
Sepulang dari misi hingga sekarang, aku masih terus membeku. Berdiri di belakang sofa utama yang menghadap televisi dan di atasnya terdapat foto saat acara ulang tahun Fate seminggu yang lalu, menjadi suatu hiasan mencolok di ruang utama club.
Sebab seluruh anggota Dion terabadikan dalam penuh keceriaan dan benar-benar ... berantakan.
Bagaimana kami ingin foto bebas, justru beberapa laki-laki berakhir dorong-dorongan--Daniel yang memulai. Para perempuan sangat antusias memotong kue daripada yang berulang tahun itu sendiri. Dan foto-foto berbayang karena tak ada yang mau tinggal diam. Bahkan foto Crist yang terguling dari sofa juga terpajang di sana. Bagaimana kalau ada orang dari Departemen Konsultasi melihat hal tersebut? Crist terkenal sangat dewasa tapi ini ... entahlah, aku hanya bisa tertawa kecil membayangkannya.
Namun, perhatianku bukan pada itu semua, melaikan pada satu foto dengan bingkai paling besar yaitu kami berbaris dengan Fate di tengah, menggenggam kue ulang tahunnya.
Dan yang paling mencolok, ada aku di sana dengan senyuman konyol. Ya, konyol karena baru pertama melihatku dalam ekspresi tersebut. Jika tidak diabadikan menjadi foto seperti ini, aku tak akan mengira wajah bermata tajam itu bisa mengukir suatu senyuman.
Aku berpikir ... apa saat itu, bersamamu, juga mengeluarkan suatu ekspresi yang sama? Suatu senyum yang sama? Kecerahannya juga sama, atau lebih?
Karena aku disadarkan pada suatu realitas yang mana hati ini tak sekuat baja, bisa hancur pula menjadi berkeping-keping. Yang terburuk, aku lebih lemah dari siapa pun orang kujumpa. Aku memang, sampai sekarang, tak rela melepas ia ... orang terkasihku.
Namun, juga tahu bahwa ketidakrelaan tak akan membawanya kembali ke sisi aku yang telah lama berjalan sendiri. Mungkin saja kehilangan adalah definisi terbaik dari suatu kerelaan, tapi haruskah sesakit ini?
Lantaran juga tersadar, semakin lama melangkah; semakin jauh berjalan, akan terus melihat orang-orang berguguran di sekitarku. Kejadian sebelumnya benar-benar membuatku sadar bahwa tugas yang kita emban bisa saja merenggut nyawa mereka kapan saja.
Ya, mereka, bukan aku si makhluk abadi.
Kira-kira, sampai kapan aku bisa bertahan? Apa mampu menyaksikan itu semua? Bisakah melindungi mereka seperti yang aku seru-serukan? Benarkah keberadaanku tak berdampak apa pun?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus saja beresonansi dalam kepala, membuatku benar-benar tak berdaya. Namun, untuk sekarang ... mungkin akan kutelan mentah-mentah, seperti biasa. Mengikuti apa yang orang-orang katakan bahwa memikirkan segalanya tak akan menghasilkan apa-apa kecuali suatu kecemasan.
Lebih baik, aku berdoa pada Tuhan; meminta petunjuk. Ah, juga teringat perkataan Fate, jika terlalu melihat jauh ke depan, itu akan membuat lupa bahaya yang sebenarnya ada di sisi. Seperti itu, kira-kira.
Aku pun mengembuskan napas panjang.
"Mulai deh kebanyakan mikir."
Tiba-tiba terasa ada yang memukul lengan, amat pelan tetapi sukses membuatku tertegun dan menoleh ke asal suara. Daniel di sana, dengan suatu ekspresi seakan menatap tak suka--dahinya berkerut kasar.
"Ah, tidak. Aku memang mengkhawatirkan beberapa hal ... mungkin, karena itu kebiasaan burukku? Tapi aku akan abaikan untuk sekarang. Ternyata memikirkan sesuatu hal secara berlebihan sangat melelahkan."
Seketika senyuman nan lebar terukir di wajah Daniel. "Benarkan?! Buat aku ya, misal ada pikiran buruk, kuhajar sekalian biar dia enggak akan muncul-muncul lagi!"
"Heee, menyakiti diri sendiri bukannya tidak baik?"
"Itu cuma kiasan!"
"Bukannya kau sendiri juga suka menyakiti diri sendiri?" Mendadak vokal nan khas menggema di tengah percakapan kami.
Aku pun terkejut, sangat-sangat kaget karena suaranya merupakan seorang gadis yang kukenal jarang berada di club ketika senggang.
Lantas aku menoleh ke pintu dan benar saja, Fate berjalan masuk dan diikuti oleh Cecil.
Langkah tumit si gadis amat lugas menggema di atas lantai kayu, bahkan Daniel sampai menyingkir karena Fate terus mendekat, memaksaku mundur beberapa langkah dengan kelopak mata perlahan terbuka lebar. Sebab wajah datar seperti biasa tetapi aura---hah, mengerikan!
"Apa kaca di kamarmu kurang besar?"
"Wah, sepertinya aku harus menyela di antara kalian?" Seketika Crist mendekat ke arah kami.
Eh, bukannya dia sedang mengurus dokumen di meja makan? Aku mulai memandangnya dan benar ada beberapa lembar kertas dia genggam. Crist sampai turun tangan bukannya terlalu berlebihan? Tapi, tunggu-tunggu, aku sungguh tak mengerti maksud perkataan Fate. Menyakiti diri sendiri?
Dengan bingung aku langsung bertanya, "Yang mana?"
Karena aku menyadari, kalau orang yang peduli padaku melihat aku terluka ... mereka akan merasakan sakit, seperti Profesor Kaidan contohnya. Rasanya dulu pernah melihat beliau menitikkan air mata karenaku.
Jika dipikir lagi, aku juga tak tahu kenapa melalukan hal-hal tersebut. Mungkinkah aku begitu membenci diri sendiri? Ah, ya, dan rasa sakit semu yang kuderita sungguh tak tertahankan.
"Red, kamu suka menusuk diri sendiri?" tanya Crist tiba-tiba dengan mulut celangap.
Namun, aku mengangguk pelan. "Iya? Makanya dulu pernah bilang ... walaupun kepalaku putus, itu akan pulih saat itu juga.
Seketika Crist menatapku horor, termasuk Daniel dan Cecil. Namun, wajah Fate tetap tanpa ekspresi. Hingga akhirnya menyilangkan tangan depan dada dan berkata, "Saat misi kaukan suka main maju saja, apa bedanya dengan menyakiti diri sendiri? Padahal insting bertarungmu bagus, dengan pengalaman kau bisa melawan musuh-musuhmu dengan rapi, tapi selalu saja bertindak lepas dan suka-suka. Kau tahu aku baca semua laporan misimu 'kan?"
"Hah?! Kau punya akses buat cek kayak gituan?" celetuk Daniel penuh kejut.
Crist pun membatuk kecil. "Disiplinaria dan Enforcer ...."
Lantas aku menyentuh tengkuk dengan canggung, apa lagi ditatap lurus oleh mata ambar seperti ini. "Itu sebabnya setelah misi bawah tanah kamu memarahiku?"
Fate langsung tersenyum. "Menurut Anda?"
Heee, Anda? Kenapa tiba-tiba menjadi sopan? Tunggu, berarti itu perbuatan salahku? Kukira karena mengacau saat membagi tim memancing sang naga---eh, itu juga termasuk main maju sendiri tidak?
Ha-ah, sekarang Daniel benar-benar meledakkan tawa hingga berjalan sedikit menjauh, mungkin agar tak terdengar terlalu terbahak-bahak? Apa lagi Cecil mulai berkacak pinggang dan melirik ke arahku.
"Kayaknya aku bersyukur terlahir jadi manusia biasa, bukan seorang immortal. Kalau enggak, aku sudah hilang akal sehat dan logika sepertinya," celetuk si gadis kecil dengan membuang wajah dariku.
A-aah, apa aku seburuk itu? Entah mengapa ditatapi seperti ini aku merasa terpojokkan, sampai tak sadar melangkah mundur sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba terasa ada yang menahan punggungku dengan satu sentuhan tangan. Aku pun menoleh dan mendapati Crist tersenyum amat cerah. "Setidaknya sekarang Red mau lebih berhati-hati, 'kan?"
Spontan aku menjawab dengan gelagapan, "A-aku usahakan!"
Mendengar itu Fate justru mengembuskan napas panjang. Sedangkan Daniel masih belum menunjukkan tanda akan berhenti tertawa dan Crist masih dalam ekspresi yang sama, tapi ... lama kelamaan terlihat menyeramkan.
Aaaa, omong-omong kenapa Fate ada di sini? Maksudku, dia selalu sibuk dan waktu senggangnya penuh untuk latihan atau berdiskusi dengan Disiplinaria. Apa lagi tiba dengan Cecil.
Tak biasa.
"Fate, kenapa ... kamu ada di sini?"
"Jangan bilang kamu tuh enggak mau ketemu dia lagi gara-gara kena omel terus!" sergah Cecil mendadak.
He? Bukan itu maksudku! Dan sepertinya semenjak kejadian di ruang rawat dengan Profesor Caterine, mereka berdua sudah sangat dekat.
Lantas aku menggeleng dan menjawab, "Tidak, bukan begitu! Sangat jarang Fate berada di tengah-tengah kita ... apa lagi datang bersama Cecil."
"Kebetulan aku patroli di wilayah gedung-gedung club," jawab Fate, "setelah selesai, aku memutuskan untuk istirahat sebentar di sini."
"Dan waktu mau pulang ke club habis selesai bertugas, aku ketemu Fate di lorong sedang mencatat sendirian. Jadi aku temani patroli," sambung Cecil.
Heee, begitukah? Pantas saj---
"Kebetulan, kita semua sedang senggang. Apa boleh aku mendiskusikan sesuatu bersama kalian?" ucap Crist tiba-tiba, mengundang seluruh perhatian penghuni gedung yang memang hanya anggota inti club tertuju padanya. Bahkan wajah Daniel dibuat serius dengan bersandar pada tembok.
Halnya, ekspresi Crist juga menunjukkan seakan ingin membicarakan hal penting.