When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Keheranan



Daniel?


Kenapa dia di sini?! Tunggu dulu ....


"Sebentar-sebentar. Semua, harap tenang!" ucap si pirang dengan merentang-rentangkan dua tangan. Tapi, bukannya hanya dia yang heboh sendiri?


Tak lama dia mulai menarik napas dalam-dalam, menarik salah satu bangku di dekatnya dan mencoba duduk tenang. Ya, jelas sekali hanya mencoba karena kaki berbalut celana jin itu tak kunjung diam dengan mata hijau memandang curiga pada kami. Sedangkan Crist menatap Fate penuh tanya.


Ibarat mengerti maksud dari tatapannya, Fate menaikkan kedua bahu dan menjawab santai, "Aku memiliki izin membiarkan orang lain untuk tahu."


Eh, benarkah? Sebentar, bahkan orang sekelas Crist akan terkena masalah jika data murid sampai bocor di tangannya, padahal dia kaki tangan ketua Departemen Konsultasi. Data dan informasi merupakan hal sakral di Vaughan, terlihat jelas dari kasus kebocoran data jauh-jauh hari berdampak besar pun langsung di tangani.


Namun, jika Fate sampai mendapatkan izin, berarti derajat tingkatan sudah sangat tinggi. Itu ... membuatku sedikit terkejut. Sepertinya gadis ini mengerti bagaimana cara menangani segala masalah?


Sungguh, Fate tak henti memberikan kejutan.


"Daniel merupakan seorang pemimpin dan teman dekat Red." Tersirat keseriusan dalam mata perak kebiruan si gadis. "Dia, dari semua orang, berhak untuk tahu."


Mendengar itu, Crist mengembuskan napas pasrah dan bersandar pada bangku kayu tak berlengan; mengarahkan atensi pada Daniel. Aku pun mengikuti.


Di sana, Daniel hanya mengangguk-angguk dan menelentangkan tumit pada salah satu paha. Dengan mengusap wajah sekali, dia pun berkata, "Kita masih di dunia nyatakan? Enggak apa itu ... Lucid Dream, masuk isekai, dunia game, atau apalah."


Tak begitu mengerti apa yang Daniel maksud, aku memilih menatap Fate tetapi gadis itu hanya mengerjapkan mata ke arahku dengan lugunya. Ah, harusnya jangan kulihat---tunggu, kenapa aku justru merasa tersipu?!


"Enggak, enggak, aku cuma kaget." Daniel mulai mengesah, menurunkan kakinya dan duduk bersandar. "Aku tahu Fate enggak pernah bohong, apa lagi Red enggak pintar bohong. EVE sudah menggaransi hal itu kok. Aku pengin meluruskan saja. Jadi kalian berdua datang dari dunia lain ... DUA dunia yang berbeda?"


Entah kenapa lucu mendengar EVE memberi garansi pada takaran kebohongan tapi aku mengangguk terhadap pertanyaan Daniel, Fate juga.


"Dan enggak cuma itu. Red jiwanya rusak ... eh, ternoda---akh, atau apalah itu, makannya dia kekal dan serba hitam?"


Aku mengangguk, memang benar tapi kenapa Daniel mulai mengerang? Bahkan menutup wajahnya dengan satu tangan ibarat frustrasi.


"Ugh, terus apa?! Fate itu putri yang tertukar? Dayang langit yang diutus dari surga? Atau jelmaan malaikat?!" tanyanya lagi.


Aku menoleh pada Fate dan mata perak kebiruan menatap balik. Mungkin, kami sama-sama dalam ekspresi kebingungan yang polos. Tapi aku juga penasaran, terlebih ... terasa jiwanya begitu putih dan tenang, bahkan Lord Metatron bersemayam dalam tubuhnya 'kan?


Ketika Fate menoleh pada Daniel dan hendak membuka mulut, saat itu juga lengan kukuh si pemuda merentang ke depan. "Jangan dijawab! Kayaknya aku malah menyusahkan diri sendiri."


Lagi-lagi dia mengerang, kali ini lebih keras beriringan dengan membanting badan pada kursi demi bersandar lagi. "Alah, masa bodohlah!"


Daniel menggeleng, lalu menunjuk Fate dan aku bergantian seraya mengangkat salah satu alis. "Kau tahu? Aku terima itu semua. Tapi aku enggak akan tanya lagi, aku ENGGAK MAU tahu lebih banyak. Garis bawahi itu! Ugh, akal sehatku korsleting."


Suara kekehan yang samar terdengar di dekatku, refleks melirik ... ternyata Crist. Dia tampak seperti mati-matian menahan tawa sampai membungkam mulut erat-erat.


"Alah, terserahlah. Kalian berdua tetap diri kalian sendiri, itu yang penting!"


Daniel mulai beranjak dari duduknya, melangkah mendekatiku atas tatapan gahar---eh, kenapa lagi? Apa Daniel akan ... ah, aku tak mau berpikir yang tidak-tidak dan berakhir memejamkan mata.


Namun, justru terasa tanganku ditarik paksa. "Urusanmu di dapur belum kelar, jangan malah duduk-duduk santai! Cepat bantu aku bikin bekal buat yang lain!"


"Nasi tiga kilo buat sarapan itu kebanyakan, mau enggak mau ya dibuat bekal. Bangun ayo, apa perlu aku geret?" celoteh Daniel lagi, membuatku semakin bingung.


"Tapi---"


"Cepat! Atau aku sebar di kamarmu ada bone---"


"Iya aku bantu," timpalku segera sebelum Daniel menyelesaikan ucapan.


Segera aku bangkit dari duduk---astaga, sungguh tak mau ada seorang pun tahu aku masih menyimpan boneka kelinci putih pemberian Fate, apa lagi ketika orangnya ada di sini! Tapi Daniel langsung menyunggingkan senyum kuda dan berjalan bangga dengan membusungkan dada; seolah-olah menemukan titik kelemahanku setelah sekian lama.


Tampaknya mengundang seseorang ke kamar sendiri memang ide buruk. Temanku satu ini benar-benar ... haah, aku mengikutinya dengan lesu.


Sesampai di dapur, aku melihat beberapa orang masih tergeletak di atas meja. Sontak aku merasa khawatir kalau makanan yang tadi dibuat tak sesuai untuk mereka. "Kalian ... kenapa?"


"Kekenyangan Senior, apa lagi Cecil banyak banget makannya!"


"Heh, kamu tuh! Kamu juga banyak makannya tahu!" celetuk si gadis kecil, tetapi lawan bicaranya hanya menyengir.


Spontan aku mengembuskan napas panjang dan bergegas menyusul Daniel. Syukurlah kalau mereka baik-baik saja, aku harus cepat membantu Daniel atau ... dia marah-marah lagi!


Kami pun kembali berkutat di dapur.


Selang beberapa waktu, tangan kukuh masih terampil memilah makanan dalam kotak makan transparan. Ternyata tak terasa sudah menyiapkan sebegini banyak.


Seketika Daniel menyikutku beberapa kali. Dengan sedikit menaikkan dagu bagai menunjuk, dia berkata, "Kau kasih itu ke Crist sama Fate, belum kebagian mereka."


Aku mengangguk mengerti, lantas membawa beberapa kotak bekal dan kembali ke ruang belakang.


Ternyata memang sangat sepi di wilayah ini.


Dari kejauhan terlihat mereka masih duduk di sana, tampak membicarakan sesuatu yang serius, terbukti dari ekspresi serius Crist--Fate tetap datar seperti biasa. Namun, mendadak langkah terhenti ketika terdengar namaku disebut; membuatku beku di balik temaram rak buku.


"Fate, bukannya kamu terlalu dalam ikut campur masalah Red? Yah, memang masing-masing dari kita ikut campur masalah dia. Kita tidak tahan melihat sifatnya yang terlalu lepas dan hilang arah, tapi dari kamu semua berawal. Kamu sadarkan ... Red perlahan berubah semenjak kedatanganmu?"


Walau perkataan itu tak tertuju padaku ... entah kenapa jantung berderu kencang dan terasa sedikit sakit, memancingku menggigit bibir bawah lantaran merasa bingung dan bersalah. Dari ini aku menyadari, Crist sudah lama memperhatikanku. Mungkin sejak pertama menginjakkan kaki ke akademi?


Dia tahu banyak.


Aku mulai menunduk, bingung dengan apa yang terjadi pada diri sendiri. Tapi benar juga, kenapa Fate? Apa semenjak malam yang dingin itu, ketika kami duduk berdua di bawah sayup-sayup salju turun perlahan dan dia menyebutku ... manusia?


Tanganku mulai bergetar dalam gejolak yang meraung dalam relung dada, karena bagaimanapun; apa pun; betapa pun, aku ini bukan manusia. Suka, tidak suka.


Ah, dasar makhluk aneh ... diriku ini.


"Salahkah untuk membantunya? Jika kau benar-benar ingin jawaban dari 'kenapa' ... mungkin bisa dibilang, karena dia menarik," jawab Fate dalam intonasi santai, membuatku tertegun atas mata jelaga terbuka lebar.