When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Acara Penutupan



Setelah berhari-hari para staf menahanku di rumah sakit, akhirnya surat bebas rawat dikeluarkan tepat pada acara penutupan sparing.


Sebenarnya aku lebih memilih menghabiskan waktu sendirian atau tidur seharian daripada mengikuti acara. Sangat tak terbayang akan seramai apa nanti. Vaughan menyediakan acara perayaan seperti ini agar para penghuni bisa bersenang-senang setelah dua minggu penuh mengurus sparing. Memang Head Master Lucian memiliki cara sendiri untuk menghibur anggotanya.


Aku mengembuskan napas panjang, terlebih sekarang Daniel dan Crist tak lepas dari sisiku seolah-olah tahu aku bisa kabur kapan saja.


"Matamu lihat-lihat ke mana, ha?! Kau jangan lewatin acara penutupan kayak kemarin-kemarin. Aku rela nih lepas dari Cecil demi jagain kamu." Daniel mulai melipat dua tangan ke belakang kepala. "Aku khawatir tahu."


Suara tawa Crist mendadak pecah, spontan menarik perhatian kami padanya. "Bilang saja karena Cecil lebih tertarik dengan Fate, kamu jadi semakin susah mendekatinya."


Wajah Daniel langsung memerah dan memalingkan muka berlawanan dari kami. "Y-ya, itu, tapi aku memang khawatir sama Red."


Kini dua tangannya melemas pun kembali ke samping badan. Dengan suara pelan pula ia berkata, "Baru sekarang lihat Red kayak begitu."


Seketika sepi memenuhi tempat, hanya derap langkah bergema ketika kami menyisir lorong menuju halaman samping akademi di mana acara akan berlangsung. Ah, kenapa mendadak terasa canggung? Aku langsung menoleh ke kiri, Crist memegang dagunya dengan tangan yang melipat--seperti orang berpikir.


Memikirkan apa di keadaan seperti ini?


Akhirnya menoleh ke kanan---he, Daniel juga? Kedua tangan si pirang dalam saku celana, ia menunduk dengan wajah serius sampai dahi berkerut.


"Umm, maaf membuat kalian khawatir," ucapku gugup, berusaha memecah sunyi.


Ah! Mendadak Daniel merangkulku dengan satu tangan, memaksaku sedikit membungkuk. "Gantinya temani kami nikmatin acara ini! Kalau enggak aku menangis nih ...."


Apa iya Daniel akan menangis? Aku memandangnya dengan penuh rasa heran tetapi ia justru menyengir kuda. "Kamu tahu enggak? Mereka buka kios-kios kecil gitukan, nah ada yang jual es serut itu enak banget, harus coba!"


"Ah, i-iya ... baiklah."


Mendengar jawaban tersebut Daniel pun melepasku dengan gelagat bangga, bahkan sampai menepuk-nepuk punggungku. Astaga, dia memang selalu bersemangat. Aku memilih memandang Crist, dia masih saja terkekeh hingga mata biru terpejam.


"Ya, lebih baik kamu mengikuti acaranya kali ini. Kudengar nanti malam akan ada kejutan."


Mendadak Daniel mencondongkan badan ke arah Crist, aku sedikit terkejut karena ia tepat di depanku sekarang. "Heh, kejutan apa?"


Yang dituju hanya menyeringai dan menaikkan kedua pundak. "Jika aku beri tahu, bukan kejutan lagikan?"


"Heh, gitu, tahu banyak tapi licik," celetuk si pirang dengan menyandarkan tangan ke pundakku---ah, apa aku hanya terlihat seperti properti?


Akhirnya langkah kami berhenti, tepat di depan halaman samping akademi yang ... ramai. Banyak orang berlalu lalang dan toko-toko kecil memenuhi pinggir jalan setapak. Halaman ini memang cocok untuk membuka kios. Terlebih banyak bangku besi menghiasi.


Mata Daniel langsung berbinar, dengan penuh semangat ia menarik aku dan Crist bersamaan.


Sebenarnya mengikuti perayaan seperti ini tidak buruk juga. Banyak sekali yang disuguhkan. Mulai dari makanan; minuman; aksesori, yang pasti itu semua dari perkumpulan hobi. Terlihat jelas salah satu kios memamerkan poster pemandangan dan lembaran foto, aku yakin mereka perkumpulan fotografis.


Ah, akhirnya tautan tangan Daniel terlepas, aku pun melihat-lihat sekitar. Walau sudah lama tinggal di Vaughan, ini kali pertamaku mengikuti acara. Sedikit merasa asing dan tak biasa sampai-sampai mata jelaga membidik ke sana kemari; mencoba menelaah sekitar.


Jauh di depan sana ada panggung yang sangat besar sampai memenuhi ujung halaman. Terlihat seperti panggung yang biasa aku saksikan di televisi untuk konser lapangan. Tunggu, apa memang akan ada konser? Apa kejutan nanti malam----


"Huaa!" Mendadak aku terkejut sampai refleks terkesiap dengan menyentuh muka sebelah kiri lantaran dingin menusuk pipi. Ha-ah, rasa beku benar-benar lekat seperti terkena bongkah es---eh? Memang es, lebih tepatnya es serut.


"Kenapa? Penasaran dengan panggung itu?" tanya Crist dengan senyum santai dan menyodorkan satu mangkuk kertas berisi es serut dengan sirup ... heem, mungkin stroberi? Tangan lainnya juga memegang es serut.


Aku melihat bergantian antara Crist dan es itu, membuat si pemuda mengangguk kecil atas senyum yang masih setia. "Ambillah, aku belikan untukmu."


Dalam rasa tersipu aku menerimanya. "Umm, terima kasih, Crist."


Ha-ah, kenapa orang-orang senang menggeretku ....


"Heh, tungguin! Enak saja main pergi!" Dengan terburu-buru Daniel mengejar kami, ikut duduk pada salah satu bangku taman yang kosong di bawah pohon rindang nan kukuh.


Rasa es ini tidak buruk. Berbeda dengan es krim yang memiliki tekstur lembut, ini keras namun meleleh di lidah. Jika dipikir kembali, Crist memang senang menolong dan membantuku sejak awal tiba di Vaughan. Meski tak terlalu dekat karena selalu sibuk dengan misi dan membantu anggota lain, tapi memang ... dia berbeda.


"Heem? Kenapa Red? Oh, soal panggung itu?" Ah, Crist sadar aku perhatikan dan langsung berbicara dengan senyum ringannya. "Jam dua siang akan ada sambutan dan upacara penutupan untuk peringkat tiga besar, seperti biasa."


Sebenarnya bukan itu yang aku pikirkan, namun tetap mengangguk terhadap penjelasannya.


"Fate peringkat dua, dia pasti akan berdiri di panggung."


"Heee, begitukah?"


"Ya, sebentar lagi, setelah istirahat makan siang ... oh, satu setengah jam lagi," jelasnya setelah melihat jam di tangan.


"Haaah, siang bolong makan es memang paling mantap---ow, ow! Duh, beku!"


Tiba-tiba Daniel berteriak. Sepertinya karena kami terlalu sibuk sendiri sehingga mulai mencari perhatian. Itu bukan kali pertama ia sebegini heboh.


Crist tertawa melihat tingkahnya dan menasihati untuk jangan memakan es secara terburu-buru. Aku menutup mulut dengan tangan kanan ... saat makan es tiba-tiba merasakan sengatan dingin singkat di bagian kepala---ah, ya, terkena Brain Freeze! Aku turut terkekeh. Rasanya sudah lama tak menghabiskan waktu bertiga seperti ini karena tugas dan misi masing-masing.


Terasa menyenangkan.


Kami berkeliling dan menikmati segala hal yang disuguhkan. Lagi-lagi, Crist selalu memberikanku berbagai macam makanan. Entah kenapa, terasa Crist dan Fate hampir sama. Aku tak henti menghembuskan napas panjang.


Sampai tiba waktu yang telah ditentukan, suara EVE menggema melalui Heart Core lantaran memberikan pengumuman berkumpul depan panggung nan luasnya. Ramai-ramai manusia memenuhi halaman, meski aku yakin tak semua penghuni datang--karena dulu aku tidak pernah mengikuti acara seperti ini.


Ah, Head Master Lucian melakukan pembukaan. Aksennya yang terdengar tegas dan berwibawa memenuhi seluruh penjuru. Beliau melakukan pidato penegasan mengenai tugas, visi, misi kita menjadi anggota Vaughan; serta sambutan pada peringkat tiga besar. Pertama adalah Lux Fedrian, ke dua Fate, dan yang terakhir merupakan anggota Departemen Disiplin ... Theo Lanctern.


Tak lama layar holografi yang sangat besar muncul di belakang panggung, menampilkan daftar peringkat sepuluh besar. Kini rata-rata dipenuhi oleh Disiplinaria---sebentar ....


Crist peringkat delapan? Ah, dia maju dengan sangat pesat dan aku---heee, masuk peringkat juga? Meskipun turun dari tujuh menjadi sembilan namun kejadian waktu itu ... tak kusangka bisa menduduki peringkan sepuluh besar. Mungkinkah ini yang mereka sebut penilaian berdasarkan keseluruhan data, tak hanya hasil dari sparing?


Akhirnya tiba sambutan pribadi dari masing-masing murid peringkat tiga besar. Dimulai dari Lux---eh? Kenapa dia merangkul Fate? Bahkan mata emas tersebut menatap bangga ke seluruh orang yang ada di bawah panggung.


Dengan besar diri ia mengambil mik di depan dan berlisan lantang, "Nanti malam kami akan memberikan kalian kejutan, pastikan hadir ya!"


Inikah kejutan yang Crist sebutkan? Kenapa justru rasa tak suka memenuhi relung dada? Namun, ada satu hal yang benar-benar aku gusarkan ... ekspresi gadis yang tak lepas-lepas dari tangannya, Fate, mengukir wajah masam. Aku ingat dia mudah merasa lelah, apa Lux memikirkan hal tersebut?


"Mungkinkah Senior Lux akan menyatakan cintanya pada Fate?"


"Haa, yang benar?! Tapi memang sih cocok satu sama lain, terus sama-sama Disiplinaria!"


"Ahahahaha, benar banget! Aku dukung deh kalau mereka jadian!"


Ha-ah, sekarang berakhir ramai sampai banyak murid bersahut-sahutan membuat telingaku panas, terlebih dalam dada. Aku memutuskan untuk undur diri tetapi terasa ada yang menarik tanganku.


"Eh, Red, mau kemana? Temani aku di sini! Sudah janjikan?"


Tanpa menoleh ke belakang, aku menyentak tangan agar terlepas dari tautan Daniel dan berkata, "Istirahat sebentar."


Aku pun meninggalkan acara penutupan.