
Vokal melengking nan khas mengudara. Semua mata langsung tertuju pada sumber suara dan itu adalah Cecil yang mengangkat tangan kanan, wajahnya jelas terlihat bingung.
"Oh? Tentu saja kau boleh bertanya," jawab Profesor Caterine santai.
Lantas Cecil mengeluarkan deham sekilas, sebelum ekspresinya berubah menjadi ... histeris?
"Dunia lain?! Tubuh buatan?! Immortal?! Seseorang tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?!"
Eh, astaga! Aku terkejut karena dia tiba-tiba berteriak hingga melengking tinggi, berbeda jauh dari ekspresi sebelumnya. Tuhan, aku lupa kalau Cecil tidak mengetahui tentang hal ini! Aduh, bagaimana---ah, apa dia akan takut berhadapan denganku nanti?
Di tengah rasa panik, aku melihat ke arah Profesor Caterine. Tapi beliau malah ... tersenyum? Fate juga memandanginya tetapi dengan wajah datar. Sedangkan Crist hanya menutupi wajah dengan kedua tangan, gelagat seperti orang yang pusing.
"Bu Caterine ...." Fate mulai berkata dengan nada rendah dan perlahan. "Anda sengajakan?"
"Hoya, oya. Fate, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan. Benarkan, Crist?" jawab beliau sambil mengedipkan sebelah mata.
Tunggu, jadi tadi tak sengaja? Kesalahan? Aaah, aku sudah tak paham lagi dan semakin bingung pula! Apa lagi Cecil masih setia dalam ekspresi terkejut-kejut. Namun, mendengar jawaban itu, Fate dan Crist mengembuskan napas di saat bersamaan.
Pada akhirnya, Crist yang menjelaskan pada Cecil--dan Daniel lebih mendetail lagi--tentang Fate dan aku berasal dari dunia berbeda; kondisiku yang immortal dan tidak stabil; Fate mengalami amnesia dan sedikit tentang memori yang sudah diingat. Dia juga mengatakan ini data tingkat paling atas dan meminta mereka untuk merahasiakannya.
Setelah Crist selesai menjelaskan, Daniel dan Cecil mengerang sambil memijat kepala mereka masing-masing. Apa mereka baik-baik saja? Mu-mungkin memang masalah aku dan Fate sulit diterima untuk kebanyakan orang ... aku mulai menunduk dan menautkan jemari.
"Ugh, aku tahu tentang kalian berdua dari dunia lain. Tapi---sial, aku enggak duga sampai separah itu," keluh Daniel, masih memijat kepalanya.
Sedangkan Cecil menurunkan tangan dari kepala sebelum menatapku tajam, dan tanpa sadar tubuhku langsung menegang lantaran iris merah muda sangat mencekam. Bahkan berbeda jauh ketika dia menangkap basah Daniel yang bertingkah konyol.
Beberapa detik kemudian si gadis kecil sudah ada di depanku dan entah sejak kapan telah memegang gulungan kertas---aw! Aah, apa ini?! Kenapa dia memukul kepalaku berkali-kali?
Refleks aku langsung beringsut pada bangku. "Ce-Cecil?! Hentikan, kenapa memukuliku?"
"Karena kau tuh bodoh sekali!" gerutunya dengan nada amat tinggi, lalu menunjuk-nunjuk ke dadaku. "Aku enggak peduli mau kamu immortal, mau kamu sudah tua, atau apalah itu! Pokoknya mulai sekarang, kamu harus belajar untuk melindungi diri dengan benar!!"
"Tapi---ah, jangan pukul lagi! Sakit ...."
"Nih, rasain! Sakitkan?! Enggak ada tapi-tapian! Kamu tuh masih bisa ngerasain sakit!! Pokoknya jangan berani-beraninya kamu ngelakuin hal sembrono lagi! Atau ...."
Seketika dia berhenti, kembali berdiri tegak dengan wajah sedikit tertutup temaram. Sontak aku langsung menelan ludah. Entah mengapa, dia terlihat mengerikan---Tuhan, Cecil lebih kecil dariku tapi sungguh ... pada saat ini juga aku merasa ciut di depannya.
"Apa kau mengerti?!" tanyanya dengan nada mengancam.
Aku mengangguk cepat sebagai jawaban.
Kemudian dengan cepat Cecil menggunakan gulungan kertas tersebut untuk menunjuk Fate. "Kau juga!" Dan Fate menunjuk dirinya sendiri dalam bingung.
"Aku enggak peduli mau kamu lebih tua atau lebih muda, tapi sekarang kamu tuh udah bagian dari kami! Jadi kalau ada masalah, katakan pada kami! Jangan kamu simpan sendiri! Mengerti?!" Cecil berkata demikian sambil berjalan perlahan ke arah Fate, hingga dia berhenti tepat di depan si gadis yang masih duduk di pinggir tempat tidur.
Perlahan, Cecil memukul lengan si gadis dengan gulungan kertas yang dia terus pegang, sebelum melempar gulungan tersebut demi meraih kedua pipi Fate. "Kamu bodoh juga ya ternyata ... menahan beban sebanyak ini sendirian."
Eh, menahan beban sendiri? Kalimat itu sukses memancing rasa penasaran, lantas mata jelagaku langsung tertuju pada mereka.
Fate seketika tertegun, tidak mengatakan apa-apa seakan pertanyaan mudah itu adalah suatu hal yang sangat sulit dipikirkan. Jadi, selama ini dia menahan segalanya? Tapi, kenapa? Eh, Cecil tersenyum? Dan itu tampak amat lembut karena semburat merah turut muncul di pipi gembulnya.
"Hei Fate, sekarang aku sudah mengetahui masa lalumu walau cuma sedikit. Mau kamu izinkan aku menjadi salah satu penopangmu? Untuk menjadi salah satu teman terdekatmu yang ada ketika kamu membutuhkannya."
Aku bisa melihat mata Fate melebar karena merasa terkejut mendengarnya. Bahkan, sekilas, tampak gumpalan bening bersarang di pelupuk. Seperti setengah mati menahan air mata yang mendesak untuk diluncurkan.
Perlahan dia pun mengangguk hingga beberapa helai rambut perak berjatuhan. Sama seperti senyuman Cecil semakin melebar dan dia langsung memeluk Fate. Terlihat dekapan mereka rasanya sangat hangat dan lembut, seperti sutra.
"Terima kasih, Fate."
Si gadis menggeleng sambil membalas pelukan Cecil, pun Fate berucap dalam irama sentosa, "Tidak ... terima kasih, Cecil."
Seketika ruang putih ini terasa sangat tenang, seperti mentari tersenyum dengan sinar cantik yang merambat masuk melalui kaca jendela, semakin mendamaikan hati. Satu sisi, aku juga merasa bingung dan terkesan ini ... kurang adil? Karena Fate mendapat pelukan dan pukulan pelan, sedangkan aku? Cecil memukulku dengan cukup keras; bertubi-tubi.
Mungkinkah aku semenyebalkan itu?
Tak lama terasa suatu tepukan di pundak dan refleks aku menoleh. Kudapati Crist menggeleng-geleng pelan, pun terkekeh lembut. Berkat itu juga, aku melihat Profesor Caterine memasang ekspresi bangga. Eh, kenapa? Sontak aku melihat ke arah Daniel---ah, dia juga? Si pirang tersenyum kecil dengan tangan kiri mengusap pelan pelupuk matanya.
Tuhan, mungkinkah hanya aku yang tidak mengerti sebenarnya ada apa ini?
"Haaah, indahnya masa muda," ucap Profesor Caterine saat Fate dan Cecil melepaskan pelukan mereka.
Kemudian beliau tersenyum yang terlihat iseng kepada Fate. "Di hari tepat usia delapan belas tahun, teman-temanmu ada di sampingmu seperti sekarang. Sangat indah bukan?"
Sebentar, delapan belas tahun? Tepat hari ini?! Kenapa tidak---
"HAAA?!" Teriakan orang-orang terdengar serempak. Spontan aku melihat pada yang lain yaitu Crist, Daniel, dan Cecil tak henti celangap. Mungkin merasa terkejut?
"Heh, bentar! Fate, hari ini ulang tahunmu?!" tanya Daniel.
Fate melihat ke arah dinding di mana kalender berada dan aku ikut menoleh, terlihat hari ini tanggal tiga belas September. "Oh ...."
Lalu Fate melihat kami lagi. "Ya, hari ini hari ulang tahunku."
Mendengar itu, yang lainnya langsung bergelagat panik---astaga, aku menjadi ikut merasa tak enak dan seketika menyembur, "Kenapa tidak bilang?"
Dengan ekspresi datar nan lugunya dia menjawab, "Tidak ada yang tanya?"
"Aaaakh, Crist cepat tangani hal ini! Pastikan Fate tidak kabur! Red dan Cecil cepat kita kembali ke club!"
"Eh, tapi---"
Dengan perasaan penuh campur aduk, Daniel menarikku untuk meninggalkan ruang rawat; dibantu Cecil yang juga mendorongku.
Kami melangkah semakin jauh, dan hal terakhir bisa kulihat adalah Profesor Caterine terkekeh-kekeh; Crist mengerang sembari menutup wajah; wajah pualam Fate melukiskan banyak tanda tanya.