When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Buka Hadiahnya!



Mendadak, pintu utama club didobrak paksa hingga menarik perhatian seluruh orang---eh, Head Master Lucian?!


Seketika beliau menyerbu ke dalam dan meneriakkan nama Fate berkali-kali---ah, samping bajuku ditarik dan gadis kecil yang berbuat demikian buru-buru berkata, "Taruh kuenya ke konter kayu sini!"


Aku segera menuruti titah.


Untung saja Cecil sigap mengingatkanku, kalau tidak mungkin kuenya terjatuh karena beliau langsung memeluk Fate dan tak henti mengecup pucuk kepala si gadis, dengan terlebih dulu mendorong seluruh murid di sekitarnya ... termasuk aku.


Ha-ah, sekarang menjadi riuh tetapi dalam konotasi ... negatif? Bahkan wajah sendu dan tersentuh Fate luntur seketika, menyisakan ekspresi datar yang biasa.


"Fate, selamat ulang tah---"


"LUCIAAAAAN!!"


Kini suara berat nan mengerikan menggelegar, terdengar mendekat bersamaan dengan entakan kaki yang keras dan terlihatlah wajah Profesor Kaidan sangat geram hingga mengeratkan gigi.


Tanpa basa-basi lengan kukuhnya meraih belakang kerah baju sang Head Master; membuatnya langsung merengek-rengek ketika ditarik paksa oleh guru waliku.


"Kaidan, tunggu dulu!"


"Setelah mendapat kabar ini kamu langsung terbang dari negeri seberang ... hanya untuk mengacaukan acara ulang tahunnya?! Lihat mereka, semuanya kaget!"


"Heee, tapi pertemuannya sudah selesaikan? Aku hanya ingin mengucapkan selamat!"


Profesor Kaidan pun melepas cengkeramannya dari kerah baju Lucian, lalu memijat kening dengan lelah.


Tapi jika dilihat lagi, mereka berdua memang masih mengenakan pakaian formal yang amat rapi. Setelan jas hitam membalut kemeja putih, pin khas Vaughan terpasang pada dada kiri ditambah dengan dasi yang dihias dengan penjepit berbentuk ... angka numeral? Jelas mereka sehabis menghadiri pertemuan penting.


Namun, sampai bergegas terbang kembali ke akademi, entah kenapa terkesan ... menakjubkan dan berlebihan?


Akhirnya, guru waliku mengembuskan napas pasrah. Kemudian menatap datar pada Lucian yang sudah tenang pula. Sang Head Master pun mengucapkan selamat dan lantunan doa-doa nan sayup juga khidmat pada Fate ketika beliau memeluknya pelan.


Lantas semburat merah kembali hadir di pipi pualam si gadis, selaras atas senyum tipis di bibir merah muda; menambah paras ayu wajah yang kembali terhias kebahagiaan. Kini ekspresi seluruh anggota club turut menjadi damai setelah tak henti terheran-heran, termasuk Daniel yang terus mengumpat pelan.


Setelahnya Profesor Kaidan mengucapkan selamat pada si gadis, memancing senyum kecil Fate semakin melebar. Guru waliku juga sempat mengucapkan maaf berkali-kali dan menyatakan libur untuk seluruh Departemen Eksekusi Club Dion--dan itu disambut meriah--sampai mereka berdua pergi meninggalkan tempat.


Sebelum itu, sang Head Master melempar sesuatu kepada Fate. Dengan cekatan, si gadis menangkapnya dan langsung diperiksa.


"Ah, Heart Core-ku. Akhirnya selesai diperbaiki."


Cecil langsung berjinjit ke arah Fate. "Loh, memang Heart Core kamu kenapa?"


"Setelah misi dengan Daniel waktu itu, Heart Core milikku sedikit retak karena menggunakannya secara berlebihan. Senjata Executioner-ku juga rusak cukup parah. Saat di rumah sakit, Pak Lucian bilang Heart Core-ku sudah diserahkan olehnya kepada Departemen Gear."


Kalimat tersebut mengundang sunyi kembali menemani; membawa desir gelisah merengkuh samar. Wajah nanar ikut menemani para anggota club ... aku tanpa terkecuali karena kembali ingat betapa gempar misi yang teman-temanku ini jalani, tapi satu sisi aku---


"Karena sekarang sudah kondusif, bagaimana kalau kita potong kuenya?" tanya Crist dengan nada ditinggikan seolah-olah mencari perhatian setiap orang. Pemuda ini juga menutup dan bersandar pada pintu depan.


Beberapa anggota perempuan kami kembali penuh antusiasme; menarik Fate dengan wajah berseri-seri, begitu pula dengan Cecil. Ketika si gadis kecil akan menuntun Fate--menggandeng tangannya--pada sofa utama, suara dobrakan pintu yang amat keras memecah telinga sampai-sampai Crist yang bersandar di pintu ikut terpental yang untungnya berhasil aku selamatkan.


Kini si pemuda tak henti meringis kesakitan sampai aku sendiri merasa khawatir dan bertanya, "Um ... sakit di bagian mana?"


"Punggung, punggungku linu!"


Segera aku mengelus punggung Crist.


Namun, tersangka yang berbuat demikian hanya berdiri kukuh dengan tenang, senyum juga tak lepas dari wajah santainya memancing Daniel mengumpat kembali. Tapi kali ini sangat keras sampai berteriak, "Kalian Disiplinaria enggak ada akhlak! Main dobrak-dobrak!"


Tingkah meledak-ledak Daniel hanya dibalas dengan elusan di kepala oleh Lux. Memancing si pirang berteriak makin kuat; menghasilkan senyuman di wajah cakap Lux semakin lebar hingga mata emasnya terpejam.


Sedangkan Fate terkejut-kejut dengan kehadiran seluruh murid Disiplinaria. Ya, seluruhnya termasuk Rose dan Theo. Mereka silih berganti mengucapkan selamat pada Fate yang dibalas lembut olehnya.


Paling terakhir adalah Lux, dia melepas elusan di kepala Daniel yang kini sudah ditahan oleh beberapa anggota club karena tak mau berhenti memberontak. Melihat kegaduhan ini, Crist hanya mengesah panjang, sedangkan aku tetap memperhatikan para Disiplinaria.


Fate mengangguk pelan, diikuti lengkung sabit nan manis di pipi yang kini merona merah. Melihat wajah si gadis tak henti mengulas senyum ... aku benar-benar, terpana. Halnya, memang sangat menarik hati ekspresi lemah lembut yang sangat jarang dia perlihatkan karena minim emosi.


Satu sisi aku juga tak suka perbuatan Lux dan hanya bisa menyipitkan mata melihat mereka berdua tampak ... akrab? Entahlah, kenapa aku justru kesal sendiri?


"Ini kado dari kami semua, Disiplinaria. Pak Gil juga memberikanmu libur untuk hari ini."


"Eh, tapikan---"


"Hush. Kau sudah bekerja terlalu banyak Fate. Bersenang-senanglah untuk hari ini, itu juga kado dari kami semua untukmu," tegas Lux dengan tak henti menepuk lembut kepala si gadis.


Setelah itu semua, mereka pun pergi dan menyisakan sunyi.


Sontak seluruh anggota club--kecuali Fate dan aku--mengembuskan napas panjang yang selaras, bahkan Cecil menyeletuk, "Sekarang, siapa bakalan dobrak-dobrak pintu lagi?"


Saat Daniel menutup pintu secara perlahan, gelagatnya dihentikan oleh seseorang yang berlari dari kejauhan dan berteriak, "Jangan tutup dulu! Aku pulaaang!"


Oh, ternyata anggota yang mendapat tugas membeli kado! Dia pun bersandar pada tembok--setelah Daniel biarkan masuk--dengan dada tak henti naik turun. Jelas dia berusaha keras untuk kembali tepat waktu sampai berlari dan kehilangan napas begini.


"Maaf aku sempat bingung memilih kado apa ...," ucapnya tertahan saat mata menangkap pada bungkusan di genggaman tangan Fate. Selang beberapa detik dia tersenyum dan mengangkat kantung yang sedari tadi dijinjing. "Nah, Senior Fate, ini kado dari kami semua! Langsung dibuka saja! Penasaran tidak isinya apa?"


Ah, kini gerak-gerik si gadis terlihat begitu ... senang? Dia tak henti mengangguk cepat dan duduk pada sofa di ruang utama atas senyuman lembut sedikit pun belum luntur, membuat beberapa anggota club dibuat celangap dengan tingkah laku tidak biasanya.


Kini yang mendapat tugas membeli kado mengeluarkan satu kotak bermotif cukup simpel pada meja di depan Fate. Ketika jemari lentik si gadis ingin meraihnya; mendadak dia mengurungkan niat.


"Sebentar, aku benar-benar perlu mengecek Heart Core-ku. Waktu itu sampai rusak dan tidak bisa digunakan."


Lantas para perempuan duduk tepat di samping Fate, sedangkan yang lainnya bertengger di belakang atau duduk pada sofa samping--seperti aku dan Crist.


Ketika Fate membuka layar holografi, terlihat kondisi senjatanya baik---eh, tunggu sebentar ... bukannya ini peningkatan tingkat tinggi? Bagaimana bisa?! Maksudku, itu harus melalui izin terlebih dulu dan memakan banyak biaya! Sepertinya bukan hanya aku yang terkejut melihat status Heart Core milik Fate meningkat drastis, yang lainnya juga. Fate sendiri ikut tertegun.


Kini jemarinya tak henti menggulir layar holografi sampai tiba pada kolom paling bawah, di sana ada kata-kata bertuliskan, "Sedikit potongan terima kasih dari kami semua karena bisa membuat Lucian mengerjakan tugasnya!"


Crist yang membaca itu mendengkus singkat karena menahan tawa. "Mungkin karena tidak lama sejak Fate datang, tugas administrasi para profesor dan staf yang lain berkurang. Termasuk Miss Caterine."


Seketika itu para anggota club tertawa tetapi aku menutup mulut dengan tangan kanan. Jika dipikirkan kembali, benar juga. Bahkan Profesor Kaidan yang selalu sibuk, kini memiliki sedikit waktu luang dan rata-rata beliau gunakan untuk beristirahat. Mengetahui ini, aku merasa sedikit lega.


Kuharap guru waliku memiliki waktu kosong lebih panjang dan bisa berlibur untuk sementara waktu, wajahnya selalu terlihat lelah.


Namun, tampaknya penjelasan Crist tidak membuat Daniel ikut tertawa. Dia justru menyeletuk dengan bersungut-sungut, "Halah, baguslah kalau ia akhirnya mau kerja, dari dulu selalu berbuat suka-suka; lempar semua urusan ke bawahan! Memang mukjizat akhirnya kepala sekolah gila itu mau kerja. Bayangin, dari dulu loh seperti itu! Semua juga tahu ...."


Seketika Fate melipat tangannya. "Sebenarnya bukan tidak mau mengerjakan atau hanya ingin main-main, tapi memang ia sibuk bertemu kepala negara-negara lain. Sudah keajaiban ia masih sempat sparing dan melatihku."


"Iyakan?! Itulah! Manajemen waktunya kurang, untung ada kamu! Kalau enggak mana sembuh-sembuh."


"Heh. Kau tuh ngaca, Danieeeel! Jadwalmu sama saja berantakannya!" Sekarang Cecil turun dalam debat tak jelas ini dengan berkacak pinggang, seperti biasa.


"Aku sibuk urusin banyak hal!"


"Sama kayak Lucian!!"


Sesuai dugaan, mereka berdua akhirnya mulai berdebat kusir yang aku sendiri ragu kapan selesainya. Beberapa anggota mulai sibuk menenangkan, tapi perhatianku masih terpusat pada Fate yang tertawa kecil melihat tingkah laku mereka.


Kemudian Fate menutup layar holografi dan tersenyum, sembari mengelus Heart Core-nya perlahan. "Benar-benar Pak Lucian ... ia tahu aku sedang menabung untuk meningkatkan tiga senjataku."


Ah, benar juga. Fate menggunakan tiga senjata, berarti biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan senjata cukup banyak. Tunggu dulu, berarti selama ini Fate melaksanakan banyak misi ... bahkan, mungkin lebih banyak dariku?!


Pikiranku teralihkan saat mengetahui Fate menggenggam Heart Core-nya dan mendekatkan ke dada. Melihat ini terasa seperti angin sejuk perlahan masuk ke hati lantaran wajahnya sungguh melukiskan keteduhan.


Perlahan, Fate pun berbisik, "Terima kasih."