When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Suatu Pilihan



Mata jelaga menatap sendu pada bulan yang begitu putih lagi indah ditemani ratusan kerlip jenaka para gemintang. Setiap melihat langit malam, selalu saja membuatku teringat akan janji kecil kami.


...'Orihime dan Hikiboshi akan selalu bersama ....'...


... Dalam rasi bintang Lyra.


Aku tahu itu hanya angan kosong; sebuah janji palsu karena bagaimanapun, ia tak akan kembali; tak bisa kembali. Namun, tetap saja aku masih berharap dan berakhir terlena dengan cahaya malam.


"Seperti bintang dalam kelam." Spontan aku menoleh pada suara mendayu-dayu yang berucap demikian. "Aku harap suatu saat kau bisa bersinar dengan sendirinya layaknya bintang-bintang di langit. Dan mungkin pada saatnya, kau bisa membimbing ... menuntun orang-orang yang tersesat."


Dan rambutnya sedikit tertiup angin atas jemari lentik menyisipkan beberapa helai perak ke belakang telinga.


Menyadari tatapanku, dia langsung menoleh. Berkat sorot cahaya, mata itu tampak bersinar bak raja malam. "Seperti nama yang pertama kamu kenali, REDstar."


Langsung aku terkekeh lantaran setelah sekian lama, Fate orang pertama memanggilku lagi degan nama yang aku benci; masih ingat pada nama yang aku ingin kubur. Meski tahu dan paham betul setiap ucapannya sungguh-sungguh, bahkan kalimat awal saat pertama kita bertemu yang aku ragukan menjadi sangat jelas, tetap saja satu ini ... membuatku geli.


"Bercanda."


"Nama adalah doa. Aku yakin mereka memberikanmu panggilan itu, bukan tanpa sebab."


Tatapan senduku berubah semakin sayu melihat bibir tipisnya berucap demikian. "Setiap sesuatu terjadi karena ada sebab?"


Dan dia mengangguk, memancingku mengeluarkan senyum masam dan mencengkeram sisi atas pagar balkoni. Aku pun memalingkan muka dan menunduk, melihat keramaian orang di bawah sana--taman belakang mansion. Ah, ada Daniel dan Cecil.


Mereka seperti sedang bertengkar kecil, tampak serasi. Mungkin rasanya tenteram jika tak mempunyai banyak hal yang menganggu pikiran, sepertiku. Membayangkan bagaimana bisa aku menuntun orang lain, ketika aku sendiri berantakan seperti ini? Entah itu untuk menghiburku atau apa. Namun, terkesan sangat berlebihan.


Lantas aku memutuskan untuk mengalihkan topik. "Fate, kamu sempat katakan baru sekarang bertemu immortal sepertiku, berarti dulu pernah bertemu immortal yang lain juga? Kalau iya, siapa?"


Si gadis terdiam sesaat sebelum menjawab, "Ya, pernah. Ia adalah leluhur dari pihak ayahku."


Ah, begitukah? Tapi apa yang membuatnya abadi? Mungkin membuat diri sendiri immortal dengan sihir? Terbilang dunia asal Fate memiliki sangat banyak kekuatan elemen. "Apa ia orang yang baik?"


"Di mata dunia, ia tidak baik. Di mata orang-orang tertentu, ia hanyalah seseorang yang menginginkan orang yang ia cintai kembali."


Refleks sebelah mataku berkedut mendengarnya karena ada gejolak yang menusuk dalam relung dada. Membuatku spontan melipat dua tangan atas pagar balkoni dan menyandarkan kepala di sana, lalu melihat langit yang begitu tenang.


Sebab ... menyedihkan, itu yang terbesit dalam kepala.


Aku mengambil kesimpulan, ia memilih menjadi abadi karena berusaha membangkitkan kembali orang terkasihnya. Sungguh itu sia-sia karena sekuat apa pun, yang sudah tiada tak akan kembali. Tidak bisa kembali. Aku mulai membenamkan kepala pada lengan.


Tapi kalau aku menjadi ia, mungkin akan melakukan hal yang sama.


"Kalau begitu apa yang membuatku berbeda?" Kalimat itu serta merta keluar dari bibir. Aku juga sedikit memiringkan kepala, menatap samar pada gadis atas wajah datarnya. "Apa yang membuatku berbeda dengan para immortal yang pernah kamu temui?"


Mendadak Fate menoleh ke depan. Mata perak samar biru terpejam, seperti menikmati dinginnya angin yang menerpa kulit pualam. "Terbungkus kegelapan, dengan setitik cahaya. Tapi perlahan, kegelapan mulai menghilang. Dan auramu mulai terasa normal."


Mungkin sampai titik ini, aku yang kalah dengannya ... semakin tenggelam dan sirna karena Fate begitu bercahaya. Entahlah, aku tak merasakan suatu perubahan berarti dalam tubuh kecuali rambut hitam menjadi merah.


Ah, ya, dan rasa sakit di tubuh semakin jelas terasa. Barang kali nanti, memang aku yang akan mati---Tuhan, aku kembali memikirkan perkara hitam putih itu lagi. Akhirnya berusaha telan mentah-mentah kekhawatiranku dengan menggeleng kecil.


Tak lama, aku bertanya, "Apa pendapatmu ... mengenai keabadian?"


Dia menunduk beberapa saat, sampai menatapku dalam-dalam. "Menurutku, keabadian tidak seharusnya ada untuk manusia. Karena itu hanya akan membuat masalah. Akan lebih baik tidak ada yang abadi, karena keseimbangan dunia terganggu berkat keabadian."


"Kenapa?"


"Karena siklus kehidupan terganggu. Tak seharusnya manusia terus hidup, mereka juga perlu beristirahat. Generasi baru datang menggantikan yang lama. Hidup dan mati, selalu berdampingan."


"Dan leluhurmu itu telah meninggal?" tanyaku tiba-tiba, mengerti betul apa maksud yang dia ucapkan.


"Iya. Pada akhirnya, ia kembali pada penciptanya."


"Kau tahu ... kukira aku dan ia abadi. Tapi ia tetap saja mati, di tanganku. Kupikir, mungkin ia sebenarnya tidak abadi, hanya memiliki kekuatan atas waktu yang sangat besar hingga tidak menua. Atau karena aku abadi, ia bisa mati di tangan orang yang abadi pula. Jika bisa membaca masa depan dengan sihirnya ... kenapa, ia tidak membunuhku lebih dulu?"


Fate menghela napasnya singkat. "Karena tidak mungkin mampu membunuh orang yang ia cintai. Kemungkinan besar ketika membaca masa depan, ia akan lari darimu atau akan berusaha mengganti masa depan itu."


"Tapi aku bisa," timpalku cepat diiringi dengan kekehan, juga mencengkeram pagar balkoni kuat-kuat hingga buku jari memucat dalam dingin merambat.


Iya, aku bisa ... membunuhnya.


Mau dikendalikan atau tidak, tetap saja aku pelakunya. Heh. Aku langsung membuang muka dan menunduk dalam-dalam. Perih sekali mengucapkan kalimat sesingkat itu, membuat napasku memburu dan tangan bergetar ringan---astaga, lebih tepatnya sakit tak terkira hingga jantung rasanya berdenyut. Mati-matian aku menahan air mata yang memaksa untuk diluncurkan.


Terlebih, yang Fate katakan itu benar. Ia lari dariku, ketika kesadaranku perlahan menghilang; saat malaikat itu kembali menghampiri, daripada membunuhku yang sedang tidak berdaya ... ia justru berlari. Lalu ia sadar dan merasa menyesal katanya, berakhir pasrah tertikam olehku.


Padahal lari saja yang jauh, kenapa kembali? Pergi saja, mengapa memedulikan makhluk hina sepertiku? Aku tidak mengerti jalan pikirnya. Sebegitu sayangkah padaku ... berakhir menerima, begitu saja?


"Seandainya kau bisa memilih untuk tidak abadi, bagaimana?"


"Huh?"


"Seandainya kau bisa memilih untuk melepas keabadianmu atau tetap memilikinya, apa yang kau pilih?" ulangnya seakan menanyakan hal yang serius.


Aku menoleh untuk menatap Fate dalam pandangan lesu. Ekspresi itu sedikit tidak aku pahami. Dan soal memilih ... itu bukan pilihan yang gampang. Aku justru bingung harus menjawab apa.


Satu sisi, aku memang menginginkannya. Sudah terlalu lelah dengan kehidupanku sendiri tapi tak suka dengan ketidakpastian. Apa lagi masih ingin menikmati kehangatan ini, juga memikirkan orang-orang yang peduli denganku.


Rasa ditinggal pergi, begitu menyiksa. Aku sendiri juga tidak tahan. Rasanya tak mau ada yang bersedih akan kepergianku ....


"Entahlah," ucapku seadanya, "kamu sendiri, jika mendapat pilihan untuk menjadi abadi atau tidak, apa yang kamu pilih?"


"Tidak abadi," jawabnya tanpa jeda dalam pandangan melihat lurus ke depan, "aku tidak mau melupakan memori yang aku miliki. Mungkin aku akan berusaha mengingatnya kembali, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Lagi pula, aku tak mau dilupakan. Hidup manusia yang singkat ... membuat suatu kenangan menjadi begitu berharga."


Aku selalu kagum dengan ketegasan dan keteguhan hatinya. Sayang, aku tak sekuat itu. "Mungkin aku, akan tetap seperti ini."


"Apa kau yakin akan pilihanmu?"


Aku bergumam, lalu melihat tanganku yang tak mau lepas mencengkeram pagar. "Iya. Sepertinya, menjadi immortal tidak buruk juga."


Aku memaksakan diri untuk terkekeh. "Dengan keabadianku, bisa meminimalkan kejadian terburuk ... menjadi pelindung, karena tak akan mati. Ah, ya, aku akan berusaha untuk tidak begitu ceroboh. Lagi pula sudah menerima diriku sendiri, apa adanya."


"Dan kehilangan seseorang itu sangat menyiksa bukan?" lanjutku dalam senyuman nan redup. "Aku tak mau ada yang bersedih karenaku. Biar aku membawa memori ini, sampai diriku sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah."


"Dimengerti, pilihan sudah ditetapkan. Pemurnian berhenti pada sembilan puluh sembilan persen."


Eh?


Spontan aku menoleh pada Fate karena nada bicaranya berbeda, mirip EVE; seperti robot. Namun, wajahnya tertutup temaram, hanya binar mata perak kebiruan nan tajam bisa kulihat.


Kemudian si gadis berjalan tegas meninggalkan balkoni luar, sebelum itu dia berkata, "Akan ada bayaran atas pilihanmu."


"Aku tahu. Aku sadar hidup selamanya itu tak mudah apa lagi sering terguncang, dan sudah siap atas segala konsekuensi. Aku akan menyiapkan diri."


Langkah kaki terhenti, tepat di perbatasan gulita malam dan kemeriahan acara. Sebab itu pula, aku dapat melihat ... berbeda, ekspresinya sangat menusuk. Pertama kali aku melihat Fate seperti ini, ditambah telunjuk kirinya menuding tepat ke arahku dalam senyuman dingin yang tidak pernah kulihat sebelumnya, membuatku beku di tempat.


"Bukan kau yang akan membayarnya."


"Maksudnya? Tunggu---ah, Fate!"


Aku mencoba mengejar, tetapi dia ... sudah hilang di tengah keramaian, sebelum aku berhasil mendengar apa maksud ucapannya.