mengenai Sen---astaga! Langsung aku memaksakan kaki untuk berlari, tapi teriakan Lux sukses menarik perhatian untuk menoleh padanya.


"Hei! Sen berpesan: ketika ingin berpikir, Fate biasanya akan mencari tempat tertinggi!"


Sekilas, tampak ilusi bayang-bayang Sen berdiri berdampingan dengan Lux membuat kelopak mata menggulung sampai lensa merah mungkin terlihat jelas. Sebab tinggi badan mereka ... kemampuan mereka---ah!


Mendadak terdengar suara jetikkan jari dan dalam sekejap terasa bajuku mengering. Aku berkedip berkali-kali, karena bagaimana bisa ... langsung beralih melihat Lux yang tersenyum padaku.


"Tidak pantas bertemu seorang wanita dalam keadaan bau keringat, makannya kamu kusiram. Sekarang, sana cari putri bulanmu itu."


Ternyata benar dia---ah, ada yang lebih penting! Bergegas aku kembali mencepatkan langkah.


Membicarakan mengenai gedung tertinggi, seketika dalam kepala terbayang Gedung Utama dengan puncaknya terdapat jam raksasa. Benar juga! Jika diingat kembali, Gedung Utama terlihat seperti menara jam yang sangat besar dan tinggi. Lekas kakiku menuju tempat tersebut sampai membuat beberapa murid terheran-heran.


Sebab, lagi-lagi, berlari bak orang kesetanan.


Mendadak aku terkejut ketika pandangan menangkap tubuh semampai yang melompat turun---tunggu, Fate?! Dan dia juga tertegun melihat kedatanganku.


Saat hampir dekat, aku merentangkan kedua tangan dan menangkap sosoknya dalam rangkulan.


Seketika ada perasaan tak biasa merasuk.


Ibarat menyaksikan tubuh Fate bersinar dengan cahaya yang redup dan aneh, tapi selukis senyum hangat mekar pada wajah seumpama ditempa keras oleh kehidupan. Namun, berakhir pasrah dan memejamkan mata. Lalu semilir angin yang berembus tiba-tiba saja berhenti seusai menabrakku seakan membawa kami turun secara perlahan.


Di waktu kaki telah menjejak sempurna, langsung aku mencengkeram kedua pundaknya dengan hati-hati, juga berkata dengan menggebu dan khawatir, "Apa yang kamu lakukan?! Apa yang terjadi?! Keadaanmu?"


Dan kedua kelopak pualamnya terbuka, memandang lurus padaku tetapi amat lemah pun layu. "Ah, aku baik-baik saja ... hanya merasa terguncang. Orang tuaku, Arthur, bahkan Sen ... mereka mati demi menyelamatkanku. Karena nyawa ini telah dilindungi banyak orang ... aku berusaha untuk terus maju."


Kemudian senyuman miris dia berikan.


"Meski harus melakukannya sendirian."


Aku tidak tahu---ah, itu; kalimat itu ... membuatku berusaha mati-matian menyerap makna yang tersirat dengan gamblang, dan ternyata efek yang ditimbulkan sungguh luar biasa.


Seketika sesuatu menghunjam ibarat turut mengoyak seluruh isi hati; turut bergejolak dalam batin hingga tangan refleks terlepas darinya dan aku mundur beberapa langkah.


Bagaimana ketika netra merahku mencoba melihat dirinya, memang gadis itu tampak tenang seumpama tumpahan sinar matahari yang baru naik membuat sosoknya berbinar terlebih helai-helai perak nan berkilauan. Namun, air mata yang mengalir pada pipi merona sungguh salah. 


Terlalu salah.


Sendirian, katanya?


Apa dia mengerti bagaimana upaya mencoba melangkah padahal telah menyendiri? Apa dia mengerti melihat sekitar begitu berkilauan tetapi kelam menyelimuti? Apa dia mengerti tidak ada tangan untuk digenggam terasa sunyi? Apa dia mengerti ... tentang, hidup sendiri?


Entah mengapa rasanya aku tahu akan jawaban pertanyaan tersebut lantaran kepala mendadak dipenuhi ingatan-ingatan saat Fate menceritakan masa lalunya. Mungkin dia bisa; mungkin dia mampu, tapi aku ....


"... Tidak akan membiarkan."


Aku ucapkan itu dengan amat pelan dan bergetar, entah dia bisa mendengarnya atau tidak karena sekarang aku sedang bertarung dengan perasaan. Perasaan yang belakangan ini membuatku menjadi hilang akal. Dan aku kalah sehingga itu berhasil meluap sampai meremas baju di dada; mengeratkan gigi; memandangnya penuh emosi bergejolak.


Sebab aku kesal ... dengan diriku sendiri, karena gagal membuatnya merasa bisa bersandar padaku.


"Siapa yang membuatku bisa membuka hati? Kamu! Siapa yang memberikanku tujuan untuk hidup? Kamu! Siapa yang dapat menenangkan jiwaku yang rusak? Kamu! Kamu, semua itu kamu! Hanya kamu!!"


Demi Tuhan yang Maha Kuasa, sungguh aku telah menjadi gila! Kendali diri sebab gejolak dalam hati mendobrak habis kewarasanku, merongrong sampai ikut menuturkan segala kalimat tersebut tanpa jeda pun terselimut emosi; sampai menggenggam semakin menjadi hingga telapak tampak memucat.


"Dan aku tidak akan membiarkanmu berakhir sendirian, karena aku---"


Sungguh sesak; teramat sesak, membuatku menarik baju yang terus dikepal; menunduk; mencuri napas, agar bisa berteriak lantang, "MENCINTAIMUUU!!"


Begitulah aku melepas seluruh perasaan yang menjerat, berteriak sejadinya sampai angin terasa berembus dan membawa kalimat tersebut. Sebab sosoknya bagai rembulan, begitu menyilaukan di malam gelap; tinggi; tak tergapai; maka atas suara inilah aku teriakan agar sampai padanya; sisinya, juga menunjukkan pada Tuhan yang membuat garis takdir bahwa aku bersungguh-sungguh ingin menghapus kesenduan pada gadis di depanku.


Dengan teriakan panjang dan keras ini, juga menunjukkan bahwa menyimpan perasaan sungguh menyiksa dan ternyata aku salah membaca isi hati. Membuatku marah pada diri sendiri. Padahal aku ingin menjadi lelaki yang cukup layak untuk menyimpan namanya lekat dalam dada; yang cukup layak untuk merangkulnya demi menjalani hidup bersama; yang cukup layak untuk melukiskan senyuman nan indah pada wajahnya.


Dengan teriakan panjang dan keras ini, juga mendeklarasikan rela menguras laut; mengarungi badai, hanya demi sampai pada sisinya; demi membuatnya kembali bahagia. Jika hidupnya sebegitu berat maka aku sudi menghapus segala duri yang menghadang; sudi menutup kesedihan. Juga bersedia menjadi ribuan bintang di langit agar mampu menemani satu bulan yang sendiri; sendu, menjadikannya semakin indah dan memesona agar mampu bersinar jauh lebih terang.


Aku teriakan semua perasaan itu pada semesta, agar seluruh isi kehidupan tahu bahwa aku sebegitu mencintainya.


Sampai teriakan 'aku mencintaimu' yang panjang dan keras dariku selesai, langsung aku membungkuk dan menyandarkan kedua tangan di atas dua lutut lantaran napas kembali tak beraturan ... tapi, lega. Sungguh tidak menyangka momen seperti ini tiba, lantas aku memejamkan mata dan mengembuskan napas yang panjang.


Mungkin, Fate juga berpikir aku sudah hilang akal.


"Aku juga."


Huh?