When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sparing III



Bam!


Debu membutakan sekitar pembuat penutup gumpalan asap. Tak lama suara sumbang mengiris udara ketika aku melesat keluar dari kebul demi mendekati Cecil atas Sabel teracung mantap, tetapi gadis itu sudah berlari jauh.


Begitu rupanya, Phase Bom tadi hanya pengalihan. Memang untuk sesama Soul Dancer penyerang pertama yang diunggulkan. Sayang, kini aku adalah class dengan pertahanan terbaik.


Namun larinya cepat sekali, apa karena tubuh yang kecil?


Seketika ia merentangkan tangan ke arahku dengan terus berlari. Ah, Ice Lance. Seketika ngiang aduan pedang terdengar karena aku tak henti memotong runcingan balok es yang terus menghunjam.


Sepertinya Cecil ingin bisa lari sejauh mungkin. Pengguna pedang lain mungkin akan frustrasi kalau mangsa terus berlari; aku bisa memaklumi karena jika berada dalam jarak tebas Swordmaster maka kelumpuhan bisa menimpa, terutama untuk Class Soul Dancer.


Maaf Cecil, tapi tak bisa terus-terusan melayanimu berlari. Dengan kuat aku melakukan lonjak putar depan dan di saat bersamaan melempar Sabel sekuat tenaga. Sontak ledakan heboh memekakkan dalam ceruk tanah yang pedangku hasilkan, atas tumpuan kekuatan serta titik beban seperti tadi tentu daya destruksinya besar sampai-sampai kerikil dan pecahan batu berhamburan. Cecil ikut terpental tetapi gesit melempar senjatanya, Phase bom---tidak, Azure Circle!


Pergerakan tiba-tiba demi menghindari hujan es, aku berkelit dengan berguling dan berlari menghampiri pedang yang kukuh menancap tanah dan meraihnya sebagai tumpuan kelok akselerasi. Gesekan kaki yang mengerem dengan tanah gersang menghasilkan garisan debu halus beterbangan dan beberapa menit berselang, kebul mereda tetapi Cecil lenyap dalam kedipan mata.


Apa dia membaca pergerakanku dan mengambil kesempatan untuk bersembunyi?


Lantas Sabel aku tarik dan sematkan ke belakang punggung, mengantinya dengan Zweihande--pedang besar--untuk bertahan. Jemari mulai bertautan erat; mata menatap siaga ke segala penjuru; bersiap atas segala kemungkinan serangan.


Seketika balok es runcing menghunjam dari arah barat dan di saat bersamaan aku melakukan putaran percepatan dan melempar Zweihande kuat-kuat.


Desing bilah baja kembali mengudara disusul bunyi ledakan. Pedang besar maka daya rusak besar pula; Zweihande menancap dan menghancurkan batu persembunyian Cecil. Raga mungil si gadis terpelanting pun terlihat ia menyilangkan kedua tangan depan wajah.


Namun belum sempat menghindar atau mengambil Sabel, pasak es sudah bersarang tiga sekaligus pada bahu; perut; dada membuatku terhuyung sesaat, berdecak sebelum berbalik dan melancarkan serangan balasan. Dengan cepat aku berlari, melompat, dan menahan tubuh Cecil yang belum sempat berdiri demi memakunya ke tanah.


Debu dan irisan batu sebab pergerakan yang tiba-tiba mereda, menyisakan aku yang masih menahan tubuh Cecil atas tanah kering. Kulihat ia meringis-ringis, begitu juga denganku. Darah segar mengalir pada es yang setia menancap hingga menguar bau karat khas cairan merah di antara kami.


Aku menoleh ke arah Profesor Kaidan dan beliau mengangkat tangan. "Pemenang pertarungan, Red Sirius!"


Aku langsung duduk di samping Cecil dan tanpa memedulikan rasa sakit yang menggigit, mulai menarik satu persatu pasak es dalam tubuh. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali dan pasrah melentangkan badan di atas tanah.


Tak lama ia berkata, "Memang kamu tuh ... barbar."


Aku melihatnya dengan tatapan khawatir. "Kamu tak apa, Cecil?"


Ia langsung bangun dan menepuk-nepukkan bajunya meski sedikit terhuyung. Sesaat memegang lengan atas dan kembali meringis sembari menggeleng kecil. Sepertinya Cecil pun terluka, baju seragam abu ikut terkoyak. Mendadak tubuh mungil itu ambruk dan aku menahannya, Profesor Kaidan turut berjalan mendekati kami.


"Iya, aku enggak apa-apa. Sebentar, healing dulu."


Sigap ia mengepal kedua tangan dan lingkaran sihir biru muda muncul di bawah. Pendarnya begitu halus pun bulir-bulir cahaya menyelimuti bak kunang-kunang. Beacon of Light, tubuhku terasa pulih meski tak sempurna lantaran keadaan Cecil tak bagus sehingga tidak mampu melakukan Recall Illumination untuk penyembuhan total.


Selain itu tetap harus melakukan pemeriksaan dokter karena healing hanya memulihkan bagian luar tubuh, tak termasuk efek kelelahan dan kerusakan organ dalam.


Sang guru pengawas akhirnya tiba dan menuntun kami untuk berjalan meninggalkan arena simulasi.


...****************...


Di lorong sepeninggalan pertarungan, Cecil tak henti melihatku sembari meniti langkah---ah, kenapa memperhatikanku terus?


Jika dipikir lagi, sejauh ini Cecil memang selalu bertarung secara terang-terangan. Namun sekarang dia mulai bersembunyi dan memancingku terlebih dulu. Itu bagus, Cecil mulai tak memaksakan diri dan memberi jarak pada musuh agar bisa memberi serangan dengan baik dari jauh.


Aku mengulas senyum. "Ya, lumayan."


Kemudian dia memalingkan wajah dan berkacak pinggang. "Kalau saja musuhnya tuh bukan kamu, aku mungkin bisa menang."


Kemudian mata merah muda mendelik padaku lagi. "Kamu tuh kuat banget dan kayak hewan liar, menyerang membabi buta macam enggak takut mati."


Aku sedikit menggaruk pipi. Bagaimana tak takut mati ... aku memang tidak bisa mati.


"Tapi serius badan kamu enggak apa-apa? Itu menancap loh." Mendadak kemeja hitamku terangkat---astaga! Cecil!


"Cil, tak sopan asal membuka baju orang lain!" Dengan panik dan malu-malu aku menahan baju dan sedikit mendorong kepala Cecil.


"Halah, aku khawatir tahu! Ya sudahlah." Dia langsung membuang muka dan menyentakkan kaki menjauhiku. Tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti, berbalik pun ia menatapku datar. "Akhirnya kamu kasih tahu kami nama aslimu."


Seketika langkahku tersentak lantaran terkejut hingga kedua mata tersibak. "Nama?"


"Itu, Red Sirius. Mana ada orang punya nama kayak REDstar? Memangnya kamu A.I. macam EVE?"


Aku sempat terdiam selama beberapa menit dan berakhir mengembuskan napas panjang. Kalimat itu mengundang senyum pada wajah sampai-sampai mata jelaga ikut terpejam. "Ya, saya juga suka nama itu."


Semburat merah terlihat jelas di pipi, Cecil kembali melangkah dan aku mengikuti di belakang. Mendadak ia melihat ke arahku lagi dan sedikit berlari kecil demi menghampiri. Sebenarnya gadis ini ingin berjalan mendahuluiku atau tidak ....


"Omong-omong kenapa baru sekarang pakai pedang? Dari awal Swordmaster kamu SS 'kan? Gara-gara kode etik Departemen Disiplin diangkat ya jadi menggunakan senjata pamungkas?" tanyanya dengan kepala sedikit ia dampilkan ke lenganku.


Aku menyentuh tengkuk dengan canggung. "Y-ya, bisa dibilang ...?"


Cecil menggembungkan pipi dan memalingkan wajah pun melangkah cepat. Ah, tingkahnya benar-benar lugu, pantas saja Daniel menyukai dia. "Kamu tuh, kalau ditanya enggak jelas jawabannya!"


Tak mungkin aku mengatakan trauma terhadap pedang bukan?


"Satu lagi." Kini Cecil balik berjalan ke sampingku lagi dengan mata merah muda menatap dalam-dalam. "Jadi orang jangan kaku! Coba kalau bicara jangan pakai 'saya' tapi 'aku' biar enggak terlalu formal."


"Iya, saya usahakan."


"Aku!" bentak Cecil dengan meninju tanganku.


Aku mengerang kecil. "I-iya, aku usahakan."


Kali ini dia melipat kedua tangan depan dada, mengangguk bangga dan menyegerakan langkah menaiki tangga ke ruang khusus. Mungkin benar apa yang orang-orang katakan, gadis mungil itu ... judes? Meskipun begitu, dia sangat perhatian terhadap orang lain.


Mungkin sifat kasarnya tertular karena Daniel? Terbilang ketua kami kerap kali memaksa dan menyeretnya sesuka hati. Kadang aku merasa kasihan pada Cecil tapi satu sisi, mereka terlihat akrab dengan satu sama lain.


"Setelah ini Crist melawan Fate," gumamku dengan menutup mulut menggunakan tangan kanan. Sebelumnya, aku perlu melawan member biasa.