
Di dalam begitu ... mengherankan.
Sangat berbeda dari portal dimensi yang sering aku temui sampai-sampai Daniel dan Crist ikut terkejut.
Perihalnya, ini seperti---
"Kasino," ucap Crist yang wajahnya mulai serius.
Di sini berbeda jauh dari gua sebelumnya.
Tetesan air dari jas jubahku masih tersisa dan menciptakan genangan di atas lantai kartu bertumpuk-tumpuk yang melayang di ruang kosong. Beberapa koin chip pun terlihat beterbangan di sekitar.
Aku menoleh ke belakang dan benar saja, pintu masuk tertutup oleh tembok warna-warni neon yang bersinar.
Jika portal tertutup setelah dimasuki, berarti ini dimensi satu arah dan dapat dibuka kembali setelah mengalahkan pemiliknya.
Kupikir ide membuat dua tim seperti ini sangat bagus. Jika semua masuk dan ternyata pemiliknya di luar, orang yang berada di dalam portal akan terjebak.
Sekarang, tim kami hanya perlu mengumpulkan informasi dan melaporkannya.
Aku memutuskan menjadi yang pertama mengambil langkah. Setidaknya jika terjadi sesuatu, aku tidak akan mati.
Aku melangkah satu demi satu melewati beberapa kartu yang melayang. Jujur, lantai kartu ini lebih kuat dari yang terliha---
"Hati-hati!"
Bam!
Suatu ledakan terpicu.
Kartu tersebut meledak hingga menghasilkan pompaan angin yang mengembuskan pakaian hitamku, begitu pula menghuyungkan tubuhku.
Aku ... hampir terpental, tetapi cepat menitikkan berat ke kaki yang sudah menjejak kuat.
Ah. Jika aku tidak gesit menumpu kekuatan mungkin sudah jatuh ke dasar jurang tak berujung itu.
Kulihat kartu tersebut masih melayang stabil, mungkin hanya meledak sesaat demi menjatuhkan siapa saja yang berjalan di atasnya.
"Red, perhatikan kartu AS itu. Dia berwarna hitam dan ketika kamu menginjaknya, kartu itu sudah berubah menjadi merah. Sepertinya kartu yang berwarna merah akan meledak jika diinjak. Kartu-kartu ini ... mereka beriringan berganti warna," tegas Crist.
Sejak berteriak memintaku hati-hati, tampaknya dia mulai meneliti sekitar.
"Berarti kita cuma bisa lewati kartu yang hitam nih?" tanya Daniel.
"Ya. Jangan injak ketika kartu itu berubah logo Hati dan Diamond."
Mereka berdua mengangguk sekali ketika saling bertatapan dan kembali melihat ke arahku, seolah-olah memberikan isyarat untuk lanjut menelusuri ruang dimensi ini.
Kami pun mulai berjalan dan mengelak dari kartu-kartu merah.
Berlari; meniti langkah; kembali melompat, gerakanku kian lincah saat semakin dalam memasuki ruang dimensi.
Kami melonjak hingga pada akhirnya terpaksa melakukan percepatan akselerasi, karena pergantian kartu hitam menjadi merah bertambah cepat.
Kami terus berlari dalam percepatan hingga seluruh lantai kartu di depan sepenuhnya berwarna merah---
"Lompat!" teriak Daniel menjadi aba-aba untuk kami.
Kemudian aku melakukan gerakan guling depan sebagai tumpuan mengerem dan berakhir mendarat mulus dengan kuda-kuda jongkok.
Kami sampai di suatu piringan raksasa dengan banyak angka di atasnya. Lantai-lantai kartu melayang dan bertebaran di sekitar piringan tersebut.
Bisa kudengar Daniel berdecak kesal. Halnya, memang terasa kami seperti dipermainkan.
Terlebih, sekarang banyak musuh di hadapan.
Gesit kami menyiapkan senjata, begitu pula Crist dengan pisau ganda berantainya.
Kami melompat demi menyebar dari satu sama lain dan aku melempar Floating Hourglass.
"Phase Bomb!"
Suatu ledakan terpicu sebab senjataku, menghempaskan hibrida yang beterbangan di angkasa.
Di satu sisi Daniel menembaki musuh-musuh tepat di kepala, membuat mereka mati terkapar dan berjatuhan. Ditembak juga ke sisa-sisa hibrida yang sempat kabur dari ledakan senjataku.
Selang beberapa detik kemudian mereka tampak tak bergerak karena Crist sudah menguncinya menggunakan rantai di senjata, ketika salah satu pisau dilempar dalam pola zig-zag.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku merentangkan tangan hingga banyak lingkaran sihir hitam kecil bermunculan.
"Ice Lance!"
Balok-balok es tajam menghunjam ke setiap raga hibrida.
Beberapa dari mereka berhasil mengelak dan kabur dari jeratan rantai milik Crist, tetapi Daniel langsung menembakkan peluru energi ke musuh yang beterbangan.
Sedangkan Crist menyipitkan mata dan menarik kembali rantai yang masih melilit di kumpulan musuh, menyayat mereka tanpa ampun hingga percikan darah memercik ke seluruh penjuru tempat.
Para hibrida semakin berdatangan. Ramai. Padahal kami sudah banyak membunuh mereka.
Kusimpulkan itu adalah kumpulan Pawn dan beberapa Knight sebab hanya sedikit dari mereka sulit dibunuh. Knight lebih pintar daripada Pawn.
Tiba-tiba bola api raksasa meluncur ke arah piringan tempat kami berdiri.
Aku mengelak, begitu pula yang lain.
Daniel kembali menembak tanpa ampun. Dia lakukan itu berkali-kali dengan sangat cepat; tanpa berkedip; tanpa gerakan sia-sia.
Namun, gagal.
Musuh terus menghindar dari berbagai serangan bahkan menjadikan beberapa Pawn yang terbang di sekitarnya suatu tameng daging.
Perihalnya satu sosok yang muncul memaksa kami untuk semakin serius. Sayap merah kehitaman yang besar dengan badan peralihan naga dan manusia, kelas Elite.
"Hah! Tak disangka ada manusia datang ke kuburannya sendiri," sindir Elite yang kembali membuka mulut lebar-lebar seumpama berusaha mengumpulkan energi.
Di saat bersamaan beberapa Pawn dan Knight terbang demi menghadang kami agar tidak bisa menghindar.
Tanpa memakan waktu aku melempar senjata. Kebulan asap dan ledakan kembali terpicu, tetapi beberapa hibrida masih bebas melesat.
Crist tertegun karena musuh lebih banyak dari yang kami perkirakan.
"Kita memerlukan Swordmaster."
Bam!
Ledakan bola api menggelegar, refleks aku melempar raga dan berguling.
Hampir saja ... akan tetapi hawa panas sedikit membakar jas jubah hitamku.
Sedangkan Daniel sudah mendarat di kartu yang melayang di atas sana.
Namun, tidak untuk Crist yang telat menghindar sehingga kaki sedikit terbakar. Dia meringis kesakitan terlebih wajah masih menampakkan kebencian.
Apa karena ... kami tidak ada Class dengan pertahanan terkuat?
Kawanan Pawn dan Knight semakin dekat ke piringan tempat kami berpijak. Sontak aku meraih Crist dan menggendongnya menjauhi tempat tersebut.
Kakiku mulai bergerak gesit melangkahi tiap kartu yang melayang stabil sebagai tumpuan untuk berlari.
Sulit; sedikit susah untuk bergerak, karena harus melihat kartu mana tidak berwarna merah terlebih membawa Crist.
Hingga terasa kami sudah cukup jauh, aku berhenti sebentar di salah satu lantai kartu demi mengatur napas.
Tampak Daniel menyusul kami.
"Red, Swordmaster-mu Grade SS 'kan?! Ambil pedang dan tahan mereka agar aku bisa fokus menembak!"
Tetapi aku ... tidak mau, memegang pedang.
Jika aku mengambil pedang lagi dan membunuh, itu---ah, wajah-wajah manusia yang tampak tanpa kehidupan tak henti menatapku ketika aku terus menebas.
Ingatan mengerikan itu terus menghantuiku.
Aku tidak bisa.
'Dasar lemah.'
Aku terkejut.
Seketika lantai kartu meledak dan bola api menghanguskannya.
Aku kembali mengelak; melompati kartu lain yang melayang satu demi satu ketika kumpulan hibrida tak henti melesat ke arah kami.
Aku bergerak cepat, bahkan bisa kurasakan helai rambutku tertiup kasar dengan suara angin terdengar seperti menyat telinga.
Namun, aku terkejut bukan karena hal tersebut, melainkan ... mendengar bisikan. Itu bukan Metatron. Apakah---
"Red, masuk ruang itu dan kita pikirkan taktik untuk menjatuhkan mereka!" seru Crist yang menyadarkanku, telunjuknya tepat menuju ke salah satu pintu yang terbuka lebar.
Aku bergegas melaju dan Daniel mengikuti di belakang.
Setelah memasuki ruangan, aku menurunkan Crist dan cepat menutup dua daun pintu raksasa ketika Daniel sudah melesat masuk.
Sesaat; meski hanya sekilas, ketika ingin menutup pintu kulihat ada Elite lainnya berdatangan diikuti banyak hibrida berkumpul.
Tunggu, ada lebih dari dua Elite?
Dan mereka berhenti mengejar ketika kami memasuki ruang ini.
Satu portal dimensi hanya bisa dikendalikan oleh satu pemilik, kecuali---
"Ack, sebenarnya---akh!" keluh Crist dalam rasa sakit.
Kakinya terbakar sempurna hingga kulit berubah ungu karena pembuluh darahnya pecah.
Aku bergegas mendekap kedua tangan, membiarkan lingkaran sihir hitam hadir di bawah kami sampai bulir-bulir putih bagai kunang-kunang muncul. Beacon of Light.
Luka di tubuh Crist terangkat. Kini dia menyandarkan badan ke pintu yang tertutup rapat.
Meski sudah tidak ada lagi cedera parah, wajah Crist belum menunjukkan suatu kelegaan bahkan keringatnya mengalir deras.
Dia memejamkan mata dan memegang kepala. "Hubungan kita dengan luar terputus."
"Apaan? Terputus?!" celetuk Daniel yang kini mencengkeram kedua kerah baju Crist.
Crist tidak melawan, dia menatap kosong ke laki-laki pirang di depannya.
"Ada yang mengganggu sinyal."
"Kerjamu enggak becu---"
"Wah, wah. Tidak disangka manusia hina yang saling menyalahkan seperti ini bisa menjatuhkan Raja Agung."
Seketika perhatian kami tertuju kepada sosok yang perlahan muncul dari balik bayangan.
Reptil bersisik ungu setinggi satu setengah meter dengan kedua sayap lebar bagaikan kupu-kupu.
Hingga langkahnya makin dekat kepada kami, wujud pun berubah menjadi gadis kecil mengenakan gaun warna cerah serupa pelangi. Suara kasak-kusuk dari rambut ungunya yang panjang hingga menyapu lantai sedikit mengusik telinga.
Dia tersenyum dengan tingkah sok manis sampai mata merah itu membentuk garis.
"General," bisikku kepada diri sendiri.
Itu menjelaskan segala keanehan ini.
Pintu portal sangat besar; ruang dimensi yang kuat; sinyal kami terputus; kekuatan tidak terbaca, tetapi lemah ... sebab dia bisa menekan keberadaannya sendiri menggunakan energi sihir yang besar. Terlebih memiliki banyak bawahan dan Elite.
Semua itu, karena musuh adalah sosok naga yang belum terdata dalam database EVE.
"Ada satu, dua, eeemm ... tiiiga? Ekor manusia. Selamat datang, kakak-kakak pengguna dragonic menyebalkan!"