
"Kemarahan ... dunia ini?" Seketika tubuhku merosot dari tembok lantaran kekuatan seperti ditarik paksa. "Jadi, aku sungguh tidak diterima di sini?"
"Keabadian." Dan mata biru cerahnya melirik ke arahku. "Keabadianmu dibenci oleh jiwa bumi di seluruh semesta. Karena keabadian mengganggu siklus kehidupan dan kematian, pengganggu keseimbangan, dan menjadi ancaman untuk keberadaan bumi itu sendiri."
Mendengar itu, membuatku langsung mengerti mengenai sosok asing yang menggunakan tubuh Fate dan berbicara padaku untuk mempermasalahkan keabadian, adalah entitas berkuasa atas dunia ini; keberadaan yang menyerupai Tuhan, tapi tidak akan pernah bisa menyerupaiNya--Godly Being. Dulu, aku juga merasakan kekuatanku perlahan memudar ketika menjadi jiwa pengganti untuk bumi tempat asalku sendiri karena keberadaan makhluk yang abadi.
Namun, bagaimana cara menangani keabadian itu sendiri? Mungkinkah berkaitan dengan jiwaku yang turut dibersihkan secara perlahan?
Lantas kuarahkan atensi padanya lagi dan berkata, "Aku merasa ... jiwaku jauh lebih ringan dari sebelumnya. Padahal jiwaku ini benar-benar tidak stabil dan sangat rentan sehingga menyerap ketujuh dosa mematikan dan membuatku menjadi abadi. Apa ini yang Fate lakukan, memberikan anugerah untuk membersihkan dan menstabilkan jiwaku? Karena hal yang berkaitan dengan nyawa, sudah di luar perkara manusia."
Sen menggeleng kala mendengar kata-kataku. "Apa kau tidak mendengarkanku dengan benar? Sudah kukatakan, dia melindungimu dari murka dunia ini, anugerah itu juga yang menstabilkan jiwamu yang terlalu tua dengan tubuh itu. Tetapi untuk jiwamu, mungkin itu kekuatan Fate yang selalu dimilikinya. Dia bisa membersihkan dan menyucikan noda apa pun yang ada di sekitarnya."
Lalu mata biru langit melihat ke angkasa, tempat butiran salju tak henti berjatuhan seakan mengingat sesuatu yang dalam.
"Saat kestabilan dunia terganggu, dia akan menyucikan hal yang merusak kestabilan. Di dunia asal kami, itu merupakan tugas ketujuh wadah dosa dan ketujuh wadah kebajikan. Tapi karena kebenaran telah dirusak oleh C.R.O.S.S.; sebuah organisasi yang memburu para manusia yang menjadi wadah dosa di dunia kami, akhirnya Balancer; seorang manusia yang entah mengapa memiliki kekuatan penyucian muncul untuk menstabilkan dunia."
Kemudian mata biru itu tertuju padaku. "Tugas Balancer adalah tugas yang diturunkan secara turun temurun. Dan orang terakhir yang memiliki tugas tersebut adalah Fate ... Fate A. V. Lancelot, Balancer, sang penyeimbang dunia."
Ternyata begitu, Fate memang bukan manusia biasa---tunggu, aku juga begitu 'kan? Sepertinya wadah ketujuh dosa dan kebajikan ada secara alami di tempat asal Fate dan Sen, tidak dipaksa ada seperti di duniaku demi menciptakan entitas pengabul permohonan.
Berarti jiwaku sudah tidak abadi lagi? Lantaran keberadaan Fate secara alami menetralkan diriku. Jadi, kenapa sekarang aku menjadi seperti ini? Makhluk yang abadi tapi secara bersamaan tidak. Terlebih kondisinya sekarang ....
"Kalau begitu apa yang Fate korbankan untuk melindungiku?"
Sen terdiam sesaat untuk menutup matanya, ketika terbuka ... tatapannya berubah menjadi nanar. "Anugerah Metatron."
"Dari ... Lord Metatron?"
Tangannya perlahan mencengkeram baju tepat di dada. "Akulah pemilik asli dari Anugerah Metatron. Karena suatu kejadian aku memberikan anugerah itu, atas izin Metatron, kepada Fate untuk menyeimbangkan tubuh dan jiwanya. Dan untuk melindunginya dari jiwa dunia kami, Gaia. Hal ini tidak Fate ketahui, karena itu dia tidak tahu soal Metatron yang bersemayam dalam dirinya."
Lalu Sen melipat kedua tangan di depan dada. "Jiwamu sudah hampir sepenuhnya dimurnikan, tapi pada akhirnya Fate tetap memerlukan izin dari sang pemilik jiwa untuk sepenuhnya memurnikan jiwa. Karena itu dia bertanya ... 'seandainya kau bisa memilih untuk tidak abadi, bagaimana?' dan kau ingatkan, apa jawabanmu?"
Mataku seketika membelalak, mengingat akan jawabanku pada saat itu. "Aku menjawab 'akan tetap seperti ini' karena ketakutanku pada ketidakpastian ... aku memilih tetap abadi."
Sen pun mengangguk. "Benar. Sesaat setelah kau memberikan jawabanmu, seharusnya kau mati. Dunia ini tidak ingin memberikanmu kesempatan ke tiga di saat kau menyia-nyiakan kesempatan ke dua. Tapi pada saat itu juga, Fate, memanjatkan doa ...."
"Doa?"
"... Agar kau diberikan kesempatan lagi. Agar kau perlahan bisa melihat keabadian bukanlah jawaban. Anugerah Metatron yang ada di dalam dirinya menjawab doa itu dan berpindah ke dalam dirimu. Hal ini dia lakukan tanpa sadar tetapi karena keinginan kuatnya, kau tertolong."
Lantas Sen menggeleng sambil terkekeh seakan tidak percaya pada apa yang terjadi.
Jadi, Fate melindungiku---tunggu, rasanya ada sesuatu yang tidak sesuai. "Kenapa jiwa dunia kalian ingin menyerang Fate? Mengingat tugasnya ... bukankah itu, aneh?"
Sontak Sen tersenyum pahit. "Karena Gaia, jiwa dari dunia kami, sangat menyayangi Fate. Dari semua Balancer yang pernah ada, Fate sangatlah berbeda."
Lantas dia mengembuskan napas panjang. "Gaia ingin Fate kembali ke dunia asalnya, tapi jika Fate kembali ... dia tidak akan hidup normal. Karena dia akan hidup untuk kebahagiaan bumi itu sendiri, bukan untuk dirinya."
Kemudian tangannya terangkat dan perlahan mencengkeram rambut, ekspresi Sen terlihat seakan menahan kepedihan. "Dia akan menjadi pilar untuk bumi. Untuk itu, perlu benar-benar netral dan supaya menjaga tetap netral, Gaia akan menghapus semua ingatan dan emosinya. Seperti kanvas yang kosong."
Mata birunya kembali mengukir ekspresi nan sendu. "Gaia ingin menghapus ingatan Fate yang menyakitkan karena menurutnya itu merupakan sebuah konsep kebahagiaan; tanpa ingatan buruk sama sekali, tapi itu sama saja menghapus sisi kemanusiaannya juga. Meski ini egois ... aku tidak bisa membiarkan Fate yang sudah mengorbankan banyak hal, bahkan hidupnya sendiri, untuk menjalani kehidupan seperti itu."
Seketika aku langsung berdiri lantaran kalimat tersebut mencelikkan benak. "Itukah penyebab ingatan Fate sekarang ada yang samar?"
Namun, jawaban yang kudengar setelahnya sungguh mengejutkan.
"Tidak. Orang yang menyegel ingatan Fate, adalah aku."
"Kenapa?" Lagi-lagi, aku mengukir ekspresi tak percaya yang teramat sangat.
"Karena Fate membutuhkan alasan." Lalu dia mengalihkan pandangan pada gadis yang masih tidak sadarkan diri. "Baginya yang telah kehilangan hampir segalanya; baginya yang selalu ingin mencari kebenaran, aku menyegel ingatannya agar Fate memiliki dorongan untuk terus maju ...."
Suara Sen memelan, dan senyuman sedih pun pasrah menghiasi wajahnya kembali. "... Terutama setelah segala yang terjadi padanya."
Ah, benar.
Dari yang aku lihat selama ini, Fate ... orang yang selalu mencari jawaban. Andai ingatannya sudah ada sejak awal, mungkin Fate tidak berkeinginan untuk terus melangkah maju lantaran dia membutuhkan sesuatu untuk terus digenggam; sebuah tujuan untuk membuatnya terus bertahan. Apa lagi aku tahu berbagai macam hal yang telah dia lalui sangatlah berat, berakhir membentuk kepribadian yang dewasa dan terlalu tua untuk gadis seumurannya.
Fate ingin seseorang membutuhkannya.
Mungkin dengan tiba di Vaughan, dia memang memiliki tujuan baru, seperti membantu mereka membasmi para naga. Namun, jika tugas telah selesai dan seluruh naga musnah, mungkin Fate kembali hilang arah.
Aku merasa hidup untuk dimanfaatkan orang lain terkesan menyedihkan.
Tetapi setelah mengenalnya, kini aku mengerti, terkadang kita juga butuh seseorang selalu ada di sisi; berbagi rasa dengan dia yang lebih-lebih telah kehilangan sebagian besar emosi, agar tersadar ... bahwa benar-benar hidup; ada, dengan eksistensi yang sungguh dianggap nyata.
Jika tidak, mungkin Fate berakhir gelap mata dan mengikuti hasutan Gaia yang bisa memberikannya alasan untuk ada, meski berakhir menjadi boneka atas surga palsu.
Sen, mengerti dan memahami Fate secara dalam sampai memperhitungkan hal sejauh ini. Cinta mereka benar-benar absolut. Dan aku ... sungguh sebuah benalu di tengah-tengah mereka.