
'Ayah minta maaf atas segalanya. Rei, jangan menangis. Ayah buatkan kamu boneka persis seperti Mei.'
"Hah!"
Langsung aku duduk dengan napas terengah.
Menyentuh kening---ah, berkeringat.
Sungguh mimpi ini makin lama semakin terasa berat, terlebih tekanannya.
Mungkin ini peringatan dari sang uskup bahwa ketika mimpi semakin menyebar, kemungkinan aku akan sulit bangun lagi.
Aku melihat sekitar, ternyata sudah kembali di kamar yang biasa kutempati.
Dari jendela tampak langit menunjukkan cahaya oranye kekuningan dengan awan berbaris sempurna. Sudah sore.
Biasanya aku selalu bangun ketika pagi buta, sekarang telat. Sangat-sangat telat.
Namun, aku melihat desa itu.
Seperti potongan teka-teki yang lama kelamaan tersusun jelas, mungkin ini akhirnya.
Jika gagal menyelesaikan masalah ini, aku akan terjebak atau sebaliknya, melepaskan mereka semua dari jerat mimpi buruk.
Entah apa yang menyambutku di ujung kejadian nanti, sekarang aku harus segera melapor.
Aku mengusap wajah beberapa kali agar terbangun sempurna.
Seharusnya sang uskup ada di sekitar ruang belakang di waktu sekarang, lekas aku meninggalkan kamar.
Langkahku sedikit cepat di antara baris lorong.
Di depan aku melihat sang uskup sedang menatap langit dari balik jendela, seperti biasa.
Mungkin derap langkahku begitu menggema hingga beliau menoleh dengan senyum teduh dan berkata, "Kembali menemukan sesuatu?"
"Saya menemukan boneka mirip seperti Mei sewaktu kecil dan ... desa."
Seketika wajah sang uskup berubah serius.
"Mengenai desa yang hilang, kami menemukan catatannya. Desa itu menghilang sehari setelah Festival Pengorbanan. Ritualnya gagal. Setelah itu banyak fenomena aneh bermunculan."
"Mei dan Rei ...."
"Rei terjebak dalam mimpi buruknya karena Mei pergi menyerahkan diri ke altar. Rei tidak terima, menciptakan mimpi buruk ini. Kau hampir dekat dengan rahasia mereka," lanjut sang uskup seraya memberikanku sebuah buku.
Seketika mataku melebar.
Ini buku kuno yang ada di dalam dunia mimpi!
Saat itu aku tak sempat melihat apa isinya. Langsung saja aku membalik tiap lembar demi lembar untuk membaca isinya dengan baik.
Tak disangka ... begitu rupanya.
"Sekarang saya mengerti kenapa fenomena ini bisa terjadi. Bapak, apakah engkau mengizinkan saya untuk mendapatkan lentera itu lagi? Saya harap bisa menyelesaikan ini semua."
Sang uskup pun tersenyum dan mengangguk pelan.
Apa yang terjadi nanti, aku harus mempersiapkan diri.
Tidak kusangka iblis sebegini buruk dan aku satu bagian dari mereka. Mungkin itu sebabnya aku bisa keluar dari alam mimpi dengan mudah.
...****************...
Aku kembali menyalakan lentera di bawah pohon---ah, sensasi ini. Lebih buruk masuk ke dunia mimpi daripada teleportasi menggunakan Heart Core.
Padahal sudah sering melakukannya, tetapi masih saja ... pusing dan mual.
Aku menggeleng dan memijat kening beberapa kali hingga suatu teriakan memancing perhatian.
"Mei!"
"Rei, mereka datang."
"Cepat Mei! Lari!"
Aku segera menghampiri asal suara---ah, semak ini menghalangi!
Aku tiba di dalam hutan dan di sini cukup rimbun, beberapa belukar bahkan menahanku sesaat.
"Rei apa yang kamu lakukan?!"
"Mei, pergilah dan lihat keindahan dunia sana untukku."
Akh, belukar ini menggangguku ... oh, itu mereka!
Cepat aku membuang beberapa daun dan akar-akar yang tersangkut di tubuh, lalu melesat menghampiri Mei.
Aku bersimpuh di dekatnya, tetapi dia langsung menggenggam jas jubah hitamku dengan kedua tangan.
"Aku tak bisa membiarkan Rei mendatangi ritualnya! Itu akan ... itu akan menjadikannya boneka tanpa jiwa! Kami harus pergi bersama!"
Mei langsung berlari, menaiki tangga yang sangat tinggi di atas sana dan segera kuikuti.
Tinggi.
Semakin tinggi.
Aku teratur mengatur napas agar stamina terjaga karena dengan berlari seperti ini, masih belum terlihat ujungnya.
Aku tak menyangka akan sebanyak ini anak tangganya.
Sampai.
Di sini hawa seperti dalam tekanan, abu; hitam; putih, mendominasi. Petir bersahut-sahutan dan di tengah satu-satunya lahan yang ada, pusaran aura hitam mengelilingi gadis kecil rambut biru.
Tanpa pikir panjang Mei menghampiri Rei yang sudah tergeletak dan duduk tepat di sampingnya. Lekas aku mendekati mereka---apa yang terjadi?!
A-aku tak bisa menggerakan tubuh lagi!
"Mei, aku senang kamu orang terakhir yang aku lihat sebelum kepergianku."
Mei menggenggam tangan kakaknya dan berkata, "Tak perlu khawatir, aku di sini. Rei, ayo kita---ack!"
"Tidak, tidak ...."
Sontak aku merasakan tekanan yang sangat kuat.
Rei, dia lepas kendali!
Lantas petir mulai menggila. Tubuh si gadis terangkat dengan kedua tangan merentang. Letup-letupan api menyambar dari tubuhnya dengan embusan angin meluluhlantahkan sekitar.
Seketika aku mendapatkan kendali atas tubuhku dan langsung menghalau tanah yang terkikis sedikit demi sedikit menggunakan lengan kiri.
Aku berusaha melihat ke mana Rei pergi karena angin ribut ini memburamkan penglihatan.
Ternyata sosok ayah dan Mei sudah menghilang, tentu saja ... itu hanya ilusi.
"Rei! Tenang, itu hanya ilusi! Jangan biarkan iblis menipumu!"
Susah payah aku berteriak mengalahkan gemuruh di sekitar.
"Mei, ia masih hidup dan menunggumu bangun!"
Bam!
Satu bola api raksasa menghunjam jika aku tidak refleks menghindar.
Rei kembali merentangkan tangan kanannya ke atas, kembali membentuk bola api.
Gesit aku menyiapkan Heart Core, melempar Floating Hourglass tepat ke arahnya.
"Phase Bomb!"
Baamm!
Ledakan heboh memekakkan berkat hantaman api dan senjataku.
Tak sampai di situ, si gadis tetap memberikan serangan tanpa henti. Aku berakhir menghindar; berkelit; melonjak dari satu titik ke titik lainnya meski pusaran angin menghalangi.
"Mei, Mei ...."
Seketika suara rintihan itu menggema.
Aku langsung terdiam melihat kegilaan di depan. Tetapanku pun menunjukkan rasa iba yang kuat.
Aku berakhir berlutut; menyaksikan mata Rei sepenuhnya hitam meski air mata tak henti mengalir; aura kelam juga keluar dari tubuhnya.
Entah mengapa terasa ... tak asing.
Dan aku tidak bisa membiarkannya seperti ini.
"REEEI!!"
Gila; tak waras, aku justru menerobos ke dalam amukan gadis itu.
Semakin jarak antara aku dengan Rei mendekat, terasa angin menyayat rambut; petir mencabik-cabik baju; sulur-suluran api mencambuk tubuhku tanpa henti.
Tak peduli.
Aku terus berteriak.
Meraung-raung tanpa henti ibarat suara jeritanku dapat melawan rasa sakit bukan main.
Darah mulai muncul dari rongga tubuhku di luka-luka yang menganga, tetapi aku justru melompat menghampiri inti kegilaan.
Rei ... aku memeluknya, meski terasa seperti memeluk bara api.
Air mataku mulai mengalir karena rasa sakit yang menyerang tanpa ampun, tetapi aku pasrah karena tak bisa kubiarkan dia begini.
Sebab, di satu titik, aku pernah mengalami hal serupa dan menginginkan suatu dekapan.
Seperti ini.
Pelan-pelan; penuh kasih, aku mengelus kepalanya meski tanganku terkoyak dan penuh luka.
Perlahan-lahan, keadaan di sekitar juga mereda.
Tenang; sunyi.
Menyisakan Rei yang menangis tanpa henti.
Dia terisak, terasa sedikit tersentak karena aku masih mendekapnya.
Kubelai dirinya lagi dan tangisan semakin menjadi.
Aku mengerti itu, suatu rasa takut akan kehilangan.
Dalam kepalaku tergambarkan pula sosok diri sendiri ketika aku kecil dan rapuh, tersiksa karena takdirnya sendiri.
Persis seperti Rei sekarang ini.
Dalam buku dikatakan: suatu malam iblis menyerang desa dan dilawan oleh seorang penyihir.
Penyihir tersebut berhasil menyegel iblis dalam tubuhnya. Sebagai ganti, ia terus terperangkap dalam mimpi buruk.
Dalam satu upaya terakhir, penyihir itu melakukan ritual pengorbanan dan membelah dirinya menjadi dua sosok gadis kembar, demi menjaga jiwanya agar tak tenggelam dalam bisikan iblis.
Terjalin kuat, gadis itu saling menemani; saling mencintai; menguatkan jiwa satu sama lain dalam mimpi mereka.
Dua gadis itu akan terus tertidur sampai jiwa mereka tidak kuat lagi menahan mimpi dan ritual penyegelan pun dilakukan secara turun temurun di desa tersebut; menyerahkan setiap gadis kembar keturunan mereka untuk melanjutkan Festival Pengorbanan.
Hingga tiba saatnya bagi Mei dan Rei.
Mei menerima takdirnya untuk Festival Pengorbanan, sedangkan Rei tidak.
Mereka---iblis, iblis tersebut akhirnya lepas dan menggunakan Rei untuk menyebar kutukan mimpi buruk.
Ritual itu pun gagal dan mereka semua terperangkap dalam mimpi, menyisakan Mei sendirian karena keinginan Rei untuk membiarkan adiknya terus hidup.
Hingga kini, Mei tenggelam dalam mimpi buruk.
Seperti sekarang.