
Tunggu, apa ... bagaimana bisa?
Oh, aku ingat! Profesor Kaidan pernah mengatakan orang yang memiliki kekuatan dragonic juga bisa meminta izin pada alam untuk mengendalikan mereka, misalnya kekuatan angin. Itu semua natural alam yang memberikan intensitasnya, seperti beliau itu sendiri ... memiliki kemampuan angin tetapi jarang digunakan karena sulit untuk mengendalikannya.
Tunggu, apa kecelakaan yang membuat guru waliku kehilangan keluarga di masa lalu karena lepasnya kekuatan dragonic beriringan dengan elemen angin?
Aku sampai lupa sebenarnya mereka bisa melakukan hal tersebut karena rata-rata individu hanya bergantung pada dragonic dalam dirinya, disalurkan melalui Heart Core menjadi senjata mematikan. Namun, sosok pria di depanku---tidak, alam tak hanya mengizinkan dia menggunakan kekuatannya beriringan saat mengeluarkan skill ketika menyerang, karena sekarang Lucian ... berdiri dengan tenang di atas angin seakan alam membiarkan beliau menggenggam dan mengendalikan kekuatan alamiahnya.
Sebenarnya, seberapa luar biasa sosok Lucian itu?
Terlihat pedang Lux menancap jauh sedangkan pisau ganda milik Fate tergeletak di samping sang empu, yang artinya Class Executioner dan Swordmaster bisa kalah dengan mudah ... melawan Soul Dancer? Bahkan baju milik Lucian masih utuh tanpa goresan atau debu barang secuil. Sepertinya desas-desus mengenai beliau tak pernah memberi ampun walaupun sekadar latihan itu benar.
Perlahan sang Head Master turun dan menginjak tanah. Mata merah darah melirik tepat ke arah kumpulan kami, mengundang bibir kukuhnya mengukir suatu senyuman tak kumengerti.
Kemudian beliau mendekat dengan begitu pelan, suara ketuk langkahnya bergema seperti akan membawa pada pungkasan nyawa. Entah, mungkin berlebihan tetapi itu yang terasa dan refleks aku melangkah maju, menutupi dua temanku yang ada di belakang---
Tap!
Mendadak pundakku disentuh---ah, sejak kapan?! Head Master Lucian seketika sudah berdiri tepat di samping! Aku tak menduga kedatangannya, tak ada suara bahkan tekanan sedikit pun. Wajahnya tersenyum cerah tetapi saat itu juga aku membeku. Apa merasa ... takut?
Bukan, sosoknya tak memberikanku suatu ancaman tetapi aura begitu besar seperti berhadapan langsung dengan singa---tidak, lebih buruk daripada itu.
"Jadi, ada apa kalian ke sini?" tanya Lucian santai.
Berkali-kali aku menelan saliva di tenggorokan, benar-benar terkunci tetapi kulihat perhatian beliau tertuju pada Crist yang tampak gugup karena mata mereka saling terkunci. Ha-ah, bahkan tangan si pemuda ikut bergetar ketika menyerahkan map dokumen hitam. "Data yang waktu itu telah selesai kami arsip dan sudah melewati penilaian Departemen Dragonic, Tuan."
Aku tak salah dengar 'kan? Dia memanggil beliau tuan---hah, bertahanlah Crist! Maaf aku juga tak bisa berbuat apa-apa, bahkan Daniel tampak menciut.
"Kenapa kau memanggilku dengan 'tuan'? Aku hanya guru kalian, cukup panggil aku dengan 'pak'," tutur beliau dalam tawa ringan.
Dengan suatu senyum tengil, Head Master Lucian melepasku demi mengambil dokumen tersebut. Iris merah mulai menyisi tiap baris kata demi kata, tapi tangan kirinya merentang jauh menghadap pada Fate dan Lux yang masih belum sanggup bergerak dari posisi. Seketika lingkaran sihir biru muda muncul di bawah mereka, berpendar lembut dan menghasilkan bulir-bulir cahaya seperti kunang-kunang.
Tunggu, itu Recall Illumination! Sangat jarang digunakan karena memerlukan suatu ritual tarian untuk merapalnya. Namun, beliau ... hanya merentangkan tangan sambil membaca laporan, bahkan dari jarak sejauh ini? Sungguh?! Tetapi aku yakin itu skill healing penuh milik Soul Dancer, jelas terlihat dari ukir rumit dan corak lingkaran sihirnya.
Berkekuatan besar; kontrol menakjubkan; aura besar, memang sosok kepala Vaughan ini luar biasa. Yang kudengar beliau sudah sangat tua, sekitar enam puluh tahun. Namun, penampilan masih cakap bak pemuda awal tiga puluhan dan aku yakin kemampuan bertarungnya sudah sangat banyak dibandingkan denganku.
Menurutku, Lucian memang sosok yang pantas dikagumi. Mata jelaga tak lepas dari beliau setelah mengetahui Lux dan Fate baik-baik saja dan sudah berdiri dalam keadaan siap, seakan mereka tidak baru saja kelelahan menghadapinya.
Wajah sekilas tampak serius ketika membaca dokumen tersebut, tetapi berubah ringan---eh? Itu hanya perasaanku atau beliau mulai tersenyum jahat?
"Mungkin sudah saatnya." Mendadak bidikan mata merah darah tertuju padaku dalam suatu seringai yang kian melebar.
"Red, karena class utamamu Swordmaster, bagaimana jika berlatih di bawah pengawasanku? Yaaa, saatnya menilai cara bertarungmu, bukan?" ucap beliau santai dengan menutup kembali map dokumen, tetapi ... seketika kepalaku kosong.
Apa katanya tadi?
Tanpa kusadari, Lux dan Fate sudah berdiri di samping Lucian dengan menatapnya datar. Namun, seketika mata emas itu menatap penuh curiga dan dia berkata, "Oi, paman tua! Apa yang kau rencanakan?"
Sang Head Master langsung mengepal tangan kanan pun menjitak kepala Lux sampai meringis keras. Meskipun begitu, tersirat ada tanda sayang di sana. "Hanya karena kamu keponakanku, bukan berarti kamu bisa memanggilku seperti itu."
Keponakan? Aku langsung mengalihkan pandangan pada Daniel dan Crist tetapi keduanya sama-sama memiliki ekspresi terkejut. Berarti ... tak ada yang menyadari Lux merupakan keponakan Lucian, termasuk orang terbaik Departemen Konsultasi?
Sekarang Lucian dan Lux saling menatap kesal pada satu sama lain, sedangkan satu-satunya perempuan di sini hanya memangkat kedua bahu sambil menghela napas; seolah-olah ini hal biasa dan sering terjadi.
Selang beberapa menit rambut perak nan panjang sedikit berkebit ketika si gadis mengambil dokumen dalam genggaman tangan Lucian, dan yang mengherankan ... beliau membiarkannya. Mungkinkah Lucian benar-benar memercayai Fate?
Kini Fate membaca dokumen dengan cepat. Perlahan tangan kanannya naik pun jemari lentik sedikit menekuk di bawah dagu, seakan berpikir dan dia berkata sembari menoleh ke arah Lucian, "Begitu. Mengingat kondisi Mercy sekarang ... jadi kau ingin mengirim Dion, Lucian?"
Kondisi Mercy? Ada apa dengan salah satu club terkuat di Vaughan? Aku dan Daniel bertukar pandang tak mengerti, sedangkan Crist hanya mengeluarkan senyum tegang seperti mengerti akan sesuatu namun tidak bisa memberitahukannya. Entah kenapa ... mencurigakan? Terlebih sampai membuat club kami ikut terlibat. Aku harap semua baik-baik saja.
Lantaa Lucian memeluk si gadis dengan santainya. "Benar!" Kemudian lengan kukuh mulai mengusap pucuk kepala Fate. "Haaah, kau benar-benar terbaik! Tanpa perlu aku beri tahu, kamu sudah mengerti."
Fate memandang datar pada Lucian, tetapi terasa ada rasa sayang tersirat. Apa dia sudah melihat beliau sebagai sesosok ayah? Sungguh ini mengingatkanku pada Profesor Kaidan, suatu pandangan teduh---ah, bagaimana keadaan beliau sekarang? Apa perlu memberi tahunya bahwa aku bisa memasak? Aku mulai menutup mulut dengan tangan kanan.
Helaan napas yang panjang terubar. Memancing untuk menoleh dan kudapati Lucian masih setia dengan gelagat bangga pun senang memeluk si gadis, tetapi Fate melihat ke arah kami semua. "Lux, Red, Crist, hubungi wali kalian dan bilang kepada mereka untuk ke Mansion Lucian, sekarang."
Lalu mata bak bulan itu mengarah tepat pada si pirang. "Daniel, hubungi Cecil sekarang, atau mungkin kau bisa menjemputnya."
Eh? Tanpa memakan waktu Lux langsung melakukan apa yang Fate minta tetapi aku berakhir bingung karena, untuk apa? Tak hanya aku, kedua temanku juga terlihat heran tapi Crist memberanikan diri untuk bertanya, "Uum, Fate, kenapa kami perlu memanggil mereka semua?"
Ah, Fate memiringkan kepala membuat rambut peraknya berjatuhan dari pundak seiring gerakan. Gelagatnya, seperti bingung? Dan menjawab, "Tentu saja, untuk membahas soal latihan kalian semuakan?"
Lucian menyandarkan dagu pada kepala Fate atas secercah senyuman nan gemilang ke arah kami, bahkan berkata dengan aksen ceria, "Mari kita mulai berlatih sesegera mungkin!"
Hah?! Tunggu-tunggu, apa maksudnya? Jadi, tadi, aku tak salah dengar?